Forum ini sama saja dengan Blog / Diary, yang bisa di isi setiap hari kegiatan kamu, ayo buat Thread disini, mau nulis puisi, atau sekedar berbagi ceritamu sehari-hari bebas saja.. dan asyiknya bisa di komentarin oleh member KI lainnya :)
By Crestz
#17686
Agama ada. Dalam baik dan buruk. Serta hingga tahap tertentu. Tidak dapat dipungkiri agama penting. Tetapi ketika sesuatu diperlihatkan kepadaku, agama menjadi tempat pertimbangan utamaku untuk bunuh diri.

Dari agama, banyak penekanan baik dan buruk seperti surga-neraka, pahala-dosa, wajib-bebas, kelompok-individual. Sulit bagiku untuk meletakkan posisiku di spektrum itu karena semua itu pilihan. Pilihan yang ditanamkan tanpa pendapat pribadiku. Orangtua yang sungguh patuh kepada tuhan mereka sendiri hingga meronta-ronta meminta tuhan memaafkan pengkhianatan perlakuanku. HIngga aku berpikir, apakah hidup seorang manusia hanya sebagai pengujian antara baik dan buruk?

Setiap hal terjadi karena alasan tertentu. Ketika sekarang hal itu terlihat buruk, suatu saat dapat terlihat baik. Sehingga akupun tak bisa ikut marah melihat orangtua yang meronta itu, karena aku sungguh paham makna perilaku mereka. Begitu pula perilaku ku.

Jadi, ketika ku robohkan pembatas baik dan baruk itu, hanya tertinggal suatu permainan yang dipilih.

Apakah aku memilih permainan ini?
Awalnya begitu tetapi ketika aku melihat bagaiamana agama menyempitkan pikiranku, aku memutuskan untuk keluar dari permainan ini.

Apakah aku berniat untuk kembali bermain?
Iya, ketika diriku telah menghapuskan ketakutan ku akan aturan permainan itu.

Bagaimana diriku menemui tuhan?
Setiap saat. Ketika aku terhubung dengan diriku sendiri dan hal-hal disekitarku.

Apakah aku berani dengan karma perbuatanku?
Ketika seseorang berpikiran negatif akan perilakunya sendiri maka dia mengharapkan hal buruk itu terjadi pada dirinya. Selain itu, free will adalah bagian universal dari kehidupan ini. Terlepas dari pilihan yang dipilih dan ketika diri memandang optimisme akan kehidupan maka semua bekerja sama membantu hal itu terwujud. Saat ini, aku lebih memandang beragama adalah karma ku untuk hidup dan aku melepaskan ketakutkan untuk bertindak dan berpikir dari aturan yang dipermainkan oleh agama.

Post ini adalah bagian dari berbagi informasiku. Tidak mendorong kalian memutuskan hal yang sama sepertiku tetapi aku menyarankan kalian melihat apa yang kalian mau tanpa memaksa dirimu sendiri melakukan yang tidak sesuai dengan jati dirimu.
User avatar
By hexasana
#17699
Menjalani hidup dlm dunia mns, sbg mns.. Tentu saja ada Untung-Ruginya.
Ada kelebihan dan kekurangannya.

Jelas sekali, utk menjadi mns itu gak enak, Harus menderita cape dlm mencari nafkah, utk bisa makan., Bandingkan dgn mhlk gaib, mereka tidak merasa cape & gak rebutan oxigen, utk mempertahankan existensinya.

Banyaknya agama dlm dunia mns, Ikut Berjasa & berperan aktip dlm Menekan angka Kriminalitas.

Bayangkan jika gak ada agama., sbgian Mns akan cenderung liar, dan terbawa insting hewani.

Asas manfaat dipang dari sisi objektif.
Dan gk ngeliat hanya Utk SATU EGO doank.
User avatar
By Junabel
#17752
Adalah naluri alami manusia untuk hidup bekelompok berdasarkan suatu kesamaan tertentu.

kumpulan non-religion yang Cretz sebutkan ini, pada awal mulanya memang keliatan baik dan mulia. Namun, seiring waktu dan perkembangan penganut, pada suatu saat dengan sendirinya akan tercipta kelompok-kelompok baru non-religion.

It's the natural instinct of human to live in a pack.

hal seperti ini tidak bisa dihindari.

Agama, pada awal mulanya bukanlah agama yang kita kenal sekarang ini.

Pada mulanya, sekelompok kecil umat yang mengalami semacam peristiwa penjajahan atas diri mereka, kemudian mengalami kebebasan universal atas diri mereka, dengan bantuan Entitas yang Lebih Tinggi.

Entitas yang Lebih Tinggi ini mengajarkan bagaimana cara membuka hubungan dengan Sang Sumber, bagaimana cara mendekatkan diri dgn Sumber, bagaimana cara memelihara hubungan, hal hal apa saja yang dapat merusak hubungan dgn Sang Sumber, dan apa saja yg dapat diperbuat oleh orang yg selalu dekat dengan Sumber.

Lalu kelompok kecil ini berkembang dan bertambah banyak.
Seperti umumnya organisasi yang membesar, maka dibutuhkan semacam aturan umum bagi anggota kelompok. Maka dibuatlah aturan-aturan tambahan hasil pemikiran umat perdana, yang dimasukkan dalam catatan-catatan yang kemudian disebut kitab.
Beberapa aturan hanya berlaku untuk kelompok di wilayah tertentu, dan ada aturan yang berlaku untuk seluruh wilayah.
Pada awalnya, umat2 awal ini mengetahui dengan baik mana aturan khusus untuk mereka, mana aturan untuk semua, mana ajaran asli dari Entitas yang Lebih Tinggi.

Namun, generasi berpindah generasi.
Pengetahuan akan mana yang aturan dan mana yang ajaran asli makin lama makin memudar, makin tidak bisa dibedakan lagi.

Zaman berubah zaman, kata-kata lama yang bermakna dalam disesuaikan kembali dengan kata-kata baru yang lebih dangkal, lalu dituliskan kembali ke dalam kitab. Kitab lama dipilah-pilah, disusun ulang lagi, dan diakui sebagai kitab terkini yang berlaku.

Perang, penjajahan dan bencana alam, dan kefanaan waktu telah melenyapkan kitab-kitab lama yang lebih dalam maknanya, mengurangi sebagian besar jumlahnya, dan menyisakan kitab-kitab dalam bahasa yang lebih baru.

Begitu seterusnya dan seterusnya, sampai kepada saat ini.

Jejak jejak dari ajaran asli Entitas Lebih Tinggi masih tersisa dari kitab-kitab tersebut, tetapi tidak bisa dicerna secara harafiah lagi.

Seorang yang ingin terhubung dengan Sang Sumber melalui ajaran Entitas Yang Lebih Tinggi membutuhkan lebih dari pengetahuan agama tingkat tinggi.

Orang tersebut harus memiliki hati yang peka, indera yang peka, pengujian atas isi kitab dan pengamatan yang terus menerus, untuk mecerap ajaran asli, dan tidak terjebak dalam aturan-aturan pemikiran manusia.