Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama.
#17607
[center]Image
Vajrapani Sarvatathagatadipati


Image
Samantabhadra Maha Bodhisattva

Bab 8
Caturaryasatya parivartah
[/center]


Kemudian sang Maha Bodhisattva Manjushri berkata kepada para Bodhisattva : "Kulaputra, kebenaran mulia dari penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan perbuatan salah, atau penindasan, atau perubahan, atau melekat pada objek, atau penghimpunan, atau tusukan duri, atau ketergantungan pada indera, atau penipuan, atau tempat penyakit, atau tindakan dari ketidaktahuan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan ikatan, atau kehancuran, atau kemelekatan, atau kesadaran yang salah, atau pengejaran dan keterlibatan, atau hukuman yang pasti, atau jaring, atau pikiran yang menghayal, atau mengikuti, atau indera yang terbalik."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan tanpa perselisihan, atau terlepas dari kekotoran batin, atau keheningan-tenang dan tanpa nafsu, atau tanpa tanda, atau tanpa kematian, atau ketiadaan sifat alami diri, atau ketiadaan rintangan, atau Nirvana, atau kenyataan intisari, atau tinggal berdiam di dalam intisari."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia saha ini, kadang-kadang dinamakan ekayana (satu kendaraan), atau maju menuju keheningan-tenang, atau pedoman, atau pada yang tertinggi terbebas dari perbedaan, atau kesamaan, atau melepaskan beban, atau tanpa objek yang dikejar, atau mengikuti maksud para bijaksana, atau praktek dari para Muni, atau sepuluh harta."

"Di dunia saha ini, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Ajaran Rahasia, itu dinamakan indera yang berusaha mengejar, atau tidak terbebas, atau akar dari belenggu, atau melakukan yang seharusnya tidak dilakukan, atau perselisihan dan pertarungan dalam semua keadaan, atau tiada kekuatan untuk menganalisa, atau menjadi ketergantungan, atau kesakitan yang sangat, atau kegiatan yang gelisah, atau objek dengan bentuk-rupa."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Ajaran Rahasia dinamakan mengalir mengikuti kelahiran dan kematian, atau kemelekatan yang terbiasa, atau panas pembakaran, atau terus berputar, atau indera yang rusak, atau keberadaan yang terus-menerus, atau tingkah laku jahat, atau kemelekatan cinta, atau sumber penyakit, atau penggolongan (membeda-bedakan)."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Ajaran Rahasia dinamakan makna tertinggi, atau pembebasan, atau yang layak dipuji, atau kedamaian, atau tempat masuk yang baik, atau penjinakan, atau yang tunggal, atau tanpa kesalahan, atau terbebas dari keserakahan, atau keputusan tetap."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Ajaran Rahasia dinamakan jenderal yang gagah berani, atau perbuatan yang unggul, atau yang melampaui, atau memiliki upaya-kausalya (memiliki cara bijaksana), atau mata yang tidak memihak, atau terpisah dari yang berlebihan, atau pemahaman yang menyeluruh, atau pemasukan, atau mata tertinggi, atau merenungkan Catur-Satya (Memikirkan Empat Kebenaran Mulia)."

"Di dunia Ajaran Rahasia, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Melimpah, itu dinamakan ketakutan, atau kematian, atau menjijikkan, atau yang mendesak perhatian, atau perubahan, atau musuh yang memerangkap, atau perampas yang penuh tipu daya, atau yang sulit dikerjakan, atau pembedaan yang keliru, atau pemilik kekuatan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Melimpah dinamakan kerusakan, atau ketidaktahuan, atau musuh besar, atau pedang yang tajam, atau rasa yang menghancurkan, atau balas dendam, atau yang bukan milik anda, atau bimbingan yang buruk, atau kegelapan yang meningkat, atau kebajikan yang rusak."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Melimpah dinamakan makna yang besar, atau keuntungan, atau tujuan dari semua tujuan, atau tanpa batas, atau yang seharusnya dilihat, atau terpisah dari pembedaan, atau penaklukkan tertinggi, atau kesamaan yang tetap, atau yang layak hidup bersama, atau yang tidak berkondisi."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Melimpah dinamakan pembakaran, atau tingkat tertinggi, atau kepastian, atau yang tidak bisa hancur, atau teknik yang mendalam, atau pembebasan, atau tidak rendah, atau keahlian penembusan, atau intisari pembebasan, atau yang mampu membebaskan."

"Di dunia Melimpah, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Tanpa Noda, itu dinamakan penyesalan, atau ketergantungan, atau gangguan, atau tinggal di dalam dinding-dinding, atau satu rasa, atau kebohongan, atau tinggal di rumah, atau tempat kediaman dari kemelekatan yang menipu, atau pandangan yang salah, atau yang tidak terhitung banyaknya."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Tanpa Noda dinamakan tiada yang sesungguhnya, atau hanya perkataan, atau tidak murni, atau tempat kelahiran, atau ketamakan, atau yang direndahkan, atau yang meningkat, atau beban berat, atau penghasil, atau kasar."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Tanpa Noda dinamakan tiada bandingan, atau sepenuhnya dihapuskan, atau menghilangkan kotoran, atau indera tertinggi, atau kesesuaian, atau tanpa ketergantungan, atau melenyapkan kebingungan, atau yang paling unggul, atau yang tertinggi, atau menghancurkan segel."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Tanpa Noda dinamakan yang tidak bisa dihancurkan, atau bagian dari cara bijaksana, atau landasan dari pembebasan, atau kenyataan dari sifat alami yang mendasar, atau tanpa cela, atau yang paling murni, atau batas dari semua keberadaan, atau menjaga yang diterima sepenuhnya, atau menghasilkan yang tertinggi, atau pemahaman yang murni."

"Di dunia Tanpa Noda, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Kegembiraan Besar, itu dinamakan tempat kemelekatan cinta, atau akar dari bahaya dan celaka, atau bagian dari lautan keberadaan, atau terbuat dari pengumpulan, atau indera yang membeda-bedakan, atau bertambah, atau permulaan dan kehancuran, atau rintangan, atau landasan pedang dan pisau, atau terbuat dari kumpulan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Kegembiraan Besar dinamakan menjijikkan, atau nama, atau tanpa akhir, atau kumpulan yang berbeda, atau yang tidak dicintai, atau merampas dan melahap, atau buruk, atau kemelekatan cinta, atau wadah, atau mengaduk."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kegembiraan Besar dinamakan akhir dari kelanjutan, atau pengungkapan, atau tanpa nama, atau tiada yang dipraktekkan, atau tiada objek penglihatan, atau tiada yang untuk dikerjakan, atau nirvana, atau terbakar habis, atau melepaskan beban berat, atau menghapuskan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kegembiraan Besar dinamakan tindakan yang hening-tenang, atau tindakan pembebasan, atau praktek yang rajin dan pengalaman, atau berangkat menuju ke hening-tenang, atau kehidupan yang tanpa batas, atau pengetahuan yang cepat memahami, atau jalan tertinggi, atau sulit dipraktekkan, atau paramita (mencapai pantai seberang), atau yang tiada tanding."

"Di dunia Kegembiraan Besar, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Perkumpulan, itu dinamakan mampu merampok dan menjarah, atau teman yang jahat, atau dipenuhi ketakutan, atau berbagai macam khayalan, atau sifat alami dari neraka, atau kebohongan, atau beban dari keserakahan, atau akar dari berat yang mendalam, atau berubah dengan keadaan pikiran, atau pada dasarnya tidak berguna."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Perkumpulan dinamakan kemelekatan yang serakah, atau
penyelesaian yang salah, atau pelanggaran jahat, atau yang cepat, atau mencengkram, atau pikiran, atau buah dari keberadaan, atau yang tidak dapat dijelaskan, atau yang tidak dapat dipahami, atau terus berputar dalam lingkaran."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Perkumpulan dinamakan tanpa kemunduran, atau melampaui perkataan, atau tanpa bentuk-rupa, atau yang menggembirakan, atau kestabilan, atau keajaiban tertinggi, atau terbebas dari kebodohan, atau nirvana, atau terlepas dari kejahatan, atau terbebas."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Perkumpulan dinamakan melampaui perkataan, atau tanpa pertikaian, atau ajaran dan bimbingan, atau pengabdian kebajikan, atau upaya-kausalya yang besar, atau cara bijaksana yang beranekaragam, atau seperti ruang angkasa, atau tindakan yang hening-tenang, atau pengetahuan tertinggi, atau mampu memahami kebenaran."

"Di dunia Perkumpulan, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Menguntungkan, itu dinamakan beban yang berat, atau tidak stabil, atau seperti pencuri, atau usia tua dan kematian, atau terbentuk dari pendambaan, atau perpindahan, atau kelelahan, atau kondisi yang buruk, atau pertumbuhan, atau pedang yang tajam."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Menguntungkan dinamakan peluruhan, atau kebingungan, atau kemunduran, atau tanpa kekuatan, atau kehilangan, atau pertentangan, atau perselisihan, atau pekerjaan, atau ketamakan, atau keinginan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Menguntungkan dinamakan terbebas dari penjara, atau kebenaran yang sesungguhnya, atau terhindar dari bencana, atau perlindungan, atau terlepas dari sakit, atau penaklukkan, atau yang utama, atau meninggalkan penyebab, atau tanpa kegiatan, atau tanpa kelanjutan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Menguntungkan dinamakan tiba di ketiadaan dari keberadaan, atau segel dari semua, atau gudang samadhi, atau pencapaian cahaya, atau Avaivartikadharma (keadaan tanpa kemunduran), atau mampu mengakhiri keberadaan, atau jalan besar yang lebar, atau mampu menjinakkan, atau kedamaian, atau indera yang tidak beredar."

"Di dunia Menguntungkan, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Keunikan Yang Jarang, itu dinamakan nafsu keinginan yang berbahaya, atau tempat belenggu, atau tindakan yang menyimpang, atau penangkapan, atau tanpa malu, atau akar dari keserakahan, atau seperti aliran sungai gangga, atau kerusakan yang terus, atau sifat alami dari api, atau penuh kecemasan dan gangguan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Keunikan Yang Jarang dinamakan permukaan yang luas, atau hasrat kecenderungan, atau jauh dari kebijaksanaan, atau halangan, atau ketakutan, atau kelalaian, atau mencengkram, atau kemelekatan, atau tidak tahu menjadi tuan rumah, atau terus terikat."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Keunikan Yang Jarang dinamakan pemenuhan, atau keabadian, atau tanpa diri, atau tanpa sifat alami diri, atau akhir dari pembedaan, atau tempat tinggal dari kedamaian dan kebahagiaan, atau yang tanpa batas, atau memotong putus perpindahan, atau memotong putus kegiatan dari dorongan pikiran, atau tiada duanya."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Keunikan Yang Jarang dinamakan cahaya besar, atau lautan dari penjelasan, atau menyelidiki makna, atau jalan dari kesesuaian, atau terbebas dari kemelekatan, atau menghancurkan keberlanjutan, atau jalan yang lebar, atau landasan dari kesamaan, atau cara bijaksana yang murni, atau kebijaksanaan tertinggi."

"Di dunia Keunikan Yang Jarang, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Kebahagiaan, itu dinamakan perputaran, atau kelahiran, atau kehilangan keuntungan, atau kemelekatan kebiasaan, atau muatan yang berat, atau pembedaan, atau bahaya dari dalam, atau perkumpulan, atau tempat tinggal yang salah, atau sifat alami dari kesedihan dan penderitaan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Kebahagiaan dinamakan permukaan, atau kemudahan, atau waktu yang salah, atau ketidakbenaran, atau tanpa dasar, atau mencengkram kepemilikan, atau pergi dari sila, atau penderitaan, atau pandangan yang sempit, atau himpunan dari kotoran."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kebahagiaan dinamakan menghancurkan ketergantungan, atau tidak lalai, atau kebenaran, atau kesamaan, atau kemurnian, atau terbebas dari penyakit, atau tidak terputarbalikkan, atau tanpa bentuk-rupa, atau bebas, atau tidak dilahirkan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kebahagiaan dinamakan memasuki alam tertinggi, atau memotong putus pengumpulan, atau melampaui perbandingan, atau sifat alami yang luas, atau akhir dari pembedaan, atau jalan dari kekuatan batin, atau upaya-kausalya yang sangat banyak, atau praktek dari perhatian yang benar, atau jalan yang tetap tenang, atau menganut pembebasan."

"Di dunia Kebahagiaan, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Kunci, itu dinamakan bentuk-rupa yang membusuk, atau seperti bejana yang hancur, atau hasil dari diri, atau perwujudan dari berbagai kecenderungan, atau putaran yang sangat banyak, atau pintu dari penyakit yang sangat banyak, atau sifat alami kesakitan, atau yang harus ditinggalkan, atau yang hambar, atau datang dan pergi."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Kunci dinamakan kegiatan, atau racun kemarahan, atau pencampuran, atau perasaan, atau mementingkan diri, atau racun yang bercampur, atau nama yang kosong, atau perlawanan, atau peniruan, atau terkejut."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kunci dinamakan tanpa pengumpulan, atau yang tidak bisa digenggam, atau obat yang menakjubkan, atau yang tidak bisa hancur, atau tanpa kemelekatan, atau yang tidak terukur, atau yang luas, atau bidang dari Bodhi, atau terbebas dari kecanduan, atau tiada rintangan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Kunci dinamakan tindakan yang penuh damai, atau meninggalkan nafsu mengidam, atau kenyataan tertinggi, atau jalan masuk kedalam kebenaran, atau sifat alami tertinggi, atau perwujudan yang murni, atau konsentrasi, atau mengarah ke pembebasan, atau keselamatan, atau perbuatan tertinggi."

"Di dunia Kunci, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, penamaan dari kebenaran mulia dari penderitaan di dunia Saha ini, di dalam dunia yang bernama Suara Bergemuruh, itu dinamakan penyakit yang tersembunyi, atau duniawi, atau tempat tinggal, atau kesombongan, atau sifat alami dari kemelekatan kebiasaan, atau arus deras, atau yang tidak menyenangkan, atau kepura-puraan, atau yang cepat berlalu, atau yang sulit dikendalikan."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan, di dalam dunia Suara Bergemuruh dinamakan yang harus dikendalikan, atau kecenderungan pikiran, atau yang membelenggu, atau muncul di setiap pikiran, atau meluas hingga ke masa depan, atau pencampuran, atau pembedaan, atau pintu masuk, atau dilempar oleh angin, atau penyembunyian."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Suara Bergemuruh dinamakan tiada ketergantungan, atau yang tidak bisa di genggam, atau kembali, atau terbebas dari perselisihan, atau yang kecil, atau yang besar, atau yang murni, atau yang tidak habis-habisnya, atau yang luas, atau yang tidak ternilai."

"Kulaputra, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan, di dalam dunia Suara Bergemuruh dinamakan pengamatan yang menyelidiki, atau kemampuan menghancurkan musuh, atau segel dari pengetahuan, atau kemampuan memasuki intisari, atau yang tidak bisa di tentang, atau makna tanpa batas, atau mampu memasuki pengetahuan, atau jalan keharmonisan, atau keheningan-tenang yang abadi, atau kebenaran tertinggi."

"Di dunia Suara Bergemuruh, Kulaputra, Empat Kebenaran Mulia bisa diungkapkan dalam empat puluh triliun nama seperti ini, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."

"Kulaputra, sama seperti di dunia Saha ini ada empat puluh triliun nama untuk mengungkapkan Empat Kebenaran Mulia, begitu juga di penjuru timur ada ratusan dari ribuan dari jutaan yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan dari banyak dunia yang ada di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu, di mana masing-masing dunia itu juga ada empat puluh triliun nama untuk mengungkapkan Empat Kebenaran Mulia, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan. Sama seperti di penjuru timur, begitu juga di sebelah selatan, barat, dan utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah."

"Kulaputra, sama seperti di Saha Lokadhatu dimana kebenaran mulia dari penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, begitu juga di dalam sistem dunia di sepuluh penjuru, di masing-masing lokadhatu itu, kebenaran mulia dari penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari pengumpulan penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, kebenaran mulia dari jalan menuju berakhirnya penderitaan dijelaskan dalam empat puluh triliun nama, yang mana sesuai dengan pikiran para makhluk hidup, bisa menyebabkan mereka semua di jinakkan dan di taklukkan."
#17608
Image
Samantabhadra Vajrapani Droje Chang


Image
Arya Avalokitesvara Chenrezig

Bab 9
Prabhabodhita parivartah


Kemudian pada saat itu, dari tanda roda di bawah kaki sang Bhagavan, ada memancarkan ratusan juta sinar cahaya yang menerangi Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu. juga, itu menerangi miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Jika ada yang melihat Samyaksambuddha,
Yang terbebaskan dan terpisah dari noda,
Dan tidak melekati dunia apapun,
Dia belumlah menyadari Dharmacaksu.

Jika ada yang mengenal Tathagata,
Tubuh-Nya dan tanda-Nya adalah yang tiada,
Dan dengan pengolahan mendapat pemahaman yang jelas,
Dia akan dengan cepat menjadi Buddha.

Dia yang bisa melihat dunia ini,
Dengan pikiran yang kukuh tak berpindah,
Begitu juga dengan tubuh Buddha,
Akan mencapai pengetahuan tertinggi.

Jika dalam memandang Buddha dan Dharma,
Orang memahaminya sebagai yang sama,
Dengan pikiran yang tidak mendua,
Dia akan berjalan di tingkat yang tidak terbayangkan.

Jika orang melihat Buddha dan dirinya sendiri,
Tinggal berdiam dalam kesamaan,
Tanpa tempat tinggal, tidak masuk kemanapun,
Dia akan menjadi Yang Langka.

Bentuk-rupa dan perasaan tanpa kumpulan:
Begitu juga tanggapan penglihatan, perbuatan, kesadaran;
Dia yang bisa mengetahui hal ini,
Akan menjadi Maha Muni.

Pandangan duniawi ataupun yang diluar dunia,
Setelah melampauinya semua,
Sambil dengan baik mampu mengenal Dharma,
Dia akan menjadi Yang Maha Terang.

Jika menuju ke Sarvajnajnana,
Orang membangkitkan pengabdian,
Melihat pikiran yang tanpa asal-mula,
Dia akan memperoleh Nama Terbesar.

Para Makhluk hidup tanpa kelahiran,
Dan juga tanpa peluruhan;
Jika orang mencapai pengetahuan ini,
Dia akan menyadari Jalan Yang Tiada Tanding.

Dalam satu memahami yang tidak terbatas,
Dalam yang tidak terbatas, yang satu:
Dengan menyadari asal-mula ketergantungannya,
Dia akan mencapai 'Abhaya (Keberanian Tanpa Takut)'.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati dunia ini dan menyinari sepuluh Buddhaksetra di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Para makhluk hidup yang tanpa kebijaksanaan,
Terluka dan teracun oleh duri nafsu keinginan;
Demi kepentingan mereka, mencari Bodhi:
Seperti itulah Buddhadharma.

Mengamati semua gejala kejadian,
Meninggalkan yang berlebihan,
Setelah menyelesaikan Bodhi, tidak pernah kemunduran,
Memutar Dharmacakra yang tiada banding.

Selama kalpa yang tidak terbayangkan
Mengolah berbagai praktek dengan semangat,
Demi membebaskan para makhluk:
Inilah kekuatan Maha Muni.

Sang Nayaka menaklukkan Mara.
Sang Pemberani yang tidak terkalahkan,
Mengkhotbahkan Dharma yang halus dalam cahaya-Nya,
Dikarenakan oleh sayang dan belas-kasihan.

Dengan pengetahuan dan kebijaksanaan,
Menghancurkan rintangan dari penderitaan,
Dalam sekejap melihat semua:
Inilah kekuatan batin sang Buddha.

Memukul genderang dari Maha Dharma,
Membangkitkan semua ksetra di sepuluh penjuru,
Menyebabkan semua pergi menuju Bodhi:
'Vimuktibala (kekuatan pembebasan)' bisa melakukan ini.

Tidak bisa hancur dan tiada batas,
Berkelana ke seluruh miliaran ksetra
Tanpa melekat pada keberadaan apapun:
Kebebasan ini adalah yang seperti para Buddha.

Buddha sama seperti ruang angkasa,
Pada yang tertinggi selamanya murni;
Mereka yang bergembira dalam mengingat ini,
Akan memenuhi semua ikrar mereka.

Di dalam setiap neraka,
Dia melewati kalpa yang tidak terhitung;
Demi membebaskan para makhluk hidup
Dia mampu menanggung kesakitan ini.

Tanpa menganggap tubuh-Nya dan hidup-Nya,
Selalu melindungi semua Buddhadharma,
Dengan pikiran tidak mementingkan diri dan harmonis,
Dia bisa mencapai jalan Tathagata.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sepuluh dunia dan menyinari seratus dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Buddha memahami gejala kejadian seperti khayalan-ilusi
Dan menembusnya dengan tanpa halangan.
Pikiran-Nya murni dan terbebas dari kemelekatan;
Dia megakurkan dan menaklukkan semua makhluk.

Beberapa melihat Dia pertama kali dilahirkan,
Warna-Nya sama seperti gunung emas;
Hidup dalam tubuh terakhir-Nya,
Dia selamanya Bulan diantara manusia.

Beberapa melihat-Nya sedang berjalan,
Dipenuhi dengan kebajikan yang tanpa batas;
Perhatian dan kecerdasan-Nya sangat terampil,
Sang Maha Purusa berjalan seperti Singa.

Beberapa melihat mata-Nya yang berwarna biru-ungu,
Sedang menatap sepuluh penjuru;
Kadang-kadang Dia memperlihatkan senyum,
Agar menyesuaikan dengan keinginan para makhluk.

Beberapa melihat auman singa-Nya,
Tubuh-nya yang tertinggi dan tiada bandingannya,
Mewujudkan kelahiran terakhir-Nya,
Membicarakan tiada apapun selain kebenaran.

Beberapa melihat-Nya meninggalkan rumah,
Melenyapkan semua ikatan,
Mempraktekkan perbuatan para Buddha,
Selalu merenungkan kepunahan.

Beberapa melihat-Nya sedang duduk di Bodhimanda,
Membangkitkan pengetahuan atas segala sesuatu,
Mencapai pantai seberang dari semua kebajikan,
Ketidaktahuan dan Noda batin menjadi berakhir.

Beberapa melihat sang Lelaki Tertinggi,
Penuh dengan Belas-kasihan yang besar,
Memutar Dharmacakra,
Memebabaskan para makhluk yang tidak terhitung.

Beberapa melihat sang Simhanada,
Cahaya-Nya yang menakjubkan dan unik,
Melampaui semua dunia,
Dengan Abhijnabala yang tiada tanding.

Beberapa melihat pikiran-Nya yang damai,
Seperti lampu yang padam selamanya;
Mewujudkan berbagai jenis kekuatan batin,
Sang dasa-bala bisa seperti ini.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati seratus dunia dan menyinari seribu dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Buddha menembus yang tiada tanding,
Dharma yang paling mendalam;
Para makhuk hidup tidak bisa mengerti,
Jadi Dia mengungkapkannya tahap demi tahap.

Sifat alami diri tidak pernah ada,
Dan kepemilikan diri jugalah kosong;
Jadi bagaimana para Tathagata,
Bisa memiliki tubuh mereka?

Yang terbebaskan, pengetahuan dan perbuatan-Nya,
Adalah yang melampaui kelompok dan perbandingan;
Semua pemikiran dan penalaran duniawi,
Tidak bisa menemukan kesalahan di dalamnya.

Para Buddha bukanlah 'loka-skandha (kumpulan duniawi)',
Bukan juga unsur, indera, kelahiran dan kematian;
Kumpulan gejala kejadian tidak bisa menghasilkannya,
Oleh karena itu, Mereka di juluki Singa diantara manusia.

Sifat alami-Nya pada dasarnya kosong dan diam;
Dia terbebaskan di dalam dan diluar,
Terpisah dari semua pikiran salah,
Kualitas yang tiada tanding seperti ini.

Zat dan sifat alami-Nya tidak pernah bergerak,
Tanpa diri, tidak datang dan tidak pergi;
Namun Dia bisa mencerahkan dunia,
Menaklukkan semua tanpa batas.

Dia selalu senang merenungkan kepunahan,
Yang satu, tiada duanya;
Pikiran-Nya tidak bertambah atau berkurang,
Namun mewujudkan kekuatan yang tanpa batas.

Mereka tidak melakukan perbuatan
Yang menyebabkan hasil pada para makhluk,
Namun bisa memahaminya tanpa rintangan,
Begitulah Dharma sang Tathagata.

Semua jenis dari makhluk hidup,
Berpindah melalui semua alam;
Sang Tathagata tidak membedakan,
Menyelamatkan jenis yang tanpa batas.

Warna emas sang Buddha,
Bukanlah keberadaan, namun meliputi semua keberadaan;
Sesuai dengan kecenderungan semua makhluk,
Mengajarkan mereka Dharma dari keheningan-tenang.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati seribu dunia dan menyinari sepuluh ribu dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Mengembangkan 'Maha-karuna (belas-kasihan yang besar)',
Demi menyelamatkan dan melindungi semua makhluk,
Selamanya meninggalkan alam manusia dan dewa:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Selalu meyakini sang Buddha,
Pikiran tidak pernah mundur,
Mendekati semua Tathagata:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Bertujuan pada kebajikan dari keBuddhaan,
Tekad tidak pernah mundur,
Tinggal di dalam kebijaksanaan murni yang menakjubkan:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Dalam semua sikap kegiatan,
Selalu mengingat kebajikan Buddha
Tanpa henti siang dan malam:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Mengamati masa lalu, sekarang, masa depan yang tanpa batas,
Mempelajari kebajikan Buddha
Dengan pikiran tanpa kenal lelah :
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Mengamati ciri-ciri yang sesungguhnya dari tubuh,
Semuanya kosong dan tiada,
Terpisah dari diri, dengan tanpa diri:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Pikiran melihat para makhluk sebagai yang sama,
Tidak menciptakan pembedaan,
Memasuki alam dari kenyataan yang sesungguhnya:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Mengangkat dunia yang tanpa batas,
Meminum habis semua samudra,
Kekuatan pengetahuan dari pencapaian batin ini:
Adalah karma yang harus dikerjakan.

Merenungkan berbagai macam ksetra,
Yang berbentuk dan yang tanpa bentuk,
Mampu mengetahuinya semua:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Butiran debu di semua ksetra dimana-mana,
Ada, di dalam setiapnya, seorang Buddha;
Mampu mengetahui jumlah Mereka:
Inilah karma yang harus dikerjakan.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sepuluh ribu dunia dan menyinari seratus ribu dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Jika orang melihat sang Penjinak Manusia,
Dalam hal bentuk rupa atau keluarga,
Ini adalah mata yang sakit, pandangan sesat:
Mereka tidak bisa mengetahui Dharma tertinggi.

Berbagai macam ciri-ciri dari sang Tathagata,
Tidak bisa diukur oleh setiap makhluk;
Jika melalui sepuluh juta nayuta kalpa menghitungnya bersama,
Ciri-ciri kualitas kebajikan itu masih lebih tanpa batas.

Sang Tathagata tidak mengambil bentuk-rupa sebagai zat,
Itu hanyalah ketiadaan bentuk, keadaan yang hening-tenang:
Namun bentuk tubuh dan tingkah-lakunya sempurna,
Dilihat oleh para duniawi sesuai dengan keinginan mereka.

Kualitas Buddha adalah yang halus, sulit diukur;
Tiada kata atau ucapan yang bisa mencapainya.
Itu bukanlah yang berkondisi atau yang tidak tanpa kondisi;
Sifat alami intisarinya kosong dan tanpa bentuk.

Tubuh sang Buddha tidak dilahirkan, melampaui pemikiran;
Itu bukanlah kumpulan dari unsur yang berbeda.
Memiliki kekuatan pembebasan dan penglihatan pasti,
Dia menjelajahi jalan keberanian yang tidak terkatakan.

Tubuh dan pikiran-Nya sama,
Terbebaskan di dalam dan diluar,
Selamanya tinggal didalam kesadaran sejati,
Tiada kemelekatan, tanpa belenggu.

Sang Tercerahkan dengan pikiran yang murni,
Perbuatan-Nya tanpa kebiasaan;
Dengan mata pengetahuan yang mencapai semua,
Dia adalah bantuan besar para makhluk hidup.

Satu tubuh tidak terbatas,
Dan tidak terbatas adalah yang satu;
Dengan memahami semua dunia,
Dia mewujudkan bentuk-rupa dimana-mana.

Tubuh ini tidak datang dari manapun,
Dan bukan himpunan apapun juga;
Disebabkan oleh pembedaan para makhluk
sehingga melihat berbagai jenis tubuh Buddha.

Pikiran membedakan dunia,
Namun pikiran tanpa keberadaan;
Sang Tathagata mengetahui kebenaran ini,
Jadi dalam cara ini melihat tubuh Buddha.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati seratus ribu dunia dan menyinari sejuta dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Tathagata yang paling bebas,
Melampaui dunia, tidak bergantung pada apapun,
Dipenuhi dengan semua kebajikan,
Membebaskan makhluk dari semua alam keberadaan.

Tidak terkotori, tanpa kemelekatan,
Tanpa tanggapan penglihatan, tidak menghuni,
Zat dan intisari tidak terukur:
Mereka yang melihat-Nya semua memuji.

Cahaya yang meliputi semua, terang dan murni,
Membersihkan kotoran duniawi,
Tidak bergerak, melampaui yang berlebihan.
Inilah pengetahuan sang Tathagata.

Jika orang melihat sang Tathagata,
Dengan tubuh dan pikiran terpisah dari pembedaan,
Maka terhadap semua gejala kejadian,
Selamanya tidak akan ragu.

Di semua dunia, dimana-mana,
Memutar Dharmacakra;
Namun tanpa sifat alami, tiada yang diputar,
Sang Nayaka menjelaskan dengan Upaya-kausalya.

Tanpa keraguan terhadap Dharma,
Selamanya mengakhiri pembentukan pikiran,
Tidak menghasilkan pikiran yang membeda-bedakan:
Inilah kesadaran Bodhi.

Memahami gejala kejadian yang berbeda,
Tidak melekat pada ucapan kata,
Dengan tiada satu atau banyak:
Inilah mengikuti ajaran Buddha.

Di dalam yang banyak tiada kesatuan,
Juga yang satu tiada yang banyak:
Dengan meninggalkan kedua ini,
Adalah secara menyeluruh memasuki kualitas Buddha.

Para makhluk hidup dan ksetranya,
Adalah yang seluruhnya kosong.
Dengan tanpa ketergantungan atau pembedaan,
Orang mampu memasuki Bodhi sang Buddha.

Dari para makhluk hidup dan ksetranya,
Kesatuan atau perbedaan tidak bisa ditemukan;
Dengan penuh pemahaman melihat seperti ini,
Dinamakan Yang Mengetahui Makna Ajaran Buddha.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sejuta dunia dan menyinari satu milyar dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Kebijaksanaan tiada tanding, Dharma tanpa batas,
Melampaui lautan keberadaan, mencapai pantai seberang,
Usia dan Cahaya tanpa bandingan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Berkebajikan.

Dengan jelas memahami semua Buddhadharma,
Selalu mengamati tiga masa waktu tanpa lelah,
Bahkan ketika melihat objek, tidak membedakan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Tidak Terbayangkan.

Merenungkan para makhluk hidup tanpa gagasan oleh itu,
Mengamati semua keberadaan tanpa gagasan oleh itu,
Selalu tinggal di keheningan Dhyana, namun tidak mengekang pikiran:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Kebijaksanaan Yang Tanpa Halangan.

Melalui upaya-kausalya memahami semua gejala kejadian,
Melalui perhatian benar dengan rajin mengolah jalan ke Nirvana,
Menikmati pembebasan, berpisah dari ketidaksamaan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Damai Dan Tidak Memihak.

Mendorong orang mencapai Samyaksambodhi,
Menuju Sarvajna dari Dharmadhatu,
Dan mempengaruhi para makhluk untuk memasuki kebenaran:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Tinggal Di Pikiran Buddha.

Mampu memasuki semua Dharma yang diajarkan Buddha,
Dengan pengetahuan luas dan kebijaksanaan yang tanpa halangan,
Mampu tiba di semua tujuan:
Inilah kekuatan upaya-kausalya dari Pengolahan Pembebasan.

Selalu tinggal di Nirvana, sama seperti ruang angkasa,
Mampu berubah wujud dan muncul dimana-mana sesuai kehendak:
Penciptaan bentuk-rupa yang berdasarkan pada ketiadaan bentuk-rupa ini,
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Dia Yang Mencapai Yang Sulit Dicapai.

Siang dan malam, hari dan bulan, tahun dan kalpa,
Tanda-tanda dari permulaan dan pengakhiran, pembentukan dan penghancuran dunia:
Mengingat dan sepenuhnya mengetahui ini,
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Pengetahuan Mengukur Waktu.

Semua makhluk hidup memiliki kelahiran dan kematian;
Berbentuk atau tiada bentuk, Berpikiran atau tanpa pikiran:
Mengetahui seluruh berbagai jenis sebutan ini,
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Tinggal Berdiam Pada Yang Tidak Terbayangkan.

Dari masa lampau, sekarang, dan masa depan,
Memahami semua yang telah dikatakan,
Namun mengetahui tiga masa waktu adalah yang sama:
Adalah kekuatan upaya-kausalya dari Pemahaman Yang Tiada Banding.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati satu milyar dunia dan menyinari sepuluh milyar dunia di penjuru timur. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Telah mengolah praktek yang luas dan sulit,
Dengan rajin bekerja siang dan malam,
Telah menyeberangi yang sulit di seberangi, dengan Simhanada,
Mengajar semua makhluk - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup berputar di dalam lautan pengidaman dan keserakahan,
Terselubung oleh jaring ketidaktahuan, sangat terbeban;
Dia Yang Paling Baik dengan berani mencabut semuanya,
Kami berikrar juga akan melakukannya - Inilah Praktek itu.

Para duniawi tidak terkendali, melekat pada nafsu indera;
Salah membedakan, mereka menderita banyak kesakitan.
Mempraktekkan ajaran Buddha, selalu mengendalikan pikiran,
Berikrar menyeberangkannya - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup, melekati diri, memasuki kelahiran dan kematian;
Mencari batas dari ini, tiada yang bisa ditemukan.
Melayani semua Tathagata untuk memperoleh Saddharma,
Menjelaskannya kepada orang lain - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup tanpa pertolongan, terselimuti oleh penyakit,
Selamanya tenggelam dalam takdir jahat, menghasilkan tiga racun,
Kobaran dahsyat dari api besar selalu membakar mereka;
Dengan pikiran murni menyelamatkan mereka - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup terbingungkan, kehilangan jalan yang benar;
Selalu pergi ke jalan yang salah, masuk ke rumah kegelapan.
Demi mereka, lampu Dharma dinyalakan,
Selamanya menjadi cahaya - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup naik dan tenggelam di lautan keberadaan;
Masalah mereka tanpa batas, tanpa tempat istirahat.
Membuatkan untuk mereka perahu Dharma,
Menyeberangkan mereka - Inilah Praktek itu.

Para makhluk hidup tidak tahu, tidak melihat yang mendasar;
Bingung, bodoh, gila di tengah bahaya dan kesulitan.
Sang Buddha mengasihani mereka, membuatkan jembatan Dharma
Dengan kesadaran benar, membuat mereka memanjatnya - Inilah Praktek itu.

Melihat para makhluk di jalan bahaya,
Terbebani oleh penderitaan dari lahir, sakit, dan mati;
Mengembangkan upaya-kausalya yang tidak terbatas,
Berikrar untuk menyelamatkan mereka semua - Inilah Praktek itu.

Mendengar Dharma, percaya tanpa ragu,
Memahami sifat alami kekosongan tanpa takut,
Muncul di semua alam dalam bentuk-rupa yang sesuai,
Mengajar semua yang tersesat - Inilah Praktek itu.

Kemudian pada saat itu, sinar cahaya itu melewati sepuluh milyar dunia dan menyinari ratusan milyar dunia di penjuru timur, menyinari satu triliun dunia, seratus triliun dunia, kuadriliun dunia, seratus kuadriliun dunia, kuintriliun dunia, seratus kuintriliun dunia; Dalam cara ini, menyinari yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan dari banyak dunia yang ada di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu. Hal yang sama ini juga terjadi di penjuru selatan, barat, utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah. Di dalam semua dunia itu juga ada miliaran benua Jambudvipa, miliaran benua Purvavideha, miliaran benua Aparagodaniya, miliaran benua Uttarakuru, miliaran Mahasamudra, miliaran Cakravada, miliaran kelahiran para Bodhisattva, miliaran para Bodhisattva yang meninggalkan rumah, miliaran para Tathagata yang menyelesaikan Samyaksambodhi, miliaran para Tathagata yang memutar Dharmacakra, miliaran para Tathagata yang memasuki Nirvana, miliaran raja gunung Sumeru, miliaran surga Caturmaharajika, miliaran surga Trayatrimsa, miliaran surga Suyama, miliaran surga Tusita, miliaran surga Nirmanarati, miliaran surga Paranirmitavasavartin, miliaran surga Brahmaparsadya, miliaran surga Abhasvara, miliaran surga Subhakritsna, miliaran surga Brihatphala, miliaran surga Akanistha; Semuanya menjadi tampak jelas oleh cahaya ini.

Sama seperti disini sang Bhagavan Buddha terlihat sedang duduk diatas simhasana dari tumpukan bunga teratai, dikelilingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, begitu juga di setiap miliaran jambudvipa, ada miliaran para Tathagata yang duduk dalam cara yang sama.

Di sebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru, ada Maha Bodhisattva yang masing-masing dengan rombongan para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, datang kepada sang Buddha. Nama-nama Mereka yaitu : Manjushri Bodhisattva Mahasattva, Buddhottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva, Ratnottara Bodhisattva Mahasattva, Gunottara Bodhisattva Mahasattva, Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva, Viryottara Bodhisattva Mahasattva, Dharmottara Bodhisattva Mahasattva, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva, Sattvottara Bodhisattva Mahasattva.

Nama-nama ksetra dari Para Bodhisattva ini berasal yaitu, dunia keemasan, dunia berwarna menakjubkan, dunia berwarna bunga teratai, dunia berwarna bunga champaka, dunia berwarna bunga utpala, dunia berwarna emas, dunia berwarna permata, dunia berwarna vajra, dunia berwarna permata mani, dunia berwarna sama-rata. Setiap Bodhisattva ini telah mengolah brahmacarya dihadapan para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang nama-nama-Nya yaitu : Acalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Apratihatajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimuktijnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Tejovrttajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Laksanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Agrajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Ksemajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Avalokanajnana Tathagata Arhan Samyaksambuddha.

Kemudian pada saat itu, dihadapan semua Buddha itu, suara dari Manjushri Bodhisattva terdengar di seluruh tempat itu menyatu mengucapkan syair-gatha ini :

Dalam satu ksana, mengamati kalpa yang tidak terukur
Tanpa pergi, atau datang, atau tinggal,
Dengan begitu memahami peristiwa masa lampau, sekarang, dan masa depan,
Sang Buddha melampaui upaya-kausalya dan menyelesaikan dasa-bala.

Kemasyhuran kebajikan-Nya tiada bandingan di sepuluh penjuru,
Selamanya bebas dari masalah, selalu bergembira,
Dia pergi ke semua ksetra,
Untuk mengumumkan Dharma ini kepada semua.

Demi keuntungan para makhluk, Dia memuja para Buddha,
Mencapai buah yang sebanding sesuai keinginan-Nya;
Siap menyatakan semua Dharma,
Dia memperlihatkan kekuatan batin di sepuluh penjuru.

Dari pertama kali memuja para Buddha, pikiran-Nya lentur dan sabar;
Dia memasuki samadhi yang mendalam dan mengamati sifat alami gejala kejadian.
Mendorong semua makhluk untuk bercita-cita pada Bodhi,
Melalui cara ini, Dia segera mencapai buah yang tiada tanding.

Siapa yang mencari Dharma dimana-mana dengan pikiran yang tidak terbagi,
Yang mengolah kebajikan hingga sepenuhnya matang,
Melenyapkan semua yang mendua dari keberadaan dan ketidakberadaan:
Orang seperti itu sungguh melihat sang Buddha.

Pergi ke semua ksetra di sepuluh penjuru,
Menjelaskan Saddharma demi kesejahteraan orang banyak,
Tinggal di dalam kenyataan tanpa keraguan:
Kebajikan orang ini sama seperti Buddha.

Saddharmacakra yang diputar sang Tathagata
Adalah semua aspek dari Bodhi;
Jika orang setelah mendengarnya, bisa menyadari sifat alami gejala kejadian,
Orang ini akan selalu melihat sang Buddha.

Jika orang tidak melihat dasa-bala sebagai yang kosong, seperti khayalan,
Maka meskipun melihat, itu tidak melihat, sama seperti buta.
Membedakan dan mengenal pada bentuk-rupa, orang tidak melihat sang Buddha;
Setelah berpisah dari kemelekatan, maka orang bisa melihat.

Para makhluk hidup beranekaragam perbedaannya mengikuti karma;
Di sepuluh penjuru, didalam dan diluar, sulit melihat mereka semua:
Tubuh Buddha tanpa rintangan, meliputi sepuluh penjuru,
Dalam cara yang sama juga tidak bisa sepenuhnya dilihat.

Sama seperti ruang angkasa ada ksetra yang tidak terbatas,
Tidak datang atau pergi, meliputi sepuluh penjuru,
Terbentuk dan hancur tanpa memiliki tempat kediaman,
Sang Buddha meliputi ruang angkasa dalam cara yang sama.
#17609
Image
Amoghasiddhi Buddha



Image
Vajrankusa Bodhisattva

Bab 10
Bodhisattvopadesapariprrcha


Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Buddhottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, sifat alami dari pikiran adalah yang satu, lalu mengapa terlihat ada berbagai jenis perbedaan, seperti pergi ke kecenderungan yang baik atau buruk, memiliki indera yang lengkap atau indera yang kurang, perbedaan dalam kelahiran, cantik dan jelek, sakit dan puas, menderita dan bahagia? Mengapa 'perbuatan (karma)' tidak mengetahui pikiran, pikiran tidak mengetahui karma, penerimaan tidak mengetahui akibat, akibat tidak mengetahui penerimaan, pikiran tidak mengetahui penerimaan, penerimaan tidak mengetahui pikiran, sebab tidak mengetahui kondisi, kondisi tidak mengetahui sebab, pengetahuan tidak mengetahui objek, objek tidak mengetahui pikiran?"

Kemudian Buddhottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Maitri, Anda menanyakan makna ini,
Agar membangunkan semua yang tidak tahu.
Saya akan menjawab sesuai dengan intisari:
Dengarlah dengan jelas, Maitri.

Gejala kejadian tiada fungsi
Dan tidak ada sifat alami diri;
Oleh karena itu, semuanya
Tidak saling mengenal.

Sama seperti air di sungai,
Aliran arus derasnya berpacu lewat,
Masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Juga sama seperti api besar,
Berkobar naik keatas secara serentak,
Masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Juga sama seperti hembusan angin yang terus,
Yang menghantam apapun yang dijumpai,
Masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Juga sama seperti beranekaragam tingkat bumi,
Masing-masing berlandaskan pada yang lain,
Namun masing-masing tidak mengetahui yang lain:
Begitu juga dengan semua gejala kejadian.

Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh,
Pikiran, kecerdasan, indera:
Terus menerus berputar dalam samsara,
Namun tiada siapapun yang membuatnya berputar.

Sifat alami dari gejala kejadian pada dasarnya tidak dilahirkan,
Namun mereka mewujud menjadi ada:
Namun tiada apapun yang membuatnya mewujud,
Juga tiada yang diwujudkan.

Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh,
Pikiran, kecerdasan, indera:
Semuanya adalah kosong dan tanpa intisari;
Namun pikiran yang salah memahaminya sebagai yang ada.

Melihatnya sebagaimana yang sesungguhnya apa adanya,
Semuanya adalah tanpa sifat alami diri.
Mata Dharma bukanlah gagasan pikiran:
Penglihatan ini tidak salah.

Yang nyata atau tidak nyata,
Yang salah atau yang tidak salah,
Yang duniawi atau yang melampaui duniawi:
Itu adalah yang tidak ada, namun hanyalah nama.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, semua makhluk hidup adalah yang tiada, lalu mengapa sang Tathagata muncul di tengah-tengah, demi mereka, mengajar sesuai dengan waktu, sesuai dengan hidup mereka, sesuai dengan jenis mereka, sesuai dengan karma mereka, sesuai dengan pemahaman mereka, sesuai dengan bahasa mereka, sesuai dengan kecenderungan mereka, sesuai dengan kebijaksanaan mereka, sesuai dengan pikiran mereka, sesuai dengan peninjauan mereka?"

Kemudian Dharmadhanottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Yang senang dalam keheningan-tenang,
Sang Bahusruta,
Saya akan menjelaskannya untuk Anda,
Sekarang, dengarlah dengan penuh perhatian!

Amatilah tubuh di dalam:
Yang manakah yang adalah 'Diri'?
Orang yang memahami cara ini,
Akan mengerti tiada Diri yang ditemukan.

Tubuh ini adalah pengadaan sementara,
Dan tiada tempat kediaman miliknya.
Orang yang mengerti tubuh ini,
Tidak akan melekatinya.

Dengan teliti amatilah tubuh,
Segala sesuatunya akan jelas terlihat.
Dengan mengetahui semua gejala kejadian adalah yang tidak nyata,
Orang tidak akan menciptakan pikiran yang membeda-bedakan.

Berdasarkan apa hidup timbul,
Dan berdasarkan apa itu lenyap?
Sama seperti roda api yang berputar,
Awal dan akhirnya tidak bisa diketahui.

Orang bijaksana bisa mengamati dengan wawasan,
Ketidakabadian dari semua keberadaan.
Semua gejala kejadian adalah yang kosong dan tanpa diri,
Selamanya terpisah dari semua ciri.

Semua akibat dilahirkan dari perbuatan.
Sama seperti mimpi, mereka tidak sungguh nyata.
Dari waktu ke waktu terus-menerus lenyap,
Hal yang sama juga pada sebelum dan sesudah.

Segala sesuatu yang terlihat di dunia,
Hanyalah pikiran sebagai tuan rumahnya.
Dengan mencengkram bentuk-rupa mengikuti gagasan,
Itu adalah pembalikan sesat, bukanlah kenyataan yang sesungguhnya.

Semua teori bahasa duniawi,
Adalah pembuatan pikiran.
Tiada satupun ajaran diantara mereka,
Yang bisa memasuki 'Dharmata (sifat alami dari gejala kejadian)'.

Melalui kekuatan dari penglihatan dan yang diketahui,
Semua jenis dari gejala kejadian menjadi ada.
Mereka dengan segera lenyap, tidak tinggal,
Mati dari waktu ke waktu.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Ratnottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, semua makhluk hidup sama tersusun dari empat unsur, yang tanpa diri dan tiada apapun yang berhubungan dengan diri, lalu mengapa ada pengalaman dari sakit dan puas, cantik dan jelek, baik didalam dan baik diluar, sedikit rasa dan banyak rasa? Mengapa ada yang mengalami ganjaran sekarang dan ada yang di masa depan? Sedangkan di dharmadhatu tidak ada yang baik atau buruk.

Kemudian Ratnottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sesuai dengan yang dilakukan,
Hasil akibat menjadi ada;
Namun pelakunya tiada keberadaan:
Inilah yang diajarkan Buddha.

Sama seperti cermin yang jelas,
Sesuai dengan yang datang kehadapannya,
Memantulkan bentuk dengan perbedaannya;
Seperti itulah sifat alami karma.

Atau, sama seperti benih yang ditabur di tanah,
Masing-masing saling tidak menyadari,
Namun mampu bertunas serentak;
Seperti itulah sifat alami karma.

Atau, sama seperti ahli sihir,
Berdiri di persimpangan jalan,
Menyebabkan banyak bentuk muncul;
Seperti itulah sifat alami karma.

Sama seperti manusia rakitan,
Mampu menyuarakan berbagai jenis suara,
Namun tanpa diri ataupun bukan yang tanpa diri;
Seperti itulah sifat alami karma.

Dan, sama seperti beranekaragam jenis burung,
Semuanya muncul dari telur,
Namun suara mereka tidak sama;
Seperti itulah sifat alami karma.

Sama seperti di dalam rahim,
Semua indera terbentuk,
Namun ciri zatnya tiada asal;
Seperti itulah sifat alami karma.

Juga, sama seperti makhluk di neraka,
Berbagai jenis hal yang menyakitkan,
Semuanya tidak datang dari manapun;
Seperti itulah sifat alami karma.

Juga, sama seperti Cakravarti,
Dengan tujuh permata mulianya,
Yang asal mulanya tidak bisa ditemukan;
Seperti itulah sifat alami karma.

Dan saat semua dunia,
Terbakar oleh api yang besar,
Api ini tidak datang dari manapun;
Seperti itulah sifat alami karma.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Gunottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, semua Tathagata terbangkitkan hanya pada satu Dharma, lalu mengapa Mereka menjelaskan Dharma yang tidak terhitung, muncul di dalam Buddhaksetra yang tidak terhitung, mengubah para makhluk hidup yang tidak terhitung, berbicara dalam suara yang tidak terhitung, mewujudkan tubuh yang tidak terhitung? Bagaimana Mereka mengetahui pikiran yang tidak terhitung, mempertunjukkan abhijna yang tidak terhitung, mengguncang dunia yang tidak terhitung, menampilkan hiasan yang sangat indah yang tidak terhitung, mengungkapkan berbagai macam alam para makhluk yang tidak terhitung? Sedangkan di dalam sifat alami gejala kejadian, semua ciri yang berbeda-beda ini tidak ditemukan.

Kemudian Gunottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Kulaputra, makna yang Anda tanyakan,
Sangat mendalam, sulit diukur.
Orang Bijaksana mampu mengetahuinya,
Selalu bergembira dalam kebajikan Buddha.

Sama seperti sifat alami dari bumi adalah satu,
Sedangkan setiap makhluk hidup tersendiri,
Dan bumi tidak memiliki pikiran satu atau berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti sifat alami dari api adalah satu,
Sambil mampu membakar semua,
Api itu tidak membeda-bedakan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti sifat alami dari laut adalah satu,
Dengan jutaan ombak yang berbeda,
Namun air itu tidak berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti sifat alami dari angin adalah satu,
Sambil mampu menghembus semua,
Angin itu tidak memiliki pikiran satu atau berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti awan guntur yang besar,
Menghujani seluruh bumi,
Namun rintik hujan itu tidak membeda-bedakan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti unsur tanah, walau satu,
Bisa menghasilkan berbagai jenis tumbuhan,
Namun, bukan tanah itu yang berbeda,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti matahari tanpa halangan awan,
Bersinar diseluruh sepuluh penjuru,
Sinar cahayanya tidak ada perbedaan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Dan sama seperti bulan di langit,
Yang terlihat dimana-mana di bumi,
Namun bulan itu tidak pergi kesana,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Sama seperti Raja Maha Brahma,
Muncul di seluruh trisahassra,
Namun tubuhnya tanpa perubahan,
Seperti itulah Dharma dari semua Buddha.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, para Tathagata sebagai lapangan kebajikan adalah yang satu dan semuanya sama, lalu mengapa para makhluk hidup yang menyumbang kepada Mereka hasil pahalanya tidak sama? Ada yang beranekaragam bentuk-rupa, beranekaragam keluarga, beranekaragam indera, beranekaragam kekayaan, beranekaragam kekuasaan, beranekaragam pengikut, beranekaragam jabatan, beranekaragam kualitas kebajikan, beranekaragam pengetahuan. Dan, namun para Buddha tidak memihak terhadap mereka, tidak berpikir mereka berbeda-beda?

Kemudian Vilocanottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sama seperti maha-prthivi adalah yang satu,
Namun menghasilkan tumbuhan sesuai benih,
Tanpa keberpihakan terhadap setiap itu,
Seperti itulah 'lapangan kebajikan Buddha (Buddhapunyaksetra)'.

Sama seperti air adalah yang satu-ragam,
Namun berbeda bentuk sesuai dengan bejana,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Berbeda hanya disebabkan oleh pikiran makhluk.

Atau, sama seperti ahli sulap,
Bisa membuat orang menjadi bahagia,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Menyebabkan para makhluk hidup bergembira.

Sama seperti Raja dengan kekayaan dan pengetahuan,
Bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada semua.

Sama seperti cermin yang jelas,
Memantulkan gambar sesuai dengan bentuk,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Pahala diperoleh sesuai dengan pikiran makhluk.

Sama seperti herbal agada,
Bisa menyembuhkan semua racun,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Melenyapkan semua penderitaan.

Dan sama seperti matahari terbit,
Menyinari dunia,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Menghilangkan semua kegelapan.

Sama seperti bulan purnama yang jelas,
Menyinari 'bumi yang besar (maha-prthivi)',
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Membentang ke semua tempat dengan sama-rata.

Sama seperti kobaran api yang besar,
Mampu membakar segala sesuatu,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Membakar habis semua yang berkondisi.

Sama seperti badai vairambha,
Bisa menyebabkan seluruh bumi bergetar,
Begitu juga Buddhapunyaksetra:
Menggerakkan triloka para makhluk hidup.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Viryottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, ajaran Buddha adalah satu, yang semua makhluk bisa melihatnya, lalu mengapa mereka semua tidak segera memotong putus semua belenggu penderitaan dan memperoleh pembebasan? Lagi, walaupun tiada perbedaan dalam 'himpunan bentuk (rupa-skandha)', 'himpunan perasaan (vedana-skandha)', 'himpunan gagasan (samjna-skandha)', 'himpunan pembentukan pikiran (sankhara-skandha)', 'himpunan kesadaran (vijnana-skandha)' di seluruh 'alam nafsu (kamadhatu)', 'alam berwujud (rupadhatu)', dan 'alam tanpa wujud (arupadhatu)', dan juga tiada perbedaan dalam ketidaktahuan, keserakahan, dan nafsu mereka, namun mengapa beberapa memperoleh keuntungan dari ajaran Buddha dan yang lainnya tidak?

Kemudian Viryottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Dengarlah dengan baik Kulaputra,
Dan Saya akan jujur menjawabnya.
Beberapa dengan cepat mendapat pembebasan,
Dan yang lainnya sulit melepaskan diri.

Jika ingin melenyapkan,
Kesalahan dan kesusahan yang tidak terhitung,
Orang harus bekerja dengan rajin,
Pada 'ajaran Buddha (Buddhadharma)'.

Sebagai contoh, api yang sangat kecil,
Batang yang basah akan memadamkannya.
Pada Dharma yang diajarkan Buddha,
Begitulah mereka yang malas.

Sama seperti saat menggerek membuat api,
Dan berhenti sebelum api itu muncul,
Panas akan segera menghilang,
Begitulah mereka yang malas.

Jika orang dengan kaca kristal,
Tidak menfokuskan sinar matahari pada apapun,
Api tidak akan pernah diperoleh,
Begitulah mereka yang malas.

Misalkan ketika matahari bersinar menyilaukan
Anak kecil menutup matanya,
Dan mengeluh, "Mengapa saya tidak bisa lihat?"
Begitulah mereka yang malas.

Seperti orang yang tiada tangan dan kaki,
Ingin menggunakan panah dari alang-alang,
Untuk menembak seluruh permukaan tanah,
Begitulah mereka yang malas.

Sama seperti menggunakan sehelai rambut,
Untuk mengambil air samudra,
Mencoba mengeringkan lautan,
Begitulah mereka yang malas.

Seperti saat api kalpa menyala,
Mencoba memadamkannya dengan sedikit air,
Pada Dharma yang diajarkan Buddha,
Begitulah mereka yang malas.

Sama seperti orang yang menatap ruang angkasa,
Sementara sedang duduk diam tidak berpindah,
Dia berkata bahwa sedang menjelajahinya,
Begitulah mereka yang malas.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Dharmottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, sang Buddha telah berkata bahwa jika ada makhluk hidup yang menerima dan mempertahankan Saddharma maka bisa memotong putus semua penderitaan, lalu mengapa ada mereka yang menerima dan mempertahankan Saddharma namun tidak memotong putus penderitaan? Bahkan menjadi serakah, dendam, menghayal, sombong, menutupi, marah, benci, cemburu, kikir, menipu, merendahkan diri. Terdorong oleh kekuatan penderitaan ini, tidak bermaksud untuk berpisah dari itu. Jika mereka mampu menerima dan mempertahankan Saddharma, lalu mengapa masih menghasilkan penderitaan di dalam kegiatan pikiran?

Kemudian Dharmottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Dengarlah dengan baik Kulaputra,
Makna sesungguhnya dari yang Anda tanyakan.
Itu bukan hanya melalui banyak belajar,
Bahwa orang bisa memasuki Dharma sang Tathagata.

Sama seperti orang yang mengambang di air,
Mati kehausan karena takut tenggelam.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang mempersiapkan pesta mewah,
Dirinya lapar, namun tidak makan.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang ahli obat,
Namun tidak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang menghitung kekayaan orang lain,
Namun tiada setengahpun harta miliknya.
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama sepeti orang yang terlahir di istana raja,
Namun kedinginan dan kelaparan,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti ahli musik yang tuli,
Yang menggembirakan orang lain, namun dirinya tidak mendengar,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti ahli sulam yang buta,
Yang mempertunjukkan ke orang lain, namun dirinya tidak melihat,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti kapten kapal,
Mati di lautan,
Begitu juga bagi orang yang terpelajar,
Yang tidak mempraktekkan Dharma.

Sama seperti orang yang berdiri di sudut,
Mengatakan semua jenis kebajikan,
Namun dirinya tidak memiliki kebajikan yang nyata,
Begitu juga bagi orang yang tidak mempraktekkan Dharma.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Jnanottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, di dalam Buddhadharma, 'pengetahuan (Jnana)' adalah yang terutama, lalu mengapa sang Tathagata, demi para makhluk hidup, kadang-kadang membabarkan 'memberi (Dana)', kadang-kadang membabarkan 'pengendalian diri (Sila)', kadang-kadang membabarkan 'kesabaran (Ksanti), kadang-kadang membabarkan 'semangat (Virya)', kadang-kadang membabarkan 'Konsentrasi (Dhyana)', kadang-kadang membabarkan 'Kebijaksanaan (Prajna)'? Atau lagi, kadang-kadang membabarkan 'Kebaikan (Maitri)', kadang-kadang membabarkan 'Belas-kasihan (Karuna)', kadang-kadang membabarkan 'Kegembiraan (Mudita)', kadang-kadang membabarkan 'Pelepasan (Upeksha)', namun, selama ini pada akhirnya cuma 'satu kebenaran (eka-dharma)' yang untuk mencapai pembebasan Anuttara-Samyaksambodhi.

Kemudian Jnanottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sungguh jarang, Kulaputra,
Yang mengetahui pikiran makhluk hidup.
Untuk yang Anda tanyakan, Maitri,
Dengarlah dengan jelas yang akan Saya jelaskan.

Di masa lampau, masa depan,
Dan juga masa sekarang dari para Nayaka,
Tiada satupun yang menjelaskan hanya satu cara,
Untuk mencapai Bodhi.

Sang Buddha mengetahui pikiran para makhluk hidup,
Sifat alami mereka yang berbeda-beda;
Sesuai dengan yang dibutuhkan mereka untuk terbebas,
Dia mengajarkan Dharma dengan cocok.

Untuk yang kikir, Dia membabarkan Dana.
Untuk yang melanggar, Dia membabarkan Sila.
Untuk yang pemarah, Dia membabarkan Ksanti.
Untuk yang malas, Dia membabarkan Virya.

Untuk yang pikirannya cerai-berai, Dia membabarkan Dhyana.
Untuk yang bodoh, Dia membabarkan Prajna.
Untuk yang kejam, Dia membabarkan Maitri.
Untuk yang pembenci, Dia membabarkan Karuna.

Untuk yang bersedih, Dia membabarkan Mudita,
Untuk yang tidak jujur, Dia membabarkan Upeksha.
Dengan berturut-turut mempraktekkan ini,
Setahap demi setahap menyempurnakan semua Buddhadharma.

Sama seperti pertama membangun dasar,
Lalu membangun istana,
Begitu juga Dana dan Sila,
Adalah dasar dari praktek Bodhisattva.

Sama seperti dinding kota dibangun,
Untuk melindungi semua rakyat,
Begitu juga Ksanti dan Virya,
Melindungi Bodhisattva.

Sama seperti Maha Raja yang berkuasa,
Dihormati oleh seluruh negara,
Begitu juga Samadhi dan Prajna,
Yang adalah andalan Bodhisattva.

Sama seperti Cakravartin,
Yang bisa melimpahkan kebahagiaan mutlak,
Begitu juga Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksha,
Memberikan kebahagiaan kepada Bodhisattva.

Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Sattvottara Bodhisattva Mahasattva : "Karena, Kulaputra, para Bhagavan Buddha mencapai pembebasan melalui satu jalan, lalu mengapa kualitas Buddhaksetra yang kita lihat beranekaragam dan tidak sama? Yaitu, dunianya, makhluk hidupnya, Dharma untuk menjinakkan, jangka usianya, pancaran cahayanya, kekuatan batinnya, perkumpulan majelisnya, cara yang diajarkan, dan lama Dharmanya semuanya berbeda-beda. Namun semuanya itu mencakup semua Buddhadharma yang mana Anuttarasamyaksambodhi tercapai.

Kemudian Sattvottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Manjushri, Dharma adalah selalu begini,
Dharmaraja menyeberang dengan satu Dharma;
Orang yang tidak terhambat oleh apapun,
Lolos dari kelahiran dan kematian melalui satu jalan.

Semua tubuh Buddha,
Adalah satu 'Tubuh Dharma (Dharmakaya)',
Satu pikiran, dan satu kebijaksanaan,
Kekuatan dan keberaniannya sama.

Berdasarkan keinginan awal mencari Bodhi,
Sesuai dengan pengabdian Mereka,
Mengembangkan ksetra seperti itu,
Dengan perkumpulan majelisnya dan Dharmanya.

Hiasan dari semua Buddhaksetra,
Sepenuhnya terlengkapi.
Sesuai dengan karma para makhluk yang berbeda-beda,
Itu terlihat tidak sama.

Buddhaksetra dan tubuh Buddha,
Perkumpulan majelis-Nya dan yang diucapkan-Nya,
Buddhadharma yang seperti ini,
Tiada makhluk hidup yang bisa melihat.

Ketika pikiran termurnikan,
Dan ikrar tersempurnakan,
Maka orang yang mencapai Bodhi ini,
Akan bisa melihat.

Sesuai dengan kecenderungan pikiran para makhluk,
Dan kekuatan buah hasil dari karma mereka,
Mereka melihatnya berbeda-beda,
Ini disebabkan oleh kekuatan batin Buddha.

Buddhaksetra tiada perbedaan,
Tiada kebencian dan tiada kemelekatan;
Namun sesuai dengan pikiran para makhluk,
Itu tampak berbeda-beda.

Disebabkan ini, di dalam dunia,
Apa yang terlihat adalah berbeda-beda,
Semua Tathagata,
Maha Muni, tidak disalahkan oleh ini.

Di dalam semua dunia,
Mereka yang cocok menerima ajaran,
Selalu melihat sang Vira diantara Manusia,
Inilah Buddhadharma.

Kemudian pada saat itu, semua Bodisattva Mahasattva itu berkata kepada Manjushri Bodhisattva Mahasattva : "Kami, Kulaputra, masing-masing telah mengucapkan pemahaman kami. Kami hanya berharap, Maitri, menggunakan kefasihannya yang menakjubkan untuk menjelaskan secara luas tingkat dari Tathagata. Seperti apakah tingkat Buddha? Seperti apakah penyebab dari tingkat Buddha? Seperti apakah cara pembebasan dari tingkat Buddha? Seperti apakah jalan masuk ke tingkat Buddha? Seperti apakah kebijaksanaan dari tingkat Buddha? Seperti apakah dharma dari tingkat Buddha? Seperti apakah kata-kata dari tingkat Buddha? Seperti apakah pengetahuan dari tingkat Buddha? Seperti apakah pencapaian dari tingkat Buddha? Seperti apakah perwujudan dari tingkat Buddha? Seperti apakah luas-bentangan dari tingkat Buddha?"

Kemudian Manjushri Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Tingkat Tathagata yang mendalam,
Sama seperti luas-bentangan ruang angkasa.
Semua makhluk hidup memasukinya,
Namun sesungguhnya tiada yang dimasuki.

Tingkat Tathagata yang mendalam,
Hasil dari penyebab yang mulia.
Menjelaskannya tanpa henti selama jutaan kalpa,
Masih tidak akan teruraikan semuanya.

Sesuai dengan pikiran dan kebijaksanaan para makhluk,
Para Buddha memimpin dan membantu mereka;
Dalam cara ini menyelamatkan makhluk hidup,
Inilah tingkat dari Buddha.

Dalam semua ksetra di semua dunia,
Para Buddha memasukinya sesuai dengan para makhluk disana.
Namun para makhluk itu tidak bisa melihat,
Tubuh kebijaksanaan Buddha yang tanpa bentuk.

Pengetahuan Buddha adalah yang bebas,
Tidak terintangi di triloka.
Tingkat kebijaksanaan ini,
Adalah yang sama dengan ruang angkasa.

Alam makhluk hidup dari dharmadhatu,
Pada yang tertinggi tanpa perbedaan.
Sepenuhnya mengetahui semua itu,
Adalah tingkat dari Tathagata.

Semua bahasa dan suara,
Yang ada di dalam dunia,
Pengetahuan Buddha bisa memahami,
Tanpa membeda-bedakan.

Tidak terlihat oleh indera kesadaran,
Dan bukanlah bidang pikiran,
Sifat alaminya sendiri pada dasarnya murni,
Pengetahuan Buddha mengajar makhluk hidup.

Tanpa karma, tanpa penderitaan,
Tiada apapun, dan tiada tempat tinggal,
Tiada penglihatan dan tiada objek,
Pencapaian Mereka sama di seluruh dunia.

Pikiran dari semua makhluk hidup,
Yang di masa lampau, sekarang dan masa depan,
Para Tathagata, dalam sekejap satu pikiran,
Bisa seluruhnya memahami.

Kemudian pada saat itu, dalam Sahaloka ini, semua gejala kejadian yang berbeda-beda dari semua makhluk hidup, karma yang berbeda-beda, alam yang berbeda-beda, tubuh yang berbeda-beda, indera yang berbeda-beda, kelahiran yang berbeda-beda, hasil yang berbeda-beda dari menjaga sila, hasil yang berbeda-beda dari melanggar sila, dan hasil yang berbeda-beda dari ksetra, secara jelas di tampilkan melalui kekuatan batin sang Buddha.

Sama seperti di penjuru timur, ada ratusan dari ribuan dari miliaran yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan di banyak dunia, di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu, semua gejala kejadian yang berbeda-beda dari semua makhluk hidup, karma yang berbeda-beda, alam yang berbeda-beda, tubuh yang berbeda-beda, indera yang berbeda-beda, kelahiran yang berbeda-beda, hasil yang berbeda-beda dari menjaga sila, hasil yang berbeda-beda dari melanggar sila, dan hasil yang berbeda-beda dari ksetra, secara jelas di tampilkan melalui kekuatan batin sang Buddha. Sama halnya juga dengan di sebelah selatan, barat, dan utara, empat penjuru tengah, penjuru atas dan bawah.
#17610
Image
Vajrambhuja (Amitayus)


Image
Vajradharma (Aryavalokitesvara)

Bab 11
Karmaparisodhana parivartah


Kemudian pada saat itu, Jnanottara Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Manjushri Bodhisattva Mahasattva dengan berkata : "Bagaimanakah, kulaputra, para Bodhisattva mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa cacat? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak melukai? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak tercela? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak bisa dihancurkan? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa kemunduran? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak tergoyahkan? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang unggul? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang murni? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa noda? Bagaimanakah Mereka mencapai karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang dipimpin oleh kebijaksanaan? Bagaimanakah Mereka mencapai kelahiran di tempat yang baik, silsilah yang baik, keluarga yang baik, penampilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, praktek yang sempurna, keberanian yang sempurna, dan tercerahkan sempurna? Bagaimanakah Mereka mencapai kebijaksanaan yang unggul, kebijaksanaan yang terutama, kebijaksanaan tertinggi, kebijaksanaan yang tidak terukur, kebijaksanaan yang tidak terhitung, kebijaksanaan yang tidak terbayangkan, kebijaksanaan yang tiada bandingan, kebijaksanaan yang tidak terduga, kebijaksanaan yang tidak terkatakan? Bagaimanakah Mereka mencapai kekuatan 'sebab (hetu)', kekuatan semangat, kekuatan 'keterampilan (upaya)', kekuatan kondisi, kekuatan dari objek yang dikondisikan, kekuatan indera, kekuatan pengamatan, kekuatan 'konsentrasi menghentikan pikiran (samatha)', kekuatan 'wawasan yang memeriksa kenyataan (vipashyana)', kekuatan perenungan? Bagaimanakah Mereka mencapai keahlian menganalisa 'kumpulan (skandha)', keahlian menganalisa unsur, keahlian menganalisa tempat, keahlian menganalisa 'kemunculan yang saling bergantungan (pratityasamutpada)', keahlian menganalisa 'alam nafsu keinginan (kamadhatu)', keahlian menganalisa 'alam bentuk-rupa (rupadhatu)', keahlian menganalisa 'alam yang tiada bentuk-rupa (arupadhatu)', keahlian memahami masa lampau, keahlian memahami masa sekarang, keahlian memahami masa depan? Bagaimanakah Mereka mengolah dengan baik 'bagian dari pencerahan dari perhatian penuh (smrti-bodhyanga)', 'bagian dari pencerahan dari memeriksa kebenaran (dharmavicaya-bodhyanga)', 'bagian dari pencerahan dari semangat (virya-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari kegembiraan (priti-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari kedamaian tubuh dan pikiran (prasrabdhi-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari konsentrasi (samadhi-bodhyanga), 'bagian dari pencerahan dari pelepasan (upeksha-bodhyanga)? Bagaimanakah Mereka mencapai kekosongan, ketiadaan ciri-ciri, ketiadaan keinginan? Bagaimanakah Mereka mencapai kesempurnaan 'Menyumbang Yang Melampaui (dana-paramita)', 'Pengendalian Diri Yang Melampaui (sila-paramita)', 'Kesabaran Yang Melampaui (ksanti-paramita)', 'Semangat Yang Melampaui (virya-paramita)', 'Meditasi Yang Melampaui (dhyana-paramita)', 'Kebijaksanaan Yang Melampaui (prajna-paramita)'? Bagaimanakah Mereka mencapai kesempurnaan 'Kebaikan (Maitri)', 'Belas-kasihan (Karuna)', 'Kegembiraan (Mudita)', 'Pelepasan (Upeksha)'? Bagaimanakah Mereka mencapai kekuatan pengetahuan tentang apa yang dasar dan apa yang bukan, kekuatan pengetahuan tentang akibat dari karma masa lampau - sekarang - masa depan, kekuatan pengetahuan tentang indera yang lebih tinggi dan lebih rendah, kekuatan pengetahuan tentang berbagai jenis alam, kekuatan pengetahuan tentang berbagai jenis pemahaman, kekuatan pengetahuan tentang tujuan dari semua jalan, kekuatan pengetahuan tentang kekotoran atau kemurnian dari Dhyana - 'pembebasan (vimoksa)' - Samadhi, kekuatan pengetahuan tentang kehidupan masa lampau, kekuatan pengetahuan tentang mata surga yang tidak terhalang, kekuatan pengetahuan tentang memotong putus semua noda? Bagaimanakah Mereka selalu mendapat perlindungan, hormat, dan pemujaan dari para Raja Dewa, Raja Naga, Raja Yaksha, Raja Gandharva, Raja Asura, Raja Garuda, Raja Kinnara, Raja Mahoraga, Raja Manusia, Raja Brahma? Bagaimanakah Mereka menjadi andalan, penyelamat, tempat berlindung, tujuan, obor, cahaya, penyinar, pembimbing, pemimpin tertinggi atas semua bagi seluruh makhluk hidup? Bagaimanakah Mereka menjadi yang terutama, terbesar, unggul, tertinggi, mulia, menakjubkan, melebihi, tidak terkalahkan, tiada bandingan, tiada tanding diantara semua makhluk hidup?"

Kemudian Manjushri Bodhisattva Mahasattva berkata kepada Jnanottara Bodhisattva Mahasattva : "Sadhu, Kulaputra, Sadhu ! Anda telah menanyakan ini demi keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, para dewa dan manusia. Jika, Kulaputra, para Bodhisattva menggunakan pikiran dengan tepat, Mereka bisa mencapai semua kualitas kebajikan tertinggi, pikiran Mereka bisa tanpa hambatan terhadap semua Buddhadharma, Mereka bisa tetap tinggal di jalan dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan, tetap tinggal ditengah-tengah menyesuaikan dengan para makhluk hidup tidak pernah meninggalkannya, bisa memahami ciri-ciri dari semua gejala kejadian, memotong putus semua kejahatan dan menyempurnakan semua kebaikan. Mereka akan memiliki tubuh yang paling unggul, sama seperti Samantabhadra; Semua praktek pranidhana Mereka akan terpenuhi, dan akan bebas tanpa usaha dalam semua gejala kejadian, dan akan menjadi pembimbing semua makhluk hidup. Bagaimanakah, Kulaputra, Mereka menggunakan pikiran untuk mencapai semua kualitas kebajikan yang unggul ini?

Bodhisattva yang berkehidupan rumah,
Harus berpikir ingin semua makhluk
Menyadari sifat alami kekosongan dari kehidupan rumah,
Dan terlepas dari tekanannya.

Ketika sedang melayani orang tuanya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Melayani sang Buddha,
Meindungi dan menyokong semuanya.

Ketika sedang bersama dengan istri dan anaknya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memperlakukan sama terhadap semua orang,
Dan selamanya meninggalkan kemelekatan.

Ketika memperoleh lima nafsu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencabut keluar panah nafsu,
Dan menyadari kebahagiaan tertinggi.

Ketika sedang di kesenangan pesta musik meriah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menghibur diri dengan Dharma,
Dan menyadari kesenangan itu adalah yang tidak nyata.

Ketika sedang di dalam istana,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki keadaan dari Resi,
Selamanya melenyapkan nafsu mengidam yang kotor.

Ketika memakai kalung permata berharga,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan semua perhiasan yang salah,
Dan mencapai tempat tinggal Dharma.

Ketika naik keatas menara,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Naik keatas menara Dharma,
Dengan jelas melihat semuanya.

Ketika sedang menyumbang,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mampu melepaskan segalanya,
Dengan pikiran yang terbebas dari kemelekatan.

Ketika dalam pertemuan orang banyak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan gejala kejadian yang berkondisi,
Dan mencapai 'Pengetahuan Yang Mengetahui Semua (Sarvajnajnana)'.

Ketika dalam bahaya dan kesulitan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai tujuan dengan mudah,
Dan tidak menemui halangan dalam usahanya.

Ketika meninggalkan kehidupan rumah tangga,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan kehidupan rumah tanpa halangan apapun,
Dan pikiran menjadi terbebaskan.

Ketika masuk ke 'biara Buddha (sangha-arama)',
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membabarkan semua jenis Dharma
Yang bebas dari kesalahan dan pertengkaran.

Ketika mengunjungi pengajar dan guru,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan terampil melayani gurunya,
Dan mempraktikkan Dharma kebajikan.

Ketika meminta 'meninggalkan kehidupan duniawi (pravrajita)',
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai tingkat tanpa kemunduran,
Pikiran terbebas dari rintangan.

Ketika membuang pakaian duniawi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan tekun mengolah akar kebajikan,
Dan meninggalkan semua pelanggaran penghancur.

Ketika mencukur rambut kepala,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya bercerai dari semua penderitaan,
Dan mencapai keheningan-tenang tertinggi.

Ketika mengenakan jubah kasaya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki pikiran yang tanpa noda,
Dan memikirkan 'ikrar tiada tanding (anuttara-pranidhana)'.

Ketika benar-benar meninggalkan kehidupan rumah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Bersama Buddha meninggalkan kehidupan rumah,
Dan menyelamatkan semua makhluk.

Ketika berlindung pada Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meneruskan silsilah para Buddha,
Dan menghasilkan ikrar tiada tanding.

Ketika berlindung pada Dharma,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Masuk mendalam ke dalam 'permata Dharma (Dharma-ratna)',
Dan memiliki kebijaksanaan sedalam lautan.

Dalam berlindung pada Sangha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Bersatu dalam tata-tertib Maha-sangha,
Semuanya tanpa halangan.

Ketika menerima ajaran sila,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan terampil mempelajari sila
Dan menghindari semua perbuatan salah.

Ketika menerima ajaran Acarya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki kemuliaan yang menakjubkan
Dan jujur dengan apa yang diperbuat.

Ketika menerima ajaran Bhiksu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki kebijaksanaan Anutpattikadharmaksanti
Dan mencapai tahap pembebasan.

Ketika menerima sila yang lengkap,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyelesaikan semua cara pembebasan,
Dan mencapai Dharma yang terunggul.

Ketika memasuki balai-ruangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Naik ke Caitya yang tak tertandingi,
Dan tinggal berdiam dengan damai tanpa goyah.

Ketika mempersiapkan tempat duduk,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyebabkan dharma kebajikan menjadi mekar,
Dan melihat ciri-cirinya yang sesungguhnya.

Ketika duduk tegak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Duduk diatas Bodhimanda
Dengan pikiran tanpa kemelekatan.

Ketika duduk dalam sikap bunga teratai penuh (duduk bersila),
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki akar kebajikan yang kuat
Dan mencapai tingkat yang tidak tergoyahkan.

Ketika mengolah samadhi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menaklukkan pikiran dengan samadhi,
Dan pada akhirnya, tiada sisa kebiasaan.

Ketika mempraktekkan perenungan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Melihat kenyataan yang sesungguhnya,
Dan selamanya meninggalkan pertentangan.

Ketika keluar dari sikap duduk teratai,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengamati semua karma dan gejala kejadian,
Yang kembali bubar dan lenyap.

Ketika menurunkan kaki,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai pembebasan pikiran,
Dan dengan damai tinggal berdiam tidak bergerak.

Ketika mengangkat kaki,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan lautan kelahiran dan kematian,
Dan menyempurnakan semua kualitas kebaikan.

Ketika memakai pakaian bawah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memakai akar kebaikan,
Dan memiliki rasa malu dan sadar.

Ketika memakai sabuk pinggang,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menghimpun akar kebaikan,
Dan jangan membiarkannya menjadi hilang.

Ketika memakai pakaian luar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai landasan akar kebaikan terunggul,
Dan mencapai pantai seberang dari Dharma.

Ketika memakai 'jubah biara (sanghati)',
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki posisi terkemuka,
Dan mencapai ketenangan Dharma.

Ketika memegang sikat gigi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai Dharma yang menakjubkan
Dan pada akhirnya menjadi murni.

Ketika menyikat gigi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Harmonis dan murni dalam pikiran,
Dan menggigit semua penderitaan.

Ketika pergi ke kamar mandi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengusir keserakahan, kebencian, dan kebodohan,
Dan membersihkan diri dari hal-hal yang jahat.

Ketika menggunakan air,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan cepat berangkat,
menuju ke dharma yang melampaui duniawi.

Ketika membersihkan kotoran tubuh,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi murni dan harmonis,
Dan pada akhirnya tanpa kekotoran.

Ketika memakai air untuk mencuci tangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki tangan yang murni,
Untuk menerima dan menegakkan Buddhadharma.

Ketika memakai air untuk mencuci muka,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai pintu Dharma yang murni
Dan selamanya terbebas dari kekotoran.

Ketika memegang tongkat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mendirikan pekerjaan besar dari berdana,
Dan mengungkapkan jalan menuju kebenaran.

Ketika memegang mangkok,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyempurnakan kapal Dharma,
Dan menerima persembahan para dewa dan manusia.

Ketika berangkat ke Jalan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Pergi ke tempat sang Buddha pergi,
Ke dalam alam tanpa ketergantungan.

Ketika bepergian di jalan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Berjalan di Jalan Buddha
Dan maju menuju Dharma yang tanpa sisa.

Ketika berjalan di jalan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menapak di dharmadhatu yang murni,
Dengan pikiran tanpa hambatan.

Ketika melihat jalan yang menanjak naik,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya melampaui triloka,
Dengan pikiran bebas dari takut.

Ketika melihat jalan yang menurun,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Berpikiran yang rendah hati,
Dan menumbuhkan akar kebajikan Buddha.

Ketika melihat jalan yang berliku,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan jalan yang salah,
Dan selamanya menyingkirkan pandangan jahat.

Ketika melihat jalan yang lurus,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki pikiran yang lurus dan benar,
Tanpa sanjungan dan tipu daya.

Ketika melihat jalan yang berdebu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyingkirkan debu dan kotoran,
Dan mencapai gejala kejadian yang murni.

Ketika melihat jalan yang bebas dari debu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu mempraktekkan belas kasih yang besar,
Pikirannya bersinar dan terpelihara.

Ketika melihat jalan yang berbahaya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tinggal berdiam di dharmadhatu,
Dan menghindari masalah dari pelanggaran.

Ketika melihat perkumpulan orang banyak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membabarkan Dharma yang paling mendalam,
Dan bersikap harmonis dengan semua.

Ketika melihat pohon yang besar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan pemikiran egois dan pertengkaran,
Dan bebas dari kebencian dan dendam.

Ketika melihat hutan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi yang layak dihormati,
Oleh dewa dan manusia.

Ketika melihat gunung yang tinggi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki akar kebaikan yang luar biasa,
Tidak ada yang bisa mencapai puncaknya.

Ketika melihat semak berduri,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan cepat memotong putus,
Duri dari tiga racun.

Ketika melihat dedaunan lebat di pohon,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Terbebaskan melalui konsentrasi,
Dan bertindak sebagai tempat berlindung.

Ketika saya melihat bunga mekar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kekuatan batin dan dharma yang serupa,
Sama seperti bunga yang mekar penuh.

Ketika melihat pohon mekar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai ciri-ciri yang menyerupai bunga,
Dan diberkati dengan tiga puluh dua tanda.

Ketika melihat buah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai Dharma yang tertinggi,
Dan menyadari Jalan Bodhi.

Ketika melihat sungai yang besar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki aliran Dharma,
Dan memasuki lautan pengetahuan Buddha.

Ketika melihat rawa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan cepat terbangkitkan pada,
Rasa tunggal Dharma dari Buddha.

Ketika melihat kolam,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyempurnakan karma ucapan,
Dan menjadi terampil dalam berkhotbah.

Ketika melihat sumur,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki kekuatan penuh dari kefasihan
Untuk membabarkan semua dharma.

Ketika melihat mata air,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengembangkan Upaya-kausalya,
Dan akar kebaikan yang tidak habis-habisnya.

Ketika melihat jembatan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyeberangkan semua menuju pembebasan,
Dengan bertindak sebagai jembatan.

Ketika melihat air yang mengalir,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengembangkan cita-cita yang baik,
Dan membersihkan kotoran dari ketidaktahuan.

Ketika melihat kebun yang terolah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencabut rumput nafsu mengidam,
Dari taman lima nafsu indera.

Ketika melihat hutan yang tanpa kesedihan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya terpisah dari keserakahan dan nafsu birahi,
Dan terbebas dari kesedihan dan ketakutan.

Ketika melihat taman,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan tekun mengolah praktik,
Yang menuju ke Bodhi sang Buddha.

Ketika melihat orang yang memakai perhiasan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengambil tiga puluh dua ciri
Sebagai perhiasannya yang luar biasa.

Ketika melihat yang tidak terhiasi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan semua perhiasan,
Dan menyempurnakan praktik pertapaan.

Ketika melihat orang yang melekat pada kesenangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengambil Dharma sebagai kebahagiaannya,
Bergembira dan tidak pernah meninggalkannya.

Ketika melihat orang yang tidak terikat dengan kesenangan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi tiada peduli pada,
Gejala kejadian yang berkondisi.

Ketika melihat orang yang bahagia,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu menemukan kedamaian dan kebahagiaan,
Dan senang dalam memberikan persembahan kepada para Buddha.

Ketika melihat orang dalam kesulitan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kebijaksanaan dasar,
Untuk memadamkan semua penderitaan.

Ketika melihat orang yang sehat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki kebijaksanaan sejati,
Dan selamanya bebas dari penyakit dan penderitaan.

Ketika melihat orang yang sakit,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyadari tubuh sebagai yang kosong dan tiada,
Dan meninggalkan pertikaian.

Ketika melihat orang yang tampan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu menimbulkan keyakinan yang murni
Kepada para Buddha dan Bodhisattva.

Ketika melihat orang yang jelek,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak melekati,
Apapun yang tidak baik.

Ketika melihat orang yang berterima kasih,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mampu mengerti kebajikan,
Dari para Buddha dan Bodhisattva.

Ketika melihat orang yang tidak tahu berterima kasih,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan meningkatkan balas-dendam,
Pada orang yang jahat.

Ketika melihat Shramana,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menjadi harmonis dan hening-tenang,
Dan pada akhirnya menaklukkan diri sendiri.

Ketika melihat Brahmana,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu mempertahankan tingkah-laku yang murni,
Dan menyingkirkan semua kejahatan.

Ketika melihat pertapa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Melalui praktik pertapaan,
Mencapai keadaan tertinggi.

Ketika melihat orang yang mengendalikan diri,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan kuat mempertahankan tekad dalam praktek,
Dan tidak meninggalkan Jalan Buddha.

Ketika melihat orang yang memakai baju perisai,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu memakai baju perisai kebajikan,
Dan menuju ke tingkat yang tanpa guru.

Ketika melihat orang yang tanpa baju perisai,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya berpisah dari,
Semua karma yang tidak baik.

Ketika melihat orang yang berdebat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mampu membantah,
Semua jenis ajaran tirtika.

Ketika melihat orang yang berpenghidupan benar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Berhasil dalam mata pencaharian yang murni,
Dan tanpa tingkah-laku yang salah.

Ketika melihat seorang raja,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Akan menjadi Raja Dharma,
Dan selalu menyebarkan Dharma yang tepat.

Ketika melihat seorang pangeran
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dilahirkan oleh perwujudan dari Dharma,
Dan menjadi murid sang Buddha.

Ketika melihat seorang tetua,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membuat penilaian yang terampil,
Dan menahan diri dari keadaan jahat.

Ketika melihat mentri besar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selalu menjaga perhatian penuh,
Dan mempraktekkan semua perbuatan baik.

Ketika melihat kota dan bentengnya,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memiliki tubuh yang kuat dan kukuh,
Dan pikiran yang tidak mengenal lelah.

Ketika melihat ibu kota,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengumpulkan semua kualitas kebajikan
Dan selalu bersukacita bergembira.

Ketika melihat orang dalam hutan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
menjadi yang layak dipuji dan dihormati,
Oleh dewa dan manusia.

Ketika memasuki desa untuk ber-pindapatra,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki dharmadhatu yang mendalam,
Dan pikirannya tanpa halangan.

Ketika mencapai pintu tempat tinggal,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki pintu,
Dari Buddhadharma.

Ketika memasuki tempat tinggal,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki Kendaraan Buddha,
Yang sama dengan tiga masa waktu.

Ketika melihat orang yang tidak memberi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan pernah menyerah,
Dari jalan kebajikan tertinggi.

Ketika melihat orang yang memberi,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Selamanya meninggalkan,
Penderitaan dari tiga jalan jahat.

Ketika melihat mangkuk kosong,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Murni dalam pikiran,
Kosong tanpa penderitaan.

Ketika melihat mangkuk penuh,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Sepenuhnya menyempurnakan,
Semua dharma kebajikan.

Ketika menerima penghormatan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan hormat mempraktekkan,
Semua Buddhadharma.

Ketika tidak menerima penghormatan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak bertindak dalam jalan apapun,
Yang tidak baik.

Ketika melihat orang yang memiliki malu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Bertindak dengan rasa malu,
Dan berhati-hati melindungi indera.

Ketika melihat orang yang tanpa rasa malu,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Meninggalkan keadaan tidak tahu malu,
Dan tinggal berdiam di jalan kebaikan.

Ketika mendapatkan makanan enak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menepati ikrar mereka,
Dan terbebas dari rasa iri dan pendambaan.

Ketika mendapatkan makanan yang tidak enak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan gagal mencapai,
Rasa dari semua samadhi.

Ketika mendapatkan makanan lunak,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Diliputi oleh belas kasihan yang besar,
Jadi pikirannya menjadi lembut.

Ketika mendapatkan makanan yang kasar,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak memiliki kemelekatan,
Dan memotong putus dambaan duniawi.

Ketika makan makanan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mengambil kebahagiaan Dhyana sebagai makanan,
Dan dipuaskan dengan sukacita Dharma.

Ketika merasakan rasa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai rasa tertinggi dari keBuddhaan,
Dan dipenuhi dengan obat keabadian.

Ketika selesai makan,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menyelesaikan semua tugas,
Dan menyempurnakan semua Buddhadharma.

Ketika menjelaskan Dharma,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kefasihan tanpa batas,
Dan secara luas mengumumkan Dharma yang penting.

Ketika keluar dari rumah,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan mendalam memasuki pengetahuan Buddha,
Selamanya meninggalkan triloka.

Ketika memasuki air,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Memasuki Sarvajnajnana,
Mengetahui kesamaan masa lampau, sekarang, masa depan.

Ketika memandikan tubuh,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tanpa noda dalam tubuh dan pikiran,
Murni cemerlang di dalam dan luar.

Selama musim panas yang terik,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membuang semua kesengsaraan,
Dan sepenuhnya mengakhirinya.

Ketika musim panas berakhir dan mulai sejuk,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mewujudkan Dharma yang tiada tanding,
Dan pada akhirnya menjadi sejuk.

Ketika membaca Sutra,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Sesuai dengan apa yang sang Buddha katakan,
Dan mengingat semuanya tanpa melupakannya.

Ketika mengarahkan pandangan ke sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai penglihatan tanpa hambatan,
Dan melihat semua Buddha.

Ketika menatap sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Seluruhnya mirip sang Samantabhadra,
Tampan dan terhiasi dengan indah.

Ketika melihat Stupa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dihormati seperti Stupa itu,
Dan menerima persembahan dari dewa dan manusia.

Ketika merenungkan Stupa dengan pikiran penuh hormat,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Ditatap oleh semua,
Para dewa dan manusia.

Ketika mensujudkan kepala di hadapan Stupa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai puncak yang tidak bisa dilihat,
Oleh dewa atau manusia.

Ketika ber-pradaksina pada Stupa,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Tidak akan menentang Dharma dalam prakteknya,
Dan mencapai Sarvajnajnana.

Ketika berputar mengelilingi stupa sebanyak tiga kali,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dengan tekun mencari Jalan Buddha,
Tanpa memikirkan kemalasan.

Ketika memuji kualitas kebajikan sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Dipenuhi dengan sangat banyak kebajikan,
Yang dipuji tanpa akhir.

Ketika memuji ciri-ciri sang Buddha,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai tubuh Buddha,
Dan menyadari Dharma yang tanpa ciri-ciri.

Ketika mencuci kaki,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Menunaikan 'dasar kekuatan batin (rddhipada)',
Dan bepergian dengan bebas tanpa halangan.

Ketika waktunya tidur,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Mencapai kedamaian tubuh,
Dan pikrian yang tidak terganggu.

Ketika bangun dari tidur,
Mereka harus berpikir ingin semua makhluk
Membangkitkan Sarvajnajnana,
Dan melihat sepuluh penjuru arah.

Jika, Kulaputra, para Bodhisattva menggunakan pikiran Mereka dengan cara-cara ini, Mereka akan mencapai semua jenis kualitas kebajikan yang sangat baik, yang tidak bisa dihalau oleh para Dewa, Mara, Brahma, Shramana, Brahmana, Gandharva, Asura, dan seterusnya, atau oleh Sravaka dan Pratyekabuddha di semua dunia."
#17611
Image
Aryavalokitesvara

Image
Arya Sariputra

Bab 12
Sattvottara-bodhisattva-upadesa-parivartah



Kemudian pada saat itu, Manjushri Bodhisattva Mahasattva, setelah menjelaskan kualitas kebajikan besar dari karma murni yang tidak menyimpang dan tidak tercemar, ingin menimbulkan kualitas kebajikan dari cita-cita mencapai Bodhi, berkata kepada Sattvottara Bodhisattva Mahasattva :

Karena sekarang, Saya, demi para Bodhisattva,
telah menjelaskan pemurnian karma yang diolah oleh para Tathagata di masa lampau;
Anda juga, Maitri, di dalam perkumpulan majelis ini
Agar menjelaskan dengan lengkap kualitas kebajikan tertinggi dari penerapan karma.

Kemudian Sattvottara Bodhisattva Mahasattva menjawab dengan syair-gatha ini :

Sadhu, Maitri, dengarlah dengan jelas.
Kualitas kebajikan itu tidak bisa diukur:
Sekarang Saya akan menguraikan sedapatnya,
Namun itu hanyalah setetes dari lautan saja.

Ketika pertama kali Bodhisattva menetapkan sang Jalan,
Berikrar untuk mencari dan mencapai Bodhi sang Buddha,
Kebajikan itu adalah yang tidak terbatas,
Tidak bisa diukur, melampaui perbandingan.

Lebih banyak lagi, melewati kalpa tanpa batas yang tidak terhitung,
Sepenuhnya mempraktekkan kualitas kebajikan dari Bhumi dan Paramita;
Bahkan semua Buddha dari sepuluh penjuru,
Bersama-sama tidak bisa sepenuhnya menjelaskannya semua.

Untuk kualitas kebajikan yang tanpa batas ini,
Sekarang Saya akan membabarkannya sedikit,
Seperti angkasa yang di langkahi oleh kaki seekor burung,
Atau seperti sebutir debu di prthivi.

Ketika Bodhisattva menetapkan untuk mencari Bodhi,
Ini bukanlah yang tanpa sebab atau yang tanpa kondisi;
Dengan membangkitkan keyakinan murni dalam Buddha-Dharma-Sangha,
Ini menghasilkan pikiran dermawan yang luas.

Bukan mencari objek nafsu keinginan atau jabatan,
Kekayaan, kesenangan pribadi, atau ketenaran,
Itu hanya demi menghapuskan kesengsaraan makhluk,
Dan menguntungkan dunia, maka Mereka membangkitkan tekad.

Selalu ingin menguntungkan dan menggembirakan semua makhluk,
Menghiasi ksetra dan membuat pemujaan kepada para Buddha,
Menerima Dharma, mempraktekkan kebijaksanaannya,
Untuk mencapai keBuddhaan, Mereka membangkitkan tekad.

Keyakinan mendalam, percaya, dan keteguhan yang selalu murni,
Memuja dan mengormati semua Buddha,
Dan juga Dharma dan Sangha-Nya,
Membuat persembahan dengan ketulusan tertinggi, Mereka membangkitkan tekad.

Keyakinan mendalam kepada Buddhadharma,
Juga meyakini Jalan yang ditempuh oleh para Tathagata,
Dan percaya kepada Maha Bodhi yang tiada tandingan;
Dengan begitu, para Bodhisattva membangkitkan tekad.

Keyakinan adalah landasan jalan, ibu dari kebajikan,
Memelihara dan menumbuhkan semua jalan kebaikan,
Memotong jauh jaring keraguan, membebaskan dari arus nafsu keinginan,
Memperlihatkan jalan kedamaian tertinggi yang tiada tanding.

Ketika keyakinan tidak ternoda, pikiran menjadi murni;
Melenyapkan kebanggaan, adalah akar dari penghormatan,
Dan adalah kekayaan terutama dalam permata keyakinan,
Adalah tangan yang murni untuk menerima praktek.

'Keyakinan (sraddha)' adalah senang memberi, pikiran tidak menyesal;
Keyakinan bisa dengan gembira memasuki Buddhadharma;
Keyakinan bisa meningkatkan pengetahuan dan kebajikan;
Keyakinan bisa menjamin ketibaan di Bodhi.

Keyakinan membuat indera menjadi murni, terang, dan tajam;
Kekuatan dari keyakinan adalah yang kuat dan tidak bisa hancur.
Keyakinan bisa melenyapkan akar penderitaan,
Keyakinan bisa merubah orang seluruhnya menuju kebajikan Buddha.

Keyakinan tiada kemelekatan pada objek,
Melampaui kesusahan, mencapai kebebasan dari masalah.
Keyakinan bisa pergi melampaui jalan Mara,
Dan memperlihatkan jalan pembebasan yang tiada tanding.

Keyakinan adalah benih kebajikan yang murni,
Keyakinan bisa menumbuhkan benih Bodhi.
Keyakinan bisa meningkatkan pengetahuan tertinggi,
Keyakinan bisa menampakkan semua Buddha.

Oleh karena itu, Saya akan menjelaskan tahap praktek yang sesuai:
Keyakinan adalah yang paling kuat, sangat sulit dimiliki;
Itu adalah sama seperti di dalam semua dunia memiliki
Permata Cintamani yang menakjubkan.

Jika Orang bisa selalu penuh keyakinan melayani para Buddha,
Maka bisa menjaga Sila dan mempraktekkan pembelajaran.
Jika Orang selalu menjaga Sila dan mempraktekkan yang dipelajari,
Maka bisa mewujudkan semua kualitas kebajikan.

Sila bisa mengembangkan landasan Bodhi,
Pembelajaran dasar dari mengolah kebajikan.
Selalu bertindak sesuai dengan Sila dan pembelajarannya,
Orang akan dipuji sebagai yang unggul oleh semua Tathagata.

Jika selalu setia melayani para Buddha,
Maka dapat menghimpun pemujaan yang besar.
Jika bisa menghimpun pemujaan yang besar,
Keyakinan pada buddha akan tidak terbayangkan.

Jika selalu setia melayani Dharma yang luhur,
Maka tidak akan pernah bosan mendengar Buddhadharma.
Jika mendengar Buddhadharma tanpa bosan,
Keyakinan pada Dharma akan tidak terbayangkan.

Jika selalu setia melayani Sangha yang murni,
Maka keyakinan tidak akan pernah surut.
Jika keyakinan tidak pernah surut,
Kekuatan keyakinan tidak akan tergoyahkan.

Jika tiada yang bisa mengoyahkan kekuatan keyakinan,
Maka memperoleh kemurnian, kejelasan, dan ketajaman indera.
Jika memiliki indera yang murni, jelas dan tajam,
Maka bisa menghindar dari pergaulan yang jahat.

Jika bisa menghindari pergaulan yang jahat,
Maka bisa mendekati pertemanan yang baik.
Jika bisa bersama dengan 'teman yang baik (kalyanamitra)',
Maka bisa mengolah kebaikan besar.

Jika bisa mengolah kebaikan besar,
Maka bisa menyempurnakan 'kekuatan sebab yang besar (maha-hetu-bala)'.
Jika menyempurnakan maha-hetu-bala,
Maka bisa mencapai pemahaman pasti yang tertinggi.

Jika mencapai pemahaman pasti yang tertinggi,
Maka akan dilindungi oleh para Buddha.
Jika dilindungi oleh para Buddha,
Maka bisa membangkitkan 'tekad mencapai kebangkitan (Bodhicitta)'.

Jika bisa membangkitkan Bodhicitta,
Maka bisa dengan rajin mengolah kebajikan keBuddhaan.
Jika rajin mengolah kebajikan keBuddhaan,
Maka bisa telahir di dalam 'keluarga Buddha (Buddhakula)'.

Jika dilahirkan di dalam Buddhakula,
Maka bisa mempraktekkan keterampilan pembebasan.
Jika bisa mengembangkan keterampilan pembebasan dengan baik,
Maka bisa mencapai kemurnian pikiran yang penuh keyakinan.

Jika memperoleh kemurnian pikiran yang penuh keyakinan,
Maka bisa meningkatkan tekad tertinggi.
Jika bisa meningkatkan tekad tertinggi,
Maka bisa selalu mempraktekkan 'pencapaian pantai seberang (Paramita)'.

Jika selalu mempraktekkan Paramita,
Maka bisa menunaikan 'kendaraan besar (Mahayana)'.
Jika bisa menunaikan Mahayana,
Maka bisa memberikan pemujaan kepada para Buddha dalam cara yang benar.

Jika bisa memuja para Buddha dalam cara yang benar,
Maka bisa mengingat sang Buddha dengan pikiran yang teguh.
Jika bisa mengingat sang Buddha dengan pikiran yang teguh,
Maka bisa selalu melihat para Buddha yang tidak terbatas.

Jika selalu melihat para Buddha yang tidak terbatas,
Maka melihat intisari 'kebangkitan (Bodhi)' adalah yang abadi.
Jika melihat intisari Bodhi adalah yang abadi,
Maka bisa memahami bahwa gejala kejadian tidak pernah punah.

Jika bisa memahami bahwa gejala kejadian tidak pernah punah,
Maka mencapai kekuatan penjelasan yang tidak terhalang.
Jika mencapai kekuatan penjelasan yang tidak terhalang,
Maka bisa membabarkan Dharma yang tanpa batas.

Jika bisa membabarkan Dharma yang tanpa batas,
Maka bisa dengan belas kasihan membebaskan makhluk hidup.
Jika bisa dengan belas kasihan membebaskan makhluk hidup,
Maka bisa mencapai pikiran belas kasihan yang tidak tergoyahkan.

Jika bisa mencapai pikiran belas kasihan yang tidak tergoyahkan,
Maka bisa memahami Dharma yang paling mendalam.
Jika bisa memahami Dharma yang paling mendalam,
Maka bisa membuang kesalahan dari 'pembentukan berkondisi (samskara)'.

Jika bisa membuang kesalahan dari samskara,
Maka bisa menyingkirkan kesombongan serta pemanjaan diri.
Jika bisa menyingkirkan kesombongan serta pemanjaan diri,
Maka bisa menguntungkan semua mahkluk bersama-sama.

Jika bisa menguntungkan semua makhluk,
Maka bisa tidak lelah dalam kelahiran dan kematian.
Jika bisa tidak lelah dalam kelahiran dan kematian,
Maka bisa menjadi berani dan kuat tidak terkalahkan.

Jika bisa menjadi berani dan kuat tidak terkalahkan,
Maka bisa menghasilkan 'kekuatan batin yang besar (Maha-abhijna-bala)'.
Jika bisa menghasilkan Maha-abhijna-bala,
Maka akan mengetahui semua karma makhluk hidup.

Jika mengetahui semua karma makhluk hidup,
Maka bisa mematangkan dan menyempurnakan makhluk hidup.
Jika bisa mematangkan dan menyempurnakan makhluk hidup,
Maka bisa mencapai pengetahuan untuk menyelamatkan semua makhuk.

Jika mencapai pengetahuan untuk menyelamatkan semua makhuk,
Maka bisa menyempurnakan cara penyelamatan.
Jika bisa menyempurnakan cara penyelamatan,
Maka akan memberikan keuntungan yang tanpa batas kepada para makhluk.

Jika memberikan keuntungan yang tanpa batas kepada para makhluk,
Maka akan menunaikan teknik dari pengetahuan tertinggi.
Jika menunaikan teknik dari pengetahuan tertinggi,
Maka akan tetap tinggal di jalan Vira yang tidak terkalahkan.

Jika tetap tinggal di jalan Vira yang tidak terkalahkan,
Maka bisa menghancurkan kekuatan semua Mara.
Jika bisa menghancurkan kekuatan semua Mara,
Maka bisa pergi melampaui alam empat Mara.

Jika bisa pergi melampaui alam empat Mara,
Maka bisa mencapai 'tingkat tanpa kemunduran (Avaivartika-bhumi)'.
Jika bisa mencapai Avaivartika-bhumi,
Maka akan mencapai 'kesabaran menerima gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan (Anutpattikadharmaksanti)'.

Jika mencapai Anutpattikadharmaksanti,
Maka akan menerima 'ramalan (vyakarana)' pencapaian Bodhi dari para Buddha.
Jika menerima vyakarana pencapaian Bodhi dari para Buddha,
Maka semua Buddha akan muncul dihadapan.

Jika semua Buddha muncul dihadapan,
Maka akan memahami kegunaan kekuatan batin yang ajaib dan mendalam.
Jika memahami kegunaan kekuatan batin yang ajaib dan mendalam,
Maka akan diingat oleh semua Buddha.

Jika diingat oleh semua Buddha,
Maka akan menghiasi diri sendiri dengan kualitas 'keBuddhaan (Buddhatva)'.
Jika menghiasi diri sendiri dengan kualitas Buddhatva,
Maka akan mencapai 'tubuh kebahagiaan (Sambhogakaya)'.

Jika mencapai Sambhogakaya,
Maka tubuh akan memancarkan sinar seperti gunung emas.
Jika tubuh memancarkan sinar seperti gunung emas,
Maka akan terhiasi dengan tiga puluh dua tanda.

Jika terhiasi dengan tiga puluh dua tanda,
Maka akan terhiasi dengan kemurnian yang mendampingi.
Jika terhiasi dengan kemurnian yang mendampingi,
Maka lingkaran cahayanya akan menjadi tanpa batas.

Jika lingkaran cahayanya menjadi tanpa batas,
Maka akan terhiasi dengan cahaya yang tidak terbayangkan.
Jika terhiasi dengan cahaya yang tidak terbayangkan,
Maka cahaya itu akan menghasilkan kumpulan bunga teratai.

Jika cahaya itu menghasilkan kumpulan bunga teratai,
Para Buddha yang tidak terhitung akan duduk di bunga teratai itu,
Muncul dimana-mana di sepuluh penjuru,
Mampu menenangkan semua makhluk hidup.

Jika mampu menyelaraskan para makhluk dalam cara ini,
Maka akan mewujudkan 'kekuatan magis (rddhi-bala)' yang tidak terbatas.
Jika mewujudkan rddhi-bala yang tidak terbatas,
Maka akan tinggal berdiam di ksetra yang tidak terbayangkan, menjelaskan Dharma yang tidak terbayangkan, menggembirakan banyak makhluk yang tidak terbayangkan.

Jika menjelaskan Dharma yang tidak terbayangkan,
Menggembirakan banyak makhluk yang tidak terbayangkan,
Maka dengan kebijaksanaan dan kekuatan penjelasan,
Membimbing sesuai dengan pikiran para makhluk.

Jika menggunakan 'kebijaksanaan (prajna)' dan 'kekuatan penjelasan (pratibodhana)',
Membimbing sesuai dengan pikiran para makhluk,
Maka orang tidak akan pernah kehilangan,
Perbuatan yang dituntun oleh kebijaksanaan.

Jika tidak pernah kehilangan
Perbuatan yang dituntun oleh kebijaksanaan,
Maka kekuatan kehendak akan berdaulat,
Dan orang akan mewujudkan tubuh di setiap alam para makhluk.

Jika kekuatan kehendak mencapai kebebasan,
Mewujudkan tubuh di setiap alam para makhluk,
Maka orang akan bisa, ketika mengajar,
Menyesuaikan dengan semua bahasa yang tidak terbayangkan.

Jika bisa, ketika mengajar,
Menyesuaikan dengan semua bahasa, sesuai kumpulan majelis,
Maka orang akan sekejap mengetahui
Pikiran dari semua makhluk hidup.

Jika bisa sekejap mengetahui
Pikiran dari semua makhluk hidup,
Maka akan mengetahui penderitaan tidak timbul dari manapun
Dan tidak akan tenggelam di dalam kelahiran dan kematian.

Jika orang mengetahui penderitaan tidak timbul dari manapun
Dan tidak akan pernah tenggelam di dalam kelahiran dan kematian,
Maka akan mencapai 'tubuh intisari kebenaran (Dharmakaya)'
Dan muncul di dunia melalui kekuatan Dharma.

Jika orang mencapai kualitas kebajikan Dharmakaya
Dan muncul di dunia melalui kekuatan Dharma,
Maka akan mencapai semua Bhumi dan Pembebasan dari Bodhi,
Mempraktekkan paramita dan pembebasan tertinggi.

Jika orang mencapai Bhumi dan Pembebasan dari Bodhi
Mempraktekkan paramita dan pembebasan tertinggi,
Maka akan mencapai kekuatan penyucian yang besar (Maha-Abhiseka-bala)
Dan tinggal berdiam di dalam meditasi tertinggi.

Jika mencapai Maha-Abhiseka-bala
Dan tinggal berdiam di dalam meditasi tertinggi,
Maka di hadapan para Buddha,
Orang itu akan di Abhiseka dan naik peringkat;
Orang itu akan di Abhiseka dengan 'nektar abadi (Amrta)'
Oleh semua Buddha di sepuluh penjuru.

Jika Orang di Abhiseka dengan Amrta
Oleh semua Buddha di sepuluh penjuru,
Tubuh akan meliputi semua seperti ruang angkasa,
Tinggal berdiam dengan tenang, tidak bergerak, memenuhi sepuluh penjuru.

Jika tubuh meliputi semua seperti ruang angkasa,
Tinggal berdiam dengan tenang, tidak bergerak, memenuhi sepuluh penjuru,
Karma akan melampaui perbandingan,
Tidak diketahui oleh dewa dan manusia.

Para Bodisattva mempraktekkan perbuatan belas-kasih besar,
Berikrar membebaskan semua dengan berhasil;
Mereka yang melihat dan mendengar, menerimanya, memuja,
Mereka menyebabkan semua mencapai kedamaian dan kebahagiaan.

Para Bodhisattva itu memiliki kekuatan batin yang menakjubkan;
Mata Dharma Mereka selalu sempurna tanpa kekurangan;
Jalan praktek kebajikan yang sangat hebat, dan jalan lainnya yang seperti itu,
Adalah permata tertinggi yang Mereka munculkan.

Sama seperti kelompok berlian di lautan,
Melalui kekuatan ajaib, Mereka menghasilkan banyak permata;
Tanpa berkurang atau bertambah, dan tidak habis-habisnya:
Seperti itulah kumpulan besar kebajikan Bodhisattva.

Dimana ada ksetra yang tanpa Buddha,
Disana Mereka muncul mencapai Bodhi;
Dimana ada ksetra yang tidak mengenal Dharma,
Mereka membabarkannya disana permata Dharma yang mulia.

Tanpa membeda-bedakan, tanpa usaha,
Dalam sekejap, Mereka mencapai dimana-mana,
Seperti cahaya bulan membentang dimana-mana,
Mengajar para makhluk dengan teknik yang tidak terhitung.

Di dunia-dunia dari sepuluh penjuru,
Terus-menerus Mereka memperlihatkan jalan Buddhatva:
Memutar Dharmacakra dan memasuki nirvana,
Hingga pembagian relik Mereka.

Kadang-kadang, Mereka memperlihatkan jalan Sravaka atau Pratyekabuddha;
Kadang-kadang, Mereka memperlihatkan seluruh hiasan dari Samyaksambuddha;
Jadi, Mereka membuka Dharma tentang tiga kendaraan,
Dengan luas membebaskan para makhluk selama kalpa yang tanpa batas.

Mereka mungkin mewujudkan bentuk Anak Naga perempuan atau laki-laki,
Atau dewa naga, atau Asura juga,
Hingga Mahoraga dan seterusnya;
Mereka membuat setiap orang melihat sesuai yang diinginkan.

Bentuk rupa dan ciri-ciri para makhluk hidup tidaklah sama,
Tingkah laku dan suara Mereka adalah juga tidak terhitung;
Semua ini, Bodhisattva bisa memunculkannya
Melalui kekuatan ajaib dari lautan Dhyana dan Samadhi.

Secara indah memurnikan ksetra yang tidak terbayangkan,
Membuat persembahan kepada semua Bodhisattva,
Memancarkan cahaya besar yang tanpa batas,
Mereka membebaskan para makhluk hidup yang juga tanpa batas.

Pengetahuan dan kebijaksanaan Mereka bebas dan tidak terbayangkan,
Ucapan Mereka dalam menjelaskan Dharma adalah yang tanpa halangan,
Dana, Sila, Ksanti, Virya, Dhyana, Prajna, Upaya-kausalya, dan Abhijna-bala Mereka seluruhnya juga bebas,
Oleh kekuatan Avatamsaka Samadhi dari Buddha.

Mereka memasuki Samadhi pada satu butir debu
Dan menyelesaikan Samadhi pada semua butiran debu,
Namun butiran itu tidak bertambah;
Di dalam satu butir mewujudkan ksetra yang tidak terbayangkan.

Dari banyak ksetra di dalam satu butir debu,
Beberapa memiliki Buddha, beberapa tidak;
Beberapa tercemar, beberapa murni;
Beberapa besar, beberapa kecil;
Beberapa membentuk, beberapa meluruh;
Beberapa tegak, beberapa miring;
Beberapa seperti ilusi udara panas di dataran yang luas,
Beberapa seperti jaring Indra di surga.

Apa yang diwujudkan di dalam satu butir debu
Juga diwujudkan di dalam semua butiran debu;
Ini adalah kekuatan ajaib dari 'konsentrasi (samadhi)' dan 'pembebasan (vimukti)',
Dari para Resi ini yang 'terkenal luas (Maha-yasa)'.

Jika Mereka mau membuat persembahan kepada semua Buddha,
Mereka memasuki samadhi dan menghasilkan 'perubahan wujud ajaib (vikurvana)',
Mampu mencapai seluruh dharmadhatu dengan satu tangan
Untuk memberikan persembahan kepada semua Tathagata.

Bunga-bunga yang paling indah dalam semua dunia,
Wewangian, dupa, dan permata yang tidak ternilai harganya;
Yang seperti ini semuanya muncul dari tangan Mereka
Untuk di persembahkan kepada sang 'Pemenang (Jina)' yang ada dibawah pohon Bodhi.

Pakaian permata yang tidak ternilai harganya, dengan campuran wewangian,
Bendera permata dan kanopi, semuanya terhias dengan indah,
Dengan bunga emas dan tirai permata;
Semua ini berhujanan dari telapak tangan Mereka.

Benda indah apapun yang ada di dalam semua alam
Yang mungkin layak untuk dipersembahkan kepada sang Bhagavan,
Semuanya berhujanan dari telapak tangan Mereka, lengkap semua,
Dan Mereka membawanya ke pohon Bodhi untuk dipersembahkan kepada sang Buddha.

Semua musik yang indah dari sepuluh penjuru:
Lonceng dan gendang, kecapi dan harpa, yang beraneka jenis,
Semuanya dimainkan secara serasi, dengan nada yang indah,
Semuanya muncul dari telapak tangan para Bodhisattva.

Semua pujian yang ada di sepuluh penjuru,
Yang memuji kebajikan dari para Tathagata,
Semua ucapan menakjubkan yang beranekaragam
Dilantunkan dari dalam telapak tangan Mereka.

Tangan kanan para Bodhisattva memancarkan cahaya yang murni:
Di dalam cahaya itu ada air wangi berhujanan dari langit,
Menaburi Buddhaksetra dari sepuluh penjuru arah,
Sebagai persembahan kepada semua sang Lampu Yang Menerangi Dunia.

Juga, Mereka memancarkan susunan sinar cahaya yang menakjubkan
Menghasilkan bunga teratai permata yang tidak terhitung;
Warna dan bentuk dari bunga teratai itu semuanya unggul,
Ini Mereka persembahkan kepada para Buddha.

Mereka juga memancarkan karangan bunga dari cahaya
Dengan semua jenis bunga menyatu menjadi tirai,
Menyebar di seluruh ksetra dimana-mana
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan bubuk candana,
Berbagai macam dupa dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan pakaian,
Berbagai macam jubah yang indah dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan permata,
Berbagai macam permata yang indah dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan bunga teratai,
Berbagai macam bunga teratai dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan kalung,
Berbagai macam kalung yang indah dihimpun menjadi tirai,
Dan menyebarkannya keseluruh dunia;
Sebagai persembahan kepada semua Bhagavan yang berkebajikan besar.

Mereka juga memancarkan cahaya yang terhiasi dengan bendera,
Bersinar dengan berbagai macam pola yang berwarna-warni,
Dari semua jenis, yang tidak terhitung, semuanya sangat indah;
Dengan ini, Mereka menghiasi Buddhaksetra.

Kanopi yang terhiasi dengan campuran permata,
Terbungkus dengan sulaman bendera yang sangat indah,
Dan lonceng permata mani melantunkan suara Buddha;
Ini Mereka bawa sebagai persembahan kepada para Tathagata.

Tangan Mereka menghasilkan Dana seperti itu yang tidak terbayangkan,
Mereka mempersembahkannya kepada sang Nayaka,
Dan melakukan hal yang sama kepada semua Buddha,
Dengan kekuatan batin yang besar dari Samadhi.

Para Bodhisattva tinggal berdiam di dalam Samadhi,
Berhubungan dengan para makhluk melalui berbagai macam keahlian,
Semuanya membimbing melalui cara yang tidak terhitung,
Dengan dasar kebajikan sebagai praktek Mereka.

Beberapa menggunakan pendekatan dari Pemujaan kepada Buddha,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Dana yang tidak terbayangkan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Sila pertapaan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Ksanti yang tidak tergoyahkan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Virya pertapa,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Dhyana yang hening-tenang,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Pengetahuan yang lengkap dan pasti,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Upaya-kausalya,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Tempat tinggal yang murni dan kekuatan batin,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Keuntungan cara penyelamatan,
Beberapa menggunakan pendekatan dari Penghiasan pengetahuan dan kebajikan,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Yang Berkondisi dan Pembebasan,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Indera, kekuatan dan jalan yang benar,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Pembebasan dari Sravaka,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Kemurnian dari Pratyekabuddha,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Pembebasan dari Mahayana,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Penderitaan dari ketidak abadian,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Tiada Diri dan Tiada Hidup,
Beberapa menggunakan Dharma tentang Kekotoran dan berpisah dari nafsu keinginan,
Beberapa menggunakan Pendekatan dari Samadhi dan nirvana.

Sesuai dengan penyakit para makhluk yang berbeda-beda,
Mereka semua menggunakan obat Dharma untuk menyembuhkannya.
Sesuai dengan kecenderungan pikiran para makhluk,
Mereka semua menggunakan upaya-kausalya untuk memuaskannya.

Sesuai dengan perbedaan tingkah laku para makhluk hidup,
Mereka semua menggunakan keterampilan yang sesuai untuk menyempurnakannya,
Ciri-ciri dari kekuatan Samadhi seperti ini,
Tidak bisa diukur oleh para dewa dan manusia.

Memiliki Samadhi yang menakjubkan yang bernama 'Sesuai dengan Karma (Karmanurupa)',
Para Bodhisattva tinggal berdiam dalam ini dan mengamati semua,
Muncul dengan sesuai untuk membebaskan para makhluk hidup,
Menyebabkan mereka dengan senang berubah sesuai dengan Dharma.

Dimana ada kelaparan dan bencana dalam jaman,
Mereka memberikan hiburan kepada semua di dunia,
Menyebabkan mereka puas sesuai dengan keinginan,
Membuat keuntungan kepada semua makhluk hidup.
Mereka mungkin memberikan makanan dan minuman yang baik,
Pakaian yang mewah, karangan bunga permata,
Dan bahkan tahta kerajaan,
Untuk menyebabkan mereka yang menyukai Dana menjadi sesuai dengan Dharma.

Terhiasi dengan karangan bunga, diminyaki dengan wewangian,
Dengan tingkah-laku terhormat, Mereka membebaskan para makhluk,
Disukai dan dimuliakan oleh semua di dunia.
Penampilan dan pakaian Mereka,
Disesuaikan dengan yang patut disukai
Dan menyebabkan Mereka yang menyukai bentuk-rupa mengikuti sang Jalan.

Dengan suara yang sangat indah seperti nyanyian burung,
Nada-nada yang menakjubkan dalam keselarasan,
Dilengkapi dengan semua jenis suara yang murni,
Mereka berkhotbah kepada para makhluk sesuai dengan yang disukai.

Delapan puluh empat ribu pintu gerbang Dharma,
Digunakan para Buddha untuk membebaskan para makhluk;
Dan sesuai dengan Dharma yang berbeda-beda,
Mereka menggunakan yang sesuai untuk membebaskan.

Kesenangan dan kesakitan makhluk hidup, pendapatan dan kehilangan, dan sebagainya,
Apapun hal yang dikerjakan oleh para makhluk di dunia,
Para Bodhisattva bisa muncul untuk melakukan hal yang sama,
Dalam rangka membebaskan semua makhluk hidup.

Penderitaan dari semua makhluk duniawi,
Yang dalam, luas, dan tanpa batas seperti lautan;
Para Bodhisattva membagi tugas, bisa menghadapinya semua,
Demi menyebabkan mereka beruntung memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.

Jika tidak tahu jalan menuju pembebasan,
Dan tidak mencari pembebasan, pergi dari kekacauan,
Para Bodhisattva memperlihatkan pelepasan kekuasaan dan kekayaan,
Kepuasan dalam pelepasan dan kedamaian pikiran.

Jika rumah adalah tempat belenggu kemelekatan,
Demi menyebabkan semua makhluk hidup terlepas dari masalah,
Mereka memperlihatkan meninggalkan rumah dan mencapai pembebasan,
Tanpa mendambakan kesenangan apapun.

Para Bodhisattva mewujudkan praktek sepuluh jenis perbuatan,
Dan juga mempraktekkan jalan Maha Purusa,
Termasuk praktek Resi dan Muni,
Karena Mereka ingin menguntungkan para makhluk hidup.

Jika ada para makhluk hidup yang usianya tidak terukur,
Yang sedikit penderitaan dan lengkap kesenangannya,
Para Bodhisattva, yang terbebas di tengah-tengahnya,
Memperlihatkan penderitaan dari usia tua, penyakit, dan kematian.

Bagi mereka yang serakah, pendendam, dan bodoh,
Kobaran api dari penderitaan ini yang selalu menyala,
Para Bodhisattva mewujudkan usia tua, penyakit, dan kematian kepada mereka,
Untuk menyebabkan semua makhluk hidup itu dijinakkan.

Sepuluh kekuatan dan keberanian para Buddha,
Dan juga delapan belas kualitas Mereka yang unik,
Semua kebajikan Mereka yang tidak terhitung,
Diwujudkan untuk membebaskan para makhluk.

Mengetahui pikiran orang, Dharma yang sesuai, dan kemampuan muncul dimana-mana,
Adalah semua pekerjaan pembebasan dari para Bodhisattva;
Para Bodhisattva Mahasattva mewujudkannya semua,
Mampu menyebabkan semua makhluk hidup dijinakkan.

Berbagai jenis teknik dari para Bodhisattva,
Menyesuaikan dengan kondisi duniawi untuk membebaskan para makhluk;
Sama seperti bunga teratai yang tidak ditempeli air,
Dengan cara yang sama Mereka didunia membangkitkan keyakinan mendalam.

Dengan pikiran luar biasa dan bakat mendalam sebagai Raja,
Nyanyian dan tarian, dan percakapan yang dikagumi orang banyak,
Semua berbagai jenis seni dan kerajinan di dunia,
Mereka wujudkan layaknya seperti pesulap.

Beberapa menjadi bangsawan, walikota,
Beberapa menjadi saudagar, pemimpin pedagang,
Beberapa menjadi dokter dan ilmuwan,
Beberapa menjadi raja dan menteri.

Beberapa menjadi pohon besar di dataran,
Beberapa menjadi obat atau tambang permata;
Beberapa menjadi 'Permata Pengabul Keinginan (Cintamani)',
Beberapa menjadi memperlihatkan jalan yang benar kepada para makhluk hidup.

Jika Mereka melihat dunia yang baru saja terbentuk,
Dimana para makhluk tidak memiliki peralatan penghidupan,
Para Bodhisattva menjadi Ahli Kerajinan,
Dan mengajarkan mereka berbagai keterampilan.

Mereka tidak membuat apapun yang akan menindas atau menyakiti makhluk hidup;
Mereka hanya menjelaskan hal yang menguntungkan dunia;
Berbagai lapangan pengetahuan seperti seni mantra dan tanaman obat,
Dan semua yang terkandung di dalamnya, mereka bisa jelaskan.

Praktek yang unggul dari semua Muni,
Dengan setia dihormati oleh para Dewa dan Manusia.
Praktek pertapaan yang sulit seperti ini,
Para Bodhisattva bisa laksanakan sesuai kebutuhan.

Beberapa menjadi kaum pengemis tirthika,
Beberapa mempraktekkan pertapaan sendiri di hutan,
Beberapa telanjang tanpa pakaian apapun,
Menjadi guru dan pemimpin dari kelompok seperti ini.

Beberapa memperlihatkan berbagai praktek penghidupan yang salah,
Mempraktekkan sila yang salah sebagai yang tertinggi;
Beberapa mewujudkan sikap pertapa brahma,
Menjadi guru dan pemimpin dari kelompok seperti ini.

Beberapa menelanjangi diri di panas api dan matahari,
Beberapa mempraktekkan pemujaan yang meniru binatang,
Beberapa memakai pakaian kotor dan memuja api;
Demi mengubah pemujaan seperti ini, Mereka menjadi gurunya.

Beberapa memperlihatkan pertunjukan mengunjungi kuil dari berbagai dewa,
Beberapa memperlihatkan pertunjukan memasuki air sungai gangga,
Beberapa makan akar dan buah-buahan, semua membuat pertunjukkan dari praktek-praktek ini,
Sambil selalu merenungkan kebenaran yang melampaui mereka.

Beberapa memperlihatkan sedang berlutut atau berdiri di satu kaki,
Beberapa berbaring di atas duri, atau di debu dan kotoran;
Beberapa berbaring di atas batu pukul, mencari pembebasan
Menjadi guru dan pemimpin dari kelompok seperti ini.

Untuk para pengikut jalan tirthika seperti ini,
Mereka mengamati pikiran dan pemahaman, dan melakukan hal yang sama;
Praktek pertapaan yang Mereka perihatkan, para duniawi tidak bisa pikul;
Menyebabkan mereka terjinakkan setelah melihatnya.

Para makhluk hidup tertipu dan menerima ajaran salah;
Melekat pada pandangan salah, mereka menderita banyak kesakitan;
Kepada mereka diajarkan dengan bijaksana sila-sila yang menakjubkan
Menyebabkan mereka memahami Dharma yang asli.

'Empat Kebenaran Mulia (Catur-arya-satya)' mungkin diajarkan dalam ucapan magis lokal,
Atau, Empat Kebenaran Mulia mungkin diberitakan dalam ucapan rahasia yang terampil,
Atau, Empat Kebenaran Mulia mungkin diucapkan dalam percakapan manusia langsung,
Atau, Empat Kebenaran Mulia mungkin diberitakan dalam ucapan rahasia dewa;
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan melalui pemeriksaan kata-kata,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan melalui pemastian sila,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan dengan terampil menyangkal yang lain,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan tanpa gangguan luar,
Empat Kebenaran Mulia mungkin dijelaskan dalam beberapa bahasa,
Atau, itu mungkin dijelaskan dalam semua bahasa.
Dalam bahasa apapun yang dimengerti oleh para makhluk,
Empat Kebenaran Mulia dijelaskan untuk membebaskan mereka.
Semua Buddhadharma,
Dijelaskan dengan tidak habis-habisnya,
Memahami alam dari ucapan adalah yang tidak terbayangkan;
Ini dinamakan 'Kekuatan Dari Konsentrasi Menjelaskan Kebenaran (Dharmapravacanasamadhi-bala).'

Ada Samadhi tertinggi yang bernama 'Kedamaian Dan Kebahagiaan (Santananda)',
Yang mampu menyeluruh menyelamatkan dan membebaskan semua makhluk hidup,
Memancarkan cahaya yang besar, yang tidak terbayangkan,
Menyebabkan mereka semua yang melihatnya menjadi tenang.
Pancaran cahaya ini bernama 'Perwujudan Yang Baik (Subhavyuha)'.
Jika setiap makhluk hidup bertemu cahaya ini,
Itu akan menguntungkan mereka, tanpa kegagalan;
Melalui cara ini, mereka bisa mencapai pengetahuan yang tiada tanding;
Pertama, itu memperlihatkan para Buddha,
Memperlihatkan Dharma, memperlihatkan Sangha, memperlihatkan Jalan Kebenaran,
Dan juga memperlihatkan Caitya para Buddha dan gambar-Nya;
Oleh inilah cahaya itu dibentuk.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Bersinar (Prabhasa)"
Yang terangnya melampaui cahaya dari semua dewa,
Yang melenyapkan semua hambatan kegelapan,
Yang menguntungkan semua makhluk hidup.
Cahaya ini membangkitkan semua makhluk hidup,
Menyebabkan mereka mempersembahkan lampu kepada para Buddha;
Karena mempersembahkan lampu kepada para Buddha,
Mereka bisa menjadi lampu tertinggi di dunia.
Lampu minyak yang menyala, lampu mentega,
Dan juga berbagai jenis obor yang cemerlang,
Dan lampu dari permata terindah dengan tanaman wangi,
Dengan mempersembahkan ini kepada para Buddha, akan mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Pembebasan (Vimoksa)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Dan menyebabkan mereka mengembangkan 'Ikrar Besar (Maha Pranidhana)',
Untuk menyelamatkan makhluk hidup dari lautan nafsu keinginan.
Jika orang bisa menyeluruh menghasilkan Pranidhana ini,
Demi menyelamatkan makhluk hidup dari lautan nafsu keinginan,
Maka bisa menyeberangi arus penderitaan,
Dan memimpin jalan menuju ke benteng kebebasan yang tanpa kesedihan.
Dengan membangun jembatan dan rakit,
Ditempat perairan pada jalan,
Mencela 'Pembentukan Berkondisi (Samskara)' dan memuji ' Ketenangan Yang Sunyi(Samatha)',
Oleh sebab itu, akan mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Melenyapkan Kemelekatan (Ragapraksina)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka membuang objek nafsu keinginan
Dan berkonsentrasi pada rasa Dharma pembebasan yang indah.
Jika orang bisa membuang objek nafsu keinginan
Dan berkonsentrasi pada rasa Dharma pembebasan yang indah,
Maka bisa, dengan hujan embun manis dari Buddha,
Memadamkan semua kemelekatan di dunia.
Melalui murah hati menyumbang kolam, sumur, dan mata air,
Hanya mencari Anuttara Samyaksambodhi,
Mencela 'Nafsu Keinginan (trsna)' dan memuji 'Meditasi (Dhyana)'
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kegembiraan (Mudita)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka merindukan Samyaksambodhi
Dan menetapkan untuk mencapai jalan tanpa guru.
Membuat patung Buddha yang Maha Karuna,
Terhiasi dengan semua tanda-tanda unik, duduk di atas bunga teratai,
Dan melalui selalu memuji kebajikan tertinggi sang Buddha,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kesadaran (Smrti)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka merenungkan para Buddha,
Dan juga Dharma dan Sangha-Nya.
Jika mereka selalu merenungkan para Buddha,
Dharma dan Sangha-Nya,
Maka di dalam perkumpulan majelis dari para Buddha,
Mereka akan mencapai penerimaan dari kebenaran yang mendalam dari kekosongan gejala kejadian.
Para Bodhisattva yang jumlahnya tidak terhitung,
Membuatnya selalu mengingat Buddha, Dharma, dan Sangha,
Bisa mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kumpulan Kebajikan (Gunasamcaya)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Mendorong mereka mempraktekkan memberi tanpa batas dalam berbagai bentuk,
Bercita-cita menuju jalan tiada tanding.
Mendirikan pekerjaan murah hati besar tanpa menentukan batas,
Memuaskan kebutuhan dari semua yang datang,
Tidak membiarkan pikiran mereka merasa kekurangan,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Pengetahuan Penuh (Purnajnana)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka dalam sekejap, dalam satu ajaran,
Memahami ajaran yang tidak terhitung banyaknya.
Menguraikan ajaran kepada para makhluk hidup
Dan menetapkan makna sejati yang sesungguhnya,
Dengan terampil menjelaskan makna dari ajaran, tanpa kurang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Lampu Kebijaksanaan (Prajnadipa)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Dan menyebabkan mereka mengetahui makhluk hidup adalah kosong oleh sifat alaminya (svabhava-sunya) dan hening-tenang,
Dan semua gejala kejadian adalah yang tanpa keberadaan.
Dengan menjelaskan bahwa semua gejala kejadian adalah kosong, tanpa pengendali, tanpa diri,
Sama seperti khayalan-ilusi, seperti api, seperti bulan yang tercermin di air,
Dan juga seperti mimpi atau pantulan gambar,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Penguasaan Ajaran (Dharmapatya)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Dan menyebabkan mereka mencapai kekuatan ingatan yang tidak habis-habisnya,
Untuk mempertahankan semua Buddhadharma.
Dengan memuliakan dan menyokong para penjaga Dharma,
Melayani dan melindungi para Resi dan Muni,
Meneruskan berbagai macam Dharma kepada para makhluk,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Mampu Melepaskan (Vimucyati)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang yang kikir,
Membuat mereka menyadari semua kekayaan adalah yang tidak abadi,
Dan senang memberi, tanpa kemelekatan.
Dengan mampu menaklukkan kekikiran yang keras,
Memahami kekayaan adalah seperti mimpi atau awan yang melayang,
Menyebabkan pikiran kedermawanan yang murni bertumbuh,
Bisa mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Menghapuskan Panas (Usmavinaza)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua orang jahat,
Dan menyebabkan mereka menegakkan sila yang murni,
Dan menetapkan untuk mencapai jalan tanpa guru.
Membujuk para makhluk hidup menerima ajaran sila,
Dan memurnikan praktek dari 'Perbuatan Baik (Kusala Karma)',
Dan menyebabkan mereka bertekad mencari Bodhi,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Kesabaran (Ksantivyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para makhluk pemarah,
Menyebabkan mereka menyingkirkan kebencian dan berpisah dari keangkuhan,
Dan dengan senang menjadi sabar dan harmonis.
Ketika keganasan para makhluk sulit di tahan,
Maka dengan pikiran yang tidak goyah, demi Bodhi,
Selalu bergembira membabarkan kebajikan dari kesabaran,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Semangat (Virya)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang malas,
Menyebabkan mereka selalu hormat dan menyokong
Buddha, Dharma, dan Sangha tanpa kenal lelah.
Jika mereka selalu hormat dan menyokong
Buddha, Dharma, dan Sangha,
Maka bisa keluar dari alam empat Mara,
Dan dengan cepat mencapai Anuttara Samyaksambodhi.
Mendorong para makhluk hidup untuk maju,
Selalu rajin menyokong Buddha, Dharma, dan Sangha,
Dengan sepenuh hati menjaga Dharma ketika akan lenyap,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hening-tenang (Santi)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang yang berpikiran kacau,
Menyebabkan mereka lepas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan,
Dengan pikiran yang tanpa ragu dan sangat tenang.
Menjauhi semua teman yang jahat,
Perbincangan yang tidak berguna dan karma yang tidak murni,
Memuji meditasi dan kesunyian,
Bisa menghasilkan Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Kebijaksanaan (Prajnavyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para orang bodoh yang tertipu,
Menyebabkan mereka menyadari kebenaran dan memahami 'Asal mula ketergantungan (Pratityasamutpada)',
Indera, pengetahuan, dan kebijaksanaan mereka menembus sepenuhnya.
Jika bisa menyadari kebenaran dan memahami Pratityasamutpada,
Indera, pengetahuan, dan kebijaksanaannya menembus,
Maka akan mencapai keadaan dari Samadhi yang bernama Lampu Matahari,
Dengan cahaya kebijaksanaan menyempurnakan buah keBuddhaan.
Mampu memberikan kerajaan dan kekayaan,
Demi Bodhi, mencari ajaran yang benar,
Lalu, setelah mendengarnya, dengan satu pikiran menerapkannya dan menjelaskannya kepada orang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kebijaksanaan Buddha (Buddhaprajna)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk yang sadar,
Menyebabkan mereka melihat para Buddha yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Masing-masing duduk di atas Bunga Teratai Permata.
Memuji kekuatan pembebasan para Buddha,
Menceritakan kebebasan Buddha yang tanpa batas,
Mewujudkan kekuatan ajaib para Buddha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Keberanian (Abhaya)"
Cahaya ini menyinari mereka yang sedang ketakutan,
Menyebabkan penghapusan yang sangat cepat,
Semua gangguan yang berbahaya.
Dengan mampu membuat para makhluk terbebas dari ketakutan,
Mendorong penghentian dari semua penderitaan dan pengalaman sakit,
Menolong mereka yang dalam bahaya, yatim piatu dan yang tidak berdaya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kedamaian (Ksema)"
Cahaya ini bisa menyinari yang sakit,
Dan menyebabkan semua penyakit menjadi sembuh,
Sehingga semua bisa memperoleh kebahagiaan dari 'Konsentrasi Yang Benar (Samyak-samadhi)'.
Memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit,
Men-abhiseka dengan wewangian panjang umur yang berharga,
Memberikan mentega, minyak, madu, dan susu untuk makanan orang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Melihat Buddha (Buddhadarsin)"
Cahaya ini bisa membangkitkan orang yang akan mati,
Menyebabkan mereka melihat setiap Buddha yang dipikirkannya,
Sehingga ketika hidup mereka berakhir, bisa dilahirkan di dalam Buddhaksetra yang murni itu.
Mendorong mereka yang akan mati untuk mengingat Buddha,
Dan memperlihatkan kepada mereka bentuk Buddha untuk dilihat,
Menyebabkan mereka untuk berlindung dalam Buddha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Bergembira Pada Dharma (Dharmaharsa)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka selalu bergembira dalam Saddharma,
Mendengarnya, Menjelaskannya, Menulisnya dan Memperbanyaknya.
Dengan mampu menjelaskan Dharma saat akan berakhir,
Menyebabkan mereka yang mencari Dharma terpenuhi,
Memahami Dharma dan berjuang mempraktekkannya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Suara Yang Menakjubkan (Adbhutasvara)"
Cahaya ini mampu membangkitkan para Bodhisattva,
Dan menyebabkan semua suara terdengar di dunia,
Untuk menjadi pendengar suara Buddha.
Memuji Buddha dengan kuat,
Dan mempersembahkan musik seperti lonceng dan genta,
Dan menyebabkan semua makhluk mendengar suara Buddha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Menghasilkan Nektar Abadi (Amrtakara)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka membuang semua pemuasan diri,
Dan sepenuhnya mempraktekkan semua kebajikan.
Dengan menjelaskan ketidakkekalan dari pembentukan yang berkondisi,
Dan itu yang dipenuhi dengan gangguan yang tidak terhitung,
Selalu bergembira memuji kebahagiaan dari keheningan tenang yang sunyi,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Tertinggi (Parama)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka mendengar dari para Buddha,
Dharma tertinggi tentang Sila, Samadhi dan Prajna.
Selalu bergembira memuji semua Buddha,
Sila-Nya yang tertinggi, Samadhi-Nya, dan Prajna-Nya,
Dalam cara ini mencari jalan tiada tanding,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Permata (Ratnavyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka mencapai gudang permata yang tidak habis-habisnya,
Untuk dipersembahkan kepada para Buddha.
Dengan mempersembahkan berbagai macam permata,
Kepada para Buddha dan Caitya-Nya,
Juga bermurah hati menyumbangkan kepada yang miskin,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Wewangian (Gandhavyuha)"
Cahaya ini mampu membangkitkan semua makhluk,
Menyebabkan mereka yang merasakannya menjadi senang,
Dan pasti memenuhi kebajikan Buddha.
Menebari permukaan dengan dupa yang sangat indah,
Untuk dipersembahkan kepada para Nayaka Tertinggi,
Dan juga dengan itu membuat Caitya dan Rupang,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan Yang Beranekaragam (Nanavyuha)"
Dengan bendera permata dan kanopi yang tidak terhitung banyaknya,
Dupa yang menyala, sebaran Bunga-bunga, musik yang dimainkan,
Memenuhi kota di bagian dalam dan luar.
Dengan mula-mula mempersembahkan kepada para Buddha dengan hiasan yang beranekaragam:
Tarian dan musik yang menakjubkan,
Wewangian, bunga-bunga, bendera, kanopi, dan seterusnya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Parisodhana (Pemurnian)"
Yang menyebabkan permukaan menjadi serata telapak tangan.
Dengan menghiasi Caitya para Buddha dan sekelilingnya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Awan Besar (Maha Megha)
Yang bisa menghasilkan awan wangi dan menurunkan hujan air wangi.
Dengan memercikkan Caitya dan daerah sekitarnya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hiasan (Vyuha)"
Yang bisa menyebabkan yang telanjang menjadi berpakaian.
Dengan menyumbangkan benda yang halus untuk menghiasi tubuh,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Rasa Terunggul (Uttamarasa)"
Yang bisa menyebabkan yang kelaparan mendapat makanan enak.
Dengan menyumbang berbagai jenis makanan enak,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Kekayaan Besar (Maha Vibhu)"
Yang menyebabkan mereka yang miskin memperoleh harta.
Dengan menyumbangkan benda-benda yang tanpa batas kepada Buddha, Dharma, dan Sangha,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Mata Yang Murni (Vimalanetra)"
Yang bisa menyebabkan mereka yang buta melihat semua bentuk dan warna.
Dengan menyumbangkan lampu kepada para Buddha atau Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Telinga Yang Murni (Vimalasrotra)"
Yang bisa menyebabkan mereka yang tuli mampu mendengar.
Dengan memainkan musik kepada para Buddha atau di Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Hidung Yang Murni (Vimalaghrana)"
Yang bisa menyebabkan orang mencium harum yang sampai sekarang yang tidak diketahui.
Dengan menyumbang dupa kepada para Buddha dan Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Lidah Yang Murni (Vimalajihva)"
Yang mampu memuji para Buddha dalam suara yang indah.
Dengan selamanya menghentikan ucapan yang kasar dan yang tidak baik,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Tubuh Yang Murni (Vimalakaya)"
Yang menyebabkan yang cacat menjadi sepenuhnya pulih.
Dengan mensujudkan tubuh kepada para Buddha dan Caitya-Nya,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Pikiran Yang Murni (Vimalacitta)"
Yang menyebabkan pikiran yang mengembara memperoleh 'perhatian yang benar (Samyaksmrti)'.
Dengan mempraktekkan konsentrasi hingga sepenuhnya menguasai,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Bentuk Yang Murni (Vimalarupa)"
Yang menyebabkan orang melihat bentuk para Buddha yang tidak terbayangkan.
Dengan menghiasi Caitya dalam berbagai macam bentuk yang indah,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Suara Yang Murni (Vimalasvara)"
Yang menyebabkan pengetahuan tentang kekosongan utama dari sifat alami suara.
Dengan merenungkan asal mula ketergantungan dari suara, sama seperti gema di dalam lembah,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Wewangian Yang Murni (Vimalagandha)"
Yang menyebabkan semua bau yang buruk termurnikan dengan wangi.
Dengan membersihkan Caitya dan pohon Bodhi menggunakan air wangi,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Rasa Yang Murni (Vimalarasa)"
Yang bisa melenyapkan semua racun dalam makanan.
Dengan terus menyokong Buddha, Sangha, dan Ayah-Ibu,
Bisa membuat Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Sentuhan Yang Murni (Vimalasparsa)"
Yang mampu melembutkan apapun yang tidak menyenangkan untuk disentuh.
Walaupun tombak dan pedang berhujanan dari langit,
Itu bisa mengubahnya semua menjadi karangan bunga.
Dengan pernah dimasa lampau menebarkan di jalan,
Dengan wewangian, bunga-bunga, dan jubah-jubah,
Kepada para Buddha yang sedang berjalan,
Bisa mencapai Cahaya ini.

Itu juga memancarkan cahaya yang bernama "Gejala Kejadian Yang Murni (Vimaladharma)"
Yang mampu menyebabkan semua pori-pori membabarkan,
Dharma yang menakjubkan dan yang tidak terbayangkan,
Sehingga semua yang mendengar, memahami dengan gembira.
Apa yang berawal dari sebab dan kondisi tidak memiliki asal-mula;
Dharmakaya dari para Buddha bukanlah tubuh;
Sifat alami dari gejala kejadian selalu sama seperti ruang angkasa;
Dengan menjelaskan makna ini bisa memunculkan cahaya ini.

Pintu Gerbang Cahaya yang tidak terbayangkan seperti ini,
Adalah yang tidak terhitung, seperti butiran pasir di sungai Gangga;
Semuanya muncul dari pori-pori sang Maha Muni,
Masing-masing melakukan fungsi yang berbeda-beda.
Sama seperti cahaya yang dipancarkan dari satu pori-Nya,
Adalah yang tidak terhitung, tidak terkira banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga,
Begitu juga dengan setiap pori-pori-Nya;
Ini adalah kekuatan Samadhi dari sang Muni.
Sesuai dengan Cahaya yang dicapai melalui praktek masa lampau,
Mereka yang mempraktekkan begitu juga, sesuai dengan pemahaman,
Oleh sebab itu, sekarang memancarkan cahaya seperti ini;
Ini adalah pembebasan dari pengetahuan Muni.
Mereka yang mempraktekkan perbuatan kebajikan seperti sang Buddha,
Dan memiliki pemahaman dan bersukacita dengan sesuai,
Yang melihat apa yang dikerjakan-Nya dan lalu mengerjakannya juga,
Mereka semua bisa melihat Cahaya ini.
Jika ada yang mempraktekkan perbuatan kebajikan,
Dan membuat persembahan kepada para Buddha yang tidak terhitung,
Selalu bercita-cita menuju kebajikan 'keBuddhaan (Buddhatva)',
Mereka akan terbangkitkan oleh Cahaya ini.

Sama seperti orang yang terlahir buta tidak melihat matahari,
Itu bukan karena tidak ada matahari yang muncul di dunia;
Semua orang yang matanya baik bisa melihatnya dengan jelas,
Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai dengan kedudukan;
Jadi, begitu juga dengan Cahaya dari 'sang Makhluk Besar (Mahasattva)',
Semua orang yang memiliki kebijaksanaan bisa melihat,
Sementara orang yang awam dengan kepercayaan yang salah dan pemahaman yang rendah,
Tidak bisa melihat Cahaya ini;
Istana Mani dan kereta kuda,
Yang diwarnai dengan wewangian halus yang indah,
Adalah yang secara alami diberikan kepada mereka yang berkebajikan;
Itu tidak bisa dihuni oleh orang yang tidak berkebajikan;
Jadi, begitu juga dengan Cahaya dari sang Mahasattva,
Mereka yang berpengetahuan dalam semuanya disinari,
Sementara orang bodoh, yang dengan kepercayaan salah dan pemahaman yang rendah,
Tidak bisa melihat Cahaya ini;

Jika ada orang yang mendengar keanekaragaman dari Cahaya ini
Bisa mengembangkan keyakinan dan tekad yang murni dan mendalam,
Mereka akan membelah jaring dari semua keraguan selamanya,
Dan dengan cepat melengkapi bendera kebajikan.

Ada Samadhi tertinggi yang bisa menghasilkan
Susunan dari rombongan, yang semuanya bebas,
Perkumpulan majelis para putra Buddha yang tiada bandingan,
Yang dari semua Buddhaksetra di sepuluh penjuru;
Ada bunga teratai yang terhiasi dengan cahaya,
Yang sebanding dengan luasnya Maha Sahassra Lokadhatu,
Yang mana para Bodhisattva duduk, sepenuhnya mengisinya;
Ini adalah kekuatan ajaib dari Samadhi ini.
Ada juga bunga teratai yang ada di sekeliling,
Yang banyaknya seperti butiran debu di sepuluh Buddhaksetra,
Yang mana rombongan para putra Buddha duduk,
Tinggal berdiam di dalam kekuatan batin dari Samadhi ini.
Setelah sepenuhnya mengembangkan sebab yang baik di masa lampau,
Dan sepenuhnya mempraktekkan kebajikan Buddhatva,
Orang-orang seperti ini mengelilingi sang Bodhisattva,
Semuanya ber-anjali dan menatap-Nya tanpa bosan.
Seperti bulan yang terang diantara bintang,
Adalah sang Bodhisattva yang ada di tengah-tengah perkumpulan majelis.
Seperti inilah praktek dari sang Mahasattva,
Memasuki kekuatan batin dari Samadhi ini.
Sama seperti yang diwujudkan di dalam satu wilayah,
Dikelilingi oleh rombongan putra Buddha,
Begitu juga di dalam semua wilayah,
Tinggal berdiam di dalam kekuatan batin dari Samadhi ini.

Ada Samadhi tertinggi yang bernama Jaring-Jaring Tempat,
Sang Bodhisattva tinggal berdiam di dalam ini dan mengajar secara luas,
Memunculkan wujud di semua penjuru,
Kadang memasuki Samadhi, kadang timbul;
Kadang memasuki Samyak-samadhi di penjuru timur
Dan timbul dari Samadhi di penjuru barat,
Kadang memasuki Samyak-samadhi di penjuru barat
Dan timbul dari Samadhi di penjuru timur,
Kadang memasuki Samyak-samadhi di penjuru lain
Dan timbul dari Samadhi di penjuru yang lainnya lagi,
Kadang masuk dan timbul meliputi seluruh sepuluh penjuru:
Ini dinamakan kekuatan Samadhi Bodhisattva.

Muncul dihadapan dan berhubungan dengan
Semua Buddha yang tidak terhitung
Dalam ksetra-ksetra di seluruh penjuru timur,
Sambil tinggal berdiam dalam Samadhi ini, diam tidak bergerak,
Dan timbul dari Samadhi
Di hadapan semua Buddha
Dari dunia-dunia di penjuru barat,
Membuat persembahan yang tidak terbatas kepada Mereka semua;
Muncul dihadapan dan berhubungan dengan
Semua Buddha yang tidak terhitung
Dalam ksetra-ksetra di seluruh penjuru barat,
Sambil tinggal berdiam dalam Samadhi ini, diam tidak bergerak,
Dan timbul dari Samadhi
Di hadapan semua Buddha
Dari dunia-dunia di penjuru timur,
Membuat persembahan yang tidak terbatas kepada Mereka semua;
Begitulah sang Bodhisattva memasuki
Semua dunia di sepuluh penjuru,
Kadang mewujudkan Samadhi, diam tidak bergerak,
Kadang mewujudkan pemujaan secara hormat kepada para Buddha.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera mata,
Timbul dari Samadhi dalam bidang bentuk-rupa,
Memperlihatkan yang tidak terbayangkan dari sifat alami bentuk-rupa,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang bentuk-rupa,
Dan Timbul dari Samadhi dalam mata, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera mata adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera telinga,
Timbul dari Samadhi dalam bidang suara,
Membedakan suara dari semua bahasa,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang suara,
Dan Timbul dari Samadhi dalam telinga, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera telinga adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera hidung,
Timbul dari Samadhi dalam bidang aroma,
Menemukan semua wewangian yang paling unggul,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang aroma,
Dan Timbul dari Samadhi dalam hidung, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera hidung adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera lidah,
Timbul dari Samadhi dalam bidang rasa,
Menemukan semua rasa yang paling istimewa,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang rasa,
Dan Timbul dari Samadhi dalam lidah, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera lidah adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera tubuh,
Timbul dari Samadhi dalam bidang sentuhan,
Mampu dengan jelas membedakan semua permukaan,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang sentuhan,
Dan Timbul dari Samadhi dalam tubuh, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera tubuh adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam indera pikiran,
Timbul dari Samadhi dalam bidang gejala kejadian,
Melihat ciri-ciri dari semua gejala kejadian,
Yang tidak diketahui oleh semua Dewa dan Manusia;
Memasuki Samyak-samadhi dalam bidang gejala kejadian,
Dan Timbul dari Samadhi dalam pikiran, tanpa mengganggu pikiran,
Menjelaskan indera pikiran adalah yang tidak dilahirkan dan tanpa asal-mula,
Kosong oleh sifat alami, yang tiada, dan tanpa tindakan apapun.

Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang yang muda,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang yang dewasa,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang yang dewasa,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang yang tua,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang yang tua,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Upasika,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Upasika,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Upasaka,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Upasaka,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Bhiksuni,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Bhiksuni,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Bhiksu,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Bhiksu,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang 'Pelajar (Saiksatin)' atau 'Bukan Pelajar (Asaiksatin)',
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Saiksatin atau Asaiksatin,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Pratyekabuddha,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Pratyekabuddha,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Samyaksambuddha,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Samyaksambuddha,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Deva,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Deva,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Naga,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Naga,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Yaksha,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Yaksha,
Timbul dari Samadhi dalam tubuh seorang Bhuta,
Memasuki Samyak-samadhi dalam tubuh seorang Bhuta,
Timbul dari Samadhi dalam satu pori-pori rambut,
Memasuki Samyak-samadhi dalam satu pori-pori rambut,
Timbul dari Samadhi dalam semua pori-pori rambut,
Memasuki Samyak-samadhi dalam semua pori-pori rambut,
Timbul dari Samadhi di sehelai ujung rambut,
Memasuki Samyak-samadhi di sehelai ujung rambut,
Timbul dari Samadhi di satu butir debu,
Memasuki Samyak-samadhi di satu butir debu,
Timbul dari Samadhi di semua butiran debu,
Memasuki Samyak-samadhi di semua butiran debu,
Timbul dari Samadhi di permukaan Vajra,
Memasuki Samyak-samadhi di permukaan Vajra,
Timbul dari Samadhi di Pohon Mani,
Memasuki Samyak-samadhi di Pohon Mani,
Timbul dari Samadhi di dalam lingkaran cahaya Buddha,
Memasuki Samyak-samadhi di dalam lingkaran cahaya Buddha,
Timbul dari Samadhi di sungai dan laut,
Memasuki Samyak-samadhi di sungai dan laut,
Timbul dari Samadhi di unsur api,
Memasuki Samyak-samadhi di unsur api,
Timbul dari Samadhi di unsur angin, dengan pikiran tidak terganggu,
Memasuki Samyak-samadhi di unsur angin,
Timbul dari Samadhi di unsur tanah,
Memasuki Samyak-samadhi di unsur tanah,
Timbul dari Samadhi di istana surga,
Memasuki Samyak-samadhi di istana surga,
Timbul dari Samadhi di ruang angkasa, dengan pikiran tidak terganggu,
Ini dinamakan kebebasan yang tidak terbayangkan dari samadhi dari Dia Yang Berkebajikan Tanpa Batas,
Yang semua Buddha dari sepuluh penjuru
Tidak bisa sepenuhnya menjelaskannya bahkan dalam kalpa yang tidak terhitung.

Semua Buddha bersama-sama menjelaskan
Bahwa akibat dari karma para makhluk adalah yang banyaknya tidak terbayangkan.
Tampilan perubahan wujud dari para Naga, keahlian dari para Buddha,
Dan kekuatan batin dari para Bodhisattva adalah juga yang tidak terbayangkan.
Walaupun mencoba menjelaskannya dengan persamaan,
Bagaimanapun juga tidak ada persamaan yang bisa seperti ini;
Namun, orang yang bijaksana dan cerdas,
Memahami maknanya melalui cara persamaan.

Pikiran dari para pengikut Buddha tinggal berdiam di dalam 'Delapan Pembebasan (Asta Vimoksa)'
Dan perubahan wujud yang dilakukan semuanya terlaksana dengan bebas;

Mereka bisa mewujudkan banyak tubuh melalui satu tubuh
Dan bisa membuat satu tubuh dari banyak tubuh.
Mereka bisa memasuki samadhi api di ruang angkasa,
Berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, seluruhnya di langit,
Menghasilkan air dari tubuh bagian atas dan api dari tubuh bagian bawah,
Atau api dari tubuh bagian atas dan air dari tubuh bagian bawah.
Dalam cara ini, dalam sekejap satu pikiran,
Mereka bisa berubah wujud secara bebas dalam banyak cara yang tidak terhitung.
Mereka tidak sepenuhnya memiliki Maha-karuna,
Dan tidak mencari Buddhatva demi semua makhluk,
Namun Mereka masih bisa mewujudkan hal-hal yang tidak terbayangkan seperti ini.
Apalagi bagi para Bodhisattva yang dermawan, kekuatannya akan jauh lebih besar;

Sama seperti matahari dan bulan mengitari ruang angkasa,
Pantulan cahayanya muncul di semua tempat,
Di mata air, kolam, waduk, dan air di bejana,
Di sungai dan laut yang seperti permata - itu terpantulkan di mana-mana;
Begitu juga dengan bentuk-rupa para Bodhisattva,
Mereka muncul dimana-mana, tidak terbayangkan;
Semua ini adalah kebebasan dari Samadhi,
Yang hanya bisa dicapai oleh Yang Terbangkitkan.

Sama seperti gambar dari empat tentara di air lautan,
Masing-masing berbeda, tidak menyatu, tidak bercampur,
Pedang, tombak, busur dan panahnya banyak dan berbeda-beda,
Perisai, topi baja, dan kereta tempurnya tidaklah sama;
Perbedaan bentuk apapun yang ada,
Semuanya tercermin di air,
Namun air itu sendiri tidak membeda-bedakan;
Samadhi dari para Bodhisattva adalah juga seperti ini.

Di lautan ada sura yang bernama 'Susvara (Suara Yang Bagus)'
Yang suaranya secara menyeluruh menyesuaikan dengan semua makhluk laut,
Dan yang sepenuhnya memahami semua bahasa mereka,
Dan membuat mereka semua bahagia dan bergembira;
Sura itu memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun ia masih bisa memahami semua suara;
Apalagi bagi para Bodhisattva yang pikirannya terkendali, kekuatannya akan jauh lebih besar;
Mana mungkin Mereka tidak bisa menggembirakan semua makhluk?

Ada perempuan yang bernama 'Pratibhanakusala (Keahlian Berbicara)',
Yang terlahir dari doa orang tuanya ke surga;
Jika orag bisa menyingkirkan kejahatan dan senang dalam Dharma,
Maka bisa memasuki tubuhnya dan membangkitkan kefasihan yang menakjubkan.
Dia memiliki nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan,
Namun masih bisa menganugerahkan kekuatan kefasihan sesuai dengan praktek.
Apalagi bagi para Bodhisattva yang penuh kebijaksanaan,
Bisa menganugerahkan keuntungan kepada para makhluk hidup.

Sama seperti ahli sulap yang mengetahui kemagisan,
Bisa menghasilkan beranekaragam hal yang banyak,
Membuat dalam seketika seperti sehari, sebulan, setahun,
Menghasilkan kota yang kaya dan sangat bahagia;
Ahli sulap itu memiliki nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan,
Namun masih bisa menggembirakan dunia dengan kemampuan magisnya.
Apalagi dengan kekuatan dari 'Konsentrasi (Samadhi)' dan 'Pembebasan (Vimoksa)',
Bisa mendatangkan kebahagiaan kepada semua makhluk.

Ketika para Deva dan Asura berperang,
Asura kalah dan melarikan diri;
Senjata, kereta tempur, dan tentaranya,
Mereka menyembunyikannya dalam sekejap tiada yang bisa melihat.
Mereka memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa melakukan perubahan wujud yang tidak terbayangkan;
Apalagi dengan tinggal berdiam dalam keberanian dari kekuatan Abhijna,
Sekarang mewujudkan kebebasan yang berdaulat.

Sakra devendra memiliki gajah kerajaan,
Ketika ia tahu bahwa Devendra ingin pergi kesuatu tempat,
Ia mengubah dirinya sendiri, menciptakan tiga puluh tiga kepala,
Masing-masing kepala ada enam gading,
Dengan tujuh kolam air di setiap gading,
Yang bersih dan wangi, murni, tenang dan penuh.
Dalam air dari setiap kolam yang murni itu,
Ada tujuh bunga teratai dalam susunan yang indah;
Di setiap hiasan bunga teratai itu,
Ada tujuh Dewi yang seperti permata,
Dengan mahir menari dan memainkan musik,
Menghibur Sakra Devendra.
Gajah itu juga bisa menghilangkan bentuk aslinya,
Dan mengubah tubuhnya menjadi yang seperti para Dewa,
Yang sepenuhnya sama dalam sikap dan tindakan.
Ia memiliki kekuatan perubahan wujud ajaib ini.
Ia memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa mewujudkan kekuatan ajaib seperti ini.
Apalagi bagi Dia yang dipenuhi dengan Upaya-kausalya dan Pengetahuan,
Bebas dalam semua keadaan dari Samadhi.

Sama seperti perubahan wujud tubuh ilusi dari Asura,
Sedang berjalan di lapisan vajra, sedang berdiri dilautan,
Bagian paling dalam dari air lautan hanya mencapai perutnya,
Sedangkan kepalanya sama tingginya dengan gunung Sumeru.
Ia memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa menampilkan keajaiban besar seperti ini.
Apalagi bagi sang Lampu Penumpas Mara yang menerangi dunia,
Memiliki kekuatan ajaib yang menakjubkan.

Ketika para Dewa dan Asura berperang,
Kekuatan ajaib Sakra Devendra adalah yang tidak terbayangkan,
Seberapa banyakpun tentara Asura yang ada,
Devendra mewujudkan tubuh yang sama banyaknya untuk melawan.
Para Asura berpikir,
"Indra sedang datang ke kami,
Dan pasti akan menangkap dan mengikat kami,"
Jadi, mereka semua gelisah dan takut.
Indra mewujudkan tubuh dengan ribuan mata,
Yang memegang Halilintar Vajra, dan melempar api,
Berbaju perisai, bersenjata, dan dengan kemuliaan yang menakjubkan;
Para Asura yang melihat ini, semuanya mundur.
Indra, melalui kekuatan dari kebajikan yang sedikit,
Masih bisa mengalahkan musuh yang berjumlah besar.
Apalagi bagi sang Penyelamat Semua,
Yang dipenuhi dengan semua kebajikan.

Di surga Trayastrimsa, ada 'Genderang Surga (Divyadundubhir)'
Yang dihasilkan sebagai akibat dari karma para dewa;
Itu diketahui saat para dewa sedang memanjakan diri,
Dan dengan sendirinya mengumumkan suara ini di ruang angkasa :
"Semua objek nafsu keinginan adalah yang tidak tetap,
Seperti gelembung air, busa, yang kosong, tidak nyata;
Semua keberadaan seperti mimpi, seperti khayalan,
Seperti awan yang mengambang, bulan di air.
Pemuasan nafsu adalah musuh, siksaan dan penderitaan.
Itu bukanlah jalan keabadian, namun jalan kelahiran dan kematian.
Dan orang yang bertindak memuaskan nafsu
Akan memasuki mulut ikan kematian.
Karena itu adalah akar dari semua penderitaan dunia,
Semua orang bijak menghindarinya.
Kualitas dari objek nafsu keinginan adalah yang tidak bertahan lama.
Anda harus bergembira dalam apa yang nyata dan sesungguhnya."
Ketika para dewa surga Trayastrimsa mendengar suara ini,
Mereka semua berangkat ke gedung Sudharma,
Dan Dewa Indra mengkhotbahkan kepada mereka Dharma yang halus,
Membuat mereka patuh dan hening-tenang, menyingkirkan ketamakan dan pendambaan.
Suara itu tanpa bentuk-rupa dan tidak bisa dilihat,
Namun itu dapat menguntungkan para dewa.
Apalagi bagi tubuh yang diwujudkan sesuai dengan kecenderungan,
Bisa digunakan para Bodhisattva untuk menyelamatkan dan membebaskan para makhluk.

Ketika para Dewa dan Asura berperang,
Melalui kekuatan kebajikan dari para dewa yang unggul,
Genderang surga berbunyi, memberitahukan kepada rombongan,
"Anda jangan khawatir atau takut,"
Dan para Dewa, setelah mendengar pengumuman ini,
Terbebas dari ketakutan dan meningkat kekuatan.
Kemudian pikiran para Asura terguncang dengan rasa takut,
Dan tentara mereka semuanya mundur dan melarikan diri.
Samadhi yang wangi dan menakjubkan adalah yang seperti Genderang surga:
Itu selalu menghasilkan suara tanpa nafsu, menaklukkan mara;
Maha-karuna dengan murah hati menolong semua,
Menyebabkan semua makhluk mengakhiri penderitaan.

Indra telah bersetubuh dengan semua dewi,
Sembilan puluh dua koti-nayuta banyaknya,
Menyebabkan masing-masing mereka berpikir,
Bahwa sang Indra hanya menghibur dia satu-satunya saja.
Sama seperti dia menanggapi tubuh semua dewi,
Begitu juga dengan di dalam gedung Sudharma,
Dia bisa dalam sekejap mewujudkan kekuatan ajaib,
Dan pergi ke masing-masing orang untuk berkhotbah.
Indra memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun masih bisa menyebabkan semua rombongannya bahagiah.
Apalagi dengan kekuatan batin dari upaya-kausalya,
Mampu menyebabkan semua bergembira.

Raja surga Paranirmitavasavarti,
Berkuasa di dalam 'alam nafsu (kamadhatu)';
Dengan kebiasaan yang keliru untuk menjerat,
Dia menangkap dan mengikat semua orang awam.
Dia memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan,
Namun memiliki penguasaan atas para makhluk hidup.
Apalagi bagi Dia yang memiliki Dasabala yang berdaulat,
Mampu menyebabkan para makhluk bertindak dengan sesuai.

Raja Maha Brahma penguasa Trisahasra Mahā sahasra loka-dhātu,
Bisa muncul di dalam semua tempat kediaman,
Dari para dewa brahma dan duduk dengan mereka,
Berbicara dalam suara Brahma yang murni dan halus.
Dia tinggal berdiam dalam jalan brahma duniawi,
Namun masih memiliki Samadhi dan kekuatan ajaib.
Apalagi bagi Dia Yang Melampaui Duniawi, Yang Tiada Tanding,
Memiliki penguasaan atas Samadhi dan Pembebasan.

Pengetahuan dari Dewa Maha Isvara adalah yang berkuasa;
Ketika para Naga laut menurunkan hujan,
Dia bisa menghitung dengan jelas setiap tetes,
Melihatnya semua dalam sekejap;
Jika orang secara rajin paktek dan belajar selama kalpa yang tidak terhitung,
Dan mencapai pengetahuan tertinggi dari Bodhi,
Tidaklah mungkin orang seperti itu tidak bisa,
Dalam sekejap mengetahui pikiran semua makhluk.

Akibat dari karma para makhluk hidup adalah yang tidak terbayangkan banyaknya.
Makhluk seperti Mahavayubala (kekuatan angin yang besar), menghasilkan yang ada di dunia:
Lautan yang luas, pegunungan, istana dewa,
Cahaya permata, dan semua jenis gejala-kejadian;
Itu juga bisa menghasilkan awan dan mendatangkan hujan,
Dan bisa membubarkan dan menghilangkan semua mendung,
Dan bisa mematangkan semua gandum,
Dan bisa menghibur makhluk hidup.
Vayu itu tidak bisa mempelajari Prajna-paramita,
Atau mempelajari kualitas dari Buddhatva,
Namun masih bisa melaksanakan perbuatan yang tidak terbayangkan.
Apalagi bagi Dia Yang Menepati Semua Pranidhana-nya.

Berbagai macam suara laki-laki dan perempuan,
Suara burung dan binatang,
Suara lautan, sungai, dan halilintar,
Semuanya bisa menggembirakan pikiran para makhluk hidup,
Apalagi bagi Orang Yang Mengetahui Sifat Alami Suara Yang Adalah Seperti Gema,
Yang mencapai kefasihan yang menakjubkan dan tidak terhalang,
Dan mengajar Dharma dengan sesuai kepada semua,
Adalah yang mampu menggembirakan para makhluk dunia.

Lautan memiliki kualitas luar biasa istimewa,
Itu bisa menjadi pencermin yang sama untuk semua;
Para makhluk hidup, permata, sungai dan arus,
Semua itu dikandungnya, tidak menghalangi apapun.
Dia yang dengan 'meditasi (Dhyana)', 'konsentrasi (Samadhi)', dan 'pembebasan (Vimoksa)' yang tidak habis-habisnya,
Juga bisa menjadi Mudra dari kesamaan, yang mencermin dengan sama, seperti ini;
Praktek yang menakjubkan dari kebajikan dan pengetahuan
Dia mengolah semuanya tanpa kenal lelah.
Ketika para Raja Naga laut mengembara,
Mereka bebas dimanapun berada,
Menghasilkan awan yang menutupi bumi,
Awan-awan ini menghiasi dengan beranekaragam warna;
Di surga keenam, Paranirmitavasavarti,
Awannya berwarna emas;
Di surga Nirmanarati, warnanya seperti mutiara merah;
Di surga Tusita, warnanya seperti kristal salju;
Di surga Yama, warnanya seperti lapis lazuli;
Di surga Trayastimsa, warnanya seperti Vaidurya;
Di surga Catur-maharajika, warnanya seperti Mani;
Di atas laut, warnanya seperti Vajra;
Di alam Kinnara, warnanya seperti dupa;
Di tempat tinggal Naga, warnanya seperti bunga teratai;
Di tempat tinggal Yaksha, warnanya seperti angsa putih;
Di antara para Asura, warnanya seperti batu pegunungan;
Di Uttarakuru, warnanya seperti api emas;
Di Jambudvipa, warnanya seperti Nilamani;
Di benua yang lainnya, hiasannya bercampur;
Ini ditentukan sesuai dengan kecenderungan para makhluk.

Juga, di surga Paranirmitavasavarti,
Petirnya berwarna seperti sinar matahari;
Di surga Nirmanarati, warnanya seperti cahaya bulan;
Di surga Tusita, warnanya seperti emas jambunada;
Di surga Yama, warnanya seperti permata salju;
Di surga Trayastimsa, warnanya seperti api keemasan;
Di surga Catur-maharajika, warnanya seperti semua permata;
Di atas laut, warnanya seperti mutiara merah;
Di alam Kinnara, warnanya seperti lapis lazuli;
Di tempat tinggal Naga, warnanya seperti tambang permata;
Di tempat tinggal Yaksha, warnanya seperti permata mani;
Di antara para Asura, warnanya seperti batu permata;
Di Uttarakuru, warnanya seperti mutiara api;
Di Jambudvipa, warnanya seperti Nilamani;
Di benua yang lainnya, hiasannya bercampur;
Sama seperti warna awannya, begitu juga dengan petirnya.

Di surga Paranirmitavasavarti,
Gunturnya seperti suara Brahma;
Di surga Nirmanarati, suaranya seperti genderang besar;
Di surga Tusita, suaranya seperti nyanyian;
Di surga Yama, suaranya seperti suara para dewi;
Di surga Trayastimsa, suaranya seperti bernekaragam suara para kinnara;
Di surga Catur-maharajika, suaranya seperti yang dihasilkan dari para gandharva;
Di atas laut, suaranya seperti pegunungan yang saling bertabrakkan;
Di alam Kinnara, suaranya seperti seruling;
Di tempat tinggal Naga, suaranya seperti suara burung kalavinka;
Di tempat tinggal Yaksha, suaranya seperti suara para gadis naga;
Di antara para Asura, suaranya seperti genderang surga;
Di antara para Manusia, suaranya seperti suara hantaman ombak;

Di surga Paranirmitavasavarti, turun hujan wewangian
Dengan beranekaragam campuran bunga sebagai hiasan;
Di surga Nirmanarati, turun hujan bunga kapas,
bunga mandarava, dan beranekaragam wewangian;
Di surga Tusita, turun hujan permata mani
Lengkap dengan hiasan dari berbagai jenis permata;
Disana, permata di atas jambul sama seperti cahaya bulan,
Pakaian indah yang dipakai disana berwarna emas;
Di surga Yama, turun hujan bendera dan kanopi,
Kalung karangan bunga, wewangian, dan hiasan yang indah,
Dan juga pakaian unggul yang berwarna permata mani,
Dan beranekaragam musik;
Di surga Trayastimsa, turun hujan permata Cintamani,
Gaharu hitam dan wewangian candana,
Berbagai wewangian dari bunga-bunga surga,
Berhujanan turun satu sama lain;
Di surga Catur-maharajika, turun hujan makanan lezat
Dengan warna, wangi, dan rasa yang meningkatkan kekuatan;
Itu juga menurunkan hujan permata-permata indah yang tidak terbayangkan,
Semuanya dibuat oleh para Raja Naga.
Juga, di laut,
Hujannya terus meningkat, seperti putaran,
Dan menurunkan hujan gudang permata yang tidak habis-habisnya,
Dan juga menurunkan hujan beranekaragam perhiasan permata;
Di alam Kinnara, turun hujan kalung,
Bunga teratai yang berwarna-warni, jubah, dan permata,
Bunga-bunga yang tumbuh dalam hujan, dan bunga berwarna emas,
Dengan berbagai jenis musik semuanya tercakup didalamnya;
Di tempat tinggal Naga, turun hujan mutiara merah;
Di antara para Asura, turun hujan senjata
Yang menaklukkan semua musuh;
Di benua Uttarakuru, turun hujan kalung
Dan juga turun hujan bunga-bunga indah yang tidak terhitung;
Di benua Purvavideha dan Aparagodaniya
Turun hujan perhiasan;
Di Jambudvipa, turun hujan air murni,
Sangat baik, menyegarkan, selalu disaat yang tepat,
Memelihara bunga, buah, dan tanaman,
Mematangkan semua panen.
Hiasan indah yang tidak terhitung seperti ini,
Berbagai jenis awan, petir, guntur, dan hujan,
Para Raja Naga bisa dengan bebas membuatnya.
Tanpa menggerakkan tubuh mereka, tanpa pembedaan,
Di dalam dunianya, di lautan tempat mereka tinggal,
Masih bisa mewujudkan kekuatan yang tidak terbayangkan seperti ini.
Apalagi bagi Dia yang memasuki lautan Dharma dan mewujudkan kebajikan,
Bisa menghasilkan 'Perubahan Wujud Ajaib Yang Besar (Maha-vikurvana)'.

Pintu pembebasan dari para Bodhisattva
Tidak bisa diungkapkan melalui kiasan apapun,
Namun Saya telah, dengan persamaan ini,
Mengumumkan kekuatan pembebasan Mereka.

Pengetahuan yang terutama, kebijaksanaan yang luas,
Pengetahuan yang sesungguhnya, kebijaksanaan yang tanpa batas,
Kebijaksanaan yang luar biasa, kebijaksanaan tertinggi,
Sekarang Dharma seperti ini telah dijelaskan.
Dharma ini adalah yang langka dan paling luar biasa;
Jika orang setelah mendengar bisa menerimanya,
Mempercayainya, menyerapnya, memujinya, dan menjelaskannya,
Pencapaian ini dianggap sebagai yang paling sulit.
Dari semua orang awam di dunia,
Adalah yang paling sulit untuk menemukan yang mempercayai Dharma ini.
Jika ada yang rajin mengolah kebajikan yang murni,
Melalui kekuatan sebab masa lampau, mereka bisa percaya.
Diantara para makhluk dari semua dunia,
Sedikit yang mau mencari Sravakayana;
Mereka yang mencari Pratyekabuddhayana bahkan lebih sedikit,
Dan Mereka yang bertujuan pada Mahayana sangatlah sulit ditemukan.
Namun berjuang untuk Mahayana adalah yang masih mudah,
Dibandingkan dengan kesulitan yang lebih besar dari mempercayai Dharma ini.
Bahkan lebih sulit lagi untuk memelihara, membaca dan menjelaskannya kepada orang lain,
Mempraktekkan sesuai dengan Dharma ini dan sungguh memahaminya.
Menggenggam Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu di satu tangan,
Dengan tanpa bergerak selama satu kalpa,
Bukanlah hal yang sulit,
Dibandingkan mempercayai Dharma ini.
Jika orang menyediakan kesenangan selama satu kalpa,
Di tempat tinggal para makhluk yang banyaknya seperti butiran debu di sepuluh Buddhaksetra,
Kebajikannya tidaklah dianggap sebagai yang tertinggi,
Orang yang mempercayai Dharma ini adalah yang paling unggul.
Bahkan dengan menghabiskan waktu selama satu kalpa melayani
Para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu di sepuluh Buddhaksetra,
Kebajikan akan menjadi jauh lebih besar, tertinggi,
Jika Orang bisa membaca dan mempertahankan Dharma ini.

Ketika Sattvottara Bodhisattva Mahasattva telah mengucapkan syair-gatha ini, dunia-dunia di sepuluh penjuru berguncang dalam enam cara, istana Mara menjadi tertutup, alam penyakit menjadi berhenti; Para Buddha dari sepuluh penjuru muncul dihadapannya dan Masing-Masing menepuk kepalanya dengan tangan kanan Mereka dan memujinya dengan berkata : "Sadhu, Kulaputra, Sadhu, Anda telah dengan tepat menjelaskan Dharma ini, dan Kami semua oleh sebab itu bergembira!"

_________________________________________________________________________________________________
Asta - Vimoksa : adalah praktek meditasi yang mengarah kepada pelepasan dari penampilan di dalam delapan tingkat berikut,
[1] perenungan pada semua bentuk penampilan dan kerusakannya.
[2] perenungan pada ketidakmurnian dari bentuk-bentuk di luar.
[3] perenungan pada meninggalkan penampilan cantik.
[4] perenungan pada ketidakterbatasan dari ruang angkasa.
[5] perenungan pada ketidakterbatasan dari kesadaran.
[6] perenungan pada ketiadaan.
[7] perenungan pada pergi melampaui tanggapan penglihatan ataupun yang bukan tanggapan penglihatan.
[8] perenungan pada penghentian tanggapan penglihatan dan perasaan (nirodha-samapatti).
#17612
Image
Aryavalokitesvara

Image
Usnisa Vijaya Dharani

Bab 13
Sumerukutarohana-parivartah


Kemudian pada saat itu, melalui kekuatan sang Tathagata, di dalam benua Jambudvipa dari semua sistem dunia di sepuluh penjuru, terlihat sang Tathagata sedang duduk di bawah pohon Bodhi, di setiap tempat itu ada para Bodhisattva yang menerima kekuatan sang Buddha, sedang menjelaskan Dharma, semuanya berpikir hanya Mereka yang sedang berhadapan dengan sang Buddha di saat itu.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan, tanpa melangkahkan kaki-Nya meninggalkan pohon Bodhi, naik keatas gunung Sumeru dan menuju ke istana Sakra Dewa Indra. Kemudian Sakra Devendra, didepan gedung Sudharma, melihat sang Buddha sedang datang dari jauh, menghiasi istana melalui kekuatan batinnya sendiri. Dia meletakkan tahta singa dari tumpukan cahaya terang, seluruhnya terbuat dari permata yang sangat indah, dengan sepuluh ribu tingkat perhiasan yang berkilau, sepuluh ribu jaring emas yang menutupinya, sepuluh ribu jenis tirai, sepuluh ribu tingkat dari kanopi yang tersusun di sekeliling, sepuluh ribu sulaman sutera seperti pita tirai, sepuluh ribu untaian permata mani terhubung bersama-sama, sepuluh ribu jubah tersebar di tahta itu, sepuluh ribu dewata dan sepuluh ribu Raja Brahma mengelilinginya di depan dan di belakang, sepuluh ribu sinar cahaya menyinarinya.

Kemudian Sakra Devendra, setelah mengatur tahta ini untuk sang Tathagata, membungkukkan diri dan beranjali, dengan hormat menghadap sang Buddha, dan berkata : "Sadhu, Bhagavan, Sadhu, Sugata, Sadhu, Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Tolong berbelas-kasih untuk singgah di Istana ini."

Kemudian sang Buddha, menerima undangannya, memasuki gedung Sudharma. Hal ini juga terjadi ditempat yang sama di semua dunia di sepuluh penjuru. Kemudian, melalui kekuatan batin sang Buddha, semua musik di istana dalam sekejap berhenti, dan Indra mengingat bagaimana dirinya menanam 'akar kebajikan (kusala-mula)' kepada para Buddha di masa lampau, lalu mengucapkan syair-gatha ini :

Kashyapa Tathagata memiliki Maha Karuna,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Penglihatan Kanakamuni tanpa halangan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Krakucchanda sama seperti gunung emas,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Vishvabhu Buddha adalah yang murni tanpa noda,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Shikhin Tathagata adalah yang bebas dari pembedaan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Vipashin Buddha sama seperti bulan purnama,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Pushya dengan jelas menyadari 'Makna Tertinggi (Paramartha)',
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Kefasihan Tishya (Tirnabhasya) Tathagata adalah yang tanpa halangan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Padma Buddha sepenuhnya murni,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Dipankara Buddha berkilau cemerlang,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Sang Buddha itu telah datang ke istana ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Sama seperti di dalam dunia ini, Sakra Devendra di surga Trayastimsa, melalui kekuatan sang Buddha, memuji kebajikan dari sepuluh Buddha, begitu juga dengan semua Sakra Dewa Indra di dunia-dunia dari sepuluh penjuru yang juga memuji kebajikan para Buddha. Kemudian sang Bhagavan Buddha memasuki gedung Sudharma dan duduk dengan sikap bunga teratai. Gedung ini tiba-tiba menjadi sangat luas, sama seperti tempat tinggal dari semua rombongan para dewa. Hal yang sama ini juga terjadi di semua dunia di sepuluh penjuru.





Image
Aryavalokitesvara


Image
Om Amogha Vairocana Maha Mudra Mani Padma Jvala Pravartaya Hum (Om Putaran Api Dari Bunga Teratai Mutiara Dari Segel Yang Besar Dari Vairocana Yang Tiada Gagal Hum)

Bab 14
Sumerustava-parivartah



Kemudian pada saat itu, melalui kekuatan batin sang Buddha, ada datang berkumpul para Maha Bodhisattva dari setiap sepuluh penjuru arah, masing-masing didampingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di Buddhaksetra, datang dari dunia-dunia yang jauh, melampaui ksetra yang banyaknya seperti butiran debu di dalam seratus Buddhaksetra. Nama-nama Mereka yaitu : Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, Samantaprajna Bodhisattva Mahasattva, Paramaprajna Bodhisattva Mahasattva, Punyaprajna Bodhisattva Mahasattva, Viryaprajna Bodhisattva Mahasattva, Hitaprajna Bodhisattva Mahasattva, Jnanaprajna Bodhisattva Mahasattva, Satyaprajna Bodhisattva Mahasattva, Anuttaraprajna Bodhisattva Mahasattva, dan Acalaprajna Bodhisattva Mahasattva. Nama-nama dunia asal Mereka yaitu : Indrapuspa, Padma, Ratnapuspa, Utpala, Vajrapuspa, Gandhapuspa, Anandapuspa, Arunakamalapuspa, Naradharapuspa, dan Akasapuspa. Mereka semua telah mengolah brahmacarya yang murni dihadapan para Buddha; Nama-nama para Buddha itu adalah : Aticandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Anantacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Aksobhyacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vayucandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Jalacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimukticandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Anuttaracandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha,
Naksatracandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimalacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vijnanacandra Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Ketika para Bodhisattva itu tiba di tempat sang Bhagavan, Mereka berlutut ke Kaki sang Bhagavan, dan lalu Masing-masing, di setiap penjuru asal Mereka, menciptakan Simhasana Permata Vairocana, duduk dalam sikap bunga teratai.

Sama seperti para Bodhisattva itu berkumpul diatas puncak gunung Sumeru di dalam dunia ini, begitu juga hal yang sama terjadi di semua dunia. Nama-nama dari para Bodhisattva-nya, dunia-nya, Buddha-nya semuanya sama seperti ini.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan memancarkan ratusan ribu miliar sinar cahaya yang berwarna indah dari ujung jari kaki-Nya, yang menerangi semua dunia di sepuluh penjuru, sehingga para Buddha dan perkumpulan majelis di dalam istana Sakra Devendra di atas puncak gunung Sumeru semuanya bisa terlihat.

Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Buddha memancarkan sinar murni,
Memperlihatkan semua Pembimbing Dunia,
Yang singgah di gedung Sudharma,
Di atas puncak gunung Sumeru.

Semua Sakra Deva Indra,
Mengundang sang Buddha kedalam istana.
Mereka semua dengan sepuluh syair-gatha yang indah,
Memuji para Tathagata.

Diantara perkumpulan majelis yang besar itu,
Ada kelompok para Bodhisattva,
Datang dari sepuluh penjuru,
Duduk dengan tenang di tahta yang diciptakannya.

Para Bodhisattva di dalam perkumpulan itu,
Semua namanya sama seperti Kami,
Dan nama ksetra asal Mereka,
Juga sama namanya.

Para Bhagavan dari ksetra Mereka,
Memiliki nama yang sama juga.
Masing-masing dengan Buddha-nya,
Mengolah praktek murni yang tiada tanding.

Anda, Kulaputra, harus merenungkan,
Kekuatan bebas dari para Tathagata.
Di dalam semua jambudvipa,
Semuanya berpikir sang Buddha ada disana.

Sekarang kita melihat sang Buddha,
Ada diatas puncak gunung Sumeru,
Adalah yang sama dengan yang ada di sepuluh penjuru,
Dikarenakan oleh kekuatan bebas dari sang Tathagata.

Di dalam semua dunia,
Mereka bertekad mencari jalan keBuddhaan,
Dengan mengandalkan ikrar ini,
Mengolah Bodhisattvacarya.

Sang Buddha, dengan berbagai jenis Tubuh,
Menjelajah di semua dunia,
Tanpa halangan di Dharmadhatu,
Melampaui pemahaman semua orang.

Cahaya kebijaksanaan-Nya terus menyinari semua,
Melenyapkan semua kegelapan di dunia;
Sama sekali tiada bandingannya,
Bagaimana bisa dipahami?

Kemudian Samantaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Bahkan jika orang selalu melihat sang Tathagata,
Selama ratusan ribu kalpa,
Namun tidak mengandalkan kebenaran sejati,
Dalam melihat sang Penyelamat Dunia,
Orang seperti ini mencengkram bentuk-rupa,
Dan meningkatkan jaring ketidaktahuan dan khayalan,
Terbelenggu dalam penjara kelahiran dan kematian,
Buta, tidak bisa melihat sang Buddha.

Mengamati semua gejala kejadian,
Sebagai yang tanpa keberadaan diri.
Hal yang sama juga berlaku bagi kemunculan dan peluruhannya,
Yang hanyalah penamaan sementara.
Semua gejala kejadian tidak dilahirkan,
Semua gejala kejadian adalah yang abadi;
Bagi orang yang memahami ini,
Sang Buddha akan selalu tampil.

Sifat alami dari gejala kejadian pada dasarnya kosong dan diam tenang,
Tiada cengkraman dan tiada penglihatan.
Kekosongan dari sifat alami diri adalah sang Buddha;
Itu tidak bisa dinilai dalam pikiran.
Jika orang mengetahui sifat alami diri
Dari semua gejala kejadian adalah yang seperti ini,
Orang ini tidak akan tercemar
Oleh penderitaan.

Orang awam melihat segala sesuatu,
Hanya mengejar bentuk-rupa,
Dan tidak menyadari gejala kejadian tiada bentuk-rupa;
Oleh sebab ini, mereka tidak melihat sang Buddha.

Sang Muni telah melampaui tiga masa waktu,
Dipenuhi dengan tanda-tanda besar,
Tinggal berdiam dalam tiada hunian,
Ada meliputi dimana-mana tanpa berpindah.

Saya mengamati semua gejala kejadian,
Dan dengan jelas memahaminya;
Sekarang Saya melihat sang Tathagata,
Dengan kepastian, terbebas dari keraguan.

Dharmaprajna telah menjelaskan,
Sifat alami yang sesungguhnya dari Tathagata;
Darinya Saya telah mengerti,
Bodhi adalah yang tidak terbayangkan.

Kemudian Paramaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Kebijaksanaan Besar dari sang Tathagata,
Adalah yang langka, melampaui perbandingan;
Semua makhluk di dalam dunia,
Tidak bisa mencapainya dalam pikiran.

Orang awam yang pandangannya terperdaya,
Mencengkram bentuk-rupa dan tidak benar.
Sang Buddha melampaui semua bentuk-rupa,
Jadi, tidak dalam pandangan mereka.

Orang bodoh yang terperdaya,
Dengan salah mencengkram 'lima kumpulan (panca-skandha)',
Tidak memahami sifat alaminya yang sesungguhnya;
Orang seperti ini tidak melihat sang Buddha.

Mengetahui bahwa semua gejala kejadian
Tidak memiliki sifat alami keberadaan diri;
Memahami sifat alami gejala kejadian dalam cara ini,
Akan segera melihat sang Nishyanda.

Disebabkan oleh panca-skandha yang mendahului,
Skandha lain yang mengikuti terus timbul;
Memahami sifat alami ini,
Akan melihat sang Buddha yang tidak terbayangkan.

Sama seperti permata di dalam kegelapan,
Tidak bisa dilihat jika tiada lampu.
Demgan tiada yang menjelaskan Buddhadharma,
Bahkan yang pandai tidak akan memahaminya.

Dan sama seperti mata yang kabur,
Tidak bisa melihat warna murni yang indah.
Begitu juga dengan pikiran yang tidak murni,
Tidak bisa melihat Buddhadharma.

Dan sama seperti matahari terang yang jelas,
Tidak bisa dilihat oleh yang buta.
Mereka yang tanpa kebijaksanaan,
Tidak akan pernah bisa melihat sang Buddha.

Jika bisa menghilangkan kekaburan mata,
Dan membuang gagasan tentang bentuk-rupa,
Dan tidak melihat dalam hal gejala kejadian,
Maka bisa melihat sang Tathagata.

Samantaprajna telah menjelaskan,
Kualitas Bodhi dari sang Buddha.
Darinya Saya telah mendengar,
Dan bisa melihat sang Nishyanda.

Kemudian Punyaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Gejala kejadian tanpa kenyataan yang sesungguhnya;
Karena dengan salah melekatinya sebagai yang nyata,
Oleh sebab itu para orang awam,
Berputar dalam penjara kelahiran dan kematian.

Gejala kejadian yang diungkapkan dengan kata,
Mereka yang sedikit kebijaksanaan salah membedakan.
Dan oleh sebab itu menciptakan rintangan,
Tidak memahami pikirannya sendiri.

Jika tidak memahami pikiran sendiri,
Bagaimana bisa mengetahui jalan yang benar?
Berdasarkan pikiran yang terbingungkan,
Semua pandangan jahat meningkat.

Tidak melihat semua gejala kejadian sebagai yang kosong,
Selalu menderita kesakitan dari lahir dan mati,
Ini disebabkan oleh orang seperti itu,
Masih belum bisa menggunakan Mata Dharma yang murni.

Di masa lampau, Saya mengalami penderitaan,
Karena Saya tidak melihat Buddha.
Jadi, orang harus memurnikan Mata Dharma,
Dan melihat yang harus dilihat.

Jika orang bisa melihat sang Buddha,
Pikiran akan tanpa kemelekatan;
Orang seperti ini lalu bisa melihat,
Dharma yang diketahui sang Buddha.

Jika orang bisa melihat Satya-Dharma sang Buddha,
Maka dia dikatakan yang memiliki kebijaksanaan besar;
Orang ini memiliki mata yang murni,
Dan bisa mengamati dunia.

Tiada pandangan yang melihat,
Yang bisa melihat semua gejala kejadian;
Jika orang memiliki pandangan tentang gejala kejadian,
Ini tidak melihat apapun.

Sifat alami dari semua gejala kejadian,
Tiada asal mula dan tiada akhir.
Alangkah menakjubkan sang Maha Nayaka,
Yang telah terbangkitkan, dan membangkitkan yang lain.

Paramaprajna telah menjelaskan,
Dharma yang dicapai sang Tathagata.
Karena sekarang Kami telah mendengar darinya,
Bisa mengetahui sifat alami Buddha yang sesungguhnya.

Kemudian Viryaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Jika tinggal berdiam pada pembedaan,
Akan menghancurkan kemurnian mata;
Kebodohan, pandangan salah, meningkat,
Dan orang tidak akan pernah melihat Buddha.

Jika bisa mengerti yang salah,
Sebagaimana apa adanya, tanpa khayalan,
Dan mengetahui asal dari khayalan adalah kenyataannya sendiri,
Penglihatan orang pada sang Buddha akan menjadi murni.

Jika ada pandangan, ini adalah kekotoran
Karena ini bukanlah melihat yang sesungguhnya.
Melalui melenyapkan semua pandangan
Maka orang bisa melihat sang Buddha.

Menyebut gejala kejadian dalam penamaan duniawi
Orang secara salah menanggapi;
Dengan mengetahui dunia adalah yang seluruhnya tiada lahir,
Maka orang melihat dunia sebagaimana yang sesungguhnya.

Jika orang melihat dunia melalui penglihatan itu,
Kemudian merasakan bahwa cirinya bersifat duniawi,
Namun ciri-ciri itu tidak berbeda dari kenyataan yang sesungguhnya.
Ini dinamakan penglihatan yang sesungguhnya.

Jika orang melihat semua objek sebagai yang sama, tidak berbeda,
Dan tidak melakukan pembedaan di antaranya,
Penglihatan seperti ini terbebas dari khayalan;
Tanpa arus keluar, mencapai pembebasan.

Semua gejala kejadian yang berbeda,
Yang diungkapkan oleh Buddha,
Tidaklah mungkin dipahami,
Karena sifat alaminya adalah yang murni.

Sifat alami gejala kejadian adalah yang pada dasarnya murni,
Seperti ruang angkasa, tiada tanda.
Tiada apapun yang bisa dijelaskan dalam kata.
Begitulah orang bijaksana merenungkannya.

Berpisah dari pikiran tentang gejala kejadian,
Tidak bersenang-senang dalam semua gejala kejadian,
Tiada apapun yang untuk dikerjakan,
Maka orang bisa melihat sang Maha Muni.

Seperti yang dijelaskan Punyaprajna,
Inilah yang dinamakan Dia Yang Melihat Buddha.
Semua praktek adalah yang,
Kosong oleh sifat alaminya.

Kemudian Hitaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sungguh langka sang Maha Vira,
Para Tathagata yang tidak terhitung,
Tanpa noda, pikiran-Nya bebas;
Terbebaskan sendiri, membebaskan yang lain.

Saya melihat sang Lampu Dunia,
Sebagaimana apa adanya, tanpa khayalan,
Karena yang telah menghimpun kebijaksanaan
Selama kalpa bisa melihat-Nya.

Perbuatan orang awam,
Seluruhnya cepat lenyap;
Namun Sifat alaminya seperti ruang angkasa,
Jadi dikatakan yang tanpa akhir.

Saat orang bijak mengatakan tentang yang tanpa akhir,
Ini masih tidak mengatakan apapun.
Karena sifat alami diri adalah yang tanpa akhir,
Keadaan seperti itu adalah yang tidak terbayangkan.

Di dalam yang dikatakan tanpa akhir,
Tiada makhluk hidup;
Memahami sifat alami gejala kejadian seperti ini,
Orang bisa melihat sang Maha Yasas.

Tiada pandangan adalah yang dinamakan penglihatan,
Tiada lahir adalah yang dinamakan makhluk;
Apakah pandangan atau makhluk,
Mengetahui itu adalah yang tiada sifat alami yang nyata,
Sang Resi membuang semua
Penglihatan dan objek penglihatan;

Melalui tidak menghancurkan kenyataan,
Orang seperti ini memahami sang Buddha.

Jika orang memahami sang Buddha,
Dan Dharma yang diucapkan sang Buddha,
Maka bisa menyinari dunia,
Seperti yang dilakukan sang Nishyanda Buddha.

Sang Samyaksambuddha dengan baik menunjukkan,
Jalan yang murni dari satu kebenaran;
Sang Viryaprajna Mahasattva,
Menjelaskan gejala kejadian yang tidak terhitung.
Apakah keberadaan atau tiada keberadaan,
Semua gagasan pikiran seperti itu dibuang.
Dengan begitu bisa melihat sang Buddha,
Dan tinggal berdiam di dharmadhatu.

Kemudian Jnanaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Setelah mendengar Dharma terunggul,
Saya menghasilkan cahaya kebijaksanaan,
Menyinari semua alam di sepuluh penjuru,
Melihat semua Buddha.

Tiada sesuatu sekecil apa pun yang ada;
Yang ada hanya nama sementara.
Dengan berpikir ada diri dan orang
Adalah memasuki jalan yang berbahaya.

Orang awam dengan cengkraman kemelekatannya,
Berpikir bahwa tubuh itu sungguh ada.
Sang Tathagata tidak melekat pada apapun;
Oleh karena itu mereka tidak pernah melihat-Nya.

Orang-orang seperti itu tidak memiliki mata kebijaksanaan;
Mereka tidak dapat melihat sang Buddha.
Berputar dalam lautan kelahiran-kematian,
Selama kalpa yang tidak terhitung jumlahnya.

Gagasan pikiran dikatakan kelahiran-kematian,
Sedangkan ketiadaan gagasan pikiran adalah Nirvana.
Kelahiran-kematian dan Nirvana
Tidaklah bisa dipahami.

Orang yang mengejar nama sementara,
Dan melekat pada dua gejala kejadian ini,
Tidak sesuai dengan kenyataan,
Tidak tahu jalan yang menakjubkan dari sang Muni.

Orang yang menghasilkan gagasan pikiran:
"Inilah Buddha, inilah yang paling unggul,"
Tertipu, ini bukanlah kebenaran yang sesungguhnya;
Oleh sebab itu, tidak bisa melihat sang Samyaksambuddha.

Orang yang memahami 'tubuh instisari sesungguhnya (Dharmakaya)',
Ciri diam-tenang dari 'kebenaran apa adanya (tathata)',
Maka bisa melihat sang Samyaksambuddha,
Melampaui ranah ucapan bahasa.

Gejala kejadian yang diungkapkan dalam kata,
Tidak bisa mengungkapkan ciri kenyataan yang sesungguhnya.
Hanya melalui 'meditasi ketenangan yang sunyi (śamatha)' orang bisa melihat,
Gejala kejadian, dan juga sang Buddha.

Para Samyaksambuddha dari masa lalu,
sekarang dan masa depan,
Memotong putus selamanya akar pembedaan,
Oleh karena itu, Mereka dikenal sebagai Buddha.

Kemudian Satyaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Lebih baik saya menderita di neraka,
Dan bisa mendengar nama Buddha,
Daripada menikmati kebahagiaan tanpa batas
Namun tidak mendengar nama Buddha.

Selama kalpa yang tak terhitung jumlahnya di masa lalu,
Menderita kesengsaraan dan celaka,
Berputar dalam kelahiran dan kematian,
Karena tidak mendengar nama Buddha.

Tidak tertipu oleh gejala kejadian,
Menyadarinya sebagaimana apa adanya,
Berpisah dari semua gejala kejadian yang berkondisi,
Inilah yang dinamakan Anuttara Samyaksambodhi.

Tidak berkondisi di masa sekarang,
Tidak juga di masa lampau dan masa depan;
Semua gejala kejadian tiada tanda;
Inilah Dharmakaya sang Buddha.

Jika dalam cara ini orang merenungkan,
Makna yang mendalam dari gejala kejadian,
Maka bisa melihat semua Buddha,
Dan tampilan yang sesungguhnya dari Dharmakaya.

Melihat apa yang sesungguhnya sebagai yang sesungguhnya,
Dan apa yang tidak sesungguhnya sebagai yang tidak sesungguhnya,
Pemahaman yang tertinggi seperti itu,
Adalah alasan untuk nama Buddha.

Buddhadharma tidak bisa disadari.
Memahami ini dinamakan menyadari Dharma.
Para Buddha mempraktekkan cara ini:
Tiada satupun gejala kejadian yang bisa dipahami.

Mengetahui yang satu menghasilkan yang banyak,
Dan yang banyak menghasilkan yang satu,
Menyadari semua gejala kejadian tiada dasar,
Dan hanya timbul dari percampuran.

Tiada pencipta atau ciptaan,
Gejala kejadian timbul dari gagasan pikiran.
Bagaimana bisa mengetahui itu begitu?
Karena selain ini tiada.

Semua gejala kejadian tiada menghuni,
Tanpa tempat tinggal yang tetap.
Para Buddha tinggal berdiam dalam keadaan ini,
Pada yang tertinggi, tidak tergoyahkan.

Kemudian Anuttaraprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Mahasattva yang tiada tanding,
Melenyapkan gagasan pikiran tentang makhluk hidup.
Tiada yang melampauinya;
Oleh sebab itu, Dia dinamakan Anuttara.

Keadaan yang dicapai oleh para Buddha
Diperoleh tanpa pembuatan dan tanpa pembedaan.
Yang kasar tiada keberadaan,
Dan begitu juga yang halus.

Keadaan dari praktik para Buddha
Melampaui bilangan.
Samyaksambodhi terpisah dari bilangan:
Inilah Dharma sejati dari para Buddha.

Cahaya sang Tathagata menyinari semua,
Menghilangkan kesuraman dan kegelapan.
Namun, cahaya ini tidak bersinar
Juga tidak tanpa sinar.

Tidak melekat pada gejala kejadian,
Tiada pikiran dan tiada noda.
Tiada menghuni, tiada tempat tinggal,
Yang tanpa rintangan adalah sifat alami gejala kejadian.

Dalam semua itu, tiada dua,
Juga tidak ada satupun.
Sang Bijaksana Besar yang melihat dengan baik,
Tinggal berdiam sesuai dalam kebenaran ini.

Dalam ketidakberadaan, tiada dua,
Juga tidak ada ketiadaan dua.
Triloka sepenuhnya kosong:
Ini adalah pemahaman para Buddha.

Orang awam, bingung dan tidak tercerahkan,
Atas bimbingan Buddha, datang tinggal di dalam Dharma.
Semua gejala kejadian tiada tempat tinggal.
Memahami ini, melihat dirinya sendiri.

Tidak ada tubuh, namun tubuh dibicarakan.
Tidak ada yang muncul, namun kemunculan diwujudkan.
ketiadaan tubuh dan penglihatan
Adalah tubuh Buddha yang tiada tanding.

Satyaprajna telah menjelaskan
Sifat alami dari Buddhadharma yang halus.
Orang yang mendengar Dharma ini
Akan mencapai mata yang murni.

Kemudian Acalaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Luar biasa pancaran sinar yang besar,
Dari sang Vira yang berani dan tiada tanding.
Dia muncul di dunia,
Demi menyelamatkan yang terperdaya.

Sang Buddha mengamati semua makhluk,
Dengan hati penuh belas kasih besar,
Melihat mereka yang di triloka,
Menderita berulang-ulang.

Kecuali sang Samyaksambuddha,
Sang guru yang dihormati, yang penuh kebajikan,
Tidak ada yang bisa menyelamatkan
Semua manusia dan dewa.

Jika para Buddha dan para Bodhisattva
Tidak muncul di dunia,
Tidak satu pun makhluk hidup
Akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

Sang Bhagavan, sang Tathagata,
Sang Arhan Samyaksambuddha,
Muncul di dalam dunia,
Memberikan kebahagiaan kepada makhluk hidup.

Jika orang melihat sang Tathagata,
Itu adalah mendapatkan keuntungan besar;
Mendengar nama Buddha dan mengembangkan keyakinan,
Adalah menara bagi dunia.

Kami melihat para Bhagavan,
Sehingga memperoleh keuntungan yang besar;
Mendengar Dharma yang luar biasa ini,
Akan mencapai Bodhi.

Di masa lalu, para Bodhisattva,
Melalui kekuatan batin sang Buddha,
Mencapai mata kebijaksanaan yang murni,
Dan memahami keadaan para Buddha.

Sekarang kita melihat sang Nishyanda,
Dan keyakinan murni telah berlipat ganda.
Kebijaksanaan Buddha yang tidak terbatas
Tidak pernah bisa sepenuhnya diungkapkan.

Bahkan jika para Bodhisattva,
Seperti Paramaprajna, dan Saya, Acalaprajna,
Membabarkannya selama kalpa yang tidak terhitung,
Tidak pernah bisa sepenuhnya mengungkapkannya.




____________________________________________________________________
Lima Kumpulan (pañca-skandha). Makhluk hidup tersusun dari lima kumpulan: rūpa (bentuk), vedanā (perasaan), saṁjñā (tanggapan penglihatan/gagasan), saṁskāra (pembentukan pikiran), dan vijñāna (kesadaran). Yang pertama adalah benda berwujud dan empat lainnya adalah pikiran. Karena empat ini bukan benda berwujud, hanya ditampilkan dalam bahasa penamaan, pañca-skandha diringkas sebagai Nama dan Rupa. Skandha juga berarti yang menutupi atau menyembunyikan, dan pekerjaan tetap dari pañca-skandha adalah menyembunyikan Tathatā (kenyataan yang sesungguhnya) dari makhluk hidup.
#17613
Image
Arya Avalokita Isvara


Image
Padmakula

Bab 15
Dasavasa parivartah


Kemudian pada saat itu, Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, di 'berdayakan (adhisthana)' oleh sang Buddha, memasuki 'konsentrasi yang bernama Teknik Tanpa Batas Dari Bodhisattva (Bodhisattvanantopayakosalya nama samadhim)'; Melalui kekuatan Samadhi itu, ada muncul di hadapannya para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu dari seribu Buddhaksetra dari setiap sepuluh penjuru, melewati sistem dunia yang banyaknya seperti butiran debu dari seribu Buddhaksetra. Semua Buddha itu memiliki nama yang sama, yaitu Dharmaprajna. Mereka dimana-mana muncul dihadapannya, berkata kepada Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva : "Sadhu, Sadhu, Kulaputra, tentu sangat baik bahwa Anda bisa memasuki Bodhisattvanantopayakosalya Samadhi! Di setiap sepuluh penjuru, Kulaputra, para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu dari seribu Buddhaksetra bersama-sama meng-adhisthana Anda dengan kekuatan batin Mereka, dan ini juga oleh kekuatan pranidhana masa lampau dari Vairocana Tathagata, juga oleh kekuatan akar kebajikan yang telah Anda praktekkan, bahwa Anda memasuki Samadhi ini, membisakan Anda mebabarkan Dharma, demi meningkatkan pengetahuan Buddha, memasuki dharmadhatu secara mendalam, memahami dengan baik alam-alam para makhluk hidup, tanpa rintangan memasuki apapun, tanpa halangan dalam semua kegiatan, mencapai upaya-kausalya yang tiada bandingan, memasuki intisari Sarvajnajnana, menyadari semua gejala kejadian, mengetahui semua indera, mampu mempertahankan dan menjelaskan semua Dharma, yaitu, menghasilkan 'sepuluh kediaman dari Bodhisattva (Bodhisattvadasavasa)'. Anda, Kulaputra, harus menerima kekuatan batin yang menakjubkan dari para Buddha untuk membabarkan Dharma ini!"

Kemudian pada saat itu, para Buddha memberikan kepada Dharmaprajna Bodhisattva pengetahuan yang tidak terhalang, pengetahuan yang tidak melekat, pengetahuan tidak terputus, pengetahuan yang tidak terperdaya, pengetahuan yang tidak membedakan, pengetahuan yang tanpa kesalahan, pengetahuan yang tidak terbatas, pengetahuan yang tiada tanding, pengetahuan yang tiada lalai, dan pengetahuan yang tidak bisa diambil. Mengapa begitu? Karena melalui kekuatan Samadhi ini, Dharma adalah seperti itu.

Kemudian pada saat itu, semua Buddha mengulurkan tangan kanan dan mengusap kepala Dharmaprajna Bodhisattva; Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva bangkit dari Samadhi dan mengumumkan kepada para Bodhisattva, dengan berkata : "Kulaputra, tempat kediaman dari Bodhisattva sangatlah luas, luasnya seperti dharmadhatu dan ruang angkasa. Kulaputra, Bodhisattva tinggal berdiam di dalam rumah para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Sekarang, Saya akan membabarkan tempat kediaman Bodhisattva. Ada, Kulaputra, sepuluh jenis tempat kediaman dari Bodhisattva yang para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan telah jelaskan, sedang jelaskan, dan akan jelaskan. Apakah sepuluh itu? Yaitu :

Kediaman dari pertama kali menghasilkan tekad.
Kediaman dari mempersiapkan dasar.
Kediaman dari praktek.
Kediaman dari kelahiran mulia.
Kediaman dari pencapaian upaya-kausalya.
Kediaman dari keadaan pikiran yang benar.
Kediaman dari yang tanpa kemunduran.
Kediaman dari usia muda yang murni.
Kediaman dari pangeran Dharma.
Kediaman dari abhiseka mahkota.

"Inilah yang dinamakan sepuluh kediaman dari Bodhisattva yang dijelaskan oleh para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan masa depan."

"Kulaputra, apakah kediaman dari pertama kali menghasilkan tekad dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva melihat Bhagavan Buddha yang bentuk-rupa-Nya agung, yang tanda-tanda tubuh-Nya sempurna dan menyenangkan untuk dilihat, yang sulit di jumpai, dan yang kekuatan-Nya sangat besar; Atau melihat kekuatan batin-Nya, atau mendengar ramalan mencapai Bodhi, atau mendengar ajaran Dharma-Nya, atau melihat makhluk hidup yang mengalami penderitaan parah, atau mendengar Maha Vaipulya Buddhadharma dari sang Tathagata, lalu menghasilkan 'Pikiran Bodhi (Bodhicitta)' dan mencari 'Pengetahuan Yang Mengetahui Semua (Sarvajnajnana)'. "

“Bodhisattva membangkitkan tekad yang dikondisikan oleh sepuluh Dharma yang sulit didapatkan. Apakah sepuluh itu? Yaitu: pengetahuan tentang apa yang demikian dan yang bukan demikian; pengetahuan tentang akibat dari karma baik dan buruk; pengetahuan tentang indera yang unggul atau yang lebih rendah; pengetahuan tentang perbedaan dari berbagai jenis alam; pengetahuan tentang berbagai jenis pemahaman yang berbeda; pengetahuan tentang tujuan dari semua jalan; pengetahuan tentang semua dhyana, vimoksa, dan samadhi; pengetahuan tentang kehidupan masa lalu; pengetahuan tentang Mata Surga yang tanpa halangan; dan pengetahuan tentang seluruhnya mengakhiri arus keluar di tiga masa waktu. Inilah sepuluh itu.”

"Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: rajin memberikan persembahan kepada para Buddha; senang tinggal berdiam di dalam dunia; membimbing para orang duniawi untuk melenyapkan karma buruk; terus-menerus mengajar dengan menggunakan Saddharma; memuji Dharma yang tiada tanding; mempelajari kebajikan Buddha; terlahir di hadapan para Buddha dan selalu diterima dalam perkumpulan majelis-Nya; dengan upaya-kausalya mengumumkan Samadhi yang hening-tenang; memuji pelepasan dari perputaran kelahiran dan kematian; menjadi tempat perlindungan bagi para makhluk yang menderita; Mengapa begitu? Demi memperluas pikiran Bodhisattva dalam Buddhadharma dan agar mampu memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari mempersiapkan dasar dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva menghasilkan sepuluh jenis pikiran terhadap semua makhluk hidup. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Pikiran memberi manfaat; pikiran belas kasih yang besar; pikiran memberi kebahagiaan; pikiran memberi tempat tinggal yang damai; pikiran mengasihani; pikiran peduli; pikiran memberi perlindungan; pikiran mengenali ciri; pikiran bertindak sebagai guru; dan pikiran menjadi pemandu. Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: belajar dan mempraktekkan pengetahuan; senang dalam keheningan-tenang; berteman dekat dengan para bijaksana; berbicara halus dan menyenangkan; berbicara pada waktu yang tepat; tiada takut; memahami Dharma secara menyeluruh; bertindak sesuai dengan Dharma; menjauhi kebodohan dan khayalan; dan tinggal berdiam dengan damai dan tidak bergerak. Mengapa begitu? Demi meningkatkan belas kasih besar Bodhisattva terhadap semua makhluk hidup dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari praktek dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva merenungkan semua gejala kejadian melalui sepuluh jenis praktek. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Merenungkan semua gejala kejadian sebagai yang tidak abadi; semua gejala kejadian sebagai penderitaan; semua gejala kejadian sebagai yang kosong; semua gejala kejadian adalah yang tanpa diri; semua gejala kejadian tanpa ciptaan; semua gejala kejadian tanpa rasa; semua gejala kejadian tidak bisa disamakan dengan nama; semua gejala kejadian tanpa lokasi; semua gejala kejadian terpisah dari pembedaan; dan semua gejala kejadian tiada keberadaan. Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: merenungkan alam makhluk hidup, dharmadhatu, alam duniawi; merenungkan alam tanah, alam air, alam api, alam angin; merenungkan kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Mengapa begitu? Demi menyebabkan pengetahuan Bodhisattva bersinar terang dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari kelahiran mulia dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva lahir dari ajaran yang bijaksana dan menyempurnakan sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Tiada kemunduran; secara mendalam menghasilkan keyakinan murni di hadapan para Buddha; merenungkan gejala kejadian dengan teliti; secara menyeluruh mengetahui semua makhluk hidup, negara, dunia, perbuatan, ganjaran, kelahiran dan kematian, dan Nirvana. Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mengetahui semua Dharma dari para Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang; mempraktekkan dan mengumpulkan semua Dharma dari para Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang; menyempurnakan semua Dharma dari para Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang; dan mengetahui kesamaan semua Buddha. Mengapa begitu? Demi membuat kemajuan dalam masa lampau - masa depan - masa sekarang dan mendapatkan kesamaan pikiran (dengan Tathagata) dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari pencapaian upaya-kausalya dari Bodhisattva? Semua akar kebajikan yang diolah oleh Bodhisattva adalah demi menyelamatkan semua makhluk hidup; menguntungkan semua makhluk hidup; membuat semua makhluk hidup bahagia; berbelas kasihan kepada semua makhluk hidup; membebaskan semua makhluk hidup; menyebabkan semua makhluk hidup terpisah dari semua bencana; menyebabkan semua makhluk hidup lolos dari penderitaan kelahiran dan kematian; menyebabkan semua makhluk hidup menghasilkan keyakinan murni; menaklukkan semua makhluk hidup; dan menyebabkan semua makhluk hidup masuk ke Nirvana.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mengetahui makhluk hidup yang tidak terbatas; mengetahui makhluk hidup yang tidak terhingga; mengetahui makhluk hidup yang tidak terhitung banyaknya; mengetahui makhluk hidup yang tidak terbayangkan; mengetahui bentuk-rupa makhluk hidup yang tanpa batas; mengetahui makhluk hidup yang tidak terukur; mengetahui makhluk hidup adalah yang kosong; mengetahui makhluk hidup tidak menciptakan apapun; mengetahui makhluk hidup tiada keberadaan; dan mengetahui makhluk hidup tiada sifat alami. Mengapa begitu? Demi menyebabkan pikiran meningkat dalam kebebasan, tanpa kemelekatan dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari keadaan pikiran yang benar dari Bodhisattva? Pikiran Bodhisattva setelah mendengar sepuluh jenis gejala kejadian, berada dalam samadhi dan tidak bergerak. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mendengar sang Buddha dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar Dharma dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar Bodhisattva dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar Praktek Bodhisattva dipuji atau difitnah, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa makhluk hidup adalah yang terbatas atau tidak terbatas, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa makhluk hidup adalah yang kotor atau bersih, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa makhluk hidup mudah dibebaskan atau sulit dibebaskan, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa dharmadhatu memiliki batas atau tanpa batas, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan tentang pembentukan atau peluruhan dharmadhatu, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; mendengar perkataan bahwa dharmadhatu ada atau tidak ada, pikiran berada dalam samadhi dan tidak bergerak terhadap Buddhadharma; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: semua gejala kejadian adalah yang tiada tanda; semua gejala kejadian adalah yang tidak memiliki intisari; semua gejala kejadian adalah yang tidak bisa diolah; semua gejala kejadian adalah yang tiada keberadaan; semua gejala kejadian adalah yang tiada kenyataan yang sesungguhnya; semua gejala kejadian adalah yang kosong; semua gejala kejadian tiada sifat alami diri; semua gejala kejadian seperti khayalan; semua gejala kejadian seperti mimpi; semua gejala kejadian tiada perbedaan; Mengapa begitu? Demi menyebabkan pikiran meningkat dalam keadaan tanpa kemunduran dari anutpattikadharmaksanti dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari yang tanpa kemunduran dari Bodhisattva? Pikiran Bodhisattva setelah mendengar sepuluh jenis gejala kejadian, teguh dan tidak mundur. Apakah sepuluh itu? Yaitu: Mendengar bahwa ada atau tiada sang Buddha, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada Dharma, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada Bodhisattva, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada praktek Bodhisattva, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa para Bodhisattva melalui prakteknya mencapai atau tidak mencapai pembebasan, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tiada Buddha di masa lalu, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa akan ada atau tidak akan ada Buddha di masa depan, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa ada atau tidak ada Buddha di masa sekarang, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa pengetahuan Buddha adalah yang terbatas atau yang tidak terbatas, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Mendengar bahwa masa lalu - masa sekarang - masa depan adalah yang sama atau yang tidak sama, pikirannya tidak mundur di dalam Buddhadharma; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Maha Vaipulya Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: menjelaskan bahwa satu adalah banyak; menjelaskan bahwa banyak adalah satu; tulisan sesuai dengan makna; makna sesuai dengan tulisan; ketidakberadaan adalah keberadaan; keberadaan adalah ketidakberadaan; tiada bentuk adalah bentuk; bentuk adalah tiada bentuk; tiada sifat alami adalah sifat alami; sifat alami adalah tiada sifat alami. Mengapa begitu? Demi meningkat maju hingga mampu terbebas dari semua gejala kejadian dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari usia muda yang murni dari Bodhisattva? Bodhisattva tinggal berdiam di dalam sepuluh jenis 'perbuatan (karma)'. Apakah sepuluh itu? Yaitu: perbuatan tubuh yang tanpa kesalahan; perbuatan ucapan yang tanpa kesalahan; perbuatan pikiran yang tanpa kesalahan; mengambil kelahiran sesuai keinginan; mengetahui berbagai macam kecenderungan makhluk hidup; mengetahui berbagai macam pemahaman makhluk hidup; mengetahui berbagai macam alam makhluk hidup; mengetahui berbagai macam karma makhluk hidup; mengetahui pembentukan dan peluruhan dunia; pergi kemanapun dengan bebas melalui kekuatan batin; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: mengetahui semua Buddhaksetra; menggerakkan semua Buddhaksetra; mempertahankan semua Buddhaksetra; mengamati semua Buddhaksetra; mengunjungi semua Buddhaksetra; bepergian melalui dunia-dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menerima Buddhadharma yang tidak terhitung jumlahnya; menampilkan tubuh dengan perubahan wujud yang bebas; memancarkan suara yang besar dan meliputi semua; dan dalam satu 'kshana (kecepatan kilat)', melayani dan memberikan persembahan kepada para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya. Mengapa begitu? Demi meningkat maju dalam upaya-kausalya dengan semua Dharma dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari sebagai pangeran Dharma dari Bodhisattva? Bodhisattva dengan mahir mengetahui sepuluh jenis gejala kejadian. Apakah sepuluh itu? Yaitu: dengan terampil mengetahui bagaimana makhluk hidup mengalami kelahiran kembali; dengan terampil mengetahui asal mula dari penderitaan; dengan terampil mengetahui kekuatan kebiasaan yang berkelanjutan; dengan terampil mengetahui praktek upaya-kausalya; dengan terampil mengetahui Dharma yang tanpa batas; dengan terampil mengetahui semua sikap yang mulia; dengan terampil mengetahui perbedaan dunia; dengan terampil mengetahui peristiwa masa lalu dan masa depan; dengan terampil mengetahui bagaimana menjelaskan makna dari kebenaran biasa; dan dengan terampil mengetahui bagaimana menjelaskan makna dari kebenaran tertinggi; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh Dharma. Apakah sepuluh itu? Yaitu: upaya-kausalya dalam kedudukan sebagai Dharmaraja; aturan dari kedudukan sebagai Dharmaraja; tempat tinggal dari Dharmaraja; usaha dari Dharmaraja; perenungan Dharmaraja; abhiseka Dharmaraja; pemeliharaan dengan kekuatan Dharmaraja; keberanian Dharmaraja; ketenangan Dharmaraja; dan pujian Dharmaraja. Mengapa begitu? Demi meningkat maju dalam pikiran yang tanpa hambatan dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

“Kulaputra, apakah kediaman dari abhiseka mahkota dari Bodhisattva? Bodhisattva menyempurnakan sepuluh jenis pengetahuan. Apakah sepuluh itu? Yaitu: menggoncang dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menyinari dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menyokong dunia yang tidak terhitung jumlahnya; pergi ke dunia yang tidak terhitung jumlahnya; menghiasi dan memurnikan dunia yang tidak terhitung jumlahnya; mengajar makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; mengamati makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; mengetahui indera makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; menyebabkan makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya berjuang memasuki Bodhi; menjinakkan dan menundukkan makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya; Inilah sepuluh itu.”

“Kulaputra, tubuh Bodhisattva ini dan perbuatan tubuh-Nya, tampilan dari berbagai perubahan wujud dari kekuatan batin-Nya, pengetahuan masa lalu - masa depan - masa kini-Nya, pengembangan Buddhaksetra-Nya, keadaan pikiran-Nya, alam pengetahuan-Nya, semuanya itu tidak dapat diketahui. Bahkan Bodhisattva di tingkat Dharmaraja tidak dapat mengetahuinya.”

“Kulaputra, Bodhisattva harus menggiatkan pembelajaran sepuluh jenis pengetahuan Buddha. Apakah sepuluh itu? Yaitu: pengetahuan masa lampau - masa depan - masa sekarang; pengetahuan Buddhadharma; pengetahuan dharmadhatu yang tanpa halangan; pengetahuan dharmadhatu yang tanpa batas; pengetahuan yang memenuhi semua dunia; pengetahuan yang menyinari semua dunia; pengetahuan yang menyokong semua dunia; pengetahuan yang mengetahui semua makhluk hidup; pengetahuan yang mengetahui semua gejala kejadian; pengetahuan yang mengetahui semua Buddha yang tanpa batas; Mengapa begitu? Demi meningkat maju dalam pengetahuan tentang semua cara khusus pembebasan dan agar mampu segera memahami semua Dharma yang di dengar tanpa bergantung pada petunjuk."

Kemudian pada saat itu, disebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, disetiap sepuluh penjuru arah banyak dunia yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra bergoncang dalam enam cara, yaitu : bergetar, bergetar di semua wilayah, bergetar di semua wilayah di semua penjuru. Menaik, menaik di semua wilayah, menaik di semua wilayah di semua penjuru. Bergelombang, bergelombang di semua wilayah, bergelombang di semua wilayah di semua penjuru. Berguncang, berguncang di semua wilayah, berguncang di semua wilayah di semua penjuru. Bergemuruh, bergemuruh di semua wilayah, bergemuruh di semua wilayah di semua penjuru. Berdentam, berdentam di semua wilayah, berdentam di semua wilayah di semua penjuru.

Ada turun hujan bunga surga, bubuk candana surga, karangan bunga surga, wewangian surga, pakaian permata surga, dan perhiasan surga; Musik surga bermain spontan tanpa henti, dengan pancaran cahaya dan suara yang indah. Sama seperti di dunia ini diatas puncak gunung Sumeru di dalam istana Devendra, sepuluh tempat kediaman dijelaskan dengan menampilkan perubahan wujud ajaib, begitu juga hal yang sama terjadi di semua dunia.

Lagi, disebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru arah, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra, ada datang para Bodhisattva yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra ke tempat ini, memenuhi sepuluh penjuru, Mereka berkata: “Sadhu, Sadhu, Kulaputra, sangat baik Anda membabarkan Dharma ini! Kami semua juga memiliki nama yang sama, Kebijaksanaan Dharma, dan ksetra tempat Kami berasal semuanya memiliki nama yang sama, Megha Dharma. Para Tathagata dari ksetra itu semuanya bernama Saddharma. Di dalam semua Buddhaksetra tempat kami berasal, Sepuluh Tempat Kediaman juga dibabarkan, dan perkumpulan majelis dan pengiringnya, kata dan ungkapannya semuanya juga sama seperti ini, tanpa tambahan atau pengurangan.”

"Kami, Kulaputra, menerima kekuatan batin sang Buddha, telah datang dan memasuki perkumpulan majelis ini untuk memberikan Anda kesaksian. Sama seperti yang ada di perkumpulan majelis ini, di semua dunia di seluruh sepuluh penjuru arah adalah juga begitu."

Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru di seluruh dharmadhatu, mengucapkan syair-gatha ini :

Melihat tubuh yang indah dari sang Bijaksana Tertinggi,
Yang dilengkapi dengan hiasan tanda dan kemurnian,
Yang sangat terhormat dan jarang dijumpai,
Para Bodhisattva dengan berani membuat tekad pertama kali.

Melihat kekuatan batin besar yang tiada bandingnya,
Mendengar ramalan, dan mengingat Dharma,
Dan karena penderitaan yang tidak terbatas dari makhluk hidup,
Para Bodhisattva untuk pertama kali membuat tekad.

Mendengar para Tathagata dimana-mana dimuliakan tertinggi,
Yang telah menyempurnakan semua kualitas kebajikan,
Yang sama seperti ruang angkasa, tiada perbedaan,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Sebab dan akibat dari masa lalu - sekarang - masa depan dinamakan tempat.
Sifat alami diri dan gejala kejadian adalah yang tanpa tempat.
Ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dari masa lalu, masa depan, dan masa sekarang,
Semua karma yang baik atau buruk.
Ingin mengetahui selengkapnya yang tiada habisnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua Dhyana, Vimoksa, dan Samadhi,
Yang kotor, yang murni, dan yang tidak terbatas jenisnya.
Ingin mengetahui semuanya, memasukinya, tinggal berdiam, dan keluar,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Sesuai dengan ketajaman atau ketumpulan indera para makhluk,
Kekuatan semangat mereka juga beranekaragam.
Ingin memahami dan mengetahui semua keanekaragamannya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Pemahaman makhluk hidup adalah yang beranekaragam,
Kecenderungan pikiran mereka masing-masing berbeda.
Ingin mengetahui semua kecenderungan yang tidak terbatas ini,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Alam makhluk hidup adalah yang berbeda-beda,
Dan semua dunia adalah yang tidak terbatas.
Ingin mengetahui zat dan sifat alaminya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Jalan dari semua perbuatan yang berkondisi,
Masing-masing memiliki tujuannya.
Ingin mengetahui sifat alaminya yang sesungguhnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Para makhluk hidup di semua dunia,
Mengalir menurut karma mereka tanpa henti.
Ingin mencapai Mata Surga untuk melihat semuanya dengan jelas,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dari semua yang ada di alam masa lalu,
Zatnya, sifat alaminya, dan tandanya sebagaimana apa adanya.
Ingin mengetahui kehidupan mereka sebelumnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Kemunculan yang berkelanjutan dan kekuatan kebiasaan
Dari belenggu angan-angan khayalan dari semua makhluk hidup.
Ingin mengetahui sepenuhnya pada akhirnya menghabiskannya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dari semua berbagai macam ajaran dan percakapan
Yang dibentuk oleh para makhluk hidup.
Ingin mengetahui kebenaran duniawi seperti itu,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua gejala kejadian melampaui ucapan.
Sifat alaminya adalah yang kosong, diam tenang, nirvana, tidak dihasilkan.
Ingin sepenuhnya memahami dan menembus maknanya yang sesungguhnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin mengguncang dunia-dunia di sepuluh penjuru,
Dan menggulingkan semua lautan besar,
Diberkahi dengan Maha Abhijna Bala dari semua Buddha,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin memancarkan cahaya dari satu pori,
Yang menyeluruh menerangi ksetra yang tidak terhitung di sepuluh penjuru,
Dan oleh setiap sinar cahaya itu semuanya menjadi terbangkitkan,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan,
Dibawa ditelapak tangan namun tanpa bergerak,
Mengetahui ini sama seperti khayalan ilusi,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin para makhluk hidup dari ksetra yang tidak terbatas,
Meletakkannya di ujung rambut namun tidak terbatasi,
Mengetahui semua perwujudan tubuh dan tiada diri,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin dengan sehelai rambut mengambil air laut,
Sampai semua Maha Samudra sepenuhnya kering,
Dan mengetahui dengan tepat berapa banyak tetes yang diperlukan.
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Mengurangi semua hingga menjadi butiran debu,
Dunia-dunia yang banyaknya tidak terbayangkan,
Ingin benar-benar jelas mengetahui jumlahnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dalam kalpa yang tidak terbatas di masa lalu dan masa depan,
Tanda-tanda pembentukan dan peluruhan semua dunia.
Ingin benar-benar memahami dan menghabiskan batas-batasnya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dalam tiga masa waktu, semua Tathagata,
Semua Pratyekabuddha dan semua Sravakabuddha.
Ingin mengetahui Dharma mereka sepenuhnya tanpa terkecuali,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua dunia yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Ingin dengan satu helai rambut mengangkat mereka,
Sepenuhnya memahami zat dan tanda mereka sebagaimana apa adanya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Lingkaran pegunungan yang tidak terbatas dan tidak terhitung jumlahnya
Ingin membuatnya masuk sepenuhnya ke dalam satu pori rambut,
Mengetahui besarnya mereka sebagaimana apa adanya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Dengan satu suara halus yang hening-tenang dan damai
Ingin berkhotbah sesuai dengan semua jenis makhluk di sepuluh penjuru,
Dan menyebabkan semua memahami dengan jelas dan murni,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Segala sesuatu yang diucapkan oleh semua makhluk hidup
Mengungkapkannya dalam satu kata,
Ingin mengetahui sifat alami diri mereka,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Menghasilkan semua ucapan suara dunia
Menyebabkan semua orang menyadari kedamaian nirvana,
Ingin mencapai lidah yang menakjubkan seperti itu,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua dunia di sepuluh penjuru arah,
Dengan tanda-tanda pembentukan dan peluruhannya,
Ingin semua bisa melihat dan mengetahui bahwa itu dihasilkan dari gagasan pikiran,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua dunia di sepuluh penjuru arah,
Dipenuhi dengan para Tathagata.
Ingin mengetahui semua Dharma dari para Buddha itu,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Tubuh yang tidak terhitung dari perubahan wujud yang bervariasi,
Setara dengan banyaknya butiran debu di semua dunia,
Ingin sepenuhnya memahaminya bahwa itu muncul dari pikiran,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Di masa lalu, masa depan, dan sekarang,
Ada para Tathagata yang tidak terbatas, tidak terhitung jumlah-Nya,
Ingin dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua-Nya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin menjelaskan satu ucapan Dharma,
Selama asamkhyeya kalpa tanpa habis-habisnya,
Dan namun setiap ungkapan dan artinya tidak sama,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Semua makhluk hidup di sepuluh penjuru,
Memiliki tanda perputaran kelahiran dan kematian,
Ingin dalam sekejap satu pikiran mengetahui semuanya,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Ingin dengan perbuatan dari tubuh, ucapan, dan pikiran,
Pergi ke mana pun di sepuluh penjuru tanpa halangan,
Dan memahami bahwa tiga masa waktu adalah yang kosong dan tiada,
Oleh sebab ini, para Bodhisattva pertama kali membuat tekad.

Setelah membangkitkan tekad Bodhi,
Mereka harus pergi ke semua ksetra di sepuluh penjuru,
Untuk memuliakan dan memberikan persembahan kepada semua Tathagata,
Oleh sebab itu mecapai Avaivartika.

Bodhisattva dengan berani mencari Jalan Buddha,
Tinggal berdiam dalam kelahiran dan kematian tanpa lelah,
Dan berkhotbah kepada orang lain agar mengikuti Dharma,
Oleh sebab itu mecapai Avaivartika.

Di dalam ksetra yang tanpa batas di sepuluh penjuru,
Di setiap itu bertindak sebagai Pemimpin Yang Terhormat.
Mengajarkan seperti ini kepada semua Bodhisattva,
Oleh sebab itu mecapai Avaivartika.

Yang Tertinggi, paling mulia, dan paling utama,
Yang Mendalam, Dharma yang halus dan murni,
Mendorong para Bodhisattva untuk mengajarkannya kepada orang-orang,
Oleh sebab itu, menjadi terpisah dari penderitaan.

Alam kemenangan yang tidak tergoyahkan,
Tiada bandingan di semua dunia,
Selalu memuji itu kepada para Bodhisattva,
Oleh sebab itu, menyebabkan mereka mencapai Avaivartika.

Buddha, sang Lokanatha yang berkekuatan besar,
Dipenuhi dengan semua kualitas kebajikan,
Membuat para Bodhisattva tinggal berdiam disini,
Dengan cara itu mengajar Mereka menjadi Yang Unggul.

Tempat para Buddha yang tidak terbatas dan tidak terhitung berdiam,
Berangkat ke sana mengunjungi-Nya.
Selalu bergabung dalam perkumpulan majelis para Buddha,
Oleh sebab itu mencapai Avaivartika.

Semua samadhi yang hening-tenang,
Dijelaskan sepenuhnya tanpa pengecualian,
Membabarkannya kepada para Bodhisattva,
Oleh sebab itu mencapai Avaivartika.

Menghancurkan roda kelahiran dan kematian,
Memutar roda Dharma yang murni dan indah,
Tidak melekati semua dunia,
Yang seperti ini adalah ajaran untuk Bodhisattva.

Semua makhluk hidup jatuh ke jalan jahat,
Terikat dan tertekan oleh penderitaan yang tidak terbatas.
Menjadi tempat perlindungan dan penyelamat mereka:
Adalah ajaran untuk Bodhisattva.

Demikianlah Kediaman dari pertama kali menghasilkan tekad dari Bodhisattva,
Dengan satu pikiran mencari Jalan Yang Tiada Tanding.
Sama seperti Dharma yang saya ucapkan,
Begitu juga Dharma dari semua Buddha.

Dalam kediaman kedua dari mempersiapkan dasar,
Para Bodhisattva harus memunculkan pikiran seperti ini:
"Semoga semua makhluk hidup yang di sepuluh penjuru arah,
Mengikuti Dharma dari para Tathagata.”

Pikiran memberi manfaat, menyayangi, menentramkan,
Pikiran mendirikan mereka dengan damai, mengasihi, dan menerima,
Pikiran melindungi makhluk hidup, menganggapnya sama dengan diri sendiri,
Pikiran tentang sebagai Guru Pembimbing.

Setelah tinggal berdiam dalam keadaan pikiran yang unggul ini,
Kemudian Mereka diarahkan belajar dan berlatih,
Selalu senang dalam meditasi yang benar dan hening-tenang,
Dan mendekati semua teman yang berkebajikan.

Berbicara halus dan menyenangkan, tanpa kasar.
Selalu berbicara pada waktu yang tepat dan juga tanpa takut.
Memahami makna dari Dharma dan bertindak dengan sesuai,
Menjauh dari ketidaktahuan dan kebingungan, pikiran tidak bergerak.

Begitulah pembelajaran awal dari Bodhisattvacarya.
Mereka yang dapat mempraktikkan perilaku ini adalah putra Buddha sejati.
Sekarang saya sudah menjelaskan apa yang harus dipraktekkan,
Para putra Buddha harus rajin belajar dengan cara ini.

Bodhisattva di Kediaman ketiga dari praktek,
Harus mengandalkan ajaran Sang Buddha untuk merenungkan dengan tekun
Semua gejala kejadian sebagai yang tidak abadi, penderitaan, dan yang kosong,
Tanpa diri atau perwujudan tubuh (pudgala), dan tanpa ciptaan.

Semua gejala kejadian tidak bisa dinikmati;
Mereka tidak memiliki nama seperti itu, dan tiada lokasi.
Mereka tanpa pembedaan, dan tidak nyata.
Orang yang merenungkan dalam cara ini disebut Bodhisattva.

Kemudian Mereka dibuat merenungkan alam makhluk hidup
Dan didorong untuk merenungkan dharmadhatu;
Semua perbedaan dunia yang beranekaragam,
Semua ini Mereka harus didorong untuk merenungkannya.

Di dunia sepuluh penjuru, dan ruang angkasa,
Seluruh tanah, air, api, dan angin,
Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu,
Mereka harus didorong untuk merenungkan semua ini.

Memeriksa setiap perbedaan dari alam-alam itu.
Zat dan sifat alaminya hingga menyeluruh.
Memperoleh ajaran seperti ini dan rajin mengolahnya,
Mereka kemudian disebut putra Buddha sejati.

Bodhisattva di kediaman keempat dari kelahiran mulia,
Terlahir dari semua ajaran yang bijaksana.
Sepenuhnya memahami semua keberadaan sebagai yang tiada,
Dia melampaui gejala kejadian dan lahir di dharmadhatu.

Keyakinannya pada Buddha adalah yang kukuh dan tidak dapat dihancurkan.
Merenungkan gejala kejadian sebagai yang diam dan nirvana, pikirannya damai.
Terhadap semua makhluk hidup, Dia sepenuhnya mengerti,
Bahwa sifat alami mereka kosong, dan tidak nyata.

Dunia, ksetra, karma, dan ganjaran,
Kelahiran, kematian, dan nirvana, adalah yang juga begitu.
Para putra Buddha yang merenungkan gejala kejadian dalam cara ini,
Adalah yang lahir dari Buddha dan disebut putra Buddha.

Semua Buddhadharma dari masa lalu,
Masa depan, dan masa sekarang,
Memahaminya, mengumpulkannya dan menyempurnakannya.
Dalam cara ini, pembelajarannya menjadi yang tertinggi.

Semua Tathagata dari masa lalu, masa depan, dan sekarang,
Bisa merenungkan semua-Nya sebagai yang sama,
Berbagai macam perbedaan tidak dapat ditemukan.
Orang yang merenungkan dalam cara itu, menembus tiga masa waktu.

Seperti sekarang Saya menyatakan dan memuji
Semua kualitas kebajikan dari kediaman keempat,
Jika orang mengandalkan Dharma dengan rajin mempraktekkannya,
Maka akan cepat menyelesaikan Anuttara Samyaksambodhi.

Selanjutnya, kediaman Kelima dari Bodhisattva,
Disebut Kediaman dari pencapaian upaya-kausalya.
Secara mendalam memasuki upaya-kausalya yang tanpa batas,
Dan menghasilkan karma kualitas kebajikan tertinggi.

Himpunan kualitas kebajikan yang dikembangkan oleh para Bodhisattva,
Adalah untuk menyelamatkan semua makhluk hidup.
Dengan pikiran terkonsentrasi, membantu dan melimpahkan kebahagiaan,
Dengan satu tujuan, oleh belas-kasihan, membebaskan mereka.

Demi semua makhluk, menghilangkan banyak kesulitan,
Memimpin mereka semua keluar dari keberadaan dan membahagiakan mereka,
Menaklukkan mereka semua tanpa kehilangan satupun,
Menyebabkan mereka dipenuhi kebajikan menuju Nirvana.

Semua makhluk hidup tidak terbatas,
Tidak terhingga, tidak terhitung, dan tak terbayangkan banyaknya.
juga tidak dapat diukur, atau dibandingkan.
Para Bodhisattva menerima Dharma ini dari Tathagata.

Para putra Buddha di Kediaman Kelima ini,
Menyempurnakan upaya-kausalya untuk menyelamatkan makhluk hidup.
Sang Bhagavan yang berpengetahuan besar, dengan semua kebajikan,
Membangkitkan Mereka dengan Dharma ini.

Kediaman keenam dari penyempurnaan pikiran yang benar.
Tiada kebingungan tentang sifat alami diri dari gejala kejadian.
Bermeditasi dengan perhatian yang benar dan terpisah dari pembedaan.
Semua dewa dan manusia tidak dapat mengganggunya.

Mendengar pujian atau fitnah kepada Buddha atau Buddhadharma,
Atau kepada para Bodhisattva dan perilaku yang Mereka praktekkan,
Atau bahwa makhluk hidup adalah yang terbatas atau tanpa batas,
Atau tercemar atau tidak tercemar, sulit atau mudah diselamatkan,
Atau dharmadhatu itu besar atau kecil, diciptakan atau dihancurkan,
Atau itu ada atau tidak ada, pikiran Mereka tidak bergerak.
Di masa lalu, masa depan, dan masa sekarang,
Pikiran Mereka yang cermat selalu pasti.

Bahwa semua gejala kejadian adalah yang tanpa ciri-ciri,
Tanpa zat, tanpa sifat alami diri, kosong dan tidak nyata,
Seperti ilusi, seperti mimpi, melampaui gagasan pikiran:
Mereka selalu senang mendengar ajaran seperti itu.

Para Bodhisattva di kediaman ketujuh dari yang tanpa kemunduran,
Tidak pernah mundur walaupun mendengar apapun,
Tentang Buddha, Dharma, atau Bodhisattva,
Apakah Mereka ada atau tidak, meloloskan diri atau tidak meloloskan diri,
Apakah ada atau tidak ada para Buddha,
Di masa lalu, masa depan, masa sekarang,
Apakah pengetahuan Buddha terbatas atau tidak terbatas,
Apakah masa lalu - masa depan - masa sekarang memiliki satu tanda atau beranekaragam,
Satu adalah banyak, banyak adalah satu,
Ungkapan sesuai dengan makna, makna sesuai dengan ungkapan;
Demikianlah itu terjadi secara saling bergantungan:
Inilah yang harus dijelaskan oleh Mereka yang tanpa kemunduran.

Apakah gejala kejadian memiliki tanda atau tidak,
Apakah gejala kejadian memiliki sifat alami atau tidak;
Berbagai macam perbedaan saling menggolongkannya:
Orang begitu mendengar ini, mencapai yang tertinggi.

Para Bodhisattva di Kediaman kedelapan dari usia muda yang murni,
Menyelesaikan tindakan dari tubuh, ucapan, dan pikiran,
Semuanya murni, dan tanpa kesalahan.
Mereka bebas mengambil kelahiran sesuai yang dikehendaki,
Dan mengetahui kecenderungan pikiran makhluk hidup,
Berbagai macam pemahaman mereka, yang masing-masing berbeda,
Dan setiap kualitas yang mereka miliki,
Dan Tanda-tanda penciptaan dan penghancuran ksetra di sepuluh penjuru,
Hingga dengan cepat memperoleh kekuatan batin yang menakjubkan,
Pergi ke mana saja sesuai dengan pikiran dalam sekejap,
Mendengar Dharma di hadapan para Buddha,
Dan memuji praktek Mereka tanpa lelah.
Memahami semua Buddhaksetra,
Menggoncang, menyokong, merenungkannya,
Pergi melampaui Buddhaksetra yang tidak terhitung,
Berkelana di dunia-dunia yang tidak terbatas,
Demi memeriksa Dharma yang tidak terhitung banyaknya;
Dengan bebas mengambil perwujudan tubuh sesuai keinginan,
Keterampilan berbicaranya meliputi semua tempat,
Saat melayani semua Buddha yang tidak terhitung jumlah-Nya.

Para Bodhisattva di Kediaman kesembilan dari pangeran Dharma,
Bisa melihat kelahiran berbeda-beda yang dialami para makhluk hidup;
Memahami penderitaan dan kebiasaan mereka,
Mengetahui Upaya-kausalya yang cocok untuk diterapkan.

Semua Dharma yang berbeda-beda, dan cara sikapnya,
Perbedaan dunia, masa lampau dan masa depan,
Kebenaran biasa dan tertinggi dari itu,
Semuanya diketahui tanpa kecuali.

Pendirian upaya-kausalya dari Dharmaraja,
Dan Dharma yang dibuat-Nya sesuai dengan posisi itu,
Istana Dharmaraja dan pintu masuknya,
Dan juga yang terlihat didalamnya,
Dharma abhiseka Mahkota Dharmaraja,
Dan kekuatan batin-Nya, adhisthana-Nya, keberanian-Nya,
Tempat istirahat-Nya, dan pujian kepada-Nya,
Dengan ini Mereka menggunakannya untuk mengajar para Dharmaputra.

Menjelaskan semua ini kepada mereka, yang tidak habis-habisnya,
Dan menyebabkan pikiran mereka menjadi tanpa kemelekatan.
Dengan memahami ini, dan mengolah perhatian yang benar,
Semua Buddha muncul di hadapan mereka.

Para putra Buddha sejati di Kediaman kesepuluh dari abhiseka mahkota,
Menyempurnakan Dharma yang paling tinggi.
Semua dunia yang tak terhitung jumlahnya di sepuluh penjuru,
Bisa dibuatnya berguncang, dan memancarkan cahaya yang menyinari seluruhnya.

Menyokong dan menjelajahi semuanya tanpa kecuali.
Sepenuhnya memurnikan dan menghiasi semuanya.
Mereka mengajar para makhluk hidup yang tidak terhitung jumlahnya,
Mengamati dan mengetahui indera mereka dengan lengkap.

Juga, membangunkan dan menundukkan para makhluk yang tidak terbatas.
Menyebabkan mereka semua cenderung menuju Maha Bodhi.
Mengamati seluruh dharmadhatu,
Pergi ke semua ksetra di sepuluh penjuru.

Perwujudan tubuh dan perbuatan Mereka disana,
Kekuatan batin dan perubahan wujud Mereka adalah yang tidak terukur.
Semua sulit dipahami.
Semua keadaan Buddhaksetra diseluruh tiga masa waktu,
Bahkan Pangeran Dharma tidak bisa mengerti.

Pengetahuan tiga masa waktu dari Dia Yang Melihat Semua,
Pengetahuan yang memahami semua Buddhadharma,
Pengetahuan Dharmadhatu yang tidak terhalang dan tidak terbatas,
Pengetahuan yang sepenuhnya mengisi semua dunia,
Pengetahuan yang menerangi dan menopang dunia,
Pengetahuan yang mengetahui semua kualitas makhluk hidup,
Dan Pengetahuan yang mengetahui Samyaksambodhi yang tanpa batas.
Sang Tathagata menjelaskannya terperinci penuh kepada mereka semua.
Dalam cara ini, semua Bodhisattva di Kediaman kesepuluh
Dilahirkan dari perubahan wujud dari Dharma sang Tathagata.
Praktek yang sesuai dengan kualitas kebajikan Mereka,
Tidak dapat dipahami oleh para dewa dn manusia.

Di masa lalu, masa depan, dan saat ini,
Tekad Mereka untuk mencari KeBuddhaan tidak memiliki batas.
Memenuhi semua ksetra di sepuluh penjuru,
Semuanya bertekad mencapai Sarvajnajnana.

Semua ksetra tidak memiliki batas;
Keadaan dari dunia dan makhluk hidup adalah juga begitu.
Ketidaktahuan, perbuatan, dan kecenderungannya masing-masing berbeda.
Berdasarkan itu, Mereka memunculkan niat untuk Bodhi.

Pikiran saat untuk pertama kali mencari Jalan Buddha,
Para makhluk biasa yang duniawi dan,
Bahkan yang dari dua kendaraan tidak bisa tahu seperti apa,
Apalagi praktek kebajikan yang lainnya!

Jika bisa mengangkat dengan sehelai rambut,
Semua dunia yang ada di sepuluh penjuru,
Orang bisa mengetahui para Putra Buddha ini,
Kemajuan Mereka pada kebijaksanaan Tathagata.

Jika bisa menghabiskan tetesan dengan sehelai rambut,
Air dari semua lautan besar di sepuluh penjuru,
Orang bisa mengetahui para Putra Buddha ini,
Praktek kebajikan Mereka dalam sekejap pikiran.

Jika bisa menghaluskan semua dunia menjadi debu,
Mengetahui jumlah setiap butirnya,
Orang seperti itu bisa melihat,
Jalan yang dilalui oleh para Putra Buddha ini.

Para Buddha dari masa lalu, masa depan, dan masa kini di sepuluh penjuru,
Semua Pratyekabuddha, dan Sravakabuddha,
Sepenuhnya dengan berbagai macam 'kekuatan kefasihan (pratibhanabala)',
Mengajarkan tentang pertama kali menghasilkan pikiran Bodhi.

Kebajikan dari menghasilkan tekad ini tidak dapat diukur;
Sepenuhnya mengisi semua alam makhluk hidup,
Kebijaksanaan yang sangat banyak, tidak bisa menghabiskannya dalam kata,
Apalagi semua praktek menakjubkan yang dilaksanakannya!”
Last edited by ajita on 13 Jul 2019, 21:02, edited 1 time in total.
#17614
Image
Aryavalokitesvara Bodhisattva


Image
Pundarika

Bab 16
Brahmacarya parivartah



Kemudian pada saat itu, Samyaksmrtih devaputra berkata kepada Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva : “Kulaputra, di semua dunia, para Bodhisattva yang mengikuti ajaran para Tathagata, mengenakan jubah yang diwarnai dan meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjadi Pravrajita. Bagaimanakah Mereka mencapai kemurnian Brahmacarya dan, dari kedudukan sebagai Bodhisattva, selanjutnya mencapai Anuttara Samyaksambodhi?”

Kemudian pada saat itu, Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata: "Ketika, Kulaputra, Bodhisattva Mahasattva melaksanakan Brahmacarya, Dia harus menggunakan sepuluh dharma sebagai landasan pemikirannya, dan merenungkannya dengan tepat."

"Yaitu : tubuh, perbuatan tubuh, ucapan, perbuatan ucapan, pikiran, perbuatan pikiran, Buddha, Dharma, Sangha, dan Sila. Mereka harus merenungkannya dalam cara ini : Apakah tubuh adalah Brahmacarya? Apakah karma tubuh adalah Brahmacarya? Apakah ucapan adalah Brahmacarya? Apakah perbuatan ucapan adalah Brahmacarya? Apakah pikiran adalah Brahmacarya? Apakah perbuatan pikiran adalah Brahmacarya? Apakah Buddha adalah Brahmacarya? Apakah Dharma adalah Brahmacarya? Apakah Sangha adalah Brahmacarya? Apakah Sila adalah Brahmacarya?"

"Jika tubuh adalah Brahmacarya, maka Brahmacarya tidak akan menjadi bagus, itu tidak akan menjadi Dharma, itu akan kotor, itu akan tidak murni, itu akan busuk, itu akan tidak bersih, itu akan menjijikkan, itu akan tidak terkendali, itu akan bercampur kotoran, itu akan menjadi mayat, itu akan mejadi tumpukan ulat-cacing."

"Jika karma tubuh adalah Brahmacarya, maka Brahmacarya akan menjadi berjalan, berdiri, duduk, berbaring, membungkuk, merentang, menatap ketas dan kebawah."

"Jika ucapan adalah Brahmacarya, maka Brahmacarya akan menjadi suara, nafas, dada, lidah, tenggorokan, bibir, hembus, hirup, sesak, lepas, keras, halus, jelas, tidak jelas."

"Jika karma ucapan adalah Brahmacarya, maka Brahmacarya akan menjadi sapaan, pertanyaan, penjelasan ringkas, penjelasan luas, penjelasan secara kiasan, penjelasan langsung, memuji, mengecam, mendefinisi, penjelasan yang sesuai dengan duniawi, penjelasan yang jelas."

"Jika pikiran adalah Brahmacarya, maka Brahmacarya akan menjadi tanggapan penglihatan, pengamatan, pembedaan, beranekaragam pembedaan, gagasan, beranekaragam gagasan, ingatan, beranekaragam ingatan, khayalan, dan mimpi."

"Jika karma pikiran adalah Brahmacarya, maka Brahmacarya akan menjadi ide, dingin, panas, lapar, haus, sakit, enak, sedih, gembira."

"Jika Buddha adalah Brahmacarya, maka apakah bentuk-rupa adalah Buddha? Apakah perasaan adalah Buddha? Apakah pikiran adalah Buddha? Apakah pembentukan gagasan adalah Buddha? Apakah kesadaran adalah Buddha? Apakah tanda adalah Buddha? Apakah sifat adalah Buddha? Apakah kekuatan batin adalah Buddha? Apakah karma adalah Buddha? Apakah buah ganjaran adalah Buddha?"

"Jika Dharma adalah Brahmacarya, maka apakah Nirvana adalah Dharma? Apakah yang tidak dilahirkan adalah Dharma? Apakah yang tiada kemunculan adalah Dharma? Apakah yang tidak terbayangkan adalah Dharma? Apakah yang tiada pembedaan adalah Dharma? Apakah yang tiada perbuatan adalah Dharma? Apakah yang tiada himpunan adalah Dharma? Apakah yang tiada kesesuaian adalah Dharma? Apakah yang tiada pencapaian adalah Dharma?"

"Jika Sangha adalah Brahmacarya, maka apakah yang menuju ke Srotapanna adalah Sangha? Apakah buah Srotapanna adalah Sangha? Apakah yang menuju ke Sakrdagamin adalah Sangha? Apakah buah Sakrdagamin adalah Sangha? Apakah yang menuju ke Anagamin adalah Sangha? Apakah buah Anagamin adalah Sangha? Apakah yang menuju ke Arhan adalah Sangha? Apakah buah Arhan adalah Sangha? Apakah tiga pengetahuan super adalah Sangha? Apakah enam kekuatan batin adalah Sangha?"

"Jika Sila adalah Brahmacarya, maka apakah tempat upasampada adalah Sila? Apakah bertanya tentang kemurnian adalah Sila? Apakah mengajarkan tingkah laku yang baik adalah Sila? Apakah mengucapkan 'Karmavachana (Bhiksu atau Bhikshuni mengucapkan pratimoksha dihadapan Sangha)' adalah Sila? Apakah 'Upadhyaya (Pembimbing)' adalah Sila? Apakah 'Acarya (Guru Batin)' adalah Sila? Apakah mencukur habis rambut adalah Sila? Apakah mengenakan jubah Kasaya adalah Sila? Apakah Pindapatra adalah Sila? Apakah mata pencaharian yang benar adalah Sila?"

"Setelah merenungkan dalam cara ini, jangan melekat pada tubuh, jangan melekat pada praktek, dan jangan tinggal berdiam dalam gejala kejadian. Masa lampau telah lenyap, masa depan belum tiba, masa sekarang adalah kosong. Tiada pelaku karma, tiada penerima ganjaran. Dunia ini tidak berpindah, dunia yang lain tidak berubah. Gejala kejadian apa diantara ini yang bisa dinamakan Brahmacarya? Dari mana datangnya Brahmacarya? Milik siapakah Brahmacarya? Apa zatnya? Oleh siapakah itu dilaksanakan? Apakah itu ada? Apakah itu tiada? Apakah itu berbentuk? Apakah itu tiada bentuk? Apakah itu perasaan? Apakah itu tiada perasaan?"

"Renungkanlah dalam cara ini, karena kenyataan dari Brahmacarya tidak bisa dipahami, karena gejala kejadian di masa lampau - masa depan - masa sekarang adalah yang seluruhnya kosong, karena pikiran tanpa kemelekatan, karena pikiran tanpa rintangan, karena bidang praktek adalah yang tiada duanya, dikarenakan oleh upaya-kausalya dari pembebasan, dikarenakan oleh menerima Dharma tanpa bentuk, dikarenakan oleh merenungkan Dharma tanpa bentuk, dikarenakan oleh mengetahui Buddhadharma adalah yang sama, dikarenakan oleh memenuhi semua kualitas Buddha, oleh sebab itu dinamakan Brahmacarya yang murni."

"Selanjutnya, ada sepuluh dharma yang harus diolah, yaitu : pengetahuan tentang apa yang demikian dan yang bukan demikian; pengetahuan tentang akibat dari karma masa lampau - sekarang - masa depan; pengetahuan tentang semua dhyana, vimoksa, dan samadhi; pengetahuan tentang indera yang unggul atau yang lebih rendah; pengetahuan tentang berbagai jenis pemahaman yang berbeda; pengetahuan tentang berbagai jenis alam; pengetahuan tentang tujuan dari semua jalan; pengetahuan tentang Mata Surga yang tanpa halangan; pengetahuan tentang kehidupan masa lalu yang tanpa halangan; dan pengetahuan tentang seluruhnya mengakhiri arus keluar. Renungkan setiap sepuluh kekuatan Tathagata ini, dalam setiap kekuatan ini ada makna yang tanpa batas. Orang harus bertanya tentang itu dan setelah mendengarnya, harus membangkitkan pikiran Maha Maitri Karuna dan mengamati para makhluk hidup tanpa meninggalkan mereka. Merenungkan Dharma tanpa berhenti, Mempraktekkan karma terunggul tanpa mencari hadiah, Memahami bahwa objek sama seperti mimpi, seperti khayalan, seperti pantulan, seperti gema, dan seperti perubahan wujud magis.”

"Jika para Bodhisattva bisa merenungkan dalam cara ini dan mempraktekkannya, Mereka tidak akan menimbulkan pemahaman yang mendua dalam semua gejala kejadian, semua kualitas Buddha akan dengan cepat terwujud dihadapan Mereka. Pada waktu pertama kali melahirkan pikiran (Bodhi), akan segera mencapai Anuttarasamyaksambodhi, akan mengetahui bahwa semua gejala kejadian hanyalah sifat alami diri dari pikiran, dan akan menyempurnakan Dharmakaya, dan memahami dengan tanpa bergantung pada petunjuk."
#17615
Image
Aryavalokitesvara Bodhisattva


Image
Nilotpala

Bab 17
Purvabodhicittotpada parivartah


Kemudian pada saat itu, Sakra Devendra berkata kepada Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva : “Kulaputra, berapa luas kebajikan yang dicapai ketika Bodhisattva pertama kali melahirkan pikiran kebangkitan?"

Kemudian pada saat itu, Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata: "Dharma ini sangatlah mendalam, sulit dijelaskan, sulit diketahui, sulit dipahami, sulit dipercaya, sulit di alami, sulit dipraktekkan, juga, sulit ditembus, sulit dipikirkan, sulit diukur dan sulit dimasuki. Walaupun begitu, Saya, melalui kekuatan batin Buddha, akan menjelaskannya kepada Anda! Misalkan, Kulaputra, ada orang yang menyediakan semua kesenangan dari alat musik kepada semua makhluk hidup dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur selama satu kalpa, dan setelah itu, mengajar mereka menjaga lima sila dengan murni, dan juga melakukan hal yang sama ini di penjuru selatan, barat, utara, tengah, atas, dan bawah. Bagaimanakah, Kulaputra, pendapat Anda? Apakah kebajikan dari orang ini besar?"

Devendra berkata : "Kulaputra, hanya sang Buddha sajalah yang bisa mengetahui kebajikan orang ini. Tiada orang lain yang bisa mengukurnya."

Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata: "Kulaputra, kebajikan dari orang ini, ketika dibandingkan dengan kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Bodhicitta, bahkan tidak mencapai seperseratus, atau seperseribu, atau seperseratusribu, atau sepersejuta, atau seperseratusjuta, atau sepermilyar, atau seperseratusmilyar, atau sepertriliun, atau seperseratustriliun, atau seperkuadriliun, atau seperkuintriliun darinya, kebajikan itu tidaklah sebanding dengan pecahan terkecil yang bisa dibayangkan dari kebajikan melahirkan Bodhicitta."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang menyediakan obat-obatan kepada semua makhluk hidup dalam sepuluh asamkhyeya sistem dunia selama seratus kalpa, dan setelah itu, mengajar mereka mempraktekkan sepuluh perbuatan baik, melayani mereka dalam cara yang sama seperti itu selama seribu kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam didalam empat Dhyana selama seratus ribu kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam empat pikiran yang tidak terukur (Catur-apramana-citta : Maitri-Karuna-mudita-upeksha) selama seratus juta kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam empat Samadhi tanpa bentuk-rupa selama sepuluh milyar kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam buah Srotapanna selama seratus milyar kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam buah Sakrdagamin selama sepuluh triliun kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam buah Anagamin selama kuadriliun kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam buah Arhan selama kuintriliun kalpa, lalu, mengajar mereka tinggal berdiam di dalam jalan Pratyekabuddha. Bagaimanakah, Kulaputra, pendapat Anda? Apakah kebajikan dari orang ini besar?"

Devendra berkata : "Kulaputra, hanya sang Buddha sajalah yang bisa mengetahui kebajikan orang ini. Tiada orang lain yang bisa mengukurnya."

Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata: "Kulaputra, kebajikan dari orang ini, ketika dibandingkan dengan kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Bodhicitta, bahkan tidak mencapai seperseratus, atau seperseribu, atau seperseratusribu, atau sepersejuta, atau seperseratusjuta, atau sepermilyar, atau seperseratusmilyar, atau sepertriliun, atau seperseratustriliun, atau seperkuadriliun, atau seperkuintriliun darinya, kebajikan itu tidaklah sebanding dengan pecahan terkecil yang bisa dibayangkan dari kebajikan melahirkan Bodhicitta. Mengapa begitu? Kulaputra, ketika para Buddha pertama kali melahirkan Bodhicitta, Mereka tidak melakukannya hanya demi menyediakan semua kesenangan kepada semua makhluk hidup dalam asamkhyeya sistem dunia di sepuluh penjuru selama seratus kalpa atau hingga seratus ribu nayuta juta kalpa. Mereka tidak melahirkan Bodhicitta hanya demi mengajar semua makhluk hidup menjaga lima Sila, atau hanya demi mengajar mereka tinggal berdiam didalam empat Dhyana, empat pikiran yang tidak terukur, dan empat Samadhi tanpa bentuk-rupa, atau hanya demi mengajar mereka mencapai buah Srotapanna, buah Sakrdagamin, buah Anagamin, buah Arhan, atau jalan Pratyekabuddha. Namun sesungguhnya Mereka melahirkan Bodhicitta adalah demi menyebabkan silsilah Tathagata tidak pernah putus, demi meliputi semua sistem dunia, demi membebaskan makhluk hidup di semua dunia, demi mengetahui pembentukan dan peluruhan semua dunia, demi mengetahui kekotoran dan kemurnian para makhluk di semua dunia, demi mengetahui kemurnian sifat alami diri di semua dunia, demi mengetahui kecenderungan, penderitaan, dan kebiasaan pikiran semua makhluk hidup, demi mengetahui dimana semua makhluk hidup mati dan lahir, demi mengetahui Upaya-kausalya yang sesuai dengan indera semua makhluk hidup, demi mengetahui kegiatan pikiran dari semua makhluk hidup, demi mengetahui pengetahuan semua makhluk hidup di masa lampau - sekarang - masa depan, dan demi mengetahui kesamaan dari semua alam Buddha."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran melewati asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Tiada yang mengetahui batas dari semua sistem dunia itu. Lalu, misalkan ada orang lain yang mampu dalam sekejap satu pikiran melewati semua sistem dunia yang dilewati oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan juga terus melewati banyak dunia selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang lain lagi dan yang lainnya lagi hingga yang kesepuluh, setiap orang itu mampu dalam sekejap satu pikiran melewati semua sistem dunia yang dilewati oleh orang sebelumnya selama asamkhyeya kalpa, dan juga terus melewati banyak dunia selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang yang sama seperti itu juga di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah. Kulaputra, di sepuluh penjuru ada seratus orang yang masing-masing dalam sekejap satu pikiran melewati semua sistem dunia yang dilewati oleh orang sebelumnya selama asamkhyeya kalpa, dan juga terus melewati banyak dunia selama asamkhyeya kalpa. Batas dari sistem-sistem dunia ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Bodhicitta hanya demi mencapai pengetahuan dari pergi ke dunia-dunia yang terbatas; Mereka melahirkan Bodhicitta demi mengetahui semua dunia di sepuluh penjuru, yaitu, ingin mengetahui dunia yang indah adalah dunia yang kasar, dunia yang kasar adalah dunia yang indah, dunia yang menghadap atas adalah dunia yang menghadap bawah, dunia yang menghadap bawah adalah dunia yang menghadap atas, dunia yang kecil adalah dunia yang besar, dunia yang besar adalah dunia yang kecil, dunia yang lebar adalah dunia yang sempit, dunia yang sempit adalah dunia yang lebar, satu dunia adalah dunia yang banyaknya tidak terbayangkan, dunia yang banyaknya tidak terbayangkan adalah satu dunia, satu dunia memasuki dunia yang banyaknya tidak terbayangkan, dunia yang banyaknya tidak terbayangkan memasuki satu dunia, dunia yang kotor adalah dunia yang murni, dunia yang murni adalah dunia yang kotor; ingin mengetahui bahwa dalam ujung satu helai rambut ada semua dunia yang berbeda-beda sifat alaminya, dan dalam semua sistem dunia ada satu sifat alami di satu helai ujung rambut. ingin mengetahui dalam satu sistem dunia ada muncul semua sistem dunia; ingin mengetahui semua dunia adalah yang tanpa sifat alami diri; ingin dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua sistem dunia yang luas tanpa halangan; Oleh karena itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui jumlah kalpa dari pembentukan dan peluruhan asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Tiada seorangpun yang bisa mengetahui batas dari jumlah kalpa itu. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui jumlah kalpa yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas jumlah kalpa dari pembentukan dan peluruhan dari asamkhyeya sistem dunia di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Bodhicitta hanya demi mengetahui jumlah kalpa dari pembentukan dan peluruhan dari sistem dunia yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui kalpa dari pembentukan dan peluruhan dari semua sistem dunia, lengkap tanpa sisa."

"Yaitu, mengetahui kalpa yang panjang adalah yang sama dengan kalpa yang pendek, dan kalpa yang pendek adalah yang sama dengan kalpa yang panjang; Satu kalpa adalah yang sama dengan kalpa yang tidak terhitung, dan kalpa yang tidak terhitung adalah yang sama dengan satu kalpa; Kalpa yang ada Buddha adalah yang sama dengan kalpa yang tanpa Buddha, dan kalpa yang tanpa Buddha adalah yang sama dengan kalpa yang ada Buddha; Dalam kalpa satu Buddha ada para Buddha yang banyaknya tidak terbayangkan, dan dalam kalpa para Buddha yang banyaknya tidak terbayangkan ada satu Buddha; Kalpa yang terbatas adalah yang sama dengan kalpa yang tidak terbatas, dan kalpa yang tidak terbatas adalah yang sama dengan kalpa yang terbatas; Kalpa yang berakhir adalah yang sama dengan kalpa yang tanpa akhir, dan kalpa yang tanpa akhir adalah yang sama dengan kalpa yang berakhir; Kalpa yang tidak terbayangkan banyaknya adalah yang sama dengan sekejap satu pikiran, dan sekejap satu pikiran adalah yang sama dengan kalpa yang tidak terbayangkan banyaknya; Semua kalpa memasuki yang bukan kalpa, dan yang bukan kalpa memasuki semua kalpa; Karena Mereka ingin dalam sekejap satu pikiran mengetahui kalpa dari pembentukan dan peluruhan dari semua sistem dunia di masa lampau - sekarang - masa depan, maka melahirkan 'Anuttarasamyaksambodhicitta (Pikiran Kebangkitan Sempurna Dan lengkap Yang Tiada Tanding)'. Inilah yang dinamakan 'Hiasan Ikrar Besar Dari Pertama kali Melahirkan Pikiran Kebangkitan, Pengetahuan Batin Semua Kalpa.'"

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui beranekaragam perbedaan pemahaman dari semua makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua perbedaan pemahaman makhluk hidup yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari beranekaragam perbedaan pemahaman dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui pemahaman dari jumlah makhluk hidup tertentu yang terbatas, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui beranekaragam perbedaan pemahaman dari semua makhluk hidup dari semua sistem dunia."

"Yaitu, Mereka ingin mengetahui perbedaan pemahaman yang tanpa batas, dan bahwa pemahaman dari satu makhluk hidup adalah yang sama dengan pemahaman dari para makhluk hidup yang tidak terhitung; ingin mencapai cahaya pengetahuan dari upaya-kausalya pembebasan yang sesuai dengan banyak perbedaan pemahaman yang tidak terbayangkan; ingin mengetahui seluruhnya setiap perbedaan pemahaman dalam lautan para mahkluk hidup, lengkap tanpa sisa; ingin mengetahui semua perbedaan pemahaman yang tanpa batas dari masa lampau - sekarang - masa depan, baik atau buruk; ingin mengetahui semua pemahaman yang sama dan yang tidak sama; ingin mengetahui semua pemahaman adalah satu pemahaman, dan satu pemahaman adalah semua pemahaman; ingin mencapai kekuatan pemahaman Tathagata; ingin mengetahui perbedaan antara pemahaman yang bisa dilampaui dan pemahaman yang tiada tanding, pemahaman yang memiliki sisa dan pemahaman yang tanpa sisa, pemahaman yang sebanding dan pemahaman yang tiada bandingan; ingin mengetahui perbedaan antara pemahaman yang bergantung dan pemahaman yang tanpa ketergantungan, pemahaman yang umum dan pemahaman yang tidak biasa, pemahaman yang terbatas dan pemahaman yang tiada batas, pemahaman yang membeda-bedakan dan pemahaman yang tidak membeda-bedakan, pemahaman yang baik dan pemahaman yang buruk, pemahaman duniawi dan pemahaman yang melampaui duniawi; ingin mencapai pengetahuan yang tanpa halangan dari pembebasan dari Tathagata tentang semua pemahaman yang halus, pemahaman yang besar, pemahaman yang tanpa batas, dan pemahaman keadaan yang sesungguhnya; ingin melalui upaya-kausalya yang tanpa batas mengetahui pemahaman yang murni dan pemahaman yang kotor, pemahaman yang luas dan pemahaman yang ringkas, pemahaman yang halus dan pemahaman yang kasar dari setiap mahkluk hidup di dalam semua alam mahkluk hidup di sepuluh penjuru; ingin mengetahui secara mendalam pemahaman rahasia, pemahaman upaya-kausalya, pemahaman yang membeda-bedakan, pemahaman yang spontan, pemahaman yang timbul sesuai dengan penyebab, pemahaman yang timbul sesuai dengan kondisi, dan jaring-jaring dari semua pemahaman; Demi mengetahui ini maka Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui perbedaan indera dari semua makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua perbedaan indera yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari beranekaragam perbedaan indera dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui indera dari para makhluk di dalam jumlah dunia yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui semua beranekaragam perbedaan indera dari semua makhluk hidup dari semua sistem dunia."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam kecenderungan dari semua makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam kecenderungan yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari kecenderungan dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui kecenderungan dari jumlah makhluk hidup yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui semua kecenderungan dari semua makhluk hidup dari semua sistem dunia, dan demi mengetahui jaring-jaring dari semua kecenderungan."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam upaya-kausalya dari semua makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam upaya-kausalya yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari beranekaragam upaya-kausalya dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui beranekaragam upaya-kausalya dari para makhluk hidup dari jumlah dunia yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui semua beranekaragam upaya-kausalya dari semua makhluk hidup dari semua sistem dunia, dan demi mengetahui jaring-jaring dari semua upaya-kausalya."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam perbedaan pikiran dari para makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam perbedaan pikiran yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari beranekaragam perbedaan pikiran dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui beranekaragam pikiran dari jumlah makhluk hidup yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui beranekaragam pikiran dari para makhluk hidup yang tanpa batas dari semua alam dari ruang angkasa dari Dharmadhatu, dan demi mengetahui jaring-jaring dari semua pikiran."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui beranekaragam perbedaan 'karma (perbuatan)' dari para makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Tiada yang mengetahui batas dari beranekaragam perbedaan dari karma itu. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua beranekaragam perbedaan karma yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari beranekaragam perbedaan karma dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui karma dari para makhluk hidup dari tempat yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui karma dari semua makhluk hidup dari masa lampau - sekarang - masa depan, dan demi mengetahui jaring-jaring dari semua karma."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui beranekaragam penderitaan dari para makhluk hidup di dalam asamkhyeya sistem dunia di penjuru timur, dan terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran selama asamkhyeya kalpa. Tiada yang mengetahui batas dari beranekaragam perbedaan dari penderitaan itu. Lalu, misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran mengetahui semua perbedaan penderitaan yang diketahui oleh orang pertama tadi selama asamkhyeya kalpa, dan terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa. Dalam cara yang sama, teruskan ini sampai mencapai orang yang kesepuluh. Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, batas dari perbedaan penderitaan dari para makhluk hidup di sepuluh penjuru ini bisa diketahui, namun batas akar kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta tidak bisa diketahui. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi mengetahui penderitaan dari para makhluk hidup dari dunia yang terbatas itu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi sepenuhnya mengetahui semua perbedaan penderitaan dari semua makhluk hidup dari semua makhluk hidup di semua sistem dunia."

"Yaitu, Mereka ingin sepenuhnya mengetahui penderitaan yang ringan dan penderitaan yang berat, penderitaan dari tidur dan penderitaan dari bangun, beranekaragam perbedaan dalam penderitaan yang tidak terhitung dari semua makhluk hidup, dan beranekaragam kesadaran dan perenungan, dan memurnikan semua kotoran batin; ingin sepenuhnya mengetahui penderitaan yang berdasarkan pada ketidaktahuan dan penderitaan yang berhubungan dengan cinta, dan memotong putus semua belenggu penderitaan dalam semua alam makhluk; ingin sepenuhnya mengetahui semua penderitaan dari keserakahan, semua penderitaan dari kebencian, semua penderitaan dari kebodohan, dan semua penderitaan dari keserakahan - kebencian - kebodohan dalam ukuran yang sama, dan memotong putus akar dari semua penderitaan; ingin sepenuhnya mengetahui penderitaan dari diri, penderitaan dari milik diri, penderitaan dari keangkuhan diri, dan menjadi sepenuhnya sadar atas semua penderitaan; ingin sepenuhnya mengetahui penderitaan yang mendasar dan tambahan yang mengiringi yang timbul dari kesalahpahaman, dan enampuluh dua jenis pandangan yang timbul dari gagasan tentang keberadaan tubuh, untuk menundukkan semua penderitaan; ingin sepenuhnya mengetahui penderitaan dari selubung dan penghalang pikiran; Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi mengembangkan pikiran maha-karuna untuk menolong dan melindungi, demi memotong jaring dari semua penderitaan, dan menyebabkan sifat alami dari Sarvajña menjadi sepenuhnya termurnikan."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang yang dalam sekejap satu pikiran memberikan persembahan berbagai jenis makanan dan minuman unggul, dupa wangi dan bunga, pakaian, spanduk, panji, kanopi, payung, 'sangharama (kuil sangha)' dengan ruang yang sangat indah, tirai permata dan jaring pagar, simhasana yang terhiasi beranekaragam, dan juga semua jenis permata yang sangat indah kepada para Buddha yang tidak terhitung di penjuru timur dan juga semua makhluk hidup didalam sistem dunia yang tidak terhitung. Dengan hormat memuliakan, menyembah, memuji, membungkuk dan menatap-Nya terus tanpa henti selama asamkhyeya kalpa, dan juga mengajak para makhluk hidup lainnnya untuk membuat pemujaan seperti itu kepada para Buddha, dan setelah Parinirvana para Buddha itu, mendirikan Stupa kepada-Nya masing-masing, yang tinggi dan lebar, terbuat dari semua jenis permata dari dunia-dunia yang tidak terhitung, dengan beranekaragam hiasan, dengan patung rupa para Tathagata yang tidak terhitung di dalam setiap Stupa itu, dengan pancaran sinar yang menerangi sistem dunia yang tidak terhitung, terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa; Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu. Bagaimanakah, Kulaputra, pendapat Anda? Apakah kebajikan dari orang ini besar?"

Devendra berkata : "Kulaputra, hanya sang Buddha sajalah yang bisa mengetahui kebajikan orang ini. Tiada orang lain yang bisa mengukurnya."

Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata: "Kulaputra, kebajikan dari orang ini, ketika dibandingkan dengan kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Bodhicitta, bahkan tidak mencapai seperseratus, atau seperseribu, atau seperseratusribu, atau sepersejuta, atau seperseratusjuta, atau sepermilyar, atau seperseratusmilyar, atau sepertriliun, atau seperseratustriliun, atau seperkuadriliun, atau seperkuintriliun darinya, kebajikan itu tidaklah sebanding dengan pecahan terkecil yang bisa dibayangkan dari kebajikan melahirkan Bodhicitta."

"Selanjutnya, Kulaputra, kesampingkanlah persamaan tadi sementara. Misalkan ada orang kedua yang mampu dalam sekejap satu pikiran melakukan semua perbuatan berdana yang dilakukan oleh orang yang tadi dalam sistem dunia yang tidak terhitung, kepada para makhluk hidup disana, selama asamkhyeya kalpa. Misalkan orang ini terus melakukan seperti itu dalam setiap sekejap pikiran memberikan jumlah besar persembahan kepada para Tathagata yang tidak terhitung dan juga semua makhluk hidup didalam sistem dunia yang tidak terhitung. Lalu, misalkan ada orang ketiga hingga yang kesepuluh, yang masing-masing mampu dalam sekejap satu pikiran melakukan semua dana yang dilakukan oleh orang sebelumnya, dan melakukannya dalam setiap sekejap pikiran, memberikan persembahan yang tiada batas, tiada banding, tidak terhitung, tidak terduga, tidak terbayangkan, tidak terukur, tidak terkatakan, melampaui ungkapan yang tidak terkatakan kepada para Buddha yang tidak terbatas dan tidak dapat diungkapkan juga semua makhluk hidup di dalam banyak sistem dunia itu, selama asamkhyeya kalpa, dan setelah Parinirvana para Buddha itu, mendirikan Stupa kepada-Nya masing-masing, yang tinggi dan lebar, terbuat dari semua jenis permata dari dunia-dunia yang tidak terhitung, dengan beranekaragam hiasan, dengan patung rupa para Tathagata yang tidak terhitung di dalam setiap Stupa itu, dengan pancaran sinar yang menerangi sistem dunia yang tidak terhitung, terus melakukan seperti itu selama asamkhyeya kalpa; Di penjuru selatan, barat, utara, empat arah tengah, atas, dan bawah adalah juga yang sama seperti itu."

"Kulaputra, kebajikan ini juga, ketika dibandingkan dengan kebajikan dari Bodhisattva yang pertama kali melahirkan Bodhicitta, bahkan tidak mencapai seperseratus, atau seperseribu, atau seperseratusribu, atau sepersejuta, atau seperseratusjuta, atau sepermilyar, atau seperseratusmilyar, atau sepertriliun, atau seperseratustriliun, atau seperkuadriliun, atau seperkuintriliun darinya, kebajikan itu tidaklah sebanding dengan pecahan terkecil yang bisa dibayangkan dari kebajikan melahirkan Bodhicitta. Mengapa begitu? Kulaputra, Bodhisattva tidak melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta hanya demi memberikan persembahan kepada jumlah para Buddha yang tertentu, Mereka melahirkan Anuttarasamyaksambodhicitta demi memberikan persembahan kepada semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan yang tidak terbatas banyaknya, melampaui ungkapan yang tidak terkatakan, dari semua alam dari ruang angkasa dari Dharmadhatu di seluruh sepuluh penjuru."

"Setelah membangkitkan citta ini, menjadi mampu mengetahui pencapaian Samyaksambodhi hingga Nirvana dari semua Buddha dari masa lampau; mampu mempercayai akar kebajikan dari semua Buddha dari masa depan; Dan mampu mengetahui pengetahuan dan kebijaksanaan dari semua Buddha masa sekarang. Kebajikan dari para Buddha itu mampu diyakini, diterima, dipraktekkan, dicapai, diketahui, disaksikan, dan disempurnakan oleh para Bodhisattva ini. Mereka bisa menjadi sebanding dengan sifat alami yang sama dengan para Buddha. Mengapa begitu? Karena para Bodhisattva ini melahirkan citta demi menyebabkan silsilah Tathagata tidak pernah putus, demi meliputi semua sistem dunia, demi membebaskan makhluk hidup di semua dunia, demi mengetahui pembentukan dan peluruhan semua dunia, demi mengetahui kekotoran dan kemurnian para makhluk di semua dunia, demi mengetahui kemurnian dari kamadhatu-rupadhatu-arupadhatu di semua dunia, demi mengetahui kecenderungan, penderitaan, dan kebiasaan pikiran semua makhluk hidup, demi mengetahui dimana semua makhluk hidup mati dan lahir, demi mengetahui Upaya-kausalya yang sesuai dengan indera semua makhluk hidup, demi mengetahui kegiatan pikiran dari semua makhluk hidup, demi mengetahui pengetahuan semua makhluk hidup di masa lampau - sekarang - masa depan, dan demi mengetahui kesamaan dari semua alam Buddha. Karena telah membangkitkan Bodhicitta, Mereka selalu diingat oleh semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, dan akan mencapai Anuttarasamyaksambodhi dari semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan. Mereka akan diberikan Saddharma dari semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, dan akan mencapai kesamaan sifat alami dari semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan. Setelah mempraktekkan Dharma yang membantu sang jalan yang digunakan oleh semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, mencapai kekuatan dan keberanian dari semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, dan menghiasi diri Mereka dengan kualitas unik dari semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, Mereka akan sepenuhnya mencapai pengetahuan dan kebijaksanaan dari menjelaskan Dharma dari semua Buddha di dharmadhatu."

"Mengapa begitu? Karena melalui membangkitkan Bodhicitta ini, Mereka akan mencapai keBuddhaan. Ketahuilah bahwa Orang seperti itu adalah yang sama dengan semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, yang oleh karena itu, sama dengan tingkat dari semua Buddha Tathagata dari masa lampau-sekarang-masa depan, yang oleh karena itu, sama kebajikannya dengan yang dari semua Buddha Tathagata dari masa lampau-sekarang-masa depan, dan mencapai pengetahuan yang sesungguhnya dari kesamaan tertinggi dari satu tubuh dan tubuh yang tidak terbatas dari para Tathagata."

"Segera setelah membangkitkan Bodhicitta, orang dipuji secara serentak oleh semua Buddha dari sepuluh penjuru, segera setelah itu, menjadi mampu menjelaskan Dharma, mengajar, mengubah, mengatur, dan menaklukkan semua makhluk di semua sistem dunia, segera setelah itu, mampu mengguncang semua sistem dunia, segera setelah itu, mampu menyinari semua sistem dunia, dan segera setelah itu, mampu melenyapkan kesakitan dari keadaan penderitaan di semua sistem dunia, dan segera setelah itu, mampu menghiasi dan memurnikan semua ksetra, dan segera setelah itu, mampu mewujudkan pencapaian keBuddhaan di semua sistem dunia, dan segera setelah itu, mampu menyebabkan semua makhluk hidup bergembira, dan segera setelah itu, mampu memasuki sifat alami dari semua dharmadhatu, dan segera setelah itu, mampu mempertahankan silsilah semua Buddha, dan segera setelah itu, mampu mencapai cahaya kebijaksanaan dari semua Buddha."

"Bodhisattva yang baru saja membangkitkan Bodhicitta ini tidak memperoleh apapun di masa lampau-sekarang-masa depan, yaitu, apakah Buddha, atau Buddhadharma; Bodhisattva atau Bodhisattvadharma; Pratyekabuddha atau Dharma dari Pratyekabuddha; Sravaka atau Dharma dari Sravaka; Dunia atau segala sesuatu di dunia; Melampaui dunia atau segala sesuatu yang melampaui dunia; Makhluk hidup atau segala sesuatu dari makhluk hidup. Sang Bodhisattva hanya mencari Sarvajnajnana dan tiada pikiran yang melekat pada apapun."

Kemudian pada saat itu, disebabkan oleh kekuatan sang Buddha, sistem dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra di setiap sepuluh penjuru semuanya berguncang dalam enam cara, yaitu : bergetar, bergetar di semua wilayah, bergetar di semua wilayah di semua penjuru. Menaik, menaik di semua wilayah, menaik di semua wilayah di semua penjuru. Bergelombang, bergelombang di semua wilayah, bergelombang di semua wilayah di semua penjuru. Berguncang, berguncang di semua wilayah, berguncang di semua wilayah di semua penjuru. Bergemuruh, bergemuruh di semua wilayah, bergemuruh di semua wilayah di semua penjuru. Berdentam, berdentam di semua wilayah, berdentam di semua wilayah di semua penjuru. Lalu, menurunkan hujan bunga surga, wewangian, dupa, karangan bunga, jubah, permata, dan perhiasan. Musik surga dimainkan dan memancarkan sinar surga dan suara surga.

Kemudian pada saat itu, disetiap dari sepuluh penjuru, melampaui sistem dunia yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh Buddhaksetra, ada para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra, yang semuanya bernama Dharmaprajna. Mereka semua mewujudkan tubuh muncul dihadapan Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, dan berkata : "Sadhu, Dharmaprajna, sadhu, bahwa sekarang Anda mampu menjelaskan Dharma ini; Kami para Buddha di setiap sepuluh penjuru yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra juga menjelaskan Dharma ini. Semua Buddha mengajar dalam cara ini. Saat Anda menjelaskan Dharma ini, ada para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di dalam sepuluh ribu Buddhaksetra yang membangkitkan Bodhicitta. Sekarang Kami memberikan kepada Mereka ramalan pencapaian Bodhi, bahwa di masa depan, melampaui seribu kalpa yang tidak terbatas dan tidak terkatakan, di dalam kalpa yang sama, Mereka akan mencapai Buddhatva dan muncul di dunia, semuanya akan bernama Vimalacitta, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Sistem dunia yang Mereka huni masing-masing berbeda. Kami semua akan melindungi Dharma ini agar semua Bodhisattva dimasa depan yang belum pernah mendengar ini bisa mendengarnya."

Saat Dharma ini diucapkan diatas puncak gunung Sumeru di dalam sistem dunia Saha ini, di dalam empat benua dibawah antariksa, menyebabkan semua makhluk hidup mendengarnya dan menerimanya. Begitu juga diseluruh sepuluh penjuru, di dalam ratusan dari ribuan dari jutaan nayuta yang tidak terhitung, yang sangat banyak, yang tanpa batas, yang tanpa bandingan, yang tidak terkira, yang tidak dapat diperhitungkan, yang tidak terbayangkan, yang tidak terukur, yang tidak dapat diungkapkan dari banyak sistem dunia yang ada di seluruh ruang angkasa dari dharmadhatu, Dharma ini juga diucapkan untuk mengajar dan mengubah para makhluk hidup. Semua yang menjelaskan Dharma ini bernama Dharmaprajna.

Disebabkan oleh kekuatan batin para Buddha; Disebabkan oleh kekuatan pranidhana para Bhagavan; Demi mengungkapkan Buddhadharma; Demi menyinari semua dengan cahaya pengetahuan; Demi menjelaskan Dharma; Demi menyebabkan para makhluk menyadari sifat alami gejala kejadian; Demi menyebabkan semua perkumpulan majelis bergembira; Demi mengungkapkan dasar sebab-musabab dari Buddhadharma; Demi mencapai kesamaan dengan semua Buddha; Demi memahami yang tiada mendua dari dharmadhatu; Mereka mengucapkan Dharma seperti ini.

Kemudian pada saat itu, Dharmaprajna Bodhisattva mengamati seluruh perkumpulan majelis di semua ksetra di sepuluh penjuru di seluruh alam ruang angkasa, dan karena Dia ingin menyempurnakan para makhluk hidup, ingin memurnikan semua ganjaran karma, ingin mengungkapkan dharmadhatu, ingin mencabut habis akar kekotoran batin, ingin meningkatkan keyakinan besar dan pemahaman, ingin menyebabkan semua mengetahui indera dari para makhluk hidup yang tidak terbatas, ingin menyebabkan semua mengetahui kesamaan dari gejala kejadian masa lampau-sekarang-masa depan, ingin menyebabkan semua merenungkan Nirvanadhatu, dan karena ingin meningkatkan akar kebaikan yang murni dari dirinya, Dia, melalui kekuatan sang Buddha, mengucapkan syair-gatha ini :

Demi menguntungkan dunia, Bodhisattva membangkitkan Maha Citta.
Citta ini meliputi dimana-mana diseluruh sepuluh penjuru:
Makhluk hidup, ksetra, gejala kejadian dari masa lampau-sekarang-masa depan,
Juga, lautan tertinggi dari para Buddha dan Bodhisattva.

Hingga batas dari ruang angkasa, setara dengan dharmadhatu,
Dan semua sistem dunia yang ada didalamnya.
Sesuai dengan Buddhadharma, Dia pergi ke semuanya.
Dengan cara ini membangkitkan Citta tanpa pernah mundur.

Dia dengan belas-kasih memperhatikan makhluk hidup, tanpa meninggalkan mereka.
Menjauhkan kesengsaraan dan bahaya, menguntungkan semuanya.
Cahaya-Nya menyinari dunia, sebagai tempat berlindung;
Dilindungi oleh dasa-bala yang tidak terbayangkan.

Memasuki semua ksetra di sepuluh penjuru,
Mewujudkan semua jenis bentuk-rupa.
Sesuai dengan kebajikan dan pengetahuan para Buddha yang tidak terbatas,
Dia mengolah sebab yang tepat, tanpa kemelekatan.

Ada ksetra yang menghadap ke atas, menyamping atau menghadap ke bawah,
Kasar, halus, lebar dan luas, jenisnya tidak terbatas.
Bodhisattva yang pertama kali melahirkan pikiran tertinggi,
Mampu pergi ke semua itu tanpa halangan.

Praktek tertinggi dari Bodhisattva adalah yang tidak terkatakan.
Dia mengolah semuanya tanpa tinggal berdiam di mana pun.
Melihat semua Buddha dan selalu bahagia.
Dan dimana-mana memasuki lautan Dharma yang mendalam.

Mengasihani para makhluk yang hidup di dalam panca-gati,
Menyebabkan mereka melenyapkan kekotoran batin dan menjadi sepenuhnya murni.
Meneruskan silsilah para Buddha tanpa terputus,
Menghancurkan istana mara tanpa sisa.

Tinggal berdiam di dalam kesamaan sifat alami dari Tathagata.
Dengan terampil mengolah upaya-kausalya yang unggul.
Mengembangkan cita-cita untuk alam Buddhatva,
Mahkotanya di abhiseka oleh para Buddha, pikirannya tanpa kemelekatan.

Ingat membalas kebaikan para Maha Purusa,
Pikirannya seperti Vajra, tidak bisa dihancurkan.
Mampu dengan jelas memahami perbuatan para Buddha,
Dan secara spontan mempraktekkan Bodhicarya.

Perbedaan pikiran dari berbagai jenis alam para makhluk adalah yang tidak terbatas.
Karma, hasil, dan pikiran mereka juga bukan dari satu jenis.
Segala sesuatunya hingga berbagai macam perbedaan indera dan sifat alaminya,
Semua itu dengan jelas terlihat ketika Maha Citta dibangkitkan.

Pikirannya menjangkau jauh, sama luasnya dengan dharmadhatu,
Tanpa ketergantungan, tidak berubah, seperti ruang angkasa.
Bertujuan ke kebijaksanaan Buddha, tanpa melekati apapun,
Dan memahami 'batas kenyataan (bhutakoti)', tanpa pikiran membeda-bedakan.

Mengetahui pikiran makhluk hidup, tanpa gagasan tentang makhluk hidup,
Memahami semua gejala kejadian tanpa gagasan tentang gejala kejadian,
Meskipun ada perbedaan, namun semuanya terbebas dari perbedaan,
Saat Dia melakukan perjalanan ke semua jutaan nayuta ksetra.

Dengan harta Dharma yang menakjubkan dari para Buddha yang tidak terbatas,
Mengikutinya, merenungkannya, dan mampu memasukinya semua,
Mengetahui semua indera dan perbuatan dari semua makhluk hidup,
Yang telah mencapai kediaman ini adalah sama seperti Bhagavan.

Selalu sesuai dengan Ikrar besar yang murni,
Senang memberikan persembahan kepada para Tathagata tanpa mundur.
Para dewa dan manusia tidak pernah bosan melihatnya.
Para Buddha selalu memperhatikan dan melindunginya.

Pikirannya murni dan tidak bergantung pada apa pun.
Meskipun merenungkan Dharma yang mendalam, tidak melekatinya.
Dengan bermeditasi seperti ini selama kalpa tanpa batas
Tanpa kemelekatan di masa lampau-sekarang atau masa depan.

Pikirannya kukuh dan tidak bisa dikalahkan.
Dia menuju ke arah Bodhi Buddha tanpa halangan.
Teguh mencari Jalan Yang Menakjubkan, menyingkirkan ketidaktahuan,
Melakukan perjalanan ke seluruh dharmadhatu tanpa kenal lelah.

Dia mengetahui gejala kejadian dari ucapan dan nama semuanya adalah yang kosong dan tiada.
Hanya memasuki Tathātā, memotong putus pemahaman yang salah.
Dengan sesuai merenungkan keadaan semua Buddha,
Dan menembus tiga masa waktu dengan pikiran yang tanpa halangan.

Sang Bodhisattva yang pertama kali membangkitkan Maha Citta,
Segera dapat melakukan perjalanan ke semua ksetra di sepuluh penjuru.
Pintu Dharma yang tidak terbatas dan tidak terbayangkan,
Melalui cahaya pengetahuannya, menerangi itu dengan jelas.

Belas kasih besarnya yang menyebrangkan banyak makhluk adalah yang tiada tanding.
Kebaikannya meliputi dimana-mana, sama seperti ruang angkasa,
Namun Dia tidak membeda-bedakan para makhluk hidup.
Dengan kemurnian seperti ini, melakukan perjalanan di dunia.

Menentramkan semua makhluk hidup di sepuluh penjuru.
Semua yang Dia lakukan adalah yang benar dan asli.
Selalu dengan pikiran yang murni dan tidak menggunakan ucapan yang salah,
Dan terus-menerus dibantu dan dilindungi oleh semua Buddha.

Dia sepenuhnya mengingat segala sesuatu di masa lalu,
Dan melihat segalanya di masa depan;
Memasuki semua dunia di sepuluh penjuru,
Demi menyelamatkan makhluk hidup dan membuat mereka terbebas.

Bodhisattva menyempurnakan cahaya pengetahuan yang menakjubkan,
Dan memahami sebab dan kondisi dengan baik tanpa keraguan.
Semua kebingungan dan khayalan sepenuhnya terputus:
Dengan cara ini Dia menjelajahi dharmadhatu.

Istana raja mara semuanya dihancurkan.
Kebutaan makhluk hidup dilenyapkan.
Terbebas dari pembedaan, dengan pikiran yang tidak tergoyahkan,
Dia memahami dengan baik keadaan Tathagata.

Jaring keraguan dari tiga masa waktu telah dilenyapkan.
Dan membangkitkan keyakinan dalam Mereka Yang Telah Mencapai Tathātā.
Dengan keyakinan, mencapai pengetahuan yang tidak tergoyahkan.
Karena kemurnian pengetahuannya, pemahamannya adalah yang sejati.

Demi menyebabkan makhluk hidup mencapai pembebasan,
Dan secara menyeluruh menguntungkan mereka diseluruh waktu,
Dia berjuang keras dalam waktu yang lama tanpa kenal lelah,
Dengan sabar menanggung bahkan penderitaan neraka.

Dipenuhi dengan kebajikan dan kebijaksanaan yang tanpa batas,
Dia mengetahui semua indera dan kecenderungan dari para makhluk,
Serta semua karma dan tindakan mereka,
Dan mengajar sesuai dengan kecenderungan mereka.

Dia mengerti bahwa segala sesuatu adalah yang kosong dan tanpa diri.
Namun memikirkan yang baik untuk makhluk hidup tanpa pernah meninggalkannya.
Dengan satu suara halus yang luar biasa dari belas kasih yang besar,
Dia memasuki semua dunia untuk mengajar.

Dia memancarkan cahaya besar yang beranekaragam warna,
Menyinari semua makhluk hidup dan menghilangkan kegelapan.
Di dalam cahaya itu ada para Bodhisattva duduk di atas bunga teratai,
Yang mengajarkan Dharma yang murni kepada semua makhluk.

Di dalam satu pori Dia mewujudkan banyak ksetra,
Dengan para Maha Bodhisattva memenuhinya semua.
Pengetahuan dari perkumpulan majelis itu masing-masing berbeda;
Namun semuanya mampu memahami pikiran para makhluk hidup.

Sistem dunia di sepuluh penjuru adalah yang tidak terbayangkan.
Dalam sekejap satu pikiran Dia bisa menjelajahinya semua,
Menguntungkan makhluk hidup dan memberikan persembahan kepada para Buddha,
Dari para Buddha itu Dia bertanya tentang makna yang mendalam.

Dia memikirkan para Tathagata sebagai ayah,
Dan demi menguntungkan makhluk hidup, melaksanakan Bodhicarya.
Kebijaksanaan dan upaya-kausalyanya menembus gudang Dharma,
Memasuki tempat pengetahuan yang mendalam tanpa kemelekatan.

Bermeditasi sesuai dengan kebenaran, Dia menjelaskan dharmadhatu,
Melewati kalpa yang tanpa batas, tanpa bisa menghabiskannya.
Meskipun pengetahuannya menembusnya dengan baik, itu tiada tempat berdiam;
Dia tidak lelah, tidak bosan, tidak melekat pada apapun.

Dilahirkan dalam keluarga para Buddha masa lampau-sekarang-masa depan,
Dia mengalami Dharmakaya yang menakjubkan dari para Tathagata.
Dimana-mana demi semua makhluk, mewujudkan banyak bentuk-rupa.
Sama seperti ahli magis, tidak ada yang tidak bisa Dia buat.

Mungkin Dia mewujudkan praktek awal dari tindakan yang paling unggul.
Atau mungkin mewujudkan kelahiran, hingga meninggalkan rumah.
Atau mewujudkan kesempurnaan Buddha di bawah pohon Bodhi.
Atau demi makhluk hidup, Dia mewujudkan masuk ke Nirvana.

Dharma yang langka yang dihuni oleh para Bodhisattva
Semata-mata adalah tingkat keBuddhaan, bukan dari kedua kendaraan.
Gagasan tentang tubuh, mulut, dan pikiran telah sepenuhnya ditinggalkan,
Namun mampu mewujudkannya beranekaragam sesuai dengan peristiwa.

Buddhadharma yang telah dicapai oleh Bodhisattva:
Para makhluk hidup akan menjadi gila jika coba menimbangnya.
Pengetahuan Bodhisattva memasuki Paramartha, dengan pikiran tanpa rintangan.
Dimana-mana mewujudkan kekuatan yang bebas dari Tathagata.

Dengan ini, Dia adalah yang tiada bandingnya di semua dunia,
Apalagi ditambah dengan praktek unggulnya!
Meskipun belum menyempurnakan Sarvajnajnana,
Namun Dia telah mencapai kekuatan yang bebas dari Tathagata.

Dia sudah tinggal di jalan tertinggi dari satu kendaraan,
Dan secara mendalam memasuki Dharma tertinggi yang menakjubkan.
Dia mengetahui dengan baik apa yang bisa dan tidak cocok untuk makhluk hidup.
Untuk memberi manfaat kepada mereka, Dia mewujudkan kekuatan batin.

Dengan memperbanyak tubuhnya, Dia memenuhi semua ksetra,
Memancarkan cahaya terang murni yang menghilangkan kegelapan dunia,
Sama seperti raja naga yang menghasilkan awan besar,
Di mana-mana menurunkan hujan yang luar biasa sehingga semua puas.

Dia tahu makhluk hidup sama seperti khayalan dan mimpi;
Yang selalu mengalir dan berputar oleh kekuatan karma mereka.
Dengan kasih sayang dan belas kasihan yang besar, Dia menyelamatkan mereka.
Dia menjelaskan kepada mereka sifat alami gejala kejadian yang murni, yang tidak diciptakan.

Kekuatan Buddha yang tidak terbatas adalah juga sama dengan ini;
Sama seperti ruang angkasa, tidak memiliki batas.
Demi menyebabkan makhluk hidup mencapai pembebasan,
Selama jutaan kalpa, Dia rajin mengolah, tanpa kenal lelah.

Merenungkan dalam bebagai cara pada kebajikan yang luar biasa,
Dia dengan terampil mengolah karma yang terutama dan tak tertandingi.
Tidak pernah menyerah dalam praktek Paramita,
Dia memusatkan pikirannya pada pencapaian Sarvajnajnana.

Dengan satu tubuh mewujudkan tubuh yang tak terhitung banyaknya,
Yang sepenuhnya meliputi semua sistem dunia.
Pikirannya murni, tanpa membeda-bedakan;
Seperti inilah kekuatan dari sekejap pikirannya yang tidak terbayangkan.

Sehubungan dengan semua dunia, Dia tidak membeda-bedakannya.
Mengenai semua gejala kejadian, Dia tanpa pemikiran yang salah.
Meskipun merenungkan Dharma, Dia tidak melekatinya.
Walaupun Dia selalu menyelamatkan makhluk hidup, namun tiada yang diseberangkan.

Semua dunia hanyalah gambaran pikiran:
Di dalamnya ada beranekaragam perbedaan.
Dengan mengetahui bahwa alam gagasan pikiran itu berbahaya dan dalam,
Bodhisattva mewujudkan kekuatan batin untuk menyelamatkan makhluk.

Sama seperti kekuatan ahli magis yang bebas dan mudah,
Demikian juga Vikurvana-bala dari Bodhisattva,
Tubuhnya meliputi dharmadhatu dan ruang angkasa;
Semua melihatnya sesuai dengan pikiran masing-masing.

Pembeda-bedaan pada pelaku dan tujuan telah ditinggalkan,
Kekotoran atau kemurnian tidak dilekati,
Gagasan tentang ikatan atau pembebasan telah sepenuhnya dilupakan,
Dia hanya ingin memberikan kebahagiaan pada semua makhluk hidup.

Semua dunia hanyalah kekuatan gagasan pikiran;
Dengan kebijaksanaan Dia memasukinya dengan pikiran yang tiada takut.
Perenungannya terhadap semua gejala kejadian juga dengan cara yang sama:
Menyelidikinya di masa lampau-sekarang-masa depan, tiada yang bisa diperoleh.

Mampu memasuki seluruh masa lampau,
Mampu memasuki seluruh masa depan,
Mampu memasuki semua tempat di masa sekarang,
Terus-menerus rajin mengamatinya sebagai yang tiada.

Sesuai dengan gejala kejadian yang hening-tenang dari Nirvana,
Dia tinggal berdiam dalam tiada perselisihan dan tiada ketergantungan.
Pikirannya sama seperti Paramartha, tiada bandingan.
Dia berangkat menuju Bodhi tanpa pernah mundur.

Mengolah praktek tertinggi tanpa berbalik ketakutan;
Dia didirikan di Bodhi dan tidak tergoyahkan.
Para Buddha, Bodhisattva, dan dunia
Diseluruh dharmadhatu, semuanya dipahami olehnya.

Jika ingin mencapai jalan tertinggi dan terutama,
Dan menjadi Raja Pembebasan Yang Mengetahui Semua,
Anda harus dengan cepat memunculkan Bodhicitta,
Dan selamanya mengakhiri kesenangan, dan menolong para makhluk.

Menuju ke arah Bodhi dengan pikiran yang murni,
Kebajikan Anda akan luas, besar dan tak terbayangkan,
Saya menjelaskan ini demi memberi manfaat bagi makhluk hidup.
Yang memiliki kecerdasan harus mendengarkannya dengan baik.

Dengan menjadikan semua sistem dunia yang tak terbatas sebagai butiran debu;
Di dalam setiap butiran debu itu ada ksetra yang tak terbatas.
Di dalam masing-masing ini adalah para Buddha yang tak terbatas:
Bodhisattva mampu melihat semua itu dengan jelas tanpa kemelekatan.

Mengetahui makhluk hidup dengan tanpa memunculkan gagasan pikiran,
Mengetahui ucapan kata dengan tanpa ide tentang ucapan,
Di semua dunia, pikirannya tanpa hambatan,
Dan semua dipahami dengan baik tanpa kemelekatan apa pun.

Pikirannya luas seperti ruang angkasa,
Segala sesuatu di tiga masa waktu, semuanya dipahami.
Semua keraguan dan khayalan sepenuhnya dilenyapkan,
Dan dengan benar merenungkan Buddhadharma tanpa kemelekatan.

Untuk semua ksetra yang tanpa batas di sepuluh penjuru,
Dalam sekejap satu pikiran, Dia pergi dengan pikiran yang tiada kemelekatan.
Dia memahami penderitaan di dunia,
Dan sepenuhnya tinggal berdiam dalam Batas Kenyataan Tertinggi yang tidak diciptakan.

Ke tempat perkumpulan majelis dari Buddha yang tidak terbatas,
Dia pergi dan memberi penghormatan.
Dia selalu menjadi pemimpin yang unggul yang bertanya kepada Tathagata,
Tentang semua Ikrar dan praktik yang diolah oleh Bodhisattva.

Pikirannya selalu mengingat para Buddha di sepuluh penjuru,
Namun Dia tanpa ketergantungan atau kemelekatan.
Dia selalu mendorong makhluk hidup untuk menanam akar kebaikan,
Menghiasi ksetranya dan menyebabkannya menjadi murni.

Semua makhluk hidup di tiga alam keberadaan,
Dia mengamatinya dengan mata yang tanpa halangan.
Kebiasaan, sifat alami, indera dan pemahaman mereka,
Yang tidak terhitung dan tak terbatas, semuanya Dia lihat dengan jelas.

Kesenangan pikiran semua makhluk hidup diketahui dengan jelas;
Dengan cara ini, dia menyesuaikan kesempatan untuk berbicara Dharma.
Kekotoran dan kemurnian sepenuhnya ditembus,
Menyebabkan para makhluk mengolah dan memasuki sang Jalan.

Semua Samadhi yang tidak terukur dan tak terhitung,
Bodhisattva dalam sekejap satu pikiran bisa memasukinya:
Tanggapan penglihatan, pengetahuan dan objek di dalamnya,
Semuanya dipahami dengan baik, dan Dia mencapai kebebasan.

Bodhisattva mencapai pengetahuan yang besar ini,
Dengan cepat menuju Bodhi tanpa halangan apa pun.
Karena ingin memberi manfaat kepada para makhluk hidup,
Di setiap tempat, Dia menyebarkan Dharma dari Maha Purusa.

Dia tahu kalpa yang panjang dan pendek dari dunia,
Satu bulan, atau setengah bulan, siang dan malam,
Di setiap ksetra adalah berbeda, namun sifat alaminya adalah sama;
Dia terus-menerus merenungkannya dengan rajin tanpa lalai.

Berangkat ke semua dunia di sepuluh penjuru,
Namun tidak melekat pada lokasi mana pun.
Dia menghiasi dan memurnikan semua ksetra tanpa sisa,
Namun tidak pernah memunculkan gagasan pikiran tentang kemurnian.

Para makhluk hidup, kebaikannya atau keburukannya,
Dengan karma dan ganjaran mereka yang berbeda-beda,
Merenungkannya dengan sesuai, Dia memasuki kekuatan sang Buddha,
Dan memahami itu semua.

Sifat alami yang beranekaragam di semua dunia,
Berbagai tindakan, dan alam keberadaannya,
Indera yang tajam, menengah dan yang rendah:
Semua ini Dia amati dan periksa.

Berbagai macam pengertian, yang murni dan tidak murni,
Yang unggul, kurang, dan menengah - semuanya Dia lihat dengan jelas.
Perbuatan dari semua makhluk hidup, dan dimana tujuannya,
Kelanjutan mereka dalam alam keberadaan, semuanya Dia bisa jelaskan.

Semua Dhyana, Vimoksa, dan Samadhi,
Yang kotor dan yang murni, penyebab dan asalnya yang masing-masing berbeda,
Juga, termasuk berbagai penderitaan dan kesenangan dari masa lalu,
Melalui secara murni mengolah kekuatan Buddha, semua ini Dia bisa lihat.

Kebiasaan khayalan makhluk hidup terus berlanjut di semua alam keberadaan.
Dengan memotong putus kecenderungan dan keadaan ini, mencapai kedamaian penghentian.
Maka segala macam 'arus keluar (asrava = kekotoran)' tidak akan pernah timbul lagi.
Benih-benih kebiasaan ini, semuanya diketahui dengan jelas oleh Bodhisattva.

Tathagata telah sepenuhnya memadamkan penderitaan.
Cahaya Pengetahuan Besar-Nya menyinari dunia.
Meskipun Bodhisattva belum mencapai Dasabala Buddha,
Namun Dia tidak memiliki keraguan.

Bodhisattva di dalam satu pori,
Mewujudkan ksetra yang tak terbatas di sepuluh penjuru.
Ada yang kotor, ada yang murni,
Yang diciptakan oleh berbagai macam karma, semuanya Dia pahami.

Dalam satu butir debu, adalah ksetra yang tak terbatas,
Dengan para Buddha dan murid-murid-Nya yang tak terbatas;
Setiap ksetra itu berbeda, tidak bercampur.
Dari satu hingga semua, Dia bisa melihatnya dengan jelas.

Dalam satu pori, terlihat semua dunia,
Di ruang angkasa dari sepuluh penjuru.
Tiada satu tempat pun yang tanpa seorang Buddha.
Dengan cara ini, Buddhaksetra sepenuhnya dimurnikan.

Dalam satu pori rambut terlihat Buddhaksetra,
Dan juga terlihat semua makhluk hidup.
Enam jalur dari tiga masa waktu masing-masing berbeda,
Siang dan malam, bulan dan waktu, terbelenggu dan terbebas.

Dengan cara ini, Bodhisattva yang berpengetahuan besar,
Dengan pikiran tunggal menuju ke posisi Dharmaraja.
Dengan bermeditasi di kediaman para Buddha,
Mendapatkan kebahagiaan besar yang tanpa batas.

Bodhisattva mewujudkan jutaan tubuh yang tidak terhitung,
Untuk memberikan persembahan kepada semua Tathagata.
Perwujudan kekuatan batinnya adalah yang tertinggi dan tiada bandingnya,
Dia mampu tinggal di semua tempat perbuatan para Buddha.

Dia memuji dan menatap semua Buddha yang tidak terhitung.
Dan secara mendalam menikmati semua gudang Dharma Mereka.
Melihat para Buddha, mendengar Dharma-Nya, rajin mempraktekkannya.
Pikirannya menjadi bergembira, seolah-olah Dia sedang meminum 'nektar abadi (amrta)'.

Setelah mencapai Samadhi tertinggi dari Tathagata,
Dia memasuki semua Dharma dan kebijaksanaannya meningkat.
Keyakinannya tidak tergoyahkan seperti Sumeru,
Menjadi gudang kebajikan bagi semua makhluk hidup.

Belas-kasihnya sangat luas dan meliputi semua makhluk hidup.
Dia berharap untuk segera menyadari Sarvajna,
Namun, selalu tanpa kemelekatan atau ketergantungan.
Terpisah dari semua kesengsaraan, Dia telah mencapai kebebasan.

Berpengetahuan luas, mengasihani para makhluk hidup,
Dia menerima semuanya sama seperti dirinya sendiri.
Menyadari kekosongan, tiada tanda, dan ketidaknyataan,
Namun Dia bertindak, dan pikirannya tidak kenal lelah.

Kebajikan dari Bodhisattva yang memunculkan tekad Bodhi,
Tidak bisa habis diberitakan, bahkan selama jutaan kalpa.
Karena itu menghasilkan semua Tathagata,
Dan kebahagiaan dari Pratyekabuddha dan Sravakabuddha.

Memberikan kedamaian selama kalpa yang tak terhitung,
Kepada semua makhluk hidup di ksetra sepuluh penjuru,
Mendorong mereka untuk menjalankan lima sila dan sepuluh perbuatan baik,
Empat dhyana dan keseimbangan dari empat konsentrasi lainnya.

Lagi, selama banyak kalpa memberikan kedamaian dan kebahagiaan,
Menyebabkan mereka memotong putus khayalan dan menjadi Arhat.
Meskipun kumpulan kebajikan itu tidak terukur,
Namun itu tidak bisa dibandingkan dengan kebajikan dari memunculkan Pikiran Kebangkitan.

Juga, membuat jutaan orang banyak menjadi tercerahkan pada kondisi,
Dan mencapai jalan halus dari perbuatan yang tanpa perselisihan.
Itu sama sekali tidak bisa menjadi pengukuran,
Jika dibandingkan dengan Pikiran Bodhi.

Dalam sekejap satu pikiran, mampu melintasi ksetra sebanyak butiran debu;
Dengan cara ini, Dia melewati kalpa yang tak terukur.
Jumlah ksetra ini masih dapat diukur,
Tetapi kebajikan dari memunculkan Bodhicitta tidak bisa diketahui.

Jumlah kalpa di masa lalu, masa depan dan sekarang,
Adalah yang tanpa batas, namun masih bisa diketahui;
Tetapi kebajikan dari memunculkan Bodhicitta,
Adalah yang tidak bisa diukur.

Ini adalah karena tekad Pikiran Bodhi meliputi sepuluh penjuru,
Mengetahui semua perbedaan yang ada,
Dalam sekejap memahami masa lalu, sekarang, dan masa depan,
Menguntungkan para makhluk hidup yang tidak terbatas.

Keinginan, pemahaman, cara bijaksana, dan pola pikiran,
Dari para makhluk hidup di sistem dunia di sepuluh penjuru,
Serta batas ruang angkasa, masih bisa diukur,
Namun kebajikan dari pertama kali melahirkan Bodhicitta tidak bisa diukur.

Ikrar Bodhisattva adalah yang sama dengan sepuluh penjuru,
Kebaikannya menyebar meliputi semua makhluk di mana-mana,
Menyebabkan mereka semua mengolah kebajikan dari Buddhatva;
Oleh sebab itu kekuatannya tidak terbatas.

Keinginan, pemahaman, dan kecenderungan makhluk hidup,
Inderanya, dan cara yang mereka praktikkan, masing-masing berbeda.
Bodhisattva mengetahui itu semua dalam sekejap satu pikiran,
Sama seperti pikiran dari Sarvajna.

Khayalan dan karma dari semua makhluk hidup
Berlanjut di tiga alam tanpa jeda sesaat.
Batas dari ini masih bisa diketahui,
Tetapi kebajikan dari memunculkan Bodhicitta adalah yang tidak terbayangkan.

Dengan melahirkan Bodhicitta, bisa terpisah dari penderitaan karma,
Dan memberikan persembahan kepada semua Tathagata.
Ketika kebiasaan khayalan ditinggalkan, kelanjutannya menjadi terputus,
Dan pembebasan tercapai diseluruh tiga masa waktu.

Jika orang dalam sekejap pikiran memuja para Buddha yang tak terbatas,
Dan juga memberikan persembahan kepada makhluk hidup yang tak terhitung,
Dupa, bunga, dan karangan bunga yang menakjubkan,
Spanduk berhiaskan permata, bendera, kanopi, dan pakaian yang unggul.

Makanan lezat, singgasana permata, dan tempat berjalan:
Beranekaragam istana yang sepenuhnya terhiasi.
Ada permata mutiara Vairocana yang menakjubkan,
Dan permata Cintamani yang memancarkan cahaya.

Dalam setiap pikiran, Dia menyajikan persembahan seperti ini,
Melewati kalpa yang tak terukur, melampaui kata-kata,
Walaupun himpunan kebajikan orang ini besar,
Itu tidak sebanding dengan besarnya kebajikan dari memunculkan Pikiran Kebangkitan.

Dari semua berbagai persamaan yang dapat diucapkan,
Tiada satupun yang bisa menandingi Pikiran Bodhi.
Karena para Purusa Yang Paling Dihormati di tiga masa waktu,
Semuanya dilahirkan dari tekad ini.

Pikiran Bodhi adalah yang tanpa hambatan dan tanpa batas;
Tiada ukuran yang bisa ditemukan darinya.
Berikrar untuk menyempurnakan Sarvajnajnana,
Agar semua makhluk hidup terseberangkan selamanya.

Cita-cita ini luasnya seperti ruang angkasa,
Ini menghasilkan kebajikan yang sebanding dengan dharmadhatu.
Perbuatannya menyebar di mana-mana tanpa perbedaan.
Selamanya terpisah dari semua kemelekatan, Dia setara dengan Buddha.

Memasuki semua pintu Dharma,
Mampu menjelajahi semua ksetra,
Mencapai keadaan Sarvajna,
Menyempurnakan semua kebajikan.

Mampu meninggalkan segalanya terus menerus dan selamanya,
Memurnikan sila dan tanpa kemelekatan,
Penuh dengan kebajikan yang tak tertandingi,
Selalu rajin dan kuat tanpa kemunduran.

Memasuki dhyana samadhi yang mendalam, selalu bermeditasi;
Menyatu dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang besar.
Ini adalah bhumi tertinggi dari Bodhisattva,
Yang menghasilkan jalan Samantabhadra.

Semua Tathagata dari masa lalu-sekarang-masa depan,
Melindungi Orang yang pertama kali memunculkan Citta.
Menghiasinya dengan kekuatan batin dan vikurvana,
Serta samadhi dan dharani.

Makhluk hidup di sepuluh penjuru adalah yang tanpa batas,
Sistem dunia dan ruang angkasa juga seperti itu.
Namun tekad Bodhicitta yang tanpa batas melampauinya;
Karena itu mampu menghasilkan semua Buddha.

Pikiran Bodhi adalah dasar dari 'sepuluh kekuatan (dasabala)',
Itu juga merupakan dasar dari empat keberanian dan kefasihan,
Juga, delapan belas kualitas yang unik;
Semua itu diperoleh dari memunculkan Bodhicitta.

Ciri-ciri tubuh Buddha yang terhiasi,
Juga Dharmakaya-Nya yang setara dan menakjubkan,
Pengetahuan-Nya, kebijaksanaan-Nya, yang tanpa kemelekatan, dan yang layak dipuja:
Semua ini bisa ada karena memunculkan Bodhicitta.

Kendaraan dari semua Pratyekabuddha dan Sravakabuddha,
Kebahagiaan dhyana samadhi dari rupadhatu,
Juga samadhi dari arupadhatu:
Memunculkan Bodhicitta adalah dasar dari itu semua.

Kebahagiaan para manusia dan dewa yang bebas,
Serta berbagai kebahagiaan dari keberadaan yang lainnya,
Dan kebahagiaan dari indera dan kekuatan semangat, konsentrasi, dan yang lainnya;
Semua itu datang dari pertama kali memunculkan Bodhicitta.

Oleh sebab memunculkan Citta yang luas ini,
Orang bisa mempraktekkan Sadparamita,
Mendorong semua makhluk untuk mempraktikkan perilaku yang benar,
Dan menerima kedamaian dan kebahagiaan dalam triloka.

Tinggal berdiam di dalam pengetahuan Buddha sejati yang tak terhalang,
Mengungkapkan semua karma yang menakjubkan.
Mampu menyebabkan para makhluk hidup yang tak terhitung,
Untuk sepenuhnya memotong putus karma khayalan, dan menuju Nirvana.

Cahaya kebijaksanaannya seperti matahari yang murni,
Prakteknya yang sempurna seperti bulan purnama,
Kualitas kebajikannya selalu meluap seperti maha samudra,
Dia tidak tercemar dan tidak terhalang, sama seperti ruang angkasa.

Di mana-mana menghasilkan ikrar dari kebajikan yang tak terbatas,
Untuk memberikan kebahagiaan kepada semua makhluk hidup;
Menjalankan ikrar ini hingga menghabiskan batas masa depan,
Selalu rajin melakukannya demi menyeberangkan para makhluk hidup.

Ikrar besarnya yang tak terbatas adalah yang tidak terbayangkan,
Berikrar untuk menbuat makhluk hidup menjadi sepenuhnya murni.
Walaupun kosong, tanpa tanda, tanpa keinginan, tanpa ketergantungan,
Melalui kekuatan pranidhana, Bodhisattva bisa mengungkapkannya.

Memahami bahwa sifat alami diri adalah yang seperti ruang angkasa,
Yang diam tenang, dan semuanya sama.
Pintu Dharma yang tak terhitung dan tak terkatakan,
Demi makhluk hidup, Dia menjelaskannya tanpa kemelekatan.

Semua Tathagata dari sistem dunia sepuluh penjuru,
Semua-Nya memuji pemunculan Bodhicitta pertama kali.
Citta ini terhiasi dengan kebajikan yang tak terbatas;
Bisa mencapai Paramita, sama seperti para Buddha.

Jika kebajikan itu dijelaskan selama banyak kalpa yang jumlahnya,
Seperti banyaknya makhluk hidup, tetap saja itu tidak dapat habis.
Karena Citta ini tinggal berdiam di dalam rumah yang luas dari Tathagata;
Tiada sesuatu pun di triloka yang dapat dibandingkan dengannya.

Jika ingin mengetahui semua Buddhadharma,
Anda harus segera memunculkan pikiran Bodhi!
Pikiran ini di antara semua kebajikan, adalah yang tertinggi,
Menjamin pencapaian pengetahuan Tathagata yang tidak terhalang.

Kegiatan pikiran makhluk hidup dapat dihitung;
Begitu juga dengan jumlah butiran debu di ksetra.
Batas ruang angkasa dapat dengan mudah diukur,
Namun kebajikan dari memunculkan Pikiran Bodhi adalah yang tidak bisa diukur.

Itu menghasilkan semua Buddha dari tiga masa waktu;
Menyempurnakan kebahagiaan di semua dunia,
Meningkatkan semua kebajikan terunggul,
Selamanya melenyapkan semua kebingungan.

Itu mengungkapkan semua alam yang menakjubkan,
Menghilangkan semua penghalang,
Mengembangkan semua ksetra yang murni,
Dan menghasilkan pengetahuan dari semua Tathagata.

Jika ingin melihat semua Buddha di sepuluh penjuru,
Dan ingin mengeluarkan gudang kebajikan yang tiada habisnya,
Dan jika ingin memadamkan penderitaan makhluk hidup,
Segeralah membangkitkan 'Pikiran Kebangkitan (Bodhicitta)'!
#17616
Image
Guan Yin Pusa


Image
Kumuda

Bab 18
Dharmabhodaka parivartah


Kemudian pada saat itu, Viryaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata kepada Dharmaprajna Bodhisattva: "Kulaputra, ketika para Bodhisattva Mahasattva pertama kali membangkitkan 'Pikiran (Citta)' untuk mencari 'Pengetahuan Yang Mengetahui Semua (Sarvajnajnana)', Mereka menyempurnakan kebajikan yang tidak terbatas, dipenuhi dengan hiasan yang besar, naik ke kendaraan Sarvajna, memasuki keadaan yang benar dari Bodhisattva, meninggalkan segala sesuatu yang duniawi, dan mencapai kebenaran dari para Buddha yang melampaui duniawi, masuk kedalam perkumpulan para Buddha dari masa lalu-sekarang-masa depan, dan pasti akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi. Bagaimanakah seharusnya para Bodhisattva itu mempraktekkan Buddhadharma agar membuat semua Tathagata menjadi bergembira, memasuki tempat kediaman dari semua Bodhisattva, mencapai kemurnian dari semua perbuatan besar, menyempurnakan semua ikrar besar, memperoleh gudang harta yang luas dari para Bodhisattva, selalu mengajar sesuai dengan keadaan yang diperlukan dan yang bisa dirubah tanpa pernah menyerah dari praktek Paramita, menyebabkan semua makhluk hidup dalam penjagaan Mereka untuk mencapai pembebasan, dan melanjutkan silsilah Triratna tanpa kerusakan, akar kebajikan serta Upaya Kausalya Mereka tidak disia-siakan? Kulaputra, melalui Upaya-kausalya apakah bisa Mereka menyebabkan hal-hal ini terpenuhi? Tolong ulurkan belas-kasih Anda untuk menjelaskan ini kepada Kami, semua orang dalam perkumpulan majelis ini ingin mendengar."

"Lagi, jika para Bodhisattva selalu rajin mengolah praktek, demi melenyapkan semua kegelapan dari ketidaktahuan, menaklukkan mara dan musuh dan mengendalikan tirthika, selamanya membersihkan semua penderitaan yang mengotori pikiran, Mereka akan mampu menyempurnakan semua akar kebaikan, selamanya terlepas dari kesusahan dari semua alam yang menyedihkan, memurnikan semua wilayah pengetahuan besar, menyelesaikan semua tingkat Bodhi dan kebajikan yang murni, Paramita, penguasaan ingatan, samadhi, enam pengetahuan super, dan empat keberanian, menghiasi semua Buddhaksetra; Kemurnian dari tubuh, ucapan, dan pikiran mereka akan tersempurnakan. Akan mengetahui semua kekuatan, keberanian, kualitas unik, sarvajna, dan wilayah perbuatan dari semua Tathagata. Agar mengembangkan dan mematangkan semua makhluk hidup sesuai dengan kecenderungan pikirannya, pergi ke Buddhaksetra yang tepat dan menjelaskan Dharma yang diperlukan sesuai dengan indera para makhluk dan sesuai dengan waktu dan keadaan. Akan menyempurnakan beranekaragam pekerjaan besar dari para Buddha yang tidak terukur, juga beranekaragam kebajikan yang lainnya, berbagai macam praktek, jalan, dan alam, dan segera akan menjadi sama dengan para Tathagata. Mereka bisa mempertahankan dan melindungi semua harta Dharma yang dikumpulkan oleh para Tathagata selama ratusan ribu kalpa yang tidak terbayangkan saat mengolah praktek Bodhi, dan bisa menjelaskannya dengan tanpa halangan dan tidak bisa diganggu oleh mara dan tirthika. Mereka akan menjaga Saddharma selamanya, dan ketika sedang mengajar di semua dunia, Mereka akan dilindungi oleh para dewa, raja yaksha, raja gandharva, raja asura, raja garuda, raja kinnara, raja mahoraga, raja manusia, raja brahma, dan para Bodhisattva Raja Dharma. Semua dunia akan menghormati dan menyokong Mereka, seperti mentakhtakan Mereka. Selalu akan diperhatikan oleh para Buddha, dan juga akan dicintai dan dihormati oleh semua Bodhisattva. Dengan mencapai kekuatan akar kebajikan, akan meningkatkan jalan kebajikan, menjelaskan harta Buddhadharma yang mendalam, dan menjaga Saddharma, dengan ini akan menghiasi diri Mereka sendiri. Tolong jelaskanlah cara dari Bodhisattvacarya."

Kemudian Viryaprajna Bodhisattva Mahasattva, ingin mengulangi maksudnya, mengucapkan syair-gatha ini :

Yang Termasyhur, sungguh baik penjelasan Anda
Pada kebajikan yang disempurnakan oleh para Bodhisattva,
Secara mendalam memasuki Maha karma yang tanpa batas
Menyempurnakan pengetahuan murni yang tanpa guru.

Jika Bodhisattva pada saat tekad pertamanya,
Menyelesaikan praktek dari kebajikan dan kebijaksanaan,
Memasuki tingkat yang terbebas dari kelahiran, melampaui dunia,
Secara menyeluruh mencapai dasar dari kebangkitan yang sejati,
Maka bagaimanakah Dia, di dalam Buddhadharma,
Tetap kukuh mengolah dengan rajin untuk maju,
Demi menyebabkan semua Tathagata bergembira,
Agar mampu dengan cepat memasuki keadaan para Buddha,
Menyempurnakan semua ikrar murni yang dilaksanakan,
Mencapai gudang pengetahuan dan kebijaksanaan yang luas,
Dan juga mampu mengajarkan Dharma untuk membebaskan para makhluk
Tanpa pikirannya bergantung atau melekat pada apapun,
Menyempurnakan semua Bodhisattva Paramita,
Menyelamatkan dan membebaskan semua makhluk dalam perlindungannya,
Selamanya mempertahankan silsilah para Buddha tanpa kerusakan,
Sehingga semua yang dilakukannya adalah yang pasti tidak sia-sia,
Dan menyelesaikan semua tugas dan mendapat pembebasan.
Tolong jelaskanlah jalan yang murni ini,
Sesuai dengan yang dipraktekkan semua Jina,
Demi selamanya menghancurkan kegelapan dari ketidaktahuan.
Meruntuhkan semua mara dan tirthika,
Membersihkan semua kotoran,
Agar mampu mendekati pengetahuan dan kebijaksanaan besar dari Tathagata,
Dan selamanya meninggalkan bahaya dari jalan jahat,
Untuk memurnikan wilayah pengetahuan besar yang luar biasa,
Mencapai kekuatan dari jalan agung, disisi sang Bhagavan,
Untuk menyempurnakan semua kebajikan,
Mencapai pengetahuan tertinggi dari Tathagata,
Tinggal di ksetra yang tidak terhitung,
Dan menjelaskan Dharma sesuai dengan kecenderungan pikiran makhluk disana,
Dan melaksanakan berbagai macam perbuatan besar dari para Buddha.

Bagaimanakah Dia bisa mencapai jalan yang menakjubkan
Dan menjelaskan gudang Saddharma dari Tathagata,
Selalu mampu menerima dan mempertahankan Buddhadharma,
Yang tiada tanding dan tanpa bandingannya?
Bagaimanakah Dia bisa berani seperti singa,
Perbuatannya murni seperti bulan purnama?
Bagaimanakah Dia bisa mempraktekkan kebajikan Buddha,
Seperti bunga teratai yang tidak dilekati oleh air?

Kemudian pada saat itu, Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva berkata kepada Viryaprajna Bodhisattva: "Sadhu, Kulaputra, Anda telah bertanya tentang praktek murni yang diolah oleh para Bodhisattva, demi keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, para dewa dan manusia. Anda, Kulaputra, tinggal berdiam dalam Dharma, menggiatkan semangat besar, meningkat tanpa kemunduran, telah mencapai kebebasan, mampu mengajukan pertanyaan ini, sama seperti sang Buddha. Dengarlah dengan jelas, pikirkanlah dengan baik pada hal ini; Sekarang, melalui kekuatan batin sang Buddha, Saya akan menjelaskan sedikit kepada Anda. Kulaputra, saat Bodhisattva telah mengembangkan tekad untuk Sarvajnajnana, Dia harus meninggalkan kegelapan dari ketidaktahuan, dan rajin menjaga diri sendiri dari kegemaran dan kelalaian. Jika Bodhisattva tinggal berdiam dalam sepuluh dharma, itu dinamakan tiada kegemaran: Pertama, menjaga Sila tingkah-laku; Kedua, meninggalkan kebodohan dan memurnikan tekad Bodhi; Ketiga, menyukai kejujuran dan menolak rayuan serta tipuan; Keempat, bersungguh-sungguh mengolah kebajikan tanpa kemunduran; Kelima, terus-menerus merenungkan Pranidhana-nya; Keenam, tidak bersenang-senang berhubungan dengan orang-orang biasa baik itu perumahtangga atau Bhiksu; Ketujuh, melakukan perbuatan baik tanpa mengharapkan hadiah duniawi; Kedelapan, selamanya meninggalkan kendaraan yang lebih kecil dan mempraktekkan jalan Bodhisattva; Kesembilan, dengan senang mempraktekkan apa yang baik, tidak membiarkan kebaikan terputus; Kesepuluh, selalu memeriksa kekuatan ketekunan; Jika Bodhisattva mempraktekkan sepuluh dharma ini, maka dinamakan tinggal berdiam di dalam tiada kegemaran."

"Ketika Bodhisattva gigih dalam tiada kegemaran, Dia mencapai sepuluh jenis kemurnian, yaitu : Bertindak sesuai dengan yang telah dikatakannya; Penyempurnaan perhatian dan kecerdasan; Tinggal berdiam dalam konsentrasi yang mendalam tanpa melamban atau bergejolak; Senang mencari Buddhadharma tanpa kenal lelah; Merenungkan Dharma yang didengar sesuai dengan sebab, sepenuhnya mengembangkan pengetahuan yang terampil dan fleksibel; Memasuki meditasi yang mendalam dan mencapai kekuatan batin para Buddha; Pikirannya adalah yang sama, tanpa perasaan tentang status yang tinggi atau rendah; Terhadap para makhluk yang unggul, menengah, dan yang rendah, pikirannya tanpa rintangan, sama seperti bumi, menguntungkan semua secara sama; Jika Dia melihat setiap makhluk yang bahkan pernah sekali membuat tekad Bodhi, Dia menghormati dan melayani mereka sebagai guru; Dia selalu menghormati, melayani, dan mendukung para Pembimbing dan Pengajar, semua Bodhisattva, Teman yang bijaksana, dan guru; Inilah yang dinamakan sepuluh jenis kemurnian Bodhisattva yang gigih di dalam tiada kegemaran."

"Bodhisattva tinggal berdiam dalam tiada kegemaran, membangkitkan semangat besar, menghasilkan perhatian yang benar, menimbulkan cita-cita tertinggi, dan bekerja tanpa henti. Pikirannya terbebas dari ketergantungan pada apapun. Dia mampu dengan rajin mempraktekkan Dharma yang paling mendalam, dan memasuki pintu gerbang dari tiada perselisihan. Dengan memperluas pikirannya, Dia mampu secara sesuai memahami Buddhadharma yang tanpa batas, menyebabkan semua Tathagata bergembira."

"Lagi, ada sepuluh dharma yang Bodhisattva bisa membuat para Buddha bergembira, yaitu : Tekun tanpa kemunduran; Tidak menyesali kehidupan fisiknya; Tidak mencari keuntungan atau sokongan; Mengetahui semua gejala kejadian adalah sama seperti ruang angkasa; Mahir dalam perenungan, memasuki seluruh dharmadhatu; Mengetahui kepastian tanda-tanda dari semua gejala kejadian; Selalu menyebut Ikrar Besar; Mengembangkan cahaya dari pengetahuan kesabaran yang murni; Memeriksa kebajikan tanpa berlebihan atau mengecilkan; Mengolah praktek yang murni sesuai dengan jalan tanpa usaha; Inilah yang dinamakan kegigihan Bodhisattva di dalam sepuluh dharma yang bisa memberikan kegembiraan kepada semua Buddha."

"Lagi, ada sepuluh dharma yang Bodhisattva bisa membuat para Buddha bergembira, yaitu : Tinggal berdiam dengan aman di dalam tiada kegemaran; Tinggal berdiam dengan aman di dalam Anutpattikadharmaksanti; Tinggal berdiam dengan aman di dalam Maha Maitri; Tinggal berdiam dengan aman di dalam Maha Karuna; Tinggal berdiam dengan aman di dalam penyempurnaan Paramita; Tinggal berdiam dengan aman di dalam Bodhisattvacarya; Tinggal berdiam dengan aman di dalam Maha Pranidhana; Tinggal berdiam dengan aman di dalam Upaya-kausalya; Tinggal berdiam dengan aman di dalam kekuatan semangat; Tinggal berdiam dengan aman di dalam pengetahuan dan kebijaksanaan, mengamati semua gejala kejadian yang tiada tempat tinggal, sama seperti ruang angkasa; Jika Bodhisattva tinggal berdiam di dalam sepuluh dharma ini, ma abis amenggembirakan semua Buddha."

"Ada sepuluh dharma yang bisa menyebabkan Bodhisattva dengan cepat memasuki Bhumi, yaitu : Dengan terampil menyempurnakan praktek kebajikan dan pengetahuan; Kemampuan menghiasi jalan praktek Paramita; Pengetahuan dengan jelas memahami, tidak mengikuti perkataan yang lain; Melayani 'teman yang baik (kalyanamitra)', tidak pernah meninggalkannya; Selalu mempraktekkan ketekunan tanpa malas; Kemampuan yang mahir tinggal berdiam di dalam kekuatan batin para Buddha; Mengolah akar kebajikan tanpa kenal lelah; Dengan pikiran yang mendalam dan pengetahuan yang tajam, menghiasi diri dengan Dharma dari Mahayana; Pikiran tidak tinggal berdiam pada Dharma dari setiap Bhumi; Mencapai sifat alami yang sama dengan semua Buddha dari tiga masa waktu dalam hal kebajikan dan cara pembebasan. Inilah sepuluh dharma yang bisa menyebabkan Bodhisattva dengan cepat memasuki Bhumi."

"Lagi, saat Bodhisattva berada di Bhumi pertama, Dia harus dengan teliti memeriksa semua prinsip dasar dan pengetahuan mengenai itu, sebab yang diolah disana, hasil yang dicapai, wilayahnya, fungsinya, perwujudannya, perbedaannya, dan pencapaian yang berhubungan dengan itu. Dia harus teliti memeriksa dan menyadari bahwa semua gejala kejadian merupakan pikiran, dan tiada kemelekatan pada apapun; Melalui pengetahuan ini, Dia memasuki Bodhisattvabhumi dan bisa dengan kukuh melanjutkannya disana."

"Sang Bodhisattva memunculkan pikiran ini : 'Saya harus dengan cepat memasuki Bhumi. Mengapa? Jika tinggal di dalam setiap Bhumi, maka akan mengembangkan kualitas kebajikan yang besar; Karena dipenuhi dengan kebajikan, maka akan secara bertahap memasuki Buddhabhumi; Saat di Buddhabhumi, maka mampu melaksanakan perbuatan besar para Buddha. Oleh sebab itu, Saya harus selalu mempraktekkan dengan rajin dan tanpa henti, tanpa kenal lelah, menghiasi diri dengan kebajikan besar, dan memasuki Bodhisattvabhumi.'"

"Ada sepuluh dharma yang menyebabkan praktek Bodhisattva menjadi murni, yaitu: Menyerahkan semua kepemilikan untuk memuaskan keinginan para makhluk hidup; Teguh mengikuti Sila yang murni, tidak melanggarnya; Terus-menerus lemah lembut dan bermurah hati; Rajin mengolah praktek, tanpa kemunduran; Melalui kekuatan dari perhatian yang benar, menjadi terbebas dari kebingungan dan gangguan pikiran; Menganalisa dan memahami Dharma yang tidak terhitung banyaknya; Mengolah semua praktek tanpa kemelekatan; Batin yang tenang tidak bisa diganggu, seperti Maha Meru; Secara luas membebaskan para makhluk hidup, seperti jembatan; Mengetahui bahwa semua makhluk hidup pada intisarinya sama seperti para Buddha. Inilah sepuluh dharma yang memurnikan praktek Bodhisattva."

"Saat Bodhisattva telah mencapai kemurnian praktek, Dia juga mencapai sepuluh 'kualitas (dharma)' yang lebih besar, yaitu: Para Buddha dari alam yang lain selalu melindunginya; Akar kebajikannya meningkat, melampaui semua perbandingan; Mampu menerima peningkatan kekuatan dari para Buddha; Selalu menemukan orang-orang yang baik dan yang bergantung padanya; Tetap rajin dan tidak pernah lalai; Mengetahui semua gejala kejadian adalah yang sama dan tidak berbeda; Pikirannya selalu tinggal berdiam di dalam belas kasih besar yang tiada tanding; Mengamati gejala kejadian sebagaimana yang sesungguhnya, menghasilkan kebijaksanaan yang agung; Mampu mempraktekan upaya-kausalya pembebasan; Mampu mengetahui kekuatan upaya-kausalya pembebasan dari Tathagata; Inilah sepuluh kualitas unggul dari Bodhisattva."

"Bodhisattva memiliki sepuluh ikrar yang murni, yaitu : Berikrar mengembangkan para makhluk hidup hingga matang, tanpa kenal lelah; Berikrar sepenuhnya mempraktekkan semua kebajikan dan memurnikan semua dunia; Berikrar melayani Tathagata, selalu memuja-Nya dan menghormati-Nya; Berikrar mempertahankan dan melindungi Saddharma, tanpa menyesali hidupnya; Berikrar mengamati dengan kebijaksanaan dan memasuki Buddhaksetra; Berikrar menjadi intisari yang sama dengan semua Bodhisattva; Berikrar memasuki pintu dari pencapaian Tathata dan memahami semua gejala kejadian; Berikrar bahwa bagi mereka yang telah melihat dirinya, akan mengembangkan keyakinan dan semuanya mendapat keuntungan; Berikrar tinggal menetap didunia selamanya melalui kekuatan batin; Berikrar melaksanakan praktek Samantabhadra, dan menguasai pengetahuan tentang semua jalan pembebasan. Inilah sepuluh Pranidhana yang murni dari Bodhisattva."

"Bodhisattva bisa berhasil melaksanakan Ikrar Besarnya melalui tinggal berdiam pada sepuluh prinsip, yaitu : Pikiran tidak pernah lelah; Mempersiapkan hiasan besar; Mengingat kekuatan semangat yang unggul dari Bodhisattva; Ketika mendengar tentang Buddhaksetra, berikrar dilahirkan di dalamnya; Mempertahankan kebulatan tekadnya yang mendalam tanpa berakhir; Berikrar mengembangkan semua makhluk hidup sepenuhnya; Tinggal berdiam melewati semua kalpa tanpa berpikir itu sulit; Menerima semua penderitaan tanpa kebencian; Tanpa mendambakan atau melekati kesenangan apapun;"

"Saat Bodhisattva menyelesaikan Pranidhana seperti itu, Dia mencapai sepuluh harta yang tidak habis-habisnya, yaitu : Melihat para Buddha; Menyempurnakan kekuatan ingatan; Pemahaman yang pasti pada semua Dharma; Penyelamatan yang berbelas-kasih; Beranekaragam keadaan Samadhi; Berkah kebajikan yang memuaskan pikiran semua makhluk; Pengetahuan mendalam untuk menjelaskan semua Dharma; Kekuatan batin yang diperoleh sebagai hasil dari praktek; Nafkah hidup selama kalpa yang tidak terhitung; Memasuki dunia-dunia yang tanpa batas. Inilah sepuluh harta yang tidak habis-habisnya dari Bodhisattva."

"Ketika Bodhisattva telah mencapai sepuluh harta ini, kebajikannya sempurna, pengetahuannya murni; Dia menjelaskan Dharma kepada para makhluk hidup sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Lalu bagaimana Bodhisattva menjelaskan Dharma kepada para makhluk hidup sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka? Dia mengetahui apa yang dilakukan para makhluk; Mengetahui sebab dan kondisi mereka; Mengetahui tingkah laku pikiran mereka; Mengetahui kecenderungan mereka; Kepada mereka yang memiliki banyak keserakahan dan keinginan, Dia menjelaskan ketidakmurnian. Kepada mereka yang memiliki banyak kemarahan dan kebencian, Dia menjelaskan kemurahan hati dan kebaikan. Kepada mereka yang banyak ketidaktahuan dan angan-angan khayalan, Dia mengajarkan perenungan yang rajin. Kepada mereka yang memiliki racun dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan yang sebanding, Dia menjelaskan Dharma tentang pengembangan pengetahuan untuk mengatasi itu. Kepada mereka yang menyukai kelahiran dan kematian, Dia mengajari tiga jenis penderitaan. Kepada mereka yang melekat pada tempat menghuni, Dia mengajarkan kekosongan dari ketiadaberadaan tempat. Kepada mereka yang malas, Dia membabarkan tentang semangat yang besar. Kepada mereka yang mengandung kesombongan, Dia menjelaskan kesamaan dari segala sesuatu. Kepada para perayu dan penipu, Dia menjelaskan kejujuran yang sederhana dari batin Bodhisattva. Kepada mereka yang menyukai keheningan-tenang, Dia menjelaskan Dharma secara luas, sehingga mereka akan mencapainya. Seperti itulah Bodhisattva mengajar sesuai dengan apa yang penting dan yang tepat."

"Ketika Dia menjelaskan Dharma, ucapannya saling berhubungan, maknanya terbebas dari pertentangan dan kebingungan. Dia mengamati keadaan dari Dharma, memeriksanya secara bijaksana, menentukan yang benar dan yang salah, sesuai dengan tanda yang pasti dari gejala kejadian - Ketidakkekalan, ketiadaan nafsu, dan ketiadaan diri - dan secara bertahap mendirikan penerapan pendekatan yang tanpa batas, demi menyebabkan semua makhluk hidup memotong putus semua keraguan. Dia mengetahui semua indera dengan baik, memasuki Buddhadharma, mengalami kenyataan yang sesungguhnya, mengetahui gejala kejadian adalah yang sama, memotong putus semua kemelekatan pada gejala kejadian, melenyapkan semua kemelekatan, dan selalu mengingat para Buddha, pikirannya tidak pernah pergi dari Mereka walau sesaat. Dia mengetahui zat dan intisari dari suara adalah yang sama, dan tiada kemelekatan pada ucapan. Mampu dengan terampil menjelaskan contoh dan persamaan, tanpa pertentangan apapun, demi membuat semua makhluk mampu menyadari tubuh kebijaksanaan yang sama, yang diwujudkan oleh semua Buddha dimana-mana sesuai dengan kebutuhan dan kecocokan."

"Ketika Bodhisattva menjelaskan Dharma kepada para makhluk hidup dalam cara ini, Dia mempraktekkannya sendiri, meningkatkan keuntungannya, tidak berhenti dari Paramita, sepenuhnya maju ke jalan dari praktek Paramita. Pada saat ini, Bodhisattva menyerahkan segala sesuatu yang diluar dan yang didalam, tanpa kemelekatan, untuk memuaskan batin para makhluk hidup - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Dana Paramita."

"Dia menjaga sila moralitas tanpa kemelekatan, selamanya berpisah dari kesombongan - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Sila Paramita."

"Dia mampu sabar menerima semua kejahatan, dengan pikiran yang sama terhadap semua makhluk, tanpa gangguan atau gejolak, sama seperti bumi yang mampu menopang semuanya - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Ksanti Paramita."

"Dia melakukan semua praktek tanpa malas, tidak pernah mundur dalam apa yang dilakukan, dengan keberanian yang kukuh dan semangat, tidak melekati atau menolak semua kebajikan, namun mampu memenuhi semua aspek pengetahuan - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Virya Paramita."

"Dia tanpa kemelekatan atau keserakahan pada setiap objek keinginan, mampu menyempurnakan urutan tingkat konsentrasi, selalu bermeditasi secara benar, tidak tinggal berdiam juga tidak meninggalkan konsentrasi, namun mampu melenyapkan semua penderitaan, menghasilkan aspek konsentrasi yang tidak terhitung banyaknya, mengembangkan kekuatan batin besar yang tanpa batas, keluar dan masuk berturut-turut dari setiap keadaan meditasi, di dalam satu meditasi memasuki meditasi yang tanpa batas, mengetahui semua wilayah meditasi, tidak bertentangan dengan segel pengetahuan dari semua konsentrasi dan meditasi, mampu dengan cepat memasuki tingkat Sarvajnajnana - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Dhyana Paramita."

"Mendengar Buddhadharma, menerimanya, menjaganya, bergaul dengan teman yang bijaksana, melayani mereka tanpa kenal lelah, selalu senang mendengar Dharma, tidak pernah bosan, berpikir tentang apa yang didengar sesuai dengan kaidah yang sesungguhnya, memasuki konsentrasi yang asli, berpisah dari semua pandangan salah, mengamati semua gejala kejadian dengan baik, memahami tanda yang pasti dari ciri-ciri kenyataan, memahami jalan yang tanpa usaha dari para Buddha, menaiki kebijaksanaan semesta, memasuki pintu gerbang Sarvajnajnana, mencapai kedamaian abadi - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Prajna Paramita."

"Mewujudkan semua pekerjaan duniawi untuk mengajar para makhluk hidup, tidak pernah kenal lelah, muncul diadapan mereka dalam bentuk-rupa yang menyenangkan, tiada kemelekatan pada apapun yang telah dikerjakan, kadang mewujudkan perbuatan orang awam, kadang mewujudkan perbuatan pertapa, kadang mewujudkan kelahiran dan kematian, kadang mewujudkan nirvana, mampu dengan tekun mengamati semua pekerjaan dan mewujudkan semua hiasan tanpa ketamakan, memasuki semua alam keberadaan demi membebaskan para makhluk hidup - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Upaya Paramita."

"Sepenuhnya mengembangkan semua makhluk hidup, sepenuhnya menghiasi semua dunia, membuat persembahan kepada semua Buddha, sepenuhnya tiba di keadaan tanpa rintangan, sepenuhnya mengolah praktek yang membentang luas ke seluruh dharmadhatu, dengan tubuh yang menetap diseluruh masa waktu, mengetahui pemikiran dari semua pikiran, sepenuhnya menyadari bahwa semua siklus perubahan wujud kembali ke kepunahan, muncul di semua ksetra, sepenuhnya mencapai pengetahuan dan kebijaksanaan Buddha - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Pranidhana Paramita."

"Dipenuhi dengan kekuatan tekad yang mendalam, tanpa kekotoran batin, dipenuhi dengan kekuatan keyakinan yang mendalam, menjadi yang tidak terkalahkan, dipenuhi dengan kekuatan belas-kasih yang besar, tidak pernah kenal lelah, dipenuhi dengan kekuatan kebaikan yang besar, bertindak dengan sama, dipenuhi dengan kekuatan ingatan, mampu secara terampil menguasai semua makna, dipenuhi dengan kekuatan kefasihan, menyebabkan semua makhluk hidup terpenuhi kebahagiaan, dipenuhi dengan kekuatan praktek Paramita, menghiasi Mahayana, dipenuhi dengan kekuatan Pranidhana, tidak pernah berhenti, dipenuhi dengan kekuatan batin, menghasilkan keajaiban yang tidak terhitung, dipenuhi dengan kekuatan yang memperkukuh dan menyokong, mampu menimbulkan keyakinan dan penerimaan - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Bala Paramita."

"Mengetahui mereka yang bertindak tamak, mengetahui mereka yang bertindak penuh kemarahan, mengetahui mereka yang bertindak bodoh, mengetahui mereka yang bertindak sama pada semua ini, mengetahui mereka yang mengolah pembelajaran, dalam sekejap satu pikiran mengetahui karma yang tidak terbatas dari para makhluk hidup, mengetahui pikiran yang tidak terbatas dari para makhluk hidup, mengetahui kebenaran dari semua gejala kejadian, mengetahui kekuatan dari semua Buddha, menyadari semua aspek dharmadhatu - dengan begitu Dia bisa memurnikan praktek Jnana Paramita."

"Kulaputra, ketika para Bodhisattva seperti itu memurnikan praktek Paramita, menunaikan praktek Paramita, tidak menyerah dari praktek Paramita, Dia tinggal berdiam pada kendaraan Bodhisattva yang terhiasi dengan sangat indah, dan menjelaskan Dharma kepada semua makhluk hidup yang sedang diperhatikannya, menyebabkan mereka meningkatkan perbuatan yang murni dan mencapai pembebasan. Bagi yang telah jatuh ke jalan kejahatan, Dia membuat mereka bercita-cita pada Bodhi. Bagi yang dalam kesulitan, Dia membuat mereka rajin dan gigih. Bagi yang serakah, Dia mengajarkan ketiadaan nafsu keinginan. Bagi yang pemarah, Dia mendorong mereka mempraktekkan kesabaran. Bagi yang melekat pada pandangan, Dia menjelaskan asal-mula yang saling bergantungan. Kepada para makhluk yang di kamadhatu, Dia mengajarkan berpisah dari hal yang tidak baik seperti mengidam dan membenci. Kepada para makhluk yang di rupadhatu, Dia mengajarkan pemeriksaan pengetahuan yang mendalam. Kepada para makhluk yang di arupadhatu, Dia menjelaskan kebijaksanaan yang halus. Kepada mereka yang di dua kendaraan yang lebih kecil, Dia mengajarkan praktek ketiaadaan nafsu dan keheningan-tenang. Kepada mereka yang menyukai Mahayana, Dia menjelaskan penghiasan yang besar dari Dasabala."

"Dimasa lampau, ketika pertama kali bercita-cita menuju Bodhi, Dia melihat para makhluk yang tidak terhitung banyaknya jatuh kedalam jalan kejahatan, Dia membuat auman singa dengan berkata : 'Saya akan, melalui berbagai macam Dharma yang memungkinkan dan sesuai dengan kebutuhan mereka, menyelamatkan dan membebaskan mereka.' Bodhisattva yang dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu, mampu membebaskan semua makhluk hidup."

"Kulaputra, Bodhisattva yang diberkahi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu, menyebabkan silsilah dari Triratna tidak pernah berakhir. Mengapa begitu? Bodhisattva Mahasattva mengajar para makhluk membangkitkan Bodhicitta, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Buddha tidak terputus. Dia selalu menjelaskan permata Dharma kepada para makhluk hidup, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Dharma tidak terputus. Dia mempertahankan Sila dari Dharma dengan baik, tanpa pertentangan atau pelanggaran, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Sangha tidak terputus."

"Lagi, Dia mampu memuji semua Maha Pranidhana, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Buddha tidak terputus. Dia menganalisa dan menjelaskan hubungan sebab-akibat, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Dharma tidak terputus. Dia selalu bersungguh-sungguh mempraktekkan enam sila kerukunan dan menghormati, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Sangha tidak terputus."

"Lagi, Dia menanam benih keBuddhaan di lapangan para makhluk hidup, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Buddha tidak terputus. Dia melindungi dan mempertahankan Dharma sepenuhnya, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Dharma tidak terputus. Dia menyatukan dan mengatur Maha Sangha tanpa kenal lelah, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Sangha tidak terputus."

"Lagi, Dia melayani dan menjunjung Dharma yang telah diucapkan dan Sila yang telah didirikan oleh para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan, oleh sebab itu mampu menyebabkan silsilah Buddha, Dharma, Sangha tidak terputus."

"Demikianlah Bodhisattva berhasil pada Triratna, terbebas dari kesalahan dalam semua perbuatannya : Semua perbuatannya Dia abdikan untuk Sarvajnajnana, oleh sebab itu karma dari tubuh - ucapan - pikirannya terbebas dari cacat; Karena terbebas dari cacat, semua karma baik yang Dia kerjakan, semua praktek yang Dia jalankan, mengubah para makhluk, mengajar mereka sesuai dengan kebutuhan, tidak pernah salah bahkan hanya sekejap; Semua itu cocok dengan keterampilan dan pengetahuan, semua itu diabdikan untuk Sarvajnajnana, tiada yang berlalu sia-sia."

"Mengolah dan mempraktekkan jalan kebajikan seperti ini, Bodhisattva menyempurnakan sepuluh jenis penghiasan setiap saat : Penghiasan tubuh, Dia muncul sesuai dengan para makhluk yang bisa diajar; Penghiasan ucapan, Dia memotong putus semua keraguan dan menyebabkan semua orang bergembira; Penghiasan pikiran, Dia memasuki semua meditasi dalam sekejap satu pikiran; Penghiasan Buddhaksetra, semuanya dimurnikan, terbebas dari penderitaan; Penghiasan cahaya, Dia memancarkan cahaya tanpa batas, menerangi para makhluk hidup dimana-mana; Penghiasan Sangha, Dia menyatukan Sangha dan menggembirakan mereka semua; Penghiasan kekuatan batin, Dia bisa muncul dengan bebas, menyesuaikan dengan pikiran para makhluk hidup; Penghiasan Saddharma, Dia mampu menarik semua orang-orang yang cerdas; Penghiasan Nirvana, menjadi Buddha di satu tempat, Dia muncul meliputi seluruh Dharmadhatu; Penghiasan penjelasan terampil, Dia mengajar sesuai dengan tempat, waktu, indera dan kemampuan pendengar."

"Penyempurnaan hiasan ini, karma dari tubuh - ucapan - pikiran Bodhisattva, setiap saat adalah yang tidak pernah sia-sia; Semuanya Dia baktikan demi memasuki Sarvajnajnana. Jika setiap makhluk hidup melihat Bodhisattva ini, ketahuilah, bahwa ini juga tidak sia-sia, karena mereka pasti akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi. Siapapun yang mendengar nama-Nya, atau memberikan persembahan kepada-Nya, atau hidup dengan-Nya, atau mengingat-Nya, atau meninggalkan rumah demi mengikuti-Nya, atau mendengar khotbah-Nya, atau bergembira dalam kebajikan-Nya, atau menghormati-Nya dari jauh, atau bahkan memuji nama-Nya, maka akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi."

"Misalkan, ada seorang Ahli pengobatan yang bernama 'Sudarsa (Indah dilihat)', yang melenyapkan semua racun dari mereka yang melihat-Nya; Begitu juga dengan Bodhisattva yang telah menyempurnakan Dharma ini, jika para makhluk hidup melihat-Nya, semua racun penderitaan akan dilenyapkan, dan keadaan kebajikan akan meningkat."

"Bodhisattva yang tinggal berdiam melalui Dharma ini dan bersungguh-sungguh menerapkannya, dengan Cahaya Kebijaksanaan menghancurkan kegelapan dari ketidaktahuan; Dengan kekuatan belas-kasih menaklukkan tentara mara; Dengan pengetahuan besar dan kekuatan kebajikan memeriksa para tirthika; Dengan Vajrasamadhi melenyapkan semua penderitaan yang menodai pikiran; Dengan kekuatan semangat menghimpun akar kebaikan; Dengan kekuatan kebajikan dari memurnikan Buddhaksetra terhindar dari kesulitan oleh jalan jahat; Dengan kekuatan dari tiada kemelekatan memurnikan wilayah pengetahuannya; Dengan kekuatan upaya kausalya dan pengetahuan menghasilkan praktek Paramita dari Bodhisattvabhumi, dan juga beranekaragam Samadhi, enam pengetahuan super, dan empat keberanian, memurnikan seluruhnya; Dengan kekuatan dari semua kebajikan, Dia sepenuhnya mengembangkan semua Buddhaksetra yang murni, tanda-tanda unik-Nya yang tanpa batas dan pemurniannya, dan menyempurnakan hiasan tubuh - ucapan - pikiran; Dengan kekuatan pengamatan dan pengetahuan yang bebas, Dia mengetahui kekuatan, keberanian, dan kualitas unik dari semua Buddha adalah yang sama; Dengan kekuatan pengetahuan yang luas memahami alam Sarvajnajnana; Dengan kekuatan Pranidhana masa lalu-Nya mewujudkan Buddhaksetra sesuai dengan kebutuhan mereka yang akan diajar, memutar Maha Dharmacakra, dan membebaskan para makhluk hidup yang tidak terhitung banyaknya."

"Bodhisattva Mahasattva dengan rajin mempraktekkan hal-hal ini, secara bertahap menyelesaikan semua perbuatan Bodhisattva, hingga mencapai kesamaan dengan Buddha, menjadi Guru Besar di dunia-dunia yang tanpa batas, mempertahankan Saddharma, dilindungi oleh semua Buddha, menjaga dan menjunjung gudang Dharma yang luas. Mencapai kecerdasan yang tidak terhalang, masuk secara mendalam kedalam kenyataan dari Dharma, dan di dunia-dunia yang tanpa batas diantara perkumpulan majelis besar Dia mewujudkan bentuk-rupa yang berbeda-beda, sesuai dengan jenis, dipenuhi dengan ciri-ciri yang terunggul; Dengan kekuatan kefasihan yang tanpa halangan Dia secara terampil menjelaskan Dharma yang mendalam. Wilayah ucapan-Nya, dikembangkan dengan baik, dengan terampil mencapai semua orang, oleh karena itu mampu menyebabkan mereka yang mendengar bisa masuk ke pintu gerbang pengetahuan yang tidak habis-habisnya. Dengan mengetahui penderitaan yang sedang ada di pikiran para makhluk, Dia mengajar mereka dengan sesuai; Karena bunyi suara yang diucapkan-Nya adalah yang sepenuhnya murni, Dia bisa berkhotbah dengan satu suara, menyebabkan semua menjadi bergembira. Tubuh-Nya terbentuk dengan baik, dan memiliki kekuatan besar, jadi diantara perkumpulan majelis tiada seorangpun yang bisa menandingi-Nya. Karena mengetahui pikiran para makhluk hidup dengan baik, Dia mampu tampil dalam semua cara. Karena menjelaskan Dharma dengan mahir, suara-Nya tidak terhalang. Karena memiliki kebebasan pikiran, Dia menjelaskan Maha Dharma dengan sesuai, dan tiada seorangpun yang bisa menghalangi-Nya. Karena telah mencapai keberanian, pikirannya terbebas dari takut. Karena menguasai Dharma, tiada seorangpun yang bisa mengungguli-Nya. Karena menguasai pengetahuan, tiada seorangpun yang bisa melampaui-Nya. Karena menguasai Prajna-paramita, Dharma yang Dia jelaskan tidak bertentangan. Karena menguasai kekuatan kefasihan, Dia terus mengajar dengan kefasihan. Karena menguasai perintah pikiran, Dia dengan pasti memperlihatkan ciri-ciri yang sesungguhnya dari semua gejala kejadian. Karena menguasai khotbah, kapanpun Dia berbicara bisa menghasilkan semua jenis contoh dan persamaan. Karena menguasai belas-kasih yang besar, Dia dengan rajin mengajar para makhluk hidup tanpa kenal lelah. Karena menguasai kebaikan yang besar, Dia memancarkan jaring cahaya besar yang menyenangkan semua pikiran. Begitulah Bodhisattva, yang di atas Simhasana yang luas dan tinggi, menjelaskan Maha Dharma; Kecuali para Buddha dan Bodhisattva Mahasattva yang berpengetahuan dan bertekad melampaui, tiada seorangpun yang bisa mengungguli-Nya, tiada seorangpun yang bisa melihat Usnisa-Nya, tiada seorangpun yang bisa lebih terang dari-Nya, dan tiada seorangpun yang bisa membungkam-Nya dengan pertanyaan sulit."

"Ketika, Kulaputra, sang Bodhisattva telah mencapai kekuatan bebas seperti itu, bahkan jika ada vihara yang luas yang berukuran dunia-dunia yang banyaknya tidak terkatakan, dipenuhi dengan para makhluk, yang masing-masingnya memiliki kemuliaan dari Raja dari Mahasahassralokadhatu, segera ketika sang Bodhisattva memperlihatkan diri-Nya, Dia akan lebih cemerlang dari seluruh perkumpulan makhluk itu. Dengan kebaikan dan belas-kasih yang besar, Dia akan melindungi mereka saat ketakutan dan lemah, dan dengan kebijaksanaan yang mendalam Dia akan memeriksa kecenderunga mereka dan mengajar dengan kefasihan yang tanpa takut, menyebabkan semua bergembira. Mengapa? Karena Bodhisattva Mahasattva telah mengembangkan wilayah pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak terukur; Karena Dia telah mengembangkan pemahaman terampil yang tidak terukur; Karena Dia telah mengembangkan kekuatan yang luas dari perhatian yang benar; Karena Dia telah mengembangkan kecerdasan fleksibel yang tanpa batas; Karena Dia telah mengembangkan penguasaan pikiran sepenuhnya untuk memastikan ciri-ciri yang sesungguhnya dari semua gejala kejadian; Karena Dia telah mengembangkan tekad yang tanpa batas untuk Bodhi; Karena Dia telah mengembangkan kekuatan kefasihan yang tanpa kesalahan; Karena Dia telah mengembangkan keyakinan mendalam dan ketetapan yang didukung oleh para Buddha; Karena Dia telah mengembangkan kekuatan pengetahuan untuk memasuki perkumpulan majelis dari semua Buddha; Karena Dia telah mengembangkan pikiran murni yang mengetahui para Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan adalah yang pada intinya memiliki sifat alami yang sama; Karena Dia telah mengembangkan pengetahuan dari para Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan, dan semangat besar dan pengetahuan dari semua Bodhisattva, dan mampu menjadi Guru Dharma, untuk mengungkapkan gudang Saddharma dari para Buddha, dan melindungi dan mempertahankannya."

Kemudian Dharmaprajna Bodhisattva Mahasattva, ingin mengulangi maksudnya, melalui kekuatan sang Buddha, mengucapkan syair-gatha ini :

Pikiran yang tinggal berdiam di Bodhi, menghimpun kebajikan yang sangat banyak,
Tidak pernah memanjakan diri, menanam kebijaksanaan yang tidak tergoyahkan,
Selalu penuh perhatian pada cita-cita mencapai Bodhi,
Pada inilah semua Buddha menjadi bergembira.

Penuh kesadaran dan tekad yang kuat, oleh dorongan sendiri,
Tidak bergantung pada apapun di dunia, dan tidak pernah gentar dan takut,
Memasuki Dharma yang mendalam melalui praktek tiada perselisihan,
Pada inilah semua Buddha menjadi bergembira.

Saat para Buddha bergembira, usaha Bodhisattva menjadi kukuh,
Dia mengolah kebajikan dan kebijaksanaan, dan semua yang membantu sang Jalan.
Masuk kedalam praktek yang murni dari semua Bhumi,
Dia menyempurnakan cita-cita yang diucapkan oleh Tathagata.

Dengan mempraktekkan ini, mencapai Dharma yang menakjubkan,
Dan setelah mencapai Dharma, menyampaikannya kepada yang lain,
Sesuai dengan kecenderungan pikiran, indera, dan sifat alami,
Dia mengajar sesuai dengan apapun yang cocok.

Bodhisattva menjelaskan Dharma kepada orang lain,
Dengan tanpa menghentikan praktek Paramita;
Saat Dia menyelesaikan jalan Paramita,
Selamanya tinggal menetap di lautan keberadaan, menyelamatkan makhluk hidup.

Dia praktek dengan rajin siang dan malam, tanpa kenal lelah,
Menyebabkan benih Triratna tidak lenyap.
Semua praktek murni yang dilaksanakan-Nya,
Dia baktikan demi tingkat keBuddhaan.

Tindakan kebajikan yang dilaksanakan Bodhisattva,
Semuanya demi mengembangkan dan menyempurnakan makhluk hidup,
Membuat mereka menghancurkan ketidakjelasan dan melenyapkan penderitaan,
Menaklukkan tentara mara dan mencapai Samyaksambodhi.

Dengan mempraktekkan itu, mencapai pengetahuan Buddha,
Memasuki secara mendalam permata Dharma dari Buddha.
Sebagai Guru Besar, Dia menjelaskan Dharma yang halus,
Seperti nektar manis yang menyegarkan semua.

Belas-kasih dan simpati-Nya menjangkau semua,
Mengetahui pikiran dari semua makhluk hidup,
Menjelaskan sesuai dengan kecenderungan mereka,
Buddhadharma yang tidak terhitung dan tidak terbatas.

Tingkah laku-Nya tenang sama seperti raja gajah,
Keberanian-Nya sama seperti singa,
Tidak tergoyahkan seperti gunung, pengetahuan-Nya seperti samudra,
Dan sama seperti hujan besar yang melenyapkan semua panas.

Ketika Dharmaprajna telah mengucapkan syair-gatha ini, sang Buddha bergembira, dan semua orang dengan hormat mempraktekkannya.