Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama.
#17617
Image
Guan Yin Pusa


Image
Sahassrabhuja-Sahassranetra Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva

Bab 19
Suyamarohana parivartah


Kemudian pada saat itu, melalui kekuatan sang Tathagata, di semua dunia di sepuluh penjuru, di Jambudvipa di setiap empat penjuru, dan diatas puncak Sumeru, terlihat sang Tathagata sedang berada di tengah-tengah perkumpulan majelis, dimana para Bodhisattva, disebabkan oleh kekuatan sang Buddha, menjelaskan Dharma, semuanya merasa sedang berhadapan dengan sang Buddha di sepanjang waktu.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan, tanpa melangkahkan kaki-Nya meninggalkan pohon Bodhi dan puncak Sumeru, naik keatas menuju gedung Yang Terhiasi Permata di Istana Suyama. Raja surga suyama, melihat sang Buddha sedang datang dari jauh, dengan kekuatan magis menciptakan Tahta Singa dari tumpukan bunga teratai permata didalam istananya, dengan jutaan tingkat perhiasan yang berkilau, jutaan jaring emas yang menutupinya, jutaan tirai bunga yang menutupinya, jutaan tirai karangan bunga, jutaan tirai wewangian, dan jutaan tirai permata, dikelilingi oleh jutaan kanopi yang semuanya dari bunga, karangan bunga, wewangian, dan permata; jutaan cahaya menyinarinya. Jutaan Raja Deva di Suyama membungkuk dengan hormat, jutaan Raja Brahma menari bergembira, jutaan Bodhisattva menyanyikan pujian. Jutaan alat musik surga memainkan jutaan nada Dharma, terus-menerus tanpa berhenti; Ada jutaan awan dari beranekaragam bunga, jutaan awan dari beranekaragam karangan bunga, jutaan awan dari beranekaragam perhiasan, jutaan awan dari beranekaragam jubah, menyelimuti seluruh sekeliling; jutaan awan dari beranekaragam permata cintamani yang berkilau. Tahta itu dilahirkan dari jutaan jenis akar kebaikan, yang dilindungi oleh jutaan Buddha, diperbanyak dengan jutaan jenis kebajikan, dimuliakan dan dimurnikan dengan jutaan jenis keyakinan dan jutaan jenis ikrar, dihasilkan oleh jutaan jenis karma, didirikan dengan jutaan jenis Dharma, diciptakan dari jutaan jenis kekuatan batin, selalu menghasilkan jutaan jenis suara yang mengungkapkan semua Dharma.

Kemudian sang Devaraja itu, setelah mengatur tahta ini untuk sang Tathagata, membungkukkan diri dan beranjali, dengan hormat menghadap sang Bhagavan Buddha, dan berkata : "Sadhu, Bhagavan, Sadhu, Sugata, Sadhu, Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Tolong berbelas-kasih untuk singgah di Istana ini."

Kemudian sang Buddha, menerima undangannya, memasuki gedung permata. Hal ini juga terjadi ditempat yang sama di semua dunia di sepuluh penjuru.

Kemudian, melalui kekuatan batin sang Buddha, sang Devaraja mengingat bagaimana dirinya menanam 'akar kebajikan (kusala-mula)' kepada para Buddha di masa lampau, lalu mengucapkan syair-gatha ini :

Yasas Tathagata, terkenal diseluruh sepuluh penjuru,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung permata ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Ratnaraja Tathagata, lampu dunia,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung yang murni ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Sukhinetra Tathagata, dengan penglihatan yang tanpa halangan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung yang terhiasi ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Dipamkara Tathagata, menerangi dunia,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung yang luar biasa ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Hitaisin Tathagata, penolong dunia,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung yang tanpa noda ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Sujnana Tathagata, yang tanpa guru,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung permata wangi ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Devatikranta Tathagata, sang lampu dunia,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung agung yang wangi ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Anirgama Tathagata, sang pahlawan pengetahuan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung mata semesta ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Aparajita Tathagata, dipenuhi dengan semua kebajikan,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung yang terhiasi dengan sangat baik ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Muni Tathagata, yang menguntungkan dunia,
Yang tertinggi diantara yang menguntungkan.
Telah datang ke gedung perhiasan semesta ini,
Oleh karena itu, tempat ini adalah yang paling menguntungkan.

Sama seperti di dalam dunia ini, Raja surga Suyama, melalui kekuatan sang Buddha, memuji kebajikan dari sepuluh Buddha masa lampau, begitu juga dengan semua Raja surga Suyama di dunia-dunia dari sepuluh penjuru yang juga memuji kebajikan para Buddha. Kemudian sang Bhagavan Buddha memasuki gedung Ratnavyuha itu dan duduk dengan sikap bunga teratai diatas Simhasana bunga teratai permata. Gedung ini tiba-tiba menjadi sangat luas, sama seperti tempat tinggal dari semua rombongan para dewa. Hal yang sama ini juga terjadi di semua dunia di sepuluh penjuru.
#17618
Image
Guan Yin Pusa


Image
Amoghaphasavalokitesvara

Bab 20
Suyamastava parivartah


Kemudian pada saat itu, melalui kekuatan batin sang Buddha, ada datang berkumpul para Maha Bodhisattva dari setiap sepuluh penjuru arah, masing-masing didampingi oleh para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran debu di Buddhaksetra, datang dari dunia-dunia yang jauh, melampaui ksetra yang banyaknya seperti butiran debu di dalam seratus ribu Buddhaksetra. Nama-nama Mereka yaitu : Punyavana Bodhisattva Mahasattva, Prajnavana Bodhisattva Mahasattva, Vijayavana Bodhisattva Mahasattva, Abhayavana Bodhisattva Mahasattva, Manasvana Bodhisattva Mahasattva, Viryavana Bodhisattva Mahasattva, Balavana Bodhisattva Mahasattva, Caryavana Bodhisattva Mahasattva, Smrtivana Bodhisattva Mahasattva, Jnanavana Bodhisattva Mahasattva. Nama-nama dunia asal Mereka yaitu : Gambhiraprajna, Mudraprajna, Ratnaprajna, Paramaprajna, Dipaprajna, Vajraprajna, Ksemaprajna, Suryaprajna, Diptaprajna, dan Vimalaprajna. Mereka semua telah mengolah brahmacarya yang murni dihadapan para Buddha; Nama-nama para Buddha itu adalah : Nityacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Anuttaracaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Asthanacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Aksobhyacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Divyacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Vimoksacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Dharmabhodakacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Rupavijnanacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Paramacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Nilacaksu Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Ketika para Bodhisattva itu tiba di tempat sang Bhagavan, Mereka berlutut ke Kaki sang Bhagavan, dan lalu Masing-masing, di setiap penjuru asal Mereka, menciptakan Simhasana Permata, duduk dalam sikap bunga teratai.

Sama seperti para Bodhisattva itu berkumpul di surga Suyama di dalam dunia ini, begitu juga hal yang sama terjadi di semua dunia. Nama-nama dari para Bodhisattva-nya, dunia-nya, Buddha-nya semuanya sama seperti ini.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan memancarkan ratusan ribu miliar sinar cahaya yang berwarna indah dari ujung jari kaki-Nya, yang menerangi semua dunia di sepuluh penjuru, sehingga para Buddha dan perkumpulan majelis di dalam istana Suyama di semua dunia bisa terlihat.

Kemudian Punyavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Buddha memancarkan cahaya besar,
Menerangi sepuluh penjuru;
Semuanya melihat sang Bhagavan di surga dan di bumi,
Bebas, tanpa rintangan.

Sang Buddha duduk di dalam istana Suyama,
Namun meliputi semua dunia di dharmadhatu;
Peristiwa ini adalah yang paling luar biasa,
Dunia menjadi takjub ingin tahu.

Raja surga Suyama,
Telah memuji sepuluh Buddha dalam gatha;
Apa yang terlihat di perkumpulan majelis ini
Semuanya sama dimana-mana.

Kumpulan para Bodhisattva itu,
Semuanya memiliki nama yang sama seperti kami;
Di semua wilayah di sepuluh penjuru,
Mereka menjelaskan Dharma yang tiada tanding.

Dunia-dunia asal Mereka,
Juga bernama sama seperti kami punya;
Semua dari Mereka, dengan para Buddhanya,
Menyempurnakan Brahmacarya.

Nama dari semua Buddha itu,
Juga sama seperti yang kami punya;
Negaranya makmur dan bahagia,
Kekuatan batinnya tanpa ketergantungan.

Dimana-mana di sepuluh penjuru,
Mereka berpikir sang Buddha ada disana;
Ada yang melihat-Nya di dunia manusia,
Ada yang melihat-Nya di surga.

Sang Buddha tinggal berdiam dimana-mana,
Di dalam semua ksetra yang beranekaragam;
Kami sekarang melihat sang Buddha,
Di dalam pertemuan surga ini.

Dia membuat ikrar Bodhi
Yang menjangkau semua dunia di dharmadhatu;
Inilah sebabnya kekuatan sang Buddha
Meliputi semua, tidak terbayangkan.

Telah membuang nafsu duniawi,
Dia menyemurnakan kebajikan yang tanpa batas;
Oleh sebab itu, memperoleh kekuatan batin,
Dan terlihat oleh semua makhluk.

Dia menjelajahi semua dunia di dharmadhatu,
Sama seperti ruang angkasa, tanpa rintangan;
Dengan satu tubuh, banyak tubuh yang tidak terbatas,
Wujud-Nya tidak bisa dipahami.

Kebajikan Buddha adalah yang tanpa batas;
Adalah yang tidak bisa diukur;
Apakah tinggal berdiam atau pergi,
Dia meliputi dharmadhatu.

Kemudian Prajnavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sang Maha Lokanatha,
Sang Bhagavan yang bebas dari kotoran batin,
Adalah yang sulit dijumpai,
Bahkan dalam kalpa yang tidak terhitung.

Sang Buddha memancarkan cahaya besar
Bisa terlihat di semua dunia;
Berkhotbah secara luas kepada orang banyak,
Menguntungkan semua makhluk hidup.

Sang Buddha muncul di dunia,
Menghapus kegelapan dari ketidaktahuan;
Sang Lampu dunia ini,
Adalah yang langka dan sulit terlihat.

Setelah mengolah Dana, Sila, Ksanti,
Juga Virya, dan Dhyana,
Dan yang tertinggi Prajna-paramita,
Dengan itu, Dia menerangi dunia.

Sang Buddha tiada bandingannya;
Tiada satupun pembanding yang bisa ditemukan.
Tanpa memahami kebenaran yang sesungguhnya,
Tiada seorangpun yang bisa mengetahui-Nya.

Tubuh Buddha dan kekuatan batin-Nya,
Adalah yang bebas dan tidak terbayangkan;
Tidak pergi, tidak datang,
Dia mengucapkan kebenaran untuk membebaskan.

Jika ada yang bisa melihat dan mendengar,
Sang Guru yang murni atas manusia dan dewa,
Maka akan selamanya meninggalkan duka,
Dan membuang semua kesengsaraan.

Selama kalpa yang tidak terhitung dan tidak terukur,
Dia mengolah Bodhisattvacarya;
Yang tidak mengetahui makna ini,
Tidak bisa mencapai Buddhatva.

Jika orang bisa mengetahui makna ini,
Maka kebajikan akan jauh melampaui
Mereka yang membuat persembahan kepada para Buddha yang tidak terhitung
Selama kalpa yang tidak terbayangkan.

Bahkan jika orang berdana kepada sang Buddha,
Ksetra yang tidak terhitung, yang dipenuhi permata,
Jika orang itu tidak mengetahui makna ini,
Tidak akan pernah mencapai Bodhi.

Kemudian Vijayavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Sama seperti di musim panas,
Dengan langit yang terang dan tak berawan,
Matahari menyala dengan kobaran cahaya,
Memenuhi sepuluh penjuru,
Cahaya itu tanpa batas,
Tidak mungkin diukur,
Bahkan oleh mereka yang memiliki mata,
Apalagi orang yang buta;
Begitu juga para Buddha,
Kebajikan Mereka adalah yang tanpa batas;
Bahkan dalam kalpa yang tidak terbayangkan,
Tiada seorangpun yang bisa mengetahui selengkapnya.

Semua gejala kejadian tiada asal-mula,
Dan tiada seorangpun yang bisa menciptakannya;
Tiada tempat asal itu dilahirkan,
Itu tidak bisa dibeda-bedakan.

Semua gejala kejadian tiada asal-mula,
Oleh karena itu, itu tidak dilahirkan;
Karena tiada kelahiran,
Maka tiada kepunahan yang bisa ditemukan.

Semua gejala kejadian tiada lahir,
Dan juga tiada kepunahan;
Orang yang memahami dalam cara ini,
Akan melihat sang Buddha.

Karena gejala kejadian tiada lahir,
'Sifat alami diri (svabhava)' adalah yang tidak ada;
Orang yang menganalisa dan mengetahui ini,
Akan tiba di Dharma yang mendalam.

Karena gejala kejadian tiada svabhava,
Tiada seorangpun yang bisa memahaminya;
Ketika memahami gejala kejadian dalam cara ini,
Pada yang tertinggi, tiada apapun yang di mengerti.

Yang dikatakan memiliki kelahiran,
adalah untuk mewujudkan ksetra.
Jika bisa mengetahui sifat alami ksetra,
Pikiran tidak akan bingung;
Memeriksa sesuai dengan kebenaran,
Sifat alami dari dunia dan ksetra,
Jika orang mampu mengetahui ini,
Maka bisa menjelaskan semua gejala kejadian.

Kemudian Abhayavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Tubuh sang Buddha yang sangat besar,
Menjangkau batas dharmadhatu;
Tanpa meninggalkan tempat duduk-Nya,
Dia meliputi semua tempat.

Siapapun yang mendengar Dharma ini,
Yang menghormati dan meyakininya,
Akan selamanya terlepas dari semua penderitaan,
Dari keadaan duka.

Bahkan pergi ke banyak dunia,
Yang sangat banyak dan tidak terhitung,
Dengan satu pikiran ingin mendengar,
Tentang kekuatan sang Buddha,
Dan kualitas dari Buddha ini,
Anuttara Samyaksambodhi-Nya,
Bahkan ingin mendengar dalam sesaat,
Tiada seorangpun yang bisa.

Jika ada yang dimasa lampau,
Meyakini aspek dari Buddha ini,
Maka Dia telah menjadi Buddha,
Dan sang Lampu Dunia.

Jika ada yang akan mendengar,
Tentang kekuatan bebas dari sang Buddha,
Dan setelah mendengar lalu meyakininya,
Dia juga akan menjadi Buddha.

Jika ada yang di masa sekarang,
Mampu meyakini ajaran Buddha ini,
Dia juga akan menjadi Buddha,
Dan menjelaskan Dharma tanpa takut.

Ajaran ini sulit ditemukan,
Bahkan di dalam kalpa yang tidak terhitung;
Jika ada yang mendengarnya,
Ketahuilah bahwa itu adalah kekuatan ikrar masa lalu.

Jika ada yang bisa menerima dan mempertahankan,
Buddhadharma seperti ini,
Dan menjunjungnya, juga menyebarkannya,
Maka Dia akan menjadi Buddha.

Apalagi bagi Dia yang berjuang dengan rajin,
Dengan pikiran yang kukuh, dan tidak menyerah;
Anda harus tahu, bahwa orang seperti itu,
Pasti akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi.

Kemudian Manasvana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Jika orang bisa mendengar,
Ajaran pembebasan yang langka ini,
Dan bisa menghasilkan pikiran gembira,
Dia akan segera menghapus jaring keraguan.

Orang yang mengetahui dan melihat semua,
Mengucapkan kata-kata ini dalam dirinya :
'Tiada apapun yang sang Buddha tidak ketahui',
Oleh sebab itu, akan menjadi yang tidak terbayangkan.

Tidak pernah dari yang tidak berkebijaksanaan,
Kebijaksanaan dilahirkan;
Para duniawi selalu di dalam kegelapan,
Oleh sebab itu, tiada yang bisa menghasilkannya.

Sama seperti bentuk dan tiada bentuk
Adalah yang dua dan bukan satu;
Begitu juga pengetahuan dan ketidaktahuan,
Yang pada dasarnya adalah berbeda.

Sama seperti tanda dan tiada tanda,
Lahir-mati dan nirvana,
Adalah yang berbeda dan tidak sama;
Begitu juga dengan pengetahuan dan ketidaktahuan.

Ketika dunia pertama kali terjadi,
Tiada tanda peluruhan;
Begitu juga dengan pengetahuan dan ketidaktahuan,
Ciri-cirinya tidak serentak.

Sama seperti keadaan pertama dari pikiran Bodhisattva,
Tidak berdampingan dengan keadaan akhir dari pikiran;
Begitu juga dengan pengetahuan dan ketidaktahuan,
Dua pikiran ini tidak berdampingan.

Sama seperti tubuh dan kesadaran,
Adalah yang tersendiri dan tidak bergabung;
Begitu juga dengan pengetahuan dan ketidaktahuan,
Pada yang tertinggi tidak menyatu.

Sama seperti obat mujarab,
Bisa melenyapkan semua racun;
Begitu juga dengan pengetahuan,
Menghapuskan semua ketidaktahuan.

Sang Buddha adalah yang tidak terkalahkan,
Dan juga yang tiada tanding;
Dia sama sekali tiada bandingannya,
Oleh sebab itu, sangat sulit dijumpai.

Kemudian Viryavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Semua gejala kejadian tiada perbedaan,
Tiada seorangpun yang mengetahuinya;
Hanya diantara para Buddha itu diketahui,
Karena pengetahuan Buddha adalah yang tertinggi.

Sama seperti emas dan warna emas
Adalah yang tidak berbeda intisarinya;
Begitu juga dengan gejala kejadian dan yang bukan gejala kejadian,
Adalah yang tidak berbeda intisarinya;

Makhluk hidup dan yang bukan makhluk hidup,
Dua-duanya adalah yang tanpa kenyataan;
Dalam cara ini, sifat alami dari segala sesuatu,
Hakekatnya adalah yang tiada keberadaan.

Sama seperti masa depan,
Tidak memiliki tanda masa lampau;
Begitu juga dengan semua gejala kejadian,
Tidak memiliki tanda apapun.

Sama seperti tanda kelahiran dan kematian,
Semua itu adalah yang tidak nyata;
Begitu juga dengan semua gejala kejadian,
Kosong sifat alaminya.

Nirvana tidak bisa dipahami,
Namun ketika diucapkan, ada dua jenis;
Begitu juga dengan semua gejala kejadian,
Ketika dibeda-bedakan, itu berbeda.

Sama seperti berdasarkan pada sesuatu yang dihitung,
Ada cara menghitung,
Sifat alaminya adalah yang tiada;
Begitulah gejala kejadian secara sempurna diketahui.

Sama seperti cara menghitung,
Menambah satu hingga jumlah yang tanpa batas;
Angka itu tidak memiliki sifat alami yang berwujud,
Itu dibeda-bedakan disebabkan oleh daya pikir.

Sama seperti dunia memiliki akhir,
Ketika terbakar di akhir kalpa,
Namun ruang angkasa tidak hancur;
Begitu juga dengan pengetahuan Buddha.

Para makhluk hidup di lokadhatu ini,
Semuanya melekati ciri-ciri ruang angkasa;
Begitu juga terhadap para Buddha,
Para duniawi membayangkan-Nya sesuka hati.

Kemudian Balavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Semua alam makhluk hidup,
Ada di masa lampau, sekarang, masa depan;
Para makhluk hidup dari masa lampau, sekarang, masa depan,
Semuanya tinggal berdiam di dalam panca skandha.

Panca skandha itu berdasarkan pada perbuatan,
Perbuatan berdasarkan pada pikiran;
Gejala kejadian pikiran adalah sama seperti khayalan,
Dan begitu juga dengan dunia.

Dunia tidak tercipta dengan sendirinya,
Juga tidak diciptakan oleh orang lain;
Namun itu memiliki pembentukan,
dan juga memiliki peluruhan.

Walaupun dunia memiliki pembentukan,
Dan peluruhan,
Orang yang memahami dunia,
Tidak akan mengucapkan dalam cara ini.

Apa itu dunia?
Apa itu yang bukan dunia?
Dunia dan yang bukan dunia,
Hanyalah pembedaan tentang nama.

Tiga masa waktu dan panca skandha,
dinamakan dunia,
Kepunahannya adalah "yang bukan dunia";
Begitulah itu hanyalah penamaan sementara.

Bagaimana skandha dijelaskan?
Apa sifat alami yang dimilikinya?
Sifat alami skandha adalah yang tidak bisa dihancurkan,
Oleh karena itu dinamakan yang tidak lahir.

Menganalisa skandha ini,
Sifat alaminya pada dasarnya kosong dan tiada;
Karena itu adalah kosong, itu tidak bisa dihancurkan;
Inilah makna dari tiada lahir.

Karena para makhluk hidup adalah begitu,
Demikian juga para Buddha;
Buddha dan Buddhadharma,
Yang pada dasarnya tiada keberadaan.

Jika ada yang mengetahui hal ini,
Dengan benar, tanpa khayalan,
Dia Yang Mengetahui dan Melihat Semua,
Akan selalu dihadapan orang itu.

Kemudian Caryavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Seperti di dalam semua dunia,
Semua unsur yang padat,
Tiada keberadaan yang berdiri sendiri,
Namun ditemukan dimana-mana,
Begitu juga dengan tubuh Buddha,
Meliputi semua dunia,
Bentuk-rupa-Nya yang beranekaragam,
Tanpa tempat tinggal dan asal-mula.

Hanya dikarenakan oleh kegiatan,
Kita mengucapkan nama "makhluk hidup",
Dan tiada 'tindakan (karma)' yang ditemukan,
Terpisah dari makhluk hidup.

Sifat alami karma adalah yang pada dasarnya kosong dan tiada,
Namun itulah landasan para makhluk,
Dimana-mana menghasilkan semua bentuk-rupa,
Dan namun tidak datang dari manapun.

Inilah kekuatan yang bekerja dari bentuk-rupa,
Tidak mungkin untuk dipahami;
Jika orang memahami dasar itu,
Didalamnya tiada objek yang terlihat.

Tubuh Buddha adalah yang juga seperti ini;
Itu tidak bisa dipahami;
Bentuk-rupa-Nya yang beranekaragam,
Muncul di semua ksetra di dharmadhatu.

Tubuh bukanlah Buddha,
Juga bukan Buddha adalah tubuh;
Hanya kenyataan adalah tubuh,
Yang meliputi segala sesuatu.

Jika orang bisa melihat tubuh Buddha,
Yang semurni sifat alami kenyataan,
Orang seperti itu tidak memiliki ragu,
Atau kebingungan tentang Buddha.

Jika orang melihat semua gejala kejadian,
Seperti dalam intisarinya sama dengan Nirvana,
Ini adalah melihat sang Buddha,
Yang pada yang tertinggi tanpa tempat tinggal.

Jika orang mengolah 'kesadaran yang benar (samyak-smrti)',
Dan dengan jelas melihat 'Kebangkitan yang sesungguhnya (Samyaksambodhi)',
Yang tiada tanda, tanpa pembedaan,
Ini adalah pewarisan kebenaran.

Kemudian Smrtivana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Itu adalah sama seperti pelukis,
Menyebarkan beranekaragam warna;
Hayalan menangkap bentuk-rupa yang berbeda-beda,
Namun unsur itu tidak memiliki perbedaan.

Di salam unsur tiada bentuk-rupa,
Dan di dalam bentuk-rupa tiada unsur;
Dan namun terpisah dari unsur,
Tiada bentuk-rupa yang bisa ditemukan.

Di dalam pikiran tiada gambaran,
Di dalam gambaran tiada pikiran;
Namun terpisah dari pikiran,
Tiada gambaran yang ditemukan.

Pikiran itu tidak pernah berhenti,
Mewujudkan semua bentuk-rupa,
Tidak terhitung, tidak terbayangkan banyaknya,
Tidak mengenal satu sama lain.

Sama seperti pelukis,
Tidak bisa mengetahui pikirannya sendiri,
Namun melukis disebabkan oleh pikiran,
Begitu juga dengan sifat alami semua gejala kejadian.

Pikiran sama seperti seniman,
Mampu melukis dunia;
Panca skandha seluruhnya terlahir karena itu;
Tiada apapun yang tidak diciptakannya.

Sama seperti pikiran, begitu juga Buddha;
Sama seperti Buddha, begitu juga makhluk hidup;
Ketahuilah bahwa Buddha dan pikiran,
Adalah pada intisarinya yang tidak habis-habisnya.

Jika orang mengetahui perbuatan dari pikiran
Yang menciptakan semua dunia;
Orang itu akan melihat sang Buddha,
Dan memahami sifat alami Buddha yang sesungguhnya.

Pikiran tidak tinggal berdiam di dalam tubuh,
Juga tubuh tidak tinggal berdiam di dalam pikiran;
Namun itu mampu melaksanakan perbuatan Buddha,
Secara bebas, tanpa pendahuluan.

Jika orang ingin sungguh mengetahui,
Semua Buddha dari masa lampau-sekarang-masa depan,
Orang itu harus merenungkan sifat alami dharmadhatu,
Yang seluruhnya adalah dari pembentukan pikiran.

Kemudian Jnanavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati sepuluh penjuru, mengucapkan syair-gatha ini :

Yang dipahami tidak bisa dipahami,
Yang terlihat tidak bisa dilihat,
Yang terdengar tidak bisa didengar;
Satu pikiran adalah yang tidak terbayangkan.

Yang terbatas dan yang tidak terbatas,
Dua-duanya tidak bisa dipahami;
Jika orang mau memahaminya,
Pada yang tertinggi, dia tidak memahami apapun.

Mengatakan apa yang seharusnya tidak dikatakan,
Adalah penipuan diri;
Ketika tugasnya sendiri belum selesai,
Orang tidak bisa menggembirakan yang lain.

Orang yang ingin memuji sang Buddha,
Serta Tubuh-Nya yang tanpa batas, wujud-Nya yang menakjubkan,
Tidak bisa mengungkapkannya sepenuhnya,
Bahkan di dalam kalpa yang tidak terhitung.

Sama seperti permata Cintamani,
Bisa mewujudkan semua warna,
Ia tidak berwarna namun menampilkan warna,
Begitu juga dengan semua Buddha.

Juga, sama seperti ruang angkasa yang cerah,
Tanpa bentuk-rupa dan tidak bisa dilihat,
Dan meskipun ia memperlihatkan semua bentuk-rupa,
Tiada seorangpun yang bisa melihat ruang angkasa,
Begitu juga dengan para Buddha;
Mereka mewujudkan bentuk-rupa tanpa batas dimana-mana,
Namun tidak didalam wilayah kegiatan pikiran,
Sehingga orang tidak bisa melihat Mereka.

Walaupun suara Buddha terdengar,
Suara itu bukanlah sang buddha;
Dan namun tidak terpisah dari suara,
Sang Buddha bisa diketahui.

Buddha tidak datang maupun tidak pergi;
Dia terpisah dari semua pembedaan;
Maka bagaimana bisa orang
Mengatakan bahwa bisa melihat-Nya?

Buddha tidak memiliki Dharma,
Bagaimana bisa Buddha memiliki penjelasan?
Itu adalah sesuai dengan pikiran orang,
Bahwa orang berpikir sang Buddha menjelaskan Dharma.
#17619
Image
Guan Yin Pusa


Image
Manjughosa - Lokesvararaja - Guhyakadipati

Bab 21
Dasacarya parivartah



Kemudian pada saat itu, Punyavana Bodhisattva Mahasattva, di adhisthana oleh sang Buddha, memasuki Samadhi yang bernama Keterampilan Meditasi Dari Bodhisattva (Bodhisattvakosalyadhyana nama samadhim)'; Ketika Dia telah memasuki Samadhi ini, ada muncul di hadapannya para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu dari sepuluh ribu Buddhaksetra dari setiap sepuluh penjuru, melewati sistem dunia yang banyaknya seperti butiran debu dari sepuluh ribu Buddhaksetra. Semua Buddha itu memiliki nama yang sama, yaitu Punyavana. Mereka dimana-mana muncul dihadapannya, berkata kepada Punyavana Bodhisattva Mahasattva : "Sadhu, Sadhu, Kulaputra, tentu sangat baik bahwa Anda bisa memasuki Bodhisattvakosalyadhyana Samadhi! Di setiap sepuluh penjuru, Kulaputra, para Buddha yang banyaknya seperti butiran debu dari sepuluh ribu Buddhaksetra bersama-sama meng-adhisthana Anda dengan kekuatan batin Mereka, dan ini juga oleh kekuatan pranidhana masa lampau dari Vairocana Tathagata, juga oleh kekuatan akar kebajikan Bodhisattva, bahwa Anda memasuki Samadhi ini, membisakan Anda mebabarkan Dharma, demi meningkatkan pengetahuan Buddha, memasuki dharmadhatu secara mendalam, memahami dengan baik alam-alam para makhluk hidup, tanpa rintangan memasuki apapun, tanpa halangan dalam semua kegiatan, mencapai upaya-kausalya yang tiada bandingan, memasuki intisari Sarvajnajnana, menyadari semua gejala kejadian, mengetahui semua indera, mampu mempertahankan dan menjelaskan semua Dharma, yaitu, menghasilkan 'sepuluh jenis praktek dari Bodhisattva (Bodhisattvadasacarya)'. Anda, Kulaputra, harus menerima kekuatan batin yang menakjubkan dari para Buddha untuk membabarkan Dharma ini!"

Kemudian pada saat itu, para Buddha memberikan kepada Punyavana Bodhisattva pengetahuan yang tidak terhalang, pengetahuan yang tidak melekat, pengetahuan tidak terputus, pengetahuan yang tidak terperdaya, pengetahuan yang tidak membedakan, pengetahuan yang tanpa kesalahan, pengetahuan yang tidak terbatas, pengetahuan yang tiada tanding, pengetahuan yang tiada lalai, dan pengetahuan yang tidak bisa diambil. Mengapa begitu? Karena melalui kekuatan Samadhi ini, Dharma adalah seperti itu.

Kemudian pada saat itu, semua Buddha mengulurkan tangan kanan dan mengusap kepala Punyavana Bodhisattva; Kemudian Punyavana Bodhisattva bangkit dari Samadhi dan mengumumkan kepada para Bodhisattva, dengan berkata : "Kulaputra, praktek dari Bodhisattva adalah yang tidak terbayangkan, luasnya seperti dharmadhatu dan ruang angkasa. Mengapa begitu? Karena, Kulaputra, Bodhisattva mengolah praktek yang sama seperti yang dari para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Sekarang, Saya akan membabarkan praktek dari Bodhisattva. Ada, Kulaputra, sepuluh jenis praktek dari Bodhisattva yang para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan telah jelaskan, sedang jelaskan, dan akan jelaskan. Apakah sepuluh itu? Yaitu :

Praktek dari memberikan kegembiraan.
Praktek dari yang bermanfaat.
Praktek dari tiada perselisihan.
Praktek dari kegigihan.
Praktek dari tiada kebingungan.
Praktek dari perwujudan yang baik.
Praktek dari tiada kemelekatan.
Praktek dari yang sulit dicapai.
Praktek dari ajaran yang baik.
Praktek dari Kebenaran.

"Inilah yang dinamakan sepuluh praktek dari Bodhisattva yang dijelaskan oleh para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan masa depan."

"Kulaputra, apakah praktek dari memberikan kegembiraan dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva adalah Pemberi yang murah hati, memberikan apapun yang dimilikinya dengan pikiran yang tenang, tanpa penyesalan, tanpa mengharapkan hadiah, tanpa mencari kehormatan, tanpa mendambakan keuntungan materi, namun hanya untuk menolong dan melindungi semua makhluk hidup, untuk memasukkan semua makhluk hidup kedalam pengasuhannya, untuk menguntungkan semua makhluk hidup, untuk meniru praktek yang asli dari semua Buddha, untuk mengingat kembali praktek yang asli dari semua Buddha, bergembira di dalam praktek yang asli dari semua Buddha, memurnikan praktek yang asli dari semua Buddha, lebih lanjut mengembangkan praktek yang asli dari semua Buddha, mewujudkan praktek yang asli dari semua Buddha, dan menjelaskan praktek yang asli dari semua Buddha, untuk menyebabkan semua makhluk hidup terbebas dari kesakitan dan penderitaan dan mencapai ketentraman dan kebahagiaan."

"Ketika Bodhisattva mengolah praktek ini, Dia menyebabkan semua makhluk hidup bergembira dan senang. Di semua tempat yang ada kemiskinan dan kekurangan, Dia pergi kesana melalui kekuatan virya untuk terlahir mulia dan kaya, sehingga bahkan jika ada satu saat para makhluk yang tidak terhitung datang kepada sang Bodhisattva dan berkata, 'Maitri, kami miskin dan sedang membutuhkan, tanpa makanan, lapar dan lemah, lusuh dan menyedihkan, sedang di pinggir jurang kematian; Tolong kasihanilah kami dan berikan daging anda untuk makanan agar kami bisa tetap hidup,' sang Bodhisattva akan segera memberikannya kepada mereka, untuk menggembirakan dan memuaskan mereka. Bahkan jika ratusan ribu para makhluk hidup yang tidak terhitung datang memohon dalam cara ini, sang Bodhisattva tidak akan mundur, namun akan meningkat bahkan lebih besar kebaikan dan belas-kasihnya. Tentu saja, karena semua makhluk hidup datang mencarinya, sang Bodhisattva, melihat mereka, akan menjadi lebih gembira, dan berpikir, 'Saya telah memperoleh anugerah yang baik; para makhluk hidup ini adalah lapangan kebajikan Saya, mereka adalah teman baik dan penderma Saya, tanpa Saya meminta, mereka datang untuk menyebabkan Saya memasuki Buddhadharma. Sekarang Saya harus mengolah pembelajaran dalam cara ini, tidak menyangkal keinginan para makhluk hidup.' Dia juga akan membentuk pikiran ini: 'Semoga semua kebajikan yang telah Saya lakukan, sedang lakukan, dan akan lakukan, menyebabkan Saya di masa depan, di dalam semua dunia, di antara semua makhluk hidup, memperoleh tubuh yang sangat besar, sehingga bisa memuaskan semua makhluk yang kelaparan dengan daging dari tubuh ini, dan semoga Saya tidak mati selama bahkan jika hanya tinggal satu makhluk kecil yang masih belum kenyang, dan semoga daging yang Saya potong tidak bisa habis. Melalui kebajikan ini, semoga Saya mencapai Anuttara Samyaksambodhi, dan mengalami Maha Parinirvana; Dan semoga mereka yang memakan daging Saya juga mencapai Anuttara Samyaksambodhi, mencapai pengetahuan yang tidak membeda-bedakan, menunaikan semua Buddhadharma, secara luas melaksanakan pekerjaan Buddha hingga memasuki Nirvana tanpa sisa. Jika ada hati dari bahkan hanya satu makhluk hidup yang tidak terpenuhi, Saya tidak akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi.'

"Begitulah Bodhisattva menguntungkan para makhluk, namun tanpa gagasan pikiran tentang diri, atau gagasan pikiran tentang makhluk hidup, atau gagasan pikiran tentang keberadaan, atau gagasan pikiran tentang kehidupan, tanpa beranekaragam gagasan pikiran, tanpa gagasan pikiran tentang 'kepribadian diri (pudgala)', tanpa gagasan pikiran tentang orang, tanpa gagasan pikiran tentang manusia, tanpa gagasan pikiran tentang pelaku atau penerima, Dia hanya mengamati ketidakterbatasan dari dharmadhatu dan alam makhluk hidup, kekosongannya, ketiadaan keberadaan, ketiadaan tanda, ketiadaan wujud, ketidakpastian, tiada ketergantungan, dan yang tidak diciptakan."

"Ketika melaksanakan perenungan ini, Dia tidak melihat dirinya sendiri, tidak melihat apapun yang diberikan, tidak melihat penerima, tidak melihat lapangan kebajikan, tidak melihat perbuatan, tidak melihat hadiah apapun, tidak melihat hasil apapun, tidak melihat hasil yang besar, tidak melihat hasil yang kecil."

"Kemudian sang Bodhisattva mengamati semua tubuh yang dimiliki oleh para makhluk hidup di masa lampau, masa depan, dan sekarang yang pada akhirnya binasa; Kemudian Dia membentuk pikiran ini : 'Sungguh luar biasa itu, alangkah bodoh dan gelap batin para makhluk hidup; Dalam kelahiran dan kematian mereka menerima tubuh yang tidak terhitung banyaknya, yang bisa binasa dan tidak kekal, dengan cepat kembali ke kerusakan dan kematian; Setelah mati, sekarang mati, dan masih juga akan mati, mereka masih tidak bisa menggunakan tubuh yang bisa hancur itu untuk mencari tubuh yang tidak bisa hancur. Saya harus mempelajari semua yang dipelajari para Buddha, untuk menyadari Sarvajnajnana, mengetahui semua kebenaran, dan menjelaskan kepada para makhluk hidup tentang sifat alami yang tidak bisa hancur dari kenyataan, yang adalah sama di masa lampau, sekarang, dan masa depan, dan yang sesuai dengan keheningan-tenang yang tertinggi, untuk menyebabkan mereka secara abadi mencapai kedamaian dan kebahagiaan.'"

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang pertama dari memberikan kegembiraan."

"Kulaputra, apakah praktek dari yang bermanfaat dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva mempertahankan pengendalian diri yang murni, dan pikirannya tidak memiliki kemelekatan pada warna atau bentuk-rupa, suara, wewangian, selera, maupun perasaan. Juga, Dia mengkhotbahkan hal ini kepada para makhluk hidup. Dia tidak mencari kekuatan, status sosial, kekayaan, penampilan, atau kekuasaan. Tiada kemelekatan pada apapun, namun hanya dengan kuat menjunjung tinggi perilaku yang murni, dengan berpikir, 'Saat Saya mempertahankan Sila yang murni, pasti akan menyingkirkan semua belenggu, siksaan dari idaman, penindasan, fitnah, gangguan, dan akan mencapai kebenaran yang tidak membeda-bedakan yang dipuji oleh para Buddha.'"

"Ketika Bodhisattva mempertahankan Sila yang murni dalam cara ini, bahkan jika para mara datang menghampirinya dalam satu hari, masing-masing membawa para dewi yang tidak terhitung banyaknya, semuanya ahli dalam seni kenikmatan, cantik dan memikat, dengan beranekaragam hiburan demi mengacaukan perhatian Bodhisattva pada sang Jalan, sang Bodhisattva berpikir, 'nafsu keinginan ini adalah penghalang menuju sang Jalan dan menghambat Anuttara Samyaksambodhi.' Oleh karena itu, Dia tidak membayangkan bahkan satu pikiran tentang nafsu berahi; Pikirannya semurni Buddha. Dengan pengecualian dalam hal upaya-kausalya untuk mengajar dan mengubah para makhluk hidup, namun Dia masih tidak melepaskan tekad untuk Sarvajnajnana."

"Bodhisattva tidak menyakiti satupun makhluk hidup dalam pengejaran keinginannya sendiri; Dia lebih memilih mati daripada melakukan apapun yang menyakiti satu makhluk hidup pun."

"Setelah Bodhisattva telah melihat sang Buddha, Dia tidak pernah menimbulkan satupun pikiran tentang nafsu keinginan, apalagi berbuat atas nafsu keinginan."

"Pada saat ini, Bodhisattva berpikir, 'semua makhluk hidup, sepanjang malam, berpikir tentang nafsu keinginan, mengejar nafsu keinginan, dan melekati nafsu keinginan; Pikiran mereka tertuju pada cara mereka sendiri dan melekat pada nafsu keinginan, terus berputar di dalam itu, tidak memiliki kebebasan apapun. Saya harus menyebabkan para Mara dan dewi ini, dan semua makhluk hidup, untuk tinggal berdiam pada Sila yang tiada tanding; Sekali mereka tinggal berdiam di dalam Sila yang murni, pikiran mereka tidak akan pernah berpaling dari arah menuju Sarvajnajnana, dan pada akhirnya akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi, dan memasuki Parinirvana. Mengapa begitu? Ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan. Harus mengikuti para Buddha dalam mengolah pembelajaran ini, dan setelah mengerjakan itu, terpisah dari semua karma buruk dan menyingkirkan kebodohan pada gagasan tentang diri, memasuki semua Buddhadharma melalui pengetahuan, dan menjelaskannya kepada para makhluk hidup, untuk menyingkirkan angan-angan khayalan mereka, sementara itu mengetahui bahwa tiada angan-angan khayalan yang terpisah dari makhluk hidup dan tiada makhluk hidup yang terpisah dari angan-angan khayalan, tiada makhluk hidup di dalam angan-angan khayalan dan tiada angan-angan khayalan di dalam makhluk hidup, dan juga bukan angan-angan khayalan adalah makhluk hidup atau makhluk hidup adalah angan-angan khayalan; Angan-angan khayalan bukanlah sesuatu yang di dalam atau diluar. Mengetahui semua gejala kejadian adalah yang tidak nyata, tiba-tiba timbul dan tiba-tiba lenyap, tiada kepadatan atau ketetapan, sama seperti mimpi, seperti pentulan, seperti khayalan, seperti ilusi, yang mengelabui para orang bodoh. Mereka yang mengerti dalam cara ini akan mampu memahami semua karma, menguasai kelahiran dan kematian juga Nirvana, menyadari Bodhi, menyelamatkan diri mereka sendiri dan menyebabkan yang lainnya memperoleh keselamatan, membebaskan diri mereka sendiri dan membuat yang lainnya memperoleh pembebasan, menaklukkan diri mereka sendiri dan menyebabkan yang lainnya ditaklukkan, menjadi hening-tenang dan membuat yang lainnya menjadi hening-tenang, mengamankan diri mereka sendiri dan membuat yang lainnya aman, terbebas dari kekotoran batin dan menyebabkan yang lainnya terbebas dari kekotoran batin, memurnikan diri mereka sendiri dan menyebabkan yang lainnya menjadi murni, terbebas dari nafsu dan menyebabkan yang lainnya terbebas dari nafsu, berbahagia dan menyebabkan yang lainnya berbahagia.'"

"Bodhisattva juga membentuk pikiran ini: 'Saya harus mengikuti semua Tathagata, terpisah dari semua perbuatan duniawi, menyempurnakan semua kualitas keBuddhaan, tinggal berdiam di dalam ketenangan tertinggi, tidak membeda-bedakan terhadap semua makhluk, dengan jelas memahami alam tujuan, menyingkirkan semua kesalahan, memotong putus semua gagasan pikiran, berpisah dari semua kemelekatan, dan dengan terampil mengusahakan pembebasan, pikiran selalu tinggal berdiam dalam kebijaksanaan yang paling mendalam, yang tanpa bentuk-rupa, yang tidak habis-habisnya, yang tanpa batas, yang tidak terukur, yang abadi, yang bebas, yang tidak terbayangkan, yang tiada tanding.'"

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang kedua dari yang bermanfaat."

"Kulaputra, apakah praktek dari tiada perselisihan dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva selalu mempraktekkan 'kesabaran (ksanti)', rendah hati dan hormat, tidak menyakiti diri sendiri, orang lain, atau keduanya; tidak mencuri atau menyebabkan yang lainnya mencuri, tidak melekat pada diri sendiri, orang lain, atau keduanya; tidak mencari ketenaran atau kekayaan. Dia hanya berpikir, 'Saya harus selalu menjelaskan Dharma kepada para makhluk hidup, menyebabkan mereka berpisah dari semua kejahatan, memotong putus ketamakan, kemarahan, kebodohan, kesombongan, kemunafikan, kekikiran, kecemburuan, perbudakan, dan ketidakjujuran, dan menyebabkan mereka selalu tinggal berdiam dengan damai di dalam kesabaran dan kerukunan.'"

"Ketika sang Bodhisattva mencapai kesabaran ini, bahkan jika para makhluk yang tidak terhitung jumlahnya datang kepadanya dan semua makhluk itu menghasilkan perkataan yang tidak terhitung banyaknya - perkataan yang tidak menyenangkan, perkataan yang tidak baik, perkataan yang memuakkan, perkataan yang tidak diinginkan, perkataan yang bukan dari mereka yang baik atau berkebajikan, perkataan yang bukan dari mereka yang berkebijaksanaan, perkataan yang tidak sesuai dengan akal sehat, perkataan yang tidak di dekati oleh para orang bijak, perkataan yang menjijikkan, dan perkataan yang tidak tertahankan - bahkan jika mereka mencaci maki sang Bodhisattva dengan perkataan seperti itu, dan lalu jika mereka semua dengan tangan yang tidak terhitung banyaknya menggenggam gada menyerang dan melukai sang Bodhisattva, tanpa belas kasihan, selama kalpa yang tidak terhitung, sang Bodhisattva menjumpai siksaan seperti itu, rambutnya berdiri, hidupnya akan segera berakhir, Dia membentuk pikiran ini: 'Jika pikiran Saya terganggu oleh penderitaan ini, maka Saya tidak menguasai diri Saya sendiri, tidak mengendalikan diri, tidak memahami diri, tidak mengolah, tidak stabil, tidak damai, ceroboh, menimbulkan kemelekatan - bagaimana Saya bisa menyebabkan yang lainnya mencapai kemurnian pikiran?'"

"Kemudian sang Bodhisattva juga berpikir, 'Sejak waktu yang tanpa awal, Saya telah tinggal berdiam dalam kelahiran dan kematian dan mengalami kesakitan dan gangguan', dengan merenungkan begitu, Dia memperbanyak usahanya, memurnikan pikirannya, dan mencapai kegembiraan. dengan terampil menyesuaikan dan berkonsentrasi, dan mampu tinggal berdiam dalam Buddhadharma, Dia juga membuat para makhluk hidup mencapai kondisi yang sama. Selanjutnya Dia merenungkan, 'tubuh ini kosong dan tiada, tanpa diri atau kepemilikan, tanpa kenyataan, kosong oleh sifat alaminya, tiada duanya. Sakit atau senang adalah yang tidak ada, karena semua gejala kejadian adalah yang kosong. Saya harus menjelaskan Dharma ini kepada para makhluk, untuk membuat semua makhluk hidup menyingkirkan pandangan mereka. Oleh karena itu, walau mengalami penderitaan hari ini, Saya harus menerimanya dengan kesabaran, berbelas-kasih kepada para makhluk, menguntungkan para makhluk, menenangkan para makhluk, menyayangi para makhluk, menjaga para makhluk dan tidak meninggalkan mereka, agar Saya mencapai Bodhi dan juga membuat yang lainnya mencapai Bodhi, sehingga pikiran Saya tidak akan pernah mundur, dan agar mencapai kemajuan dalam jalan menuju Buddhatva.'"

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang ketiga dari tiada perselisihan."

"Kulaputra, apakah praktek dari kegigihan dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva mempraktekkan berbagai macam 'semangat (virya)', semangat yang terutama, semangat yang besar, semangat yang unggul, semangat yang luar biasa, semangat yang tertinggi, semangat yang agung, semangat yang mulia, semangat yang tiada tanding, semangat yang tiada bandingan, semangat yang luas. Dia secara alami terbebas dari tiga racun keserakahan-kebencian-khayalan; secara alami terbebas dari kebanggaan dan kesombongan, secara alami tidak munafik, secara alami tidak kikir atau cemburu, secara alami tidak berdusta, secara alami sangat teliti. Pada yang tertinggi, Dia tidak membuat usaha apapun yang akan menyakiti satupun makhluk hidup. Dia hanya membuat usaha untuk memotong putus semua penderitaan, mencabut habis akar dari semua kebingungan, menyingkirkan semua kekuatan dari kebiasaan, mengetahui semua alam makhluk hidup, mengetahui dimana semua makhluk mati dan dilahirkan, mengetahui penderitaan dari semua makhluk hidup, mengetahui kecenderungan dari semua makhluk hidup, mengetahui pandangan dari semua makhluk hidup, mengetahui keunggulan dan kelemahan indera dari semua makhluk hidup, mengetahui kegiatan pikiran dari semua makhluk hidup, mengetahui seluruh dharmadhatu, mengetahui sifat alami dasar dari semua kualitas Buddha, mengetahui kesamaan sifat alami dari semua kualitas Buddha, mengetahui kesamaan sifat alami dari masa lampau-sekarang-masa depan, mencapai cahaya pengetahuan dari semua Buddhadharma, merasakan pengetahuan dari semua Buddhahdarma, mengetahui ketidakterbatasan dari semua Buddhadharma, mencapai pengetahuan mutlak yang menjangkau jauh dari upaya-kausalya dari semua Buddhahdarma, dan mencapai pengetahuan yang menganalisa dan menjelaskan ucapan dan makna dari semua Buddhadharma."

"Ketika sang Bodhisattva telah menyempurnakan praktek dari semangat ini, bahkan jika ada orang yang akan berkata kepadanya, 'Bisakah Anda melewati kalpa yang tidak terhitung menanggung kesakitan dari neraka avici demi semua makhluk di dalam dunia yang tidak terhitung, menyebabkan semua makhluk itu berjumpa dengan para Buddha yang tidak terhitung di dunia, dan melalui melihat para Buddha itu mencapai kebahagiaan mutlak dan pada akhirnya memasuki Parinirvana, setelah itu baru diri Anda sendiri mencapai Anuttara Samyaksambodhi?' Dia akan menjawab 'Saya bisa.' Lagi, jika ada orang yang akan berkata kepadanya, 'Ada lautan yang tidak terhitung yang Anda harus habiskan tetes demi tetes dengan sehelai ujung rambut; Ada dunia yang tidak terhitung yang Anda harus pecahkan menjadi butiran debu; dengan menghitung seluruh tetes air laut itu dan butiran debu dunia itu, jumlah banyaknya itu adalah jumlah kalpa yang Anda harus lalui dalam menanggung penderitaan yang tidak henti-hentinya demi para makhluk hidup.' Sang Bodhisattva tidak akan menyesal atau membenci saat mendengar kata-kata seperti itu, Dia hanya akan menjadi lebih bergembira, merasakan kebahagiaan yang mendalam dan beruntung bahwa telah mencapai keuntungan yang besar sehingga mampu melalui kekuatannya sendiri membuat para makhluk hidup terbebaskan selamanya dari penderitaan. Bodhisattva melalui menerapkan cara ini, membuat semua makhluk di semua dunia pada akhirnya mencapai Nirvana."

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang keempat dari kegigihan."

"Kulaputra, apakah praktek dari tiada kebingungan dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva menyempurnakan 'pemusatan perhatian yang benar (samyak-smrti)', pikirannya terbebas dari kebingungan dan gangguan, kukuh dan tidak bisa diganggu, sepenuhnya murni, luasnya tidak terukur, tanpa satupun khalayan atau kebingungan. Melalui kebajikan dari pemusatan perhatian yang benar ini, Dia mengerti dengan baik semua ucapan duniawi dan mampu mengingat kata penjelasan tentang Dharma yang melampaui dunia. Yaitu, mampu mengingat penjelasan tentang makna dari sifat alami dasar dari perasaan (vedana), tanggapan penglihatan (samjna), pembentukan (samskara), kesadaran (vijnana), tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Di dunia, Dia meninggal di satu tempat dan terlahir di tempat lain tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia memasuki rahim dan meninggalkan rahim tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia membangkitkan Bodhicitta tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia mengikuti Guru tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia bersungguh-sungguh mempraktekkan Buddhadharma tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia melihat perbuatan mara tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia berpisah dari kegiatan mara tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Dia mengolah Bodhisattvacarya selama kalpa yang tidak terhitung tanpa ada kebingungan dalam pikirannya. Sang Bodhisattva setelah mengembangkan samyak-smrti yang tidak terukur ini, menghabiskan kalpa yang tidak terhitung mendengar bimbingan Dharma dari Buddha, Dharma yang mendalam tentang kekosongan, Dharma yang luas tentang kegiatan di dalam dunia yang saling berhubungan, Dharma tentang hiasan oleh kualitas kebajikan, Dharma tentang semua jenis susunan kualitas dari dharmadhatu, semua yang saling berhubungan, Dharma yang menjelaskan beranekaragam bentuk kata, susunan kata dan kalimat, Dharma tentang penghiasan dari Bodhisattva, Dharma tentang keunggulan kekuatan batin dan pancaran dari Buddha, Dharma tentang kemurnian dari pencarian yang benar dari pemahaman tertentu, Dharma tentang tiada kemelekatan pada semua dunia, Dharma yang menjelaskan semua dunia, Dharma tentang cakupan yang sangat luas, Dharma tentang menghapus ketidaktahuan dari orang buta dan memahami semua makhluk, Dharma tentang apa yang biasa dan apa yang tidak, Dharma tentang keunggulan dari pengetahuan Bodhisattva, Dharma tentang kebebasan dari Sarvajnajnana."

"Setelah mendengar Dharma ini, Bodhisattva mengingatnya terus-menerus selama masa waktu yang tidak terhitung. Mengapa begitu? Ketika Bodhisattva Mahasattva mengolah praktek selama kalpa yang tidak terhitung, Dia tidak pernah menyakiti satupun makhluk hidup, yang mana akan menyebabkan kehilangan samyak-smrti; Dia tidak menghancurkan Dharma, dan tidak memotong putus akar kebaikan, pikirannya selalu memperluas pengetahuan. Lagi, Bodhisattva ini tidak bisa dibingungkan atau diganggu oleh semua jenis suara, suara yang keras, suara yang kasar dan kacau, suara yang mengerikan, suara yang menyenangkan, suara yang tidak menyenangkan, suara yang memecahkan telinga, suara yang melemahkan. Ketika Bodhisattva mendengar suara yang baik atau yang buruk seperti itu yang tidak terhitung, bahkan jika suara itu memenuhi dunia-dunia yang tidak terhitung banyaknya, Dia tidak pernah terganggu atau bingung sekejappun. Yaitu, samyak-smrti-nya tidak terganggu, kediamannya tidak terganggu, konsentrasinya tidak terganggu, masuk kedalam kekosongan dengan tidak terganggu, praktek Bodhisattvacarya-nya tidak terganggu, ingatannya tentang Buddha tidak terganggu, perenungannya pada Dharma tidak terganggu, pengetahuannya dalam mengembangkan para makhluk hidup tidak terganggu, pengetahuannya dalam memurnikan para makhluk hidup tidak terganggu, pemahaman pastinya tentang makna dari yang mendalam tidak terganggu."

"Karena tidak melakukan kejahatan, Dia tanpa rintangan kebiasaan jahat; Karena tidak menghasilkan penderitaan, Dia tanpa rintangan penderitaan; Karena tidak nengabaikan Dharma, Dia tanpa rintangan pada Dharma; Karena tidak memfitnah dan tidak menolak Dharma, Dia tanpa rintangan ganjaran."

"Bahkan jika suara yang keras, suara yang kasar dan kacau, suara yang mengerikan, suara yang menyenangkan, suara yang tidak menyenangkan, suara yang memecahkan telinga, suara yang melemahkan memenuhi dunia yang tidak terhitung tanpa henti selama kalpa yang tidak terhitung, yang semua itu mampu menghancurkan indera, tubuh, dan pikiran dari para makhluk hidup, itu masih tidak bisa merusak pikiran dari sang Bodhisattva. Bodhisattva memasuki Samadhi, tinggal berdiam dalam Dharma dari Muni, dan bermeditasi memeriksa semua suara, menjadi sepenuhnya mengetahui ciri-ciri dari asal mula, keberadaan, dan kelenyapan dari semua suara, dan menjadi sepenuhnya mengetahui sifat alami dari asal mula, keberadaan, dan kelenyapan dari semua suara: Setelah mendengarnya, Dia tidak menimbulkan ketamakan atau kebencian, dan tidak kehilangan samyak-smrti. Dia memahami ciri-ciri [suara] itu dengan tepat tanpa terpengaruh atau melekat padanya. Dia mengetahui semua suara adalah yang tiada keberadaan dan yang dalam kenyataan adalah yang tidak bisa dipahami, bahwa itu adalah yang tiada penciptanya dan tanpa asal-mula, bahwa itu adalah yang sama dengan nirvana dan tiada perbedaan."

"Dengan begitu, Bodhisattva menyempurnakan karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang penuh damai dan hening-tenang, yang tanpa kemunduran, hingga mencapai Sarvajnajnana. Dia dengan mahir memasuki semua jenis dari Dhyana-Samadhi dan mengetahui bahwa semua Samadhi adalah yang sama dari satu intisari. Dia memahami bahwa semua gejala kejadian adalah yang tanpa batas dan mencapai pengetahuan yang sesungguhnya tentang semua gejala kejadian. Dia mencapai samadhi yang mendalam terpisah dari semua suara. Dia mencapai beranekaragam samadhi yang tidak terhitung banyaknya. Dia terus maju mengembangkan pikiran Maha Karuna yang luas dan tanpa batas."

"Pada tingkat ini, Bodhisattva mencapai samadhi yang tidak terhtung banyaknya dalam sekejap satu pikiran, dan saat mendengar suara seperti itu, tidak terganggu - Dia secara bertahap meningkatkan dan memperluas konsentrasinya. Dia membentuk pikiran ini: 'Saya harus membuat semua makhluk tinggal berdiam dengan damai di dalam perhatian yang murni dan tiada tanding, agar mereka bisa mencapai avaivartika dalam menuju Sarvajnajnana, dan pada yang tetringgi mencapai Parinirvana.'"

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang kelima dari tiada kebingungan."

"Kulaputra, apakah praktek dari perwujudan yang baik dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva murni dalam tubuh, ucapan, dan pikiran; Dia tinggal berdiam di dalam tiada keserakahan, dan mempertunjukkan tubuh, ucapan, dan pikiran yang tiada keserakahan. Dia mengetahui bahwa karma tubuh, ucapan, dan pikiran tiada keberadaan nyata. Karena terbebas dari ketidakbenaran, Dia terbebas dari belenggu. Apa yang Dia pertunjukkan adalah yang tanpa sifat alami diri dan tiada ketergantungan pada apapun. Dia tinggal berdiam dalam pikiran yang sesuai dengan kenyataan. Dia mengetahui sifat alami hakiki dari pikiran yang tidak terbatas. Dia mengetahui sifat alami diri dari semua gejala kejadian adalah yang tidak bisa dipahami, tidak berbentuk, sangat mendalam dan sulit ditembus. Dia tinggal berdiam di dalam keadaan mutlak, kenyataan apa adanya yang sesungguhnya (Tathātā), intisari dari gejala kejadian; Dia muncul dalam kehidupan melalui upaya-kausalya, namun tiada ganjaran karma. Tidak lahir dan tidak mati, Dia tinggal berdiam di dalam yang tiada nafsu, sifat alami yang hening tenang dari nirvanadhatu. Dia tinggal berdiam di dalam sifat alami dari Tathata, tiada keberadaan diri. Dia melampaui kekuatan ucapan dalam menjelaskan penuh, melampaui semua dunia dan tidak bergantung pada apapun. Dia memasuki Dharma yang terbebas dari pembedaan, belenggu, dan kemelekatan. Dia memasuki Dharma sejati dari pengetahuan tertinggi. Dia memasuki Paramita yang tidak bisa dipahami atau diketahui oleh para duniawi. Yang seperti ini adalah ciri-ciri dari upaya-kausalya perwujudan kehidupan Bodhisattva."

"Bodhisattva membentuk pikiran ini : 'Sifat alami dari semua makhluk hidup adalah tiada sifat alami; sifat alami dari semua gejala kejadian adalah tidak diciptakan; Bentuk dari semua ksetra adalah tiada bentuk, di dalam semua dunia hanya ada ungkapan lisan, dan ungkapan lisan tidak memiliki dasar dalam kenyataan.' Begitulah Bodhisattva memahami bahwa segala sesuatu adalah kosong, dan semua dunia adalah kesunyian. Semua Buddhadharma tidak menambah apapun, Buddhadharma tidak berbeda dari gejala kejadian di dunia, dan gejala kejadian di dunia tidak berbeda dari Buddhahdarma. Buddhadharma dan gejala kejdaian dunia tidak bercampur juga tidak berbeda. Dengan mengetahui bahwa sifat alami unsur adalah yang sama, masuk ke seluruh triloka, tidak pernah menyerah dari tekad Maha Bodhi, tidak pernah mundur dari tekad untuk mengubah para makhluk hidup, bersungguh-sungguh memperluas dan meningkatkan Maha Karuna, Dia adalah penyokong bagi semua makhluk hidup."

"Kemudian Bodhisattva juga membentuk pikiran ini : 'Jika saya tidak mengembangkan dan mematangkan para makhluk hidup, siapa lagi yang akan? Jika saya tidak menenangkan dan mendidik para makhluk hidup, siapa lagi yang akan? Jika saya tidak mengajar dan memperbarui para makhluk hidup, siapa lagi yang akan? Jika saya tidak membangkitkan para makhluk hidup, siapa lagi yang akan? Jika saya tidak memurnikan para makhluk hidup, siapa lagi yang akan? Ini adalah tanggung jawab saya, tugas saya.' Dia juga membentuk pikiran ini : 'Jika saya sendiri yang memahami Dharma yang mendalam ini, maka hanya saya yang akan mencapai pembebasan dalam Anuttara Samyaksambodhi, sementara semua makhluk hidup yang buta akan memasuki jalan yang penuh bahaya, terbelenggu oleh penderitaan, sama seperti orang yang sakit keras terus-menerus menderita kesakitan. Di dalam penjara dari mengidam dan melekat, mereka tak mampu mengeluarkan diri mereka sendiri. Mereka tidak akan pergi dari alam neraka, preta, binatang, atau alam yang rendah; Mereka tidak bisa memadamkan penderitaan atau meninggalkan karma buruk. Selamanya di dalam kegelapan dari ketidaktahuan, tidak melihat kenyataan. Berputar dalam kelahiran dan kematian, mereka tidak memiliki cara pembebasan. Hidup di dalam delapan keadaan yang sulit, diselimuti oleh semua jenis kekotoran batin, segala macam penderitaan menutupi pikiran mereka. Tersesatkan oleh pandangan salah, mereka tidak menjalani jalan yang benar.' Dengan merenungkan para makhluk hidup begitu, sang Bodhisattva berpikir, 'Akan tidak pantas bagi saya untuk meninggalkan para makhluk hidup ini sementara mereka masih belum berkembang, belum matang, dan tidak terkendali, dan diri saya sendiri mencapai Anuttara Samyaksambodhi. Pertama saya harus mengubah para makhluk hidup ini, mempraktekkan Bodhisattvacarya selama banyak kalpa yang tidak terbayangkan, lebih dulu mengembangkan yang belum berkembang, dan menjinakkan yang tidak terkendali.'"

"Ketika Bodhisattva tinggal berdiam melalui praktek ini, jika para dewa, mara, sramana, brahmana, atau penghuni semua dunia, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia, bukan manusia, akan melihat-Nya, atau tinggal berdiam dengan-Nya sebentar, dan menghormati-Nya dan memuja-Nya, melayani-Nya dan memberikan persembahan kepada-Nya, atau bahkan mendengar tentang-Nya, saat telah melintasi pikiran mereka, karma ini tidak akan sia-sia, mereka pasti akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi."

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang keenam dari perwujudan yang baik."

"Kulaputra, apakah praktek dari tiada kemelekatan dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva dengan pikiran yang terbebas dari kemelekatan, bisa dalam setiap sekejap pikiran berturut-turut memasuki dunia yang tidak terhitung banyaknya dan menghiasi dan memurnikan dunia yang tidak terhitung banyaknya ini, pikiran-Nya terbebas dari kemelekatan pada apapun yang ada di dunia ini. Dia mengunjungi para Buddha yang tidak terhitung banyaknya, menghormat, menunggu, dan memberikan persembahan berupa bunga, wewangian, karangan bunga, salep wangi, bubuk candana, baju, permata, bendera, payung, dan beranekaragam hiasan yang lain, semuanya tidak terhitung banyaknya. Persembahan ini adalah demi Dharma tertinggi yang tidak diciptakan, demi tinggal berdiam di dalam Dharma yang tidak terbayangkan. Dalam setiap sekejap pikiran, Dia melihat para Buddha yang tidak terhitung; Pikiran-Nya terbebas dari kemelekatan pada tempat sang Buddha, dan Dia tiada kemelekatan pada Buddhaksetra juga. Dia juga tiada kemelekatan pada tanda pembeda dari para Buddha, dan sambil melihat lingkaran cahaya Buddha dan mendengar sang Buddha berkhotbah, namun Dia tiada kemelekatan. Juga, Dia tiada kemelekatan pada perkumpulan para Buddha dan Bodhisattva di dunia-dunia di sepuluh penjuru."

"Setelah mendengar Buddhadharma, pikiran-Nya bergembira, dan kekuatan Virya-Nya meningkat besar, sehingga mampu mencakup dan melaksanakan Bodhisattvacarya; Namun tiada kemelekatan."

"Bodhisattva ini, melalui kalpa yang banyaknya tidak terbayangkan, melihat para Buddha yang tidak terhitung muncul di dunia; Dia melayani dan menyokong semua Buddha selama kalpa yang tidak terhitung, tanpa kenal lelah. Melihat para Buddha, mendengar Dharma Mereka, dan melihat susunan hiasan yang menakjubkan dari perkumpulan majelis para Bodhisattva, Dia tidak melekati itu semua. Dan ketika melihat dunia yang tidak murni, Dia tanpa kebencian. Mengapa begitu? Karena Bodhisattva ini mengamati sesuai dengan Buddhadharma. Dalam Buddhadharma, tiada kekotoran atau kemurnian, tiada kegelapan atau cahaya, tiada perbedaan atau persatuan, tiada kebenaran atau kesalahan, tiada keamanan atau bahaya, tiada jalan yang benar atau jalan yang salah."

"Begitulah Bodhisattva memasuki dharmadhatu secara mendalam, mengajar dan mengubah para makhluk hidup tanpa membentuk kemelekatan pada para makhluk hidup. Dia menerima dan mempertahankan Dharma, namun tidak membentuk kemelekatan pada Dharma. Dia membangkitkan Bodhicitta dan tinggal berdiam di dalam kediaman para Buddha, namun tidak membentuk kemelekatan pada kediaman para Buddha. Walaupun berbicara, pikiran-Nya tiada kemelekatan pada ucapan. Dia memasuki beranekaragam alam dengan pikiran tanpa kemelekatan pada alam itu. Dia memahami Samadhi, bisa masuk dan tinggal berdiam dalam Samadhi, namun tanpa kemelekatan pada Samadhi. Pergi mengunjungi Buddhaksetra yang tidak terhitung, Dia bisa masuk, melihat, atau tinggal berdiam di dalamnya, namun pikiran-Nya tanpa kemelekatan pada Buddhaksetra, dan ketika pergi, Dia tidak merindukannya."

"Karena Bodhisattva Mahasattva mampu tanpa kemelekatan dalam cara ini, pikiran-Nya tiada rintangan pada Buddhadharma. Dia memahami Samyaksambodhi dari para Buddha, menyadari Sila dari Dharma, tinggal bediam dalam Dharma yang benar dari para Buddha dan mengolah Bodhisattvacarya, merenungkan cara pembebasan dari Bodhisattva. Pikiran-Nya terbebas dari kemelekatan pada tempat tinggal Bodhisattva, dan juga tanpa kemelekatan pada Bodhisattvacarya. Dia membersihkan jalan Bodhisattva dan menerima vyakarana pencapaian Bodhi yang diberikan kepada para Bodhisattva. Setelah menerima vyakarana, Dia merenungkan, 'Para makhluk hidup bodoh dan gelap batin, tanpa pengetahuan atau penglihatan, tanpa keyakinan atau pemahaman, tanpa tindakan yang cerdas, serakah dan tidak jujur, iri hati dan melekat, berputar dalam kelahiran dan kematian, tidak mencari Buddha, tidak mengikuti ajaran Buddha, tidak percaya pada Buddha; Tersesat dalam kesalahan, keliru memasuki jalan yang berbahaya; Tidak menghormati kekuasaan dari Dasabala, tidak menyadari kemurahan hati dari para Bodhisattva. Melekat pada tempat tinggal, dan ketika mendengar bahwa segala sesuatu adalah kosong, pikiran mereka terkejut dan ketakutan, dan mereka menjauhkan diri dari Dharma sejati dan tinggal berdiam dalam ajaran yang salah; Dia pergi dari Bhumi, bahkan dari Marga, dan memasuki jalan yang berbahaya dan susah. mereka menolak pikiran tentang Buddha dan mengejar pikiran tentang Mara. Mereka melekati keberadaan dengan kuat dan tanpa henti.' Dengan begitu mengamati para makhluk hidup, Bodhisattva meningkat dalam Maha Karuna dan mengembangkan akar kebajikan, namun tanpa kemelekatan."

"Pada waktu ini, Bodhisattva juga berpikir, 'Saya harus, demi semua makhluk hidup di semua ksetra di dunia di sepuluh penjuru, menghabiskan kalpa yang tidak terhitung banyaknya mengajar dan mengembangkan semua makhluk hidup dengan sama tanpa kenal lelah atau menyerah.'"

"Lagi, mengukur seluruh dharmadhatu dengan sehelai ujung rambut, dalam sekejap Dia melewati kalpa yang banyaknya tidak terbayangkan dengan mengajar, mengubah, dan mendidik semua makhluk, dan juga melakukan begitu juga di semua tempat di dalam dharmadhatu. Tidak pernah sebentar pun Dia melekat pada diri atau menghibur setiap gagasan pikiran tentang diri, atau kepemilikan. Pada setiap waktu Dia mengolah Bodhisattvacarya diseluruh kalpa masa depan, tidak melekat pada tubuh, tidak melekat pada gejala kejadian, tidak melekat pada ingatan, tidak melekat pada ikrar, tidak melekat pada samadhi, tidak melekat pada dhyana, tidak melekat pada kestabilan yang hening-tenang, tidak melekat pada bidang atau objek, tidak melekat pada mengajar dan melatih para makhluk hidup, dan tidak melekat pada memasuki dharmadhatu."

"Mengapa begitu? Bodhisattva membentuk pikiran ini : 'Saya harus melihat semua alam tujuan sama seperti khayalan, semua Buddha sama seperti pantulan, praktek Bodhisattva sama seperti mimpi, khotbah Buddha sama seperti gema; semua dunia sama seperti ilusi, karena itu ditopang oleh akibat karma; tubuh-tubuh yang berbeda adalah sama seperti bayangan, karena itu dihasilkan melalui kekuatan karma; semua makhluk hidup sama seperti pikiran, karena mereka tercemar oleh berbagai macam pengaruh; semua gejala kejadian adalah sama seperti 'batas kenyataan (bhutakoti)', karena itu tidak bisa berubah.'"

"Dia juga membentuk pikiran ini: 'Saya harus melaksanakan Bodhisattvacarya di dalam semua ksetra, di dalam semua dunia di seluruh ruang angkasa, dari waktu ke waktu dengan jelas menyadari semua Dharma yang diajarkan Buddha, dengan pikiran yang teliti, terbebas dari kemelekatan.'"

"Begitulah Bodhisattva mengamati bahwa tubuh tiada diri, dan Dia melihat Buddha tanpa halangan. Agar mengubah para makhluk hidup, Dia menjelaskan berbagai macam Dharma, menyebabkan mereka memiliki kegembiraan tanpa batas dan keyakinan yang murni di dalam Buddhadharma. Dia menyelamatkan semua tanpa pikiran lelah. Karena Dia tidak kenal lelah, jika ada setiap makhluk hidup di semua dunia yang belum matang atau tidak terkendali dalam segala cara, Dia pergi kesana dan menerapkan upaya-kausalya untuk mengubah dan membebaskan mereka. Melalui kebajikan dari tanggung jawab besar dan semangat, Dia tinggal menetap dengan kukuh diantara para makhluk yang beranekaragam bahasa, perbuatan, kemelekatan, perlengkapan, perkumpulan, kebiasaan, kegiatan, pandangan, kelahiran, dan kematian, dan mengajar mereka, tidak membiarkan pikiran mereka terganggu atau patah semangat, dan tidak pernah sekejap pun membentuk pikiran kemelekatan. Mengapa begitu? Karena Dia telah mencapai kebebasan dan tiada kemelekatan. Keuntungannya sendiri dan keuntungan orang lain terpenuhi dengan kemurnian."

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang ketujuh dari tiada kemelekatan."

"Kulaputra, apakah praktek dari yang sulit dicapai dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva menyempurnakan akar kebajikan yang sulit dicapai, akar kebajikan yang tidak terkalahkan, akar kebajikan yang tertinggi, akar kebajikan yang tidak bisa dihancurkan, akar kebajikan yang tiada tanding, akar kebajikan yang tidak terbayangkan, akar kebajikan yang tidak habis-habisnya, akar kebajikan yang berkekuatan bebas, akar kebajikan yang berpengaruh besar, akar kebajikan yang sama intisarinya dengan semua Buddha."

"Ketika Bodhisattva melaksanakan praktek ini, Dia mencapai pemahaman tertinggi pada Buddhadharma, mencapai pemahaman yang luas pada Bodhi para Buddha. Dia tidak pernah menyerah dari ikrar Bodhisattva, dan selama seluruh kalpa pikiran-Nya tidak pernah lelah. Dia tidak gentar pada penderitaan, dan tidak bisa diubah oleh semua Mara. Dibawah asuhan semua Buddha, Dia sepenuhnya melaksanakan semua perbuatan Bodhisattva yang sulit. Dalam mengolah Bodhisattvacarya, Dia rajin dan bersemangat, tidak pernah malas. Dia tidak pernah mundur dari ikrar menyelamatkan semua."

"Saat Bodhisattva tinggal berdiam dalam praktek yang sulit dicapai ini, Dia mampu mengambil perubahan wujud selama kalpa yang tidak terhitung dalam kelahiran dan kematian dalam sekejap satu pikiran, tanpa menyerah dari Ikrar besar Bodhisattva. Jika ada para makhluk hidup yang melayani dan menyokong Dia, atau bahkan melihat atau mendengar tentang-Nya, maka mereka semua akan mencapai avaivartika di jalan menuju Anuttara Samyaksambodhi."

"Walaupun Bodhisattva memahami bahwa makhluk hidup bukan keberadaan, namun Dia tidak meninggalkan alam makhluk hidup. Dia seperti kapten kapal, yang tidak tinggal berdiam di pantai ini, tidak tinggal berdiam di pantai yang lainnya, tidak tinggal berdiam di pertengahan, namun mampu menyeberangkan para makhluk hidup dari pantai ini ke pantai yang lainnya, karena Dia selalu berkelana ke belakang dan maju. Dalam cara yang sama, Bodhisattva tidak tinggal berdiam dalam kelahiran dan kematian, tidak tinggal berdiam dalam Nirvana, dan juga tidak tinggal berdiam di tengah arus kelahiran dan kematian, sementara itu Dia mampu menyeberangkan para makhluk hidup dari pantai ini ke pantai yang lainnya, yang aman dan terjamin, tanpa duka cita atau masalah. Dan Dia tanpa kemelekatan terhadap banyak makhluk hidup, tidak meninggalkan satu makhluk demi kemelekatan pada banyak makhluk, dan tidak meninggalkan banyak makhluk demi kemelekatan pada satu makhluk. Dia tidak menambah atau mengurangi alam para makhluk hidup; Juga tidak menghabiskan atau meneruskan alam para makhluk hidup; Juga tidak membedakan atau membagi alam para makhluk hidup; Mengapa begitu? Bodhisattva memasuki alam para makhluk hidup secara mendalam seperti dharmadhatu; Alam para makhluk hidup dan dharmadhatu adalah yang bukan dua. Di dalam yang tiada duanya, tidak ada bertambah atau berkurang, tidak ada awal atau kehancuran, tidak ada keberadaan atau bukan keberadaan, tiada cengkraman dan tiada ketergantungan, tiada kemelekatan dan tiada mendua. Mengapa begitu? Karena Bodhisattva menyadari bahwa semua gejala kejadian dan dharmadhatu adalah yang tiada duanya."

"Demikianlah yang dilakukan Bodhisattva, melalui upaya-kausalya, masuk kedalam dharmadhatu yang mendalam dan tinggal berdiam di dalam ketiadaan bentuk-rupa sambil menghiasi tubuhnya dengan wujud yang murni. Dia memahami bahwa gejala kejadian tiada 'sifat alami diri (svabhava)', namun Dia mampu membedakan ciri-ciri dari semua gejala kejadian. Dia tidak melekat pada para makhluk hidup, namun mampu mengetahui jumlah dari para makhluk hidup. Dia tidak melekat pada dunia, namun mewujudkan tubuh di dalam Buddhaksetra. Dia tidak membeda-bedakan Dharma, namun dengan terampil masuk kedalam Buddhadharma; Dia memahami secara mendalam makna dan sila dan menjelaskan secara luas khotbah Dharma. Dia memahami kesamaan kenyataan dari semua gejala kejadian, namun tidak berhenti dari jalan Bodhisattva. Dia tidak mundur dari Bodhi, selalu dengan rajin mengolah praktek yang tidak habis-habisnya. Dia secara bebas memasuki dharmadhatu yang murni."

"Itu bisa disamakan seperti menggesek kayu untuk menghasilkan api, api bisa jadi tidak terbatas namun api itu tidak padam. Dalam cara yang sama, Bodhisattva membebaskan para makhluk tanpa akhir, namun Dia tetap tinggal di dunia selamanya tanpa memasuki Nirvana. Dia tidak mencapai maupun juga bukan tidak mencapai Parinirvana, tidak maupun juga bukan tidak melekat, tidak maupun juga bukan tidak bergantung, bukan duniawi maupun juga bukan Buddha, bukan orang awam maupun juga bukan Bodhisattva."

"Ketika Bodhisattva menyelesaikan keadaan pikiran yang sulit dicapai ini, dan mengolah Bodhisattvacarya, Dia tidak mengkhotbahkan ajaran dari dua kendaraan, tidak mengkhotbahkan keBuddhaan, tidak berkata tentang dunia, tidak menjelaskan ajaran duniawi, tidak menjelaskan tentang makhluk hidup, tidak berkata bahwa tidak ada makhluk hidup, tidak berkata tentang kemurnian atau kekotoran. Mengapa begitu? Karena Bodhisattva mengetahui semua gejala kejadian tiada kotoran dan tiada kemelekatan, tidak maju dan tidak mundur."

"Ketika Bodhisattva mempraktekkan Dharma yang melampaui semua, yang sangat mendalam, yang halus, dan yang sama ini, Dia tidak berpikir 'Saya sedang mengolah praktek ini, telah mengolah praktek ini, akan mengolah praktek ini.' Dia tidak melekat pada unsur pikiran atau tubuh, atau pada indera, menyadari kesadaran, atau menyadari objek, atau dunia bagian luar atau bagian dalam. Maha Pranidhana yang Dia laksanakan, Paramita-Nya, dan semua upaya-kausalya-Nya adalah yang tanpa kemelekatan. Mengapa begitu? Karena di dalam dharmadhatu, tiada nama yang berhubungan dengan kenyataan; Di dalam Sravakayana dan PratyekaBuddhayana tiada nama yang sesungguhnya; Di dalam Bodhisattvayana tiada nama yang sesungguhnya; Di dalam Samyaksambodhi tiada nama yang sesungguhnya; Di dalam dunia para orang awam, tiada nama yang sesungguhnya, juga tidak ada di dalam kemurnian atau kekotoran, di dalam kelahiran dan kematian maupun nirvana. Mengapa begitu? Karena semua gejala kejadian adalah yang tiada duanya, namun tiada satupun yang bukan dua. Itu sama seperti ruang angkasa, yang ada diseluruh dharmadhatu, baik masa lampau, sekarang, atau masa depan, tidak bisa dipahami, namun itu bukanlah bahwa tidak ada ruang angkasa. Begitulah para Bodhisattva mengamati semua gejala kejadian menjadi yang tidak bisa dipahami, namun itu bukan yang tiada keberadaan. Dia melihat gejala kejadian sebagaimana apa adanya, tanpa mengabaikan tugas, dimana-mana mempertunjukkan praktek Bodhisattvacarya; Dia tidak menyerah dari Maha Pranidhana, mendidik para makhluk hidup, memutar roda Saddharma. Dia tidak melanggar sebab dan akibat dan tidak menyangkalnya, dan tidak menyimpang dari kebenaran yang tidak membeda-bedakan. Sama dengan para Buddha dari masa lampau, masa depan, masa sekarang, Dia tidak memotong putus silsilah keBuddhaan, tidak melanggar ciri-ciri dari kenyataan. Memasuki Dharma secara mendalam, kemampuan penjelasan-Nya adalah yang tanpa batas. Dia mendengar Dharma tanpa kemelekatan; mencapai kedalaman Dharma yang mendalam, Dia mampu menjelaskannya secara terampil, pikirannya tanpa takut. Dia tidak menyerah dari kediaman para Buddha, namun tidak melanggar 'hukum alam (niyama)'; Dia muncul di seluruh dunia, namun tidak melekat pada dunia."

"Begitulah Bodhisattva mencapai pikiran kebijaksanaan yang sulit dicapai. Mengolah berbagai jenis praktek, Dia membebaskan para makhluk hidup dari tiga keadaan yang menyedihkan dari neraka, preta, dan tiryagyona, mengajar dan membangkitkan mereka, menaklukkan dan mendidik mereka, menempatkan mereka pada jalan keBuddhaan dari masa lampau, sekarang, masa depan, membuat mereka tidak tergoyahkan."

"Selanjutnya, Dia membentuk pikiran ini : 'Para makhluk di dunia tidak tahu berterima kasih dan bahkan saling bermusuhan; Dengan pandangan salah dan kemelekatan yang mencengkram, ilusi dan angan-angan khayalan, mereka bodoh dan tidak bijaksana; Tidak memiliki keyakinan, mereka mengikuti teman yang jahat, dan mengembangkan berbagai jenis kepandaian jahat. Mereka dipenuhi oleh berbagai jenis penderitaan, seperti mengidam dan ketidaktahuan. Oleh inilah Saya mengolah Bodhisattvacarya. Jika para orang yang tahu berterima kasih, yang cerdas, bijaksana dan yang tahu, memenuhi dunia, Saya tidak akan mengolah Bodhisattvacarya disana. Mengapa begitu? Saya tiada kesukaan atau pertentangan terhadap para makhluk hidup, Saya tidak mencari apapun dari mereka, Saya tidak mencari bahkan hanya satu kata pujian.' Dengan mengolah Bodhisattvacarya selamanya, Dia tidak pernah ada satu pikiranpun tentang melakukannya demi diri sendiri, Dia hanya ingin membebaskan semua makhluk hidup, membuat mereka menjadi murni dan mencapai pembebasan yang abadi. Mengapa begitu? Karena Orang yang mau menjadi Bodhisattva harus demikian - tidak melekat, tidak mencari, hanya mempraktekkan jalan Bodhisattva demi para makhluk, membuat mereka mencapai kedamaian, pantai seberang yang aman, dan mencapai Anuttara Samyaksambodhi."

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang kedelapan dari yang sulit dicapai."

"Kulaputra, apakah praktek dari ajaran yang baik dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva bertindak sebagai kolam Dharma yang murni dan sejuk demi para makhluk di semua dunia, termasuk para dewa dan manusia, mara, sramana dan brahmana. Mempertahankan Saddharma, Dia tidak membiarkan benih keBuddhaan terputus. Karena telah mencapai dharani cahaya murni, dalam mengajar dan meramal pencapaian Bodhi, kekuatan kecerdasan-Nya tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani makna yang sempurna, pemahaman makna-Nya tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani pencapaian Saddharma, pemahaman Dharma-Nya tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani ungkapan penjelasan, pemahaman kata-Nya tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani makna yang tanpa halangan dan tidak habis-habisnya dari ungkapan kata yang tanpa batas, pemahaman-Nya yang tanpa rintangan tidak habis-habisnya. Karena telah di abhiseka oleh dharani abhiseka Buddha, kefasihan-Nya yang menyenangkan tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani Bodhi yang tanpa bergantung pada yang lain, pancaran khotbah-Nya tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani penjelasan yang sesuai, khotbah-Nya yang sesuai tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani kefasihan dan analisa semua jenis bentuk kata, ungkapan, dan kalimat, kefasihan penjelasan-Nya tidak habis-habisnya. Karena telah mencapai dharani kepandaian yang tanpa batas, kefasihan-Nya yang tanpa batas tidak habis-habisnya."

"Maha Karuna dari Bodhisattva ini kuat dan kukuh, menjangkau semua makhluk. Diseluruh dharmadhatu, Dia mengubah tubuh-Nya menjadi berwarna emas dan melaksanakan perbuatan Buddha di sepanjang waktu; Menyesuaikan dengan indera, sifat alami, dan kecenderungan para makhluk hidup, dengan lidah samanta dalam satu suara, Dia mewujudkan suara yang tanpa batas, mengajar sesuai dengan kesempatan, menggembirakan semua. Bahkan jika ada para makhluk yang tidak terhitung dalam kondisi yang tanpa batas, semuanya ada didalam perkumpulan majelis yang sama, perkumpulan majelis itu sangat luas dan memenuhi dunia yang tidak terbayangkan, dan semuanya memiliki mulut yang tanpa batas mampu menghasilkan jutaan suara, dan semuanya bertanya kepada sang Bodhisattva pertanyaan yang berbeda-beda secara serentak bersamaan, sang Bodhisattva akan mampu menerima semua pertanyaan itu dalam sekejap satu pikiran dan menjawab mereka dan menyebabkan keraguan mereka lenyap. Sama seperti kecocokan dari satu perkumpulan majelis, begitu juga dengan perkumpulan majelis yang tidak terhitung banyaknya."

"Lagi, bahkan jika semua titik tempat yang sebesar ujung rambut dalam seluruh waktu yang berturut-turut menghasilkan banyak yang tidak terbayangkan dari jumlah perkumpulan majelis yang tidak terbayangkan diseluruh kalpa masa depan, kalpa itu bisa saja dihabiskan, namun perkumpulan majelis itu adalah yang tidak terbatas, dan mereka semua dalam seluruh waktu bertanya pertanyaan yang berbeda-beda dalam kata yang berbeda-beda, Bodhisattva bisa menerimanya semua dalam sekejap satu pikiran, tanpa takut atau segan, tanpa ragu atau silap, berpikir, 'Bahkan jika semua makhluk hidup datang dan bertanya kepada Saya, Saya akan menjelaskan kebenaran kepada mereka tanpa henti, tanpa akhir, menyebabkan mereka semua bergembira dan tinggal berdiam di dalam jalan kebajikan, dan juga menyebabkan mereka memahami semua kata dan ungkapan dan mampu menjelaskan berbagai macam Dharma kepada para makhluk hidup, namun tanpa membeda-bedakan dalam hal bahasa. Bahkan jika mereka datang dan bertanya pertanyaan sulit dalam beranekaragam cara berbicara yang tidak terhitung, Saya akan menerimanya semua sekaligus dan menjawab semuanya dalam satu suara, menyebabkan mereka semua mengerti, tanpa menghilangkan apapun.' Ini adalah karena Dia telah di abhiseka dengan Sarvajnajnana, telah menemukan permata yang tanpa halangan yang memungkinkan pencapaian Bodhi, telah mencapai bidang cahaya dari semua Dharma, dan dipenuhi dengan Samantajnana."

"Ketika Bodhisattva tinggal berdiam dalam praktek dari ajaran yang baik, Dia bisa memurnikan dirinya sendiri, dan juga menguntungkan semua makhluk hidup melalui upaya-kausalya yang tepat tanpa kemelekatan, dengan tidak melihat bahwa ada makhluk hidup yang mencapai pembebasan."

"Sama seperti yang Dia lakukan di dalam lokadhatu ini, begitu juga di dalam lokadhatu yang tidak terhitung banyaknya Dia mewujudkan tubuh-Nya menjadi berwarna emas dan dilengkapi dengan suara yang menakjubkan, dengan tanpa halangan pada Dharma apapun, melaksanakan perbuatan Buddha."

"Bodhisattva ini mengembangkan sepuluh jenis tubuh, yaitu : tubuh yang melampaui, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh melenyapkan semua keduniawian; tubuh yang tetap ada, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh kelahiran di dalam semua dunia; tubuh yang tidak dilahirkan, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh tinggal berdiam di dalam kesamaan dari yang tidak dilahirkan; tubuh yang abadi, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh semua ungkapan tentang nirvana adalah yang tidak bisa dipahami; tubuh yang tidak nyata, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh pencapaian yang sesuai dengan kenyataan; tubuh yang tanpa kesalahan, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh penyesuaian penampilan; tubuh yang tidak berubah, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh terhapus dari kematian dan kelahiran kembali; tubuh yang tidak bisa hancur, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh sifat alami dari dharmadhatu adalah yang tidak bisa hancur; tubuh yang tetap, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh melampaui semua cara ucapan, masa lampau, sekarang, atau masa depan; tubuh yang tiada bentuk, yang memasuki alam yang tanpa batas, yang disebabkan oleh kemampuan mengamati ciri-ciri dari gejala kejadian."

"Dengan mengembangkan sepuluh tubuh ini, Bodhisattva adalah Rumah bagi semua makhluk hidup, karena Dia membangkitkan semua akar kebajikan; Dia adalah Penyelamat bagi semua makhluk hidup, karena membuat mereka mencapai kedamaian yang besar; Dia adalah Tempat Perlindungan bagi semua makhluk hidup, karena bertindak sebagai andalan besar untuk mereka; Dia adalah Pemandu bagi semua makhluk hidup, karena membuat mereka mencapai pembebasan yang tiada tanding; Dia adalah Guru bagi semua makhluk hidup, karena menyebabkan mereka memasuki Dharma; Dia adalah Lampu bagi semua makhluk hidup, karena menyebabkan mereka melihat jelas akibat dari karma; Dia adalah Cahaya bagi semua makhluk hidup, karena menyebabkan Dharma yang sangat menakjubkan dan mendalam menjadi tersinari; Dia adalah Obor bagi semua makhluk hidup di sepanjang waktu, karena menyebabkan mereka memahami Dharma dengan jelas; Dia adalah Pancaran Sinar bagi semua makhluk hidup di semua dunia, karena menyebabkan mereka memasuki tingkat pancaran cahaya; Dia adalah Penjelas semua alam makhluk, karena mengungkapkan kekuatan Buddha."

"Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang kesembilan dari ajaran yang baik. Ketika Bodhisattva tinggal berdiam di dalam praktek ini, Dia adalah kolam Dharma yang murni dan sejuk bagi semua makhluk hidup, karena mampu mengukur sumber dari semua Buddhadharma."

"Kulaputra, apakah praktek dari Kebenaran dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva menyempurnakan ucapan yang benar, mampu bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan, dan mampu berkata sesuai dengan apa yang dilakukan. Bodhisattva ini mempelajari kata-kata yang benar dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan, memasuki sifat alami dari keturunan dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan, menyamai akar kebajikan dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan, memahami ucapan yang tidak mendua dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan. Dengan belajar dari para Tathagata, pengetahuan dan kebijaksanaannya tersempurnakan."

"Bodhisattva ini mengembangkan pengetahuan tentang apa yang begitu dan apa yang tidak begitu sehubungan dengan para makhluk hidup; pengetahuan tentang akibat karma dari masa lampau - masa depan - masa sekarang; pengetahuan tentang ketajaman dan ketumpulan dari semua indera; pengetahuan tentang beranekaragam alam; pengetahuan tentang beranekaragam pemahaman; pengetahuan tentang tujuan dari semua jalan; pengetahuan tentang kekotoran atau kemurnian dan waktu yang tepat atau tidak tepat dari semua dhyana, vimoksa, dan samadhi; pengetahuan tentang tempat tinggal masa lampau di dalam semua dunia; pengetahuan tentang ramalan; Dan pengetahuan tentang akhir dari semua noda, namun Dia tidak menyerah dari Bodhisattvacarya, mengapa begitu? Karena Dia ingin mengajar dan membangkitkan semua makhluk hidup dan memurnikan mereka."

"Bodhisattva juga memahami tekad yang sangat besar ini : 'Jika saya mencapai Anuttara Samyaksambodhi pertama kali tanpa telah mendirikan semua makhluk hidup di jalan pembebasan yang tiada tanding, tentu melanggar Pranidhana saya, itu tidak boleh terjadi, saya harus pertama-tama menyebabkan semua makhluk hidup mencapai Anuttara Samyaksambodhi dan Parinirvana, lalu setelah itu menyempurnakan Buddhatva. Mengapa begitu? Para makhluk hidup belum meminta saya mengarahkan pikiran ke Buddhatva, saya sendiri menyesuaikan tindakan sebagai teman yang tanpa diminta terhadap para makhluk hidup, menginginkan pertama-tama menyebabkan semua makhluk sepenuhnya mengembangkan kekuatan kebajikan dan mencapai Sarvajna. Inilah mengapa saya adalah yang terunggul karena saya tidak melekati semua dunia. Saya adalah yang tertinggi karena saya tinggal berdiam di dalam keadaan pengendalian diri yang tiada tanding. Saya adalah yang terbebas dari semua kebutaan karena saya mengerti bahwa para makhluk hidup adalah yang tanpa batas. Saya sudah selesai karena Pranidhana saya terselesaikan. Saya serba guna karena hiasan kebajikan dari Bodhisattva. Saya adalah yang dapat diandalkan karena penerimaan para Buddha dari masa lampau - masa depan - masa sekarang.'"

"Karena Bodhisattva tidak menyerah dari ikrar dasarnya, Dia memperoleh jalan masuk menuju hiasan dari pengetahuan dan kebijaksanaan yang tiada tanding. Dia menguntungkan para makhluk hidup, dan menyebabkan mereka semua terpenuhi; Dia mencapai penyempurnaan akhir dari ikrar awal-Nya. Pengetahuan-Nya bebas memasuki semua Dharma. Dia menyebabkan semua makhluk hidup mencapai kemurnian. Dalam sekejap Dia menjelajahi seluruh dunia di sepuluh penjuru, dalam sekejap mengunjungi Buddhaksetra yang tidak terhitung, dalam sekejap melihat para Buddha yang tidak terhitung dan Buddhaksetra yang murni dan terhiasi. Dia memperlihatkan kekuatan batin Buddha yang bebas dan meliputi dharmadhatu."

"Bodhisattva ini mewujudkan tubuh yang tidak terhitung banyaknya, memasuki semua dunia tanpa bergantung pada apapun. Dalam tubuh itu Dia mewujudkan semua ksetra, semua makhluk, semua gejala kejadian, dan semua Buddha. Bodhisattva ini mengetahui beranekaragam pikiran, keinginan, pemahaman, hasil dari karma, dan akar kebajikan dari semua makhluk hidup, dan muncul dihadapan mereka sesuai dengan kebutuhan agar mendidik dan menjinakkan mereka. Dia memandang para Bodhisattva sama seperti khayalan, semua gejala kejadian sama seperti tipuan magis, kemunculan Buddha di dunia sama seperti pantulan, semua dunia sama seperti mimpi. Dia mencapai gudang makna dan ungkapan yang tidak habis-habisnya. Dia menguasai pemusatan perhatian yang benar, dan memiliki pengetahuan yang pasti tentang semua Dharma. Kebijaksanaan-Nya adalah yang tertinggi dan memasuki ciri-ciri yang sesungguhnya dari semua Samadhi, dan tinggal berdiam di dalam keadaan yang tiada mendua dari satu intisari."

"Karena semua makhluk hidup melekat pada yang mendua, maka Bodhisattva Mahasattva tinggal berdiam di dalam Maha Karuna; Dengan mengolah ajaran ini untuk melenyapkan penderitaan, Dia mencapai dasa-bala dari Buddhatva dan memasuki dharmadhatu yang sama seperti Indrajala. Dengan menyelesaikan pembebasan dari Buddha yang tanpa halangan, Dia adalah yang berani diantara manusia; Mengumandangkan Simhanada, Dia mencapai keberanian, dan mampu memutar roda Dharma yang murni dan yang tanpa rintangan. Mencapai pembebasan dari kecerdasan, Dia mengetahui keseluruhan semua objek di dalam dunia. Menghentikan arus perputaran lahir dan mati, Dia memasuki lautan kebijaksanaan. Mempertahankan Saddharma dari para Buddha masa lampau - sekarang - masa depan demi semua makhluk hidup, Dia mencapai sumber dari ciri-ciri yang sesungguhnya dari lautan semua Buddhadharma."

"Ketika Bodhisattva tinggal berdiam di dalam praktek kebenaran ini, semua makhluk yang bersekutu dengan-Nya dibuat terbuka pemahaman mereka, menjadi penuh kegembiraan dan sepenuhnya murni. Inilah yang dinamakan Praktek Bodhisattva yang kesepuluh dari Kebenaran."

Kemudian pada saat itu, disebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, disetiap sepuluh penjuru arah banyak dunia yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam Buddhaksetra bergoncang dalam enam cara, yaitu : bergetar, bergetar di semua wilayah, bergetar di semua wilayah di semua penjuru. Menaik, menaik di semua wilayah, menaik di semua wilayah di semua penjuru. Bergelombang, bergelombang di semua wilayah, bergelombang di semua wilayah di semua penjuru. Berguncang, berguncang di semua wilayah, berguncang di semua wilayah di semua penjuru. Bergemuruh, bergemuruh di semua wilayah, bergemuruh di semua wilayah di semua penjuru. Berdentam, berdentam di semua wilayah, berdentam di semua wilayah di semua penjuru. Ada turun hujan bunga surga, bubuk candana surga, karangan bunga surga, wewangian surga, pakaian permata surga, dan perhiasan surga; Musik surga bermain spontan tanpa henti, dengan pancaran cahaya dan suara yang indah. Sama seperti di dunia ini di dalam surga Suyama, sepuluh praktek dijelaskan, begitu juga hal yang sama terjadi di semua dunia di sepuluh penjuru.
#17623
Lagi, disebabkan oleh kekuatan batin sang Buddha, di setiap sepuluh penjuru arah, melewati banyak dunia yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam seratus ribu Buddhaksetra, ada datang para Bodhisattva yang jumlahnya seperti banyaknya butiran debu di dalam seratus ribu Buddhaksetra ke tempat ini, memenuhi sepuluh penjuru, Mereka berkata: “Sadhu, Sadhu, Kulaputra, sangat baik Anda mahir membabarkan praktek Bodhisattva ini! Kami semua juga memiliki nama yang sama, 'Hutan Kebajikan (Punyavana)', dan ksetra tempat Kami berasal semuanya memiliki nama yang sama, Punyadhvaja. Para Tathagata dari ksetra itu semuanya bernama Samantapunya. Di dalam semua Buddhaksetra tempat kami berasal, Sepuluh praktek Bodhisattva juga dibabarkan, dan perkumpulan majelis dan pengiringnya, kata dan ungkapannya semuanya juga sama seperti ini, tanpa tambahan atau pengurangan. Kami, Kulaputra, menerima kekuatan batin sang Buddha, telah datang dan memasuki perkumpulan majelis ini untuk memberikan Anda kesaksian. Sama seperti yang ada di perkumpulan majelis ini, di semua dunia di seluruh sepuluh penjuru arah adalah juga begitu."

Kemudian Punyavana Bodhisattva Mahasattva, melalui kekuatan sang Buddha, mengamati seluruh perkumpulan majelis di sepuluh penjuru di seluruh dharmadhatu. Karena Dia ingin menyebabkan silsilah para Buddha berlanjut, memurnikan keluarga Bodhisattva, membuat mereka yang melaksanakan ikrar tidak mundur, menyebabkan para pelaksana praktek menjadi tekun, menyebabkan semua orang di tiga masa waktu menjadi sama, berhubungan dengan semua keturunan Buddha masa lampau - masa depan - masa sekarang, menjelaskan akar kebajikan yang telah dipraktekkan, mengamati dan memeriksa semua indera, dan menjelaskan Bodhi dari semua Buddha, mengucapkan syair-gatha ini :

Sepenuh hati menghormati sang Penguasa Dasa-bala,
Yang tiada noda, sepenuhnya murni, sang Resi yang tanpa halangan,
Alam-Nya sangat mendalam dan menjangkau jauh, melampaui perbandingan,
Tinggal berdiam di dalam jalan ruang angkasa.

Yang Tertinggi diantara manusia di masa lampau,
Dengan kebajikan yang tidak terukur, terbebas dari kemelekatan,
Yang Terkemuka dalam keberanian, tiada bandingannya.
Mereka yang melampaui debu menjelajahi jalan ini.

Sekarang di dalam ksetra di sepuluh penjuru,
Paramartha mampu dijelaskan;
Terbebas dari semua kesalahan, sepenuhnya murni,
Mereka yang bebas menjelajahi jalan ini.

Singa diantara manusia di masa depan,
Menjelajahi semua di seluruh dharmadhatu;
Membangkitkan pikiran Karuna dari Buddha,
Para dermawan menjelajahi jalan ini.

Sang Bhagavan yang tiada bandingan di tiga masa waktu,
Secara alami melenyapkan kegelapan ketidaktahuan,
Sama terhadap semua gejala kejadian;
Mereka yang berkekuatan besar menjelajahi jalan ini.

Dia melihat semua dunia yang tidak terhitung dan tanpa batas,
Semua makhluk hidupnya dan kondisinya,
Namun setelah melihat tidak keliru membedakannya;
Mereka yang tidak bisa diganggu menjelajahi jalan ini.

Memahami segala sesuatu di dalam dharmadhatu,
Yang paling jelas tentang Paramartha,
Selamanya melenyapkan kemarahan, kesombongan, dan kebodohan;
Mereka yang berkebajikan menjelajahi jalan ini.

Dengan tepat membedakan para makhluk hidup,
Masuk kedalam sifat alami yang sesungguhnya dari semua gejala kejadian,
Mengerti secara spontan tanpa bergantung pada yang lain;
Mereka yang seperti ruang angkasa menjelajahi jalan ini.

Ke semua ksetra di seluruh ruang angkasa,
Pergi kesana dan mengajar dengan banyak contoh,
Apa yang diajarkan-Nya adalah yang murni dan tak terbantahkan;
Para Bijaksana tertinggi menjelajahi jalan ini.

Sepenuhnya stabil, tanpa kemunduran,
Menyempurnakan Dharma tertinggi dan mulia;
Dengan kekuatan semangat yang tidak habis-habisnya mencapai pantai seberang:
Para praktisi yang baik menjelajahi jalan ini.

Semua bhumi yang tidak terhitung dan tanpa batas,
Alam yang halus, mendalam, dan luas,
Semuanya diketahui dan dilihat tanpa kecuali;
Para Singa filsafat menjelajahi jalan ini.

Memahami makna tentang semua ungkapan,
Menghancurkan semua perselisihan,
Pasti terdirikan dalam Dharma tanpa keraguan;
Para Maha Muni menjelajahi jalan ini.

Menyingkirkan kesalahan dan kesusahan di dunia,
Memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada semua makhluk,
Mampu menjadi Maha Nayaka yang tiada bandingannya;
Mereka yang kebajikannya unggul menjelajahi jalan ini.

Selalu berdana sama-rata kepada para makhluk,
Menyebabkan mereka semua bergembira,
Pikirannya murni, terbebas dari semua noda;
Mereka yang tiada tanding menjelajahi jalan ini.

Karma pikirannya murni dan tersesuaikan dengan baik;
Berpisah dari pikiran sesat, berbicara tanpa kesalahan.
Lingkaran cahayanya yang menakjubkan dikagumi semua orang;
Yang tertinggi menjelajahi jalan ini.

Memasuki Dharma, mencapai pantai seberang,
Tinggal berdiam dalam kebajikan, pikiran selamanya berhenti,
Para Buddha selalu melindunginya;
Mereka para pemadam menjelajahi jalan ini.

Terpisah dari diri, terbebas dari penderitaan,
Selalu mengumumkan Dharma dengan nyaring,
Mencapai semua ksetra di sepuluh penjuru;
Mereka yang tiada bandingannya menjelajahi jalan ini.

Setelah menyempurnakan Dana Paramita,
Terhiasi dengan ratusan tanda kebajikan,
Semua yang melihatnya menjadi gembira:
Sang Bijaksana Tertinggi menjelajahi jalan ini.

Keadaan pikiran yang sulit dimasuki,
Dia bisa menghuninya melalui kebijaksanaan yang halus,
Pikirannya pada akhirnya tidak bisa diganggu;
Mereka yang kukuh dalam praktek menjelajahi jalan ini.

Mampu memasuki semua alam makhluk di dharmadhatu,
Dan menemukan yang tertinggi dimanapun yang dimasuki,
Kekuatan batinnya bebas dan meliputi semua;
Mereka yang disinari oleh kebenaran menjelajahi jalan ini.

Maha Muni yang tiada bandingan,
Mengolah samadhi yang tiada mendua,
Pikirannya selalu seimbang, menikmati keheningan-tenang;
Sang semua Resi menjelajahi jalan ini.

Peresapan dan perbedaan,
Dari ksana dan maha-ksetra,
Semua diketahui oleh-Nya dalam dunia yang sebenarnya;
Raja Gunung Pengetahuan menjelajahi jalan ini.

Kecerdasannya selalu jelas dan bersih,
Tanpa kemelekatan dalam dunia;
Dengan menjaga sila, mencapai pantai seberang;
Sang Pikiran Murni menjelajahi jalan ini.

Pengetahuan dan kebijaksanaannya tanpa batas, tak terbayangkan,
Meliputi ruang angkasa dari dharmadhatu,
Mahir dalam pembelajaran untuk tinggal berdiam di dalamnya;
Mereka yang berkebijaksanaan Vajra menjelajahi jalan ini.

Pengetahuannya memasuki dan meliputi,
Alam dari semua Buddha masa lampau - masa depan - sekarang,
Tidak pernah sekejap pun mengenal lelah atau bosan;
Yang Tertinggi menjelajahi jalan ini.

Mampu dengan baik memahami unsur dari Dasa-bala,
Mengetahui kemana tujuan dari semua jalan;
Perbuatannya tanpa rintangan dan bebas;
Mereka yang mengandung kebajikan menjelajahi jalan ini.

Semua makhluk hidup yang ada,
Di dalam dunia yang tidak terbatas di sepuluh penjuru
Akan Dia selamatkan tanpa meninggalkan mereka:
Sang Pemberani menjelajahi jalan ini.

Bersungguh-sungguh mempraktekkan Buddhadharma,
Pikirannya selalu bersemangat dan tanpa kenal lelah,
Dia memurnikan semua dunia:
Maha Naga Raja menjelajahi jalan ini.

Mengetahui perbedaan indera para makhluk,
Dan perbedaan yang tidak terhitung dalam kecenderungan dan pemahaman,
Dia dengan jelas memahami semua jenis alam:
Mereka yang pergi ke semua tempat menjelajahi jalan ini.

Ksetra yang tidak terbatas di dunia di sepuluh penjuru,
Dia pergi dan terlahir kembali sebanyak tidak terhitung,
Dengan pikiran tidak pernah kenal lelah atau meremehkan;
Mereka yang bergembira menjelajahi jalan ini.

Memancarkan jaring cahaya yang tidak terhitung,
Menyinari semua dunia,
Memasuki sifat alami dari kenyataan dimanapun cahaya itu bersinar;
Sang Pikiran yang baik menjelajahi jalan ini.

Menyebabkan ksetra di sepuluh penjuru bergetar,
Yang banyaknya tidak terhitung milyar triliunan,
Dia tidak membuat para makhluk takut;
Sang Dermawan dunia menjelajahi jalan ini.

Memahami semua dasar dari bahasa,
Dia sempurna terampil dalam ucapan,
Kecerdasannya yang unggul mengetahui semua:
Para Pemberani menjelajahi jalan ini.

Memahami beranekaragam ksetra dengan berbagai pedoman,
Melihat, berpikir, menemukan yang tertinggi,
Membuat semua tinggal berdiam dalam keadaan yang tidak habis-habisnya:
Mereka yang kecerdasannya unggul menjelajahi jalan ini.

Kebajikannya adalah yang sangat banyak tanpa batas,
Dia mengolahnya semua dalam mencari jalan Buddha,
Dan mencapai pantai seberang dari itu semua:
Para Pejuang yang tidak kenal lelah menjelajahi jalan ini.

Para Filsafat yang melampaui dunia,
Dengan kefasihan tertinggi mengaumkan Simhanada,
Membuat semua makhluk hidup mencapai pantai seberang;
Sang Pikiran Murni menjelajahi jalan ini.

Dia telah di mahkotai,
Dengan Buddhadharma yang tertinggi;
Pikirannya selalu tinggal berdiam di dalam Dharma:
Sang Pikiran yang luas menjelajahi jalan ini.

Para makhluk hidup memiliki perbedaan yang tidak terhitung;
Dia sepenuhnya memahami pikiran mereka,
Mempertahankan kepastian gudang Buddhadharma:
Sang Sumeru menjelajahi jalan ini.

Mampu mengungkapkan suara yang tidak terhitung,
Di dalam setiap dan seluruh kata,
Memungkinkan para makhluk mengerti sesuai dengan jenisnya:
Sang Resi yang tanpa hambatan menjelajahi jalan ini.

Pengetahuannya secara sama memasuki
Semua aturan dari bahasa,
Sambil tinggal berdiam di dalam dharmadhatu;
Mereka yang melihat intisari menjelajahi jalan ini.

Tinggal berdiam dengan damai dalam lautan Dharma yang mendalam,
Mampu memeriksa semua keadaan yg sesungguhnya
Memahami aspek yang sesungguhnya dari ketiadaan tanda dari gejala kejadian;
Mereka yang melihat Dharma menjelajahi jalan ini.

Pergi ke semua Buddhaksetra,
Selama kalpa yang tidak terhitung dan tanpa batas,
Merenungkan dan bermeditasi tanpa henti:
Mereka yang tidak kenal lelah menjelajahi jalan ini.

Para Buddha yang tidak terhitung dan tak terbatas,
Nama Mereka yang masing-masing berbeda,
Dia dengan jelas melihat di ruang angkasa dari satu titik:
Mereka yang berkebajikan murni menjelajahi jalan ini.

Dia melihat para Buddha di ruang angkasa dari satu titik,
Jumlahnya melampaui ukuran atau perkataan,
Hal yang sama berlaku untuk semua gejala kejadian;
Para Putra Buddha menjelajahi jalan ini.

Kalpa yang tidak terukur, tanpa batas, tak terhitung,
Dengan jelas Dia lihat dalam sekejap,
Dan mengetahui panjangnya tidak memiliki ciri yang tetap:
Yang Terbebaskan menjelajahi jalan ini.

Mampu menyebabkan semua yang melihat diri-Nya memperoleh keuntungan,
Semuanya menanam hubungan dengan Buddhadharma,
Namun tanpa kemelekatan pada tindakannya:
Yang Paling Unggul menjelajahi jalan ini.

Bertemu para Buddha selama koti kalpa,
Dengan pikiran yang tidak pernah bosan,
Kegembiraan dalam pikirannya meningkat lebih:
Mereka yang tidak melihat dengan sia-sia menjelajahi jalan ini.

Mengamati alam dari semua makhluk,
Melewati kalpa yang tidak terhitung dan tak terbatas,
Dia tidak pernah melihat satupun makhluk yang ada:
Para Pahlawan yang kukuh menjelajahi jalan ini.

Mengolah gudang pengetahuan dan kebajikan yang tanpa batas,
Dia adalah kolam kebajikan semesta yang murni dan sejuk,
Yang menguntungkan semua makhluk:
Sang Manusia yang paling terkemuka menjelajahi jalan ini.

Beranekaragam makhluk di dharmadhatu,
Yang memenuhi ruang angkasa, yang tidak terhitung,
Dia mengetahui semua itu ada dalam hal penamaan:
Para Simhanada menjelajahi jalan ini.

Mampu dalam setiap satu samadhi,
Memasuki samadhi yang tidak terhitung banyaknya,
Tiba di Dharma yang mendalam dan sulit di mengerti:
Candrapravacana menjelajahi jalan ini.

Dengan kekuatan ksanti, melakukan praktek sungguh-sungguh dan mencapai pantai seberang,
Mampu menerima Dharma tertinggi tentang nirvana,
Pikirannya seimbang dan tidak bisa diganggu:
Mereka yang pengetahuannya tanpa batas menjelajahi jalan ini.

Di satu kediaman dalam satu dunia,
Tubuhnya tidak berpindah, selalu hening-tenang,
Namun Dia mewujudkan tubuh di mana-mana;
Mereka yang tubuhnya tanpa batas menjelajahi jalan ini.

Ksetra yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Dibuatnya measuk kedalam satu butiran debu sekaligus,
Yang mampu mengandung semua tanpa hambatan:
Mereka yang pikirannya tanpa batas menjelajahi jalan ini.

Memahamai apa yang begitu dan apa yang bukan,
Dia mampu memasuki alam dasa-bala,
Dan menyelesaikan kekuatan Buddha yang tertinggi:
Yang Terkemuka dalam kekuatan menjelajahi jalan ini.

Akibat Karma yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Di masa lampau, masa depan, dan sekarang,
Selalu dipahaminya melalui pengetahuan:
Mereka yang sempurna pemahamannya menjelajahi jalan ini.

Memahami waktu yang tepat dan yang tidak di dunia,
Dia mendidik para makhluk sesuai dengan keperluan,
Dalam segala hal menyesuaikan dengan kebutuhan mereka;
Mereka yang paham menjelajahi jalan ini.

Menjaga perbuatan tubuh, ucapan dan pikiran dengan baik,
Selalu membuat penerapan Dharma dalam praktek,
Berpisah dari semua kemelekatan dan menaklukkan semua mara;
Yang bijaksana menjelajahi jalan ini.

Mampu dengan terampil menyesuaikan Dharma,
Mampu memasuki kesamaan dari Tathata,
Kefasihan penjelasannya adalah yang tidak habis-habisnya;
Yang melakukan praktek Buddha menjelajahi jalan ini.

Setelah menyempurnakan cara penguasaan pikiran,
Mampu tinggal berdiam dalam gudang [Dharma] tanpa halangan,
Dia memahami seluruh dharmadhatu;
Mereka yang mencapai kedalaman menjelajahi jalan ini.

Sama dalam pikiran, sama dalam pengetahuan
Seperti semua Buddha dari masa lampau, masa depan, dan sekarang,
Mereka adalah yang dari satu sifat alami dan satu ciri:
Yang tanpa rintangan menjelajahi jalan ini.

Setelah melenyapkan semua selubung ketidaktahuan,
Dan secara mendalam memasuki lautan pengetahuan,
Dia menganugerahkan mata yang murni pada semua makhluk:
Mereka yang dengan mata menjelajahi jalan ini.

Setelah menyempurnakan kesamaan,
Praktek kekuatan batin yang tidak mendua dari semua Nayaka,
Dia mencapai kekuatan Buddha yang bebas:
Mereka yang mengolah dengan baik menjelajahi jalan ini.

Dia berkelana melalui semua dunia,
Dimana-mana menurunkan hujan Saddharma yang tanpa batas,
Menyebabkan semua memperoleh pemahaman yang pasti tentang makna:
Meghadharma menjelajahi jalan ini.

Mampu menghasilkan keyakinan murni yang tanpa kemunduran,
Dalam pembebasan dan pengetahuan Buddha,
Menghasilkan akar pengetahuan dan kebijaksanaan melalui keyakinan:
Mereka yang belajar dengan baik menjelajahi jalan ini.

Mampu mengetahui dalam sekejap satu pikiran,
Semua makhluk hidup tanpa kecuali,
Memahami sifat alami diri dari pikiran makhluk:
Yang menyadari ketiadaan sifat alami menjelajahi jalan ini.

Ke seluruh ksetra di dalam dharmadhatu yang tidak terhitung,
Dia bisa menjelajahinya melalui pancaran,
Tubuhnya adalah yang paling halus, melampaui perbandingan:
Tindakan yang tiada bandingannya menjelajahi jalan ini.

Buddhaksetra adalah yang tanpa batas dan tidak terhitung;
Ada para Buddha yang tidak terbatas di dalamnya:
Para Bodhisattva muncul dihadapan Mereka semua,
Menghadiri, melayani, membangkitkan rasa hormat.

Para Bodhisattva bisa dengan satu tubuh,
Memasuki Samadhi, menjadi seimbang dalam keheningan-tenang,
Pikirannya murni, selalu bahagia,
Mampu menyebabkan semua makhluk bergembira.

Perbedaan dalam indera dan upaya-kausalya,
Dengan jelas terlihat pada pengetahuannya,
Namun Dia menyadari semua indera adalah yang tanpa dasar:
Para Penjinak atas yang tidak terkendali menjelajahi jalan ini.

Mampu dengan upaya-kausalya membeda-bedakan,
Dia adalah Tuan atas semua Dharma yang serba guna.
Dunia di sepuluh penjuru masing-masing berbeda:
Dia hidup disana dan melaksanakan perbuatan Buddha.

Inderanya halus, begitu juga perbuatannya;
Mampu menjelaskan Dharma secara luas kepada para makhluk:
Siapa yang tidak bergembira mendengarnya?
Mereka yang sama dengan ruang angkasa menjelajahi jalan ini.

Mata pengetahuannya murni, tiada tanding,
Dia melihat semua gejala kejadian dengan jelas,
Pengetahuan ini dengan terampil membeda-bedakannya:
Yang tiada tanding menjelajahi jalan ini.

Semua kebajikan besar yang tidak habis-habisnya,
Telah diolahnya hingga sempurna,
Demi membuat semua makhluk menjadi murni:
Yang tiada bandingan menjelajahi jalan ini.

Mendorong semua untuk mengolah bantuan menuju 'sang jalan (Marga)',
Menyebabkan semua tinggal berdiam di tingkat Marga,
Dia membebaskan para makhluk yang tidak terhitung,
Tanpa pernah membentuk gagasan pikiran tentang makhluk.

Memgamati semua kesempatan dan persamaan,
Pertama melindungi pikiran, menjadikannya tiada pertentangan,
Menunjukkan kepada semua makhluk hidup tempat kedamaian;
Yang Terampil menjelajahi jalan ini.

Menyempurnakan yang terbesar, pengetahuan tertinggi,
Dipenuhi dengan pengetahuan yang tanpa batas, tak terukur,
Dia adalah yang berani diantara semua kelompok orang:
Yang mengetahui cara menjelajahi jalan ini.

Semua dunia dan semua gejala kejadian,
Bisa dimasukinya dengan kebebasan;
Juga memasuki semua perkumpulan majelis
Dan membebaskan para makhluk yang tak terhitung.

Di semua ksetra di sepuluh penjuru,
Dia memukul genderang Dharma yang besar dan membangkitkan para makhluk;
Sebagai pemberi Dharma, Dia adalah yang tiada tandingan:
Yang abadi menjelajahi jalan ini.

Dengan satu tubuh duduk bersila dengan tegak lurus,
Dia memenuhi dunia yang tidak terhitung di sepuluh penjuru,
Namun menyebabkan tubuhnya tidak terkerumuni:
Mereka yang dengan Dharmakaya menjelajahi jalan ini.

Dalam satu ajaran, satu pernyataan,
Dia bisa menjelaskan prinsip yang tanpa batas,
Dan tiada batas dari itu yang bisa ditemukan:
Mereka yang dengan pengetahuan tanpa batas menjelajahi jalan ini.

Mempelajari pembebasan Buddha dengan baik,
Mencapai pengetahuan Buddha tanpa halangan,
Mengembangkan keberanian dan menjadi yang gagah berani di dunia:
Yang terampil menjelajahi jalan ini.

Mengetahui lautan dunia di sepuluh penjuru,
Dan juga mengetahui lautan semua Buddhaksetra,
Dan memahami lautan pengetahuan Dharma;
Semua yang melihat Dia menjadi penuh gembira.

Kadang memperlihatkan memasuki rahim, kadang kelahiran,
Kadang pencapaian Bodhi,
Begitulah Dia menyebabkan semua makhluk duniawi melihat:
Yang tanpa ikatan menjelajahi jalan ini.

Dalam miliaran ksetra yang tidak terhitung,
Mewujudkan dirinya sendiri memasuki Nirvana,
Namun sungguh Dia tidak menyerah dari ikrarnya untuk Nirvana:
Para Pahlawan Filsafat menjelajahi jalan ini.

Tubuh Vajra rahasia yang unik dan indah,
Adalah yang sama dengan para buddha, tanpa perbedaan,
Namun semua makhluk hidup melihatnya berbeda-beda:
Sang Dharmakaya menjelajahi jalan ini.

Dhamradhatu seluruhnya sama, tanpa perbedaan,
Mengandung makna yang tanpa batas dan tidak terhitung;
Dia menikmati merenungkan yang satu, dengan pikiran tidak bergerak:
Yang Mengetahui Semua Waktu menjelajahi jalan ini.

Dalam hal ajaran makhluk hidup dan Bodhisattva,
Pembangunan dan pemberdayaannya adalah yang sempurna;
Kekuatan pendukungnya adalah yang sama seperti para Buddha:
Paramadharmadhara menjelajahi jalan ini.

Kekuatan penjelajahan pikirannya adalah yang tanpa rintangan, seperti para Buddha,
Mata Divya-nya tanpa halangan dan sepenuhnya murni,
Indera pendengarannya tanpa hambatan, bisa mendengar dengan baik:
Mereka yang pikirannya tanpa halangan menjelajahi jalan ini.

Semua kekuatan batinnya sepenuhnya sempurna,
Seluruhnya dikembangkan sesuai dengan pengetahuannya;
Dia mengetahui semua, tiada tandingan:
Yang Bijaksana menjelajahi jalan ini.

Pikirannya terkonsentrasi dengan benar, tak tergoyahkan,
Pengetahuannya luas tanpa batas,
Dia memahami semua alam:
Sang Sarvaresi menjelajahi jalan ini.

Setelah tiba di pantai seberang dari semua kebajikan,
Dia bisa menyeberangkan para makhluk satu persatu,
Pikirannya pada yang tertinggi tidak pernah bosan:
Dia yang tetap rajin menjelajahi jalan ini.

Mengetahui dan melihat Dharma,
Dari para Buddha masa lampau, masa depan, sekarang,
Dan terlahir di dalam Buddhakula:
Putra Buddha menjelajahi jalan ini.

Telah sepenuhnya mengembangkan ucapan yang menyesuaikan
Dan dengan terampil menyangkal semua pertentangan,
Dan selalu mampu maju terus menuju Bodhi:
Mereka yang kebijaksanaannya tanpa batas menjelajahi jalan ini.

Satu cahaya bersinar tanpa batas,
Memenuhi semua ksetra di sepuluh penjuru,
Menyebabkan semua dunia mendapat kecerahan besar:
Penghancur kegelapan menjelajahi jalan ini.

Sesuai dengan apa yang harus dilihat dan disokong
Dia mewujudkan tubuh Buddha yang murni,
Mengajar dan mengubah miliaran para makhluk
Dan menghiasi Buddhaksetra dalam cara yang sama.

Agar membuat para makhluk hidup melampaui dunia
Dia mengolah semua praktek yang unggul;
Perbuatan ini luasnya tanpa batas:
Bagaimana bisa orang mampu mengetahuinya?

Bahkan jika tubuh dihasilkan kembali dalam jumlah yang tak terbayangkan,
Yang sama dengan ruang angkasa dari dharmadhatu,
Dan semua itu akan bersama-sama memuji kebajikan-Nya,
Mereka tidak akan mampu menghabiskannya dalam miliaran kalpa.
Kebajikan Bodhisattva adalah yang tanpa batas;
Karena Dia telah menyempurnakan semua pengolahan praktek:

Bahkan para Buddha yang tanpa batas dan tidak terhitung,
Tidak bisa menceritakan itu semua dalam kalpa yang tidak terukur,
Apalagi para Dewa dan manusia di dunia,
Maupun para Sravaka dan Pratyekabuddha,
tidak akan mampu dalam kalpa yang tanpa batas,
Menyanyikan pujiannya untuk itu hingga habis.
Last edited by ajita on 22 Jul 2019, 21:15, edited 7 times in total.
#17624
Image
Guan Yin Pusa

Image
Putuo San

Bab 22
Dasaksayakosa parivartah


Kemudian pada saat itu, Punyavana Bodhisattva Mahasattva berkata kepada para Bodhisattva: "Kulaputra, para Bodhisattva Mahasattva mempunyai sepuluh jenis gudang harta yang telah dijelaskan, akan dijelaskan, dan sedang dijelaskan oleh para Buddha dari masa lampau, masa depan, dan sekarang. Apakah sepuluh itu? Yaitu : Gudang Keyakinan, Gudang Sila, Gudang Malu, Gudang Penyesalan, Gudang Pembelajaran, Gudang Memberi, Gudang Kebijaksanaan, Gudang Perhatian Penuh, Gudang Pemeliharaan, dan Gudang Kefasihan. Inilah sepuluh itu.”

"Kulaputra, apakah Gudang Keyakinan dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang kosong, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tanpa tanda, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tiada nafsu keinginan, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak diciptakan, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tanpa perbedaan, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tanpa dasar pendukung, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak bisa diukur, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak terlampaui, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang sulit dilampaui, percaya bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak dihasilkan."

“Jika Bodhisattva mampu dalam cara ini membangkitkan keyakinan yang murni yang sesuai dengan semua gejala kejadian, ketika mendengar bahwa semua Buddhadharma adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa semua Buddha adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa alam makhluk hidup adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa dharmadhatu adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa akasadhatu adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa nirvanadhatu adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa masa lalu adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa masa depan adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa masa kini adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut; Ketika mendengar bahwa memasuki semua kalpa adalah yang tidak terbayangkan, pikirannya tidak takut."

"Mengapa begitu? Bodhisattva ini, yang tinggal berdiam di tempat para Buddha, memiliki keyakinan yang sangat kuat. Dia tahu bahwa kebijaksanaan dan pengetahuan Buddha adalah yang tidak terbatas dan tidak ada habisnya. Di semua dunia yang tidak terhitung di sepuluh penjuru, ada para Buddha yang tidak terhitung yang telah mencapai, akan mencapai, atau sekarang mencapai Anuttarasamyaksambodhi, yang telah datang - yang sekarang datang - atau yang akan datang ke dunia, yang telah memasuki - yang sekarang memasuki - atau yang akan memasuki Nirvana. Kebijaksanaan dan pengetahuan dari para Buddha itu tidak meningkat, tidak berkurang, tidak dihasilkan, tidak dihancurkan, tidak berkembang, tidak mundur, tidak dekat, tidak jauh, tanpa hubungan dan tidak tanpa hubungan. Sang Bodhisattva memasuki kebijaksanaan dan pengetahuan Buddha dan mengembangkan keyakinan yang tanpa batas dan tidak habis-habisnya."

"Setelah Dia telah mencapai keyakinan ini, pikirannya tidak mengalami kemunduran, pikirannya tidak menjadi bingung. Dia tidak bisa dihancurkan dan tiada kemelekatan. Selalu mempunyai dasar, Dia mengikuti para Bijaksana, dan tinggal berdiam di dalam rumah para Tathagata, mempertahankan benih sifat alami dari semua Buddha, meningkatkan keyakinan dan keteguhan dari semua Bodhisattva, menyesuaikan dengan akar kebajikan dari semua Tathagata, dan membangkitkan upaya-kausalya dari semua Buddha. Inilah yang dinamakan Gudang Keyakinan dari Bodhisattva Mahasattva. Ketika Bodhisattva tinggal berdiam di dalam Gudang Keyakinan ini, Dia bisa mendengar dan mempertahankan semua Buddhahdarma, menjelaskannya kepada para makhluk hidup, dan menyebabkan mereka semua terbangkitkan pada pemahaman."

"Kulaputra, apakah Gudang Sila dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva menyempurnakan Sila dari menguntungkan semua, Sila dari tidak menerima aturan yang salah, Sila dari tidak tinggal berdiam, Sila dari tidak menyesal atau dendam, Sila dari tiada pertikaian, Sila dari tiada melukai, Sila dari tanpa kotoran batin, Sila dari tanpa ketamakan, Sila dari tanpa kesalahan, dan Sila dari tidak pernah melanggar aturan."

"Apa itu Sila dari menguntungkan semua? Bodhisattva menerima dan menjunjung Sila yang murni yang pada dasarnya demi menguntungkan semua makhluk hidup."

"Apa itu Sila dari tidak menerima aturan yang salah? Bodhisattva tidak menerima atau mempraktekkan aturan yang diluar Marga; Secara alami bersemangat dalam mempertahankan Sila yang murni dan yang sama dari semua Buddha Tathagata dari masa lampau - masa depan - dan masa sekarang."

"Apa itu Sila dari tidak tinggal berdiam? Bodhisattva menerima dan menjaga Sila moral, pikirannya tidak tinggal berdiam di dalam kamadhatu, tidak tinggal berdiam di dalam rupadhatu, tidak tinggal berdiam di dalam arupadhatu. Mengapa begitu? Karena Dia tidak menjaga Sila sambil mengharap untuk di lahirkan di dalam alam itu."

"Apa itu Sila dari tidak menyesal atau dendam? Bodhisattva selalu tinggal berdiam penuh kedamaian dalam keadaan pikiran yang terbebas dari penyesalan atau dendam. Mengapa begitu? Karena Dia tidak melakukan pelanggaran berat, tidak mempraktekkan rayuan atau penipuan, dan tidak melanggar Sila yang murni."

"Apa itu Sila dari tiada pertikaian? Bodhisattva tidak menyangkal apa yang telah sebelumnya didirikan, dan tidak membangun sesukanya. Pikirannya selalu mengikuti Sila yang mengarah ke Nirvana, sepenuhnya menerima dan menjaganya tanpa melanggarnya. Tidak menyakiti makhluk lain melalui menjaga Sila, Dia menjaga Sila hanya demi ingin semua makhluk berbahagia."

"Apa itu Sila dari tiada melukai? Bodhisattva tidak melukai para makhluk hidup karena Sila, atau melalui mempelajari Mantra, atau membuat racun. Dia hanya menjaga Sila untuk tujuan menyelamatkan dan melindungi semua makhluk hidup."

"Apa itu Sila dari tanpa kotoran batin? Bodhisattva tidak melekat pada pandangan keliru atau yang berlebihan, tidak menjaga Sila yang tidak murni; Dia hanya merenungkan 'kemunculan yang saling bergantungan (Pratityasamutpada) dan menjaga Sila yang melampaui duniawi."

"Apa itu Sila dari tanpa ketamakan? Bodhisattva tidak menampilkan tanda luar biasa untuk membuat pertunjukkan kebajikan; Dia hanya menjaga Sila demi tujuan menyempurnakan jalan pembebasan."

"Apa itu Sila dari tanpa kesalahan? Bodhisattva tidak menyombongkan diri dengan berkata, 'Saya menjaga Sila.' Ketika melihat mereka yang melanggar Sila, Dia tidak menghina atau mempermalukan mereka. Dia hanya membuat mereka memusatkan pikiran tunggal menjaga Sila."

"Apa itu Sila dari tidak pernah melanggar aturan? Bodhisattva selamanya berhenti dari membunuh, mencuri, bersetubuh, salah berbicara, menipu, memfitnah, berbicara tanpa makna, serakah, membenci, dan pandangan salah: Dia sepenuhnya menerima Sila dari 'sepuluh perbuatan baik (dasa-kusala-karma)'. Ketika Bodhisattva mengamati Sila dari tidak pernah melanggar aturan ini, Dia berpikir, 'Para makhluk hidup melanggar Sila yang murni semuanya disebabkan oleh angan-angan khayalan. Hanya Bhagavan Buddha yang bisa mengetahui penyebab dan kondisi yang membuat para makhluk hidup tertipu dalam angan khayalan sehingga melanggar Sila yang murni. Saya harus menyelesaikan Anuttara Samyaksambodhi dan secara luas menjelaskan Dharma kepada para makhluk hidup, untuk membebaskan mereka dari angan-angan khayalan.' Inilah yang dinamakan Gudang harta kedua dari Sila dari Bodhisattva Mahasattva."

"Kulaputra, apakah Gudang Malu dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva mengingat kesalahan yang telah dilakukan di masa lampau dan merasa malu. Yaitu, Dia berpikir, 'Sejak masa lampau yang tanpa awal, semua makhluk hidup dan saya telah saling menjadi ayah, ibu, abang yang lebih tua, abang muda, kakak yang lebih tua, kakak muda, putra, dan putri satu sama lain: karena dipenuhi keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, kebanggaan, kesombongan, ketidak jujuran, tipu muslihat, dan semua penderitaan yang lain, Kami telah saling melukai, merampok, asusila, dan membunuh, melakukan semua jenis kejahatan. Semua makhluk hidup adalah sama seperti ini - karena nafsu dan kekotoran batin, mereka tidak saling menghormati atau menghargai, tidak saling sesuai atau patuh, tidak saling turut, tidak saling membimbing, tidak saling peduli - mereka terus saling membunuh dan melukai, saling menjadi musuh dan penjahat. Merenungkan diri sendiri dan juga para makhluk hidup yang lain, Kami bertindak tanpa malu di masa lampau, masa depan, dan sekarang, sementara para Buddha dari tiga masa waktu melihat dan mengetahuinya semua. Sekarang jika saya tidak berhenti dari kelakukan yang tanpa malu ini, para Buddha dari tiga masa waktu juga akan melihat saya. Mengapa saya masih tidak berhenti dari perbuatan seperti itu? Ini tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, saya harus memusatkan pikiran tunggal pada melenyapkan kejahatan itu dan menyadari Anuttarasamyaksambodhi, demi menjelaskan Dharma kepada semua makhluk.' Inilah yang dinamakan Gudang harta ketiga dari Malu dari Bodhisattva Mahasattva."

"Kulaputra, apakah Gudang Penyesalan dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva menyesali keserakahan memanjakan diri dalam mengejar lima nafsu keinginan tanpa bosan atau puas dimasa lampau. Oleh karena itu, ketamakan, kebencian, kebodohan, dan berbagai jenis kekotoran batin menjadi meningkat. Dia berpikir, 'Saya harus tidak melakukan hal ini lagi.' Juga, Dia berpikir, 'Para makhluk hidup tidak bijaksana, dan mengembangkan 'kekotoran batin (klesa)', mereka melakukan semua jenis hal-hal buruk. Tidak saling menghormati atau menghargai, dan berkembang menjadi penjahat dan saling memusuhi. Telah melakukan semua jenis kejahatan dan merasa senang, mencari pujian. Mereka buta, tanpa mata kebijaksanaan, memasuki rahim dalam perut Ibu dan mengalami kelahiran, menjadi makhluk yang bertubuh kotor, pada akhirnya rambut memutih dan wajah berkerut. Mereka yang bijaksana mengamati ini sebagai sesuatu yang hanya disebabkan oleh terlahir dari nafsu berahi. Para Buddha dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang melihat dan mengetahui semua ini. Jika sekarang saya masih melakukan hal ini, maka saya sedang mencoba menipu para Buddha. Oleh karena itu, saya harus mengolah penyesalan, segera mencapai Anuttarasamyaksambodhi, dan secara luas menjelaskan Dharma kepada semua makhluk.' Inilah yang dinamakan Gudang harta keempat dari Penyesalan dari Bodhisattva Mahasattva."

"Kulaputra, apakah Gudang Pembelajaran dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva mengetahui bahwa ada gejala kejadian karena ada gejala kejadian yang lain, dan bahwa tidak ada gejala kejadian karena tidak ada gejala kejadian yang lain; bahwa gejala kejadian timbul karena ada gejala kejadian lain yang timbul, dan bahwa gejala kejadian lenyap karena ada gejala kejadian lain yang lenyap; Baik itu adalah gejala kejadian duniawi atau gejala kejadian yang melampaui dunia, gejala kejadian yang berkondisi atau gejala kejadian yang tidak berkondisi, gejala kejadian yang pasti atau gejala kejadian yang tidak tentu."

"Apa itu ada gejala kejadian karena ada gejala kejadian yang lain? Itu adalah ketika ada ketidaktahuan, maka ada pembentukan kondisi.
Apa itu tidak ada gejala kejadian karena tidak ada gejala kejadian yang lain? Itu adalah ketika tiada kesadaran yang membeda-bedakan, maka tiada nama dan rupa.
Apa itu gejala kejadian timbul karena ada gejala kejadian lain yang timbul? Itu adalah ketika mengidam timbul, maka penderitaan timbul.
Apa itu gejala kejadian lenyap karena ada gejala kejadian lain yang lenyap? Itu adalah ketika proses penjelmaan lenyap, maka kelahiran lenyap.
Apa itu gejala kejadian duniawi? Itu adalah bentuk-rupa, perasaan, tanggapan penglihatan, kegiatan, dan kesadaran.
Apa itu gejala kejadian yang melampaui dunia? Itu adalah 'disiplin (Sila)', 'konsentrasi (Samadhi)', 'kebijaksanaan (Prajna)', 'pembebasan (Vimoksa)', serta wawasan dan pengetahuan dari pembebasan.
Apa itu gejala kejadian yang berkondisi? Itu adalah 'alam nafsu (kamadhatu)', 'alam bentuk-rupa (rupadhatu)', 'alam tanpa bentuk-rupa (arupadhatu)', dan alam dari para makhluk hidup.
Apa itu gejala kejadian yang tidak berkondisi? Itu adalah ruang angkasa kosong, Nirvana, kepunahan yang melibatkan menganalisa kondisi, kepunahan yang tidak melibatkan menganalisa kondisi, tinggal berdiam dalam sifat alami gejala kejadian, dan kemunculan yang saling ketergantungan.
Apa itu gejala kejadian yang pasti? Itu adalah 'Empat Kebenaran Mulia (Catvari Aryasatya)', Empat Buah Pencapaian Dari Sramana, 'Empat Pengetahuan Fasih Yang Tanpa Rintangan (catur-pratisamvidya)', Empat Keberanian, Empat Kediaman Dari Perhatian Penuh, Empat Usaha Yang Benar, 'Empat Dasar Kekuatan Batin (Catur rddhipada)', Lima Indera, Lima Kekuatan, 'Tujuh Cabang Kebangkitan (sapta-bodhyanga)', dan 'Delapan Cabang Jalan Dari Bijaksana (Aryastangamarga).'

Apa itu gejala kejadian yang tidak pasti? Itu adalah apakah dunia terbatas atau tidak terbatas, atau dua-duanya, atau bukan dua-duanya;
apakah dunia abadi atau tidak abadi, atau dua-duanya, atau bukan dua-duanya;
apakah Tathagata ada setelah Nirvana atau tidak, apakah Tathagata ada dan tiada atau bukan ada maupun bukan tiada setelah Nirvana;
apakah diri dan makhluk hidup ada atau tidak, apakah diri dan makhluk hidup ada dan tiada atau bukan ada maupun bukan tiada.
Berapa banyak Tathagata yang Parinirvana dan berapa banyak Sravaka dan Pratyekabuddha yang Parinirvana dimasa lampau?
Berapa banyak Buddha, Sravaka, Pratyekabuddha dan makhluk hidup yang akan ada di masa depan?
Berapa banyak Buddha, Sravaka, Pratyekabuddha dan makhluk hidup yang akan ada sekarang?
Tathagata apa yang pertama muncul di dunia, Sravaka dan Pratyekabuddha apa yang pertama muncul di dunia, makhluk hidup apa yang pertama muncul di dunia?
Tathagata apa yang terakhir muncul di dunia, Sravaka dan Pratyekabuddha apa yang terakhir muncul di dunia, makhluk hidup apa yang terakhir muncul di dunia?
Gejala kejadian apa yang pertama terjadi, dan gejala kejadian apa yang terakhir?
Dari manakah dunia berasal, dan kemanakah tujuannya?
Berapa banyak sistem dunia yang timbul, dan berapa banyak yang hancur?
Dari manakah sistem dunia berasal, dan kemanakah tujuannya?
Apa batas awal dari kelahiran dan kematian, dan apa batas akhirnya?
Inilah yang dinamakan gejala kejadian yang tidak pasti."

"Bodhisattva Mahasattva membuat pikiran ini, 'para makhluk hidup ditengah kelahiran dan kematian tidak belajar dan tidak mampu memahami semua gejala kejadian ini. Saya harus bertekad mempertahankan gudang pembelajaran dan mencapai Anuttarasamyaksambodhi, dan menjelaskan Dharma secara terperinci kepada para makhluk hidup.' Inilah yang dinamakan Gudang harta kelima dari Pembelajaran dari Bodhisattva Mahasattva."

"Kulaputra, apakah Gudang Memberi dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva mempraktekkan sepuluh jenis dana. Dia berdana sebagian, berdana hingga habis, berdana kekayaan dalam, berdana kekayaan luar, berdana kekayaan dalam dan luar, berdana sepenuhnya, berdana masa lampau, berdana masa depan, berdana masa sekarang, dan berdana yang terakhir."

"Kulaputra apa itu berdana sebagian dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva suka menolong dan berbelas-kasih oleh sifat alami-Nya, dan memberi dengan baik. Jika mendapat makanan yang enak, Dia tidak menyimpannya untuk diri sendiri, namun memberikannya kepada para mahluk hidup dan setelah itu memakan sebagiannya. Dalam cara yang sama berlaku juga dengan semua objek materi yang diterima-Nya."

"Ketika makan, Dia berpikir: 'Ada di dalam tubuh saya delapan puluh ribu mikroorganisme yang hidupnya tergantung pada saya. Jika tubuh saya kenyang, begitu juga mereka. Jika tubuh saya menderita lapar, begitu juga mereka. Semoga makanan ini yang saya terima membuat semua makhluk menjadi kenyang; Saya sendiri memakan ini demi menyalurkannya kepada mereka, tanpa serakah demi rasa.' Juga, Dia berpikir, 'sepanjang malam yang panjang dari ketidaktahuan, saya telah melekat pada tubuh ini dan ingin memuaskannya, jadi mengambil makanan dan minuman. Sekarang, saya memberikan makanan ini kepada para makhluk hidup, dan berikrar selamanya mengakhiri ketamakan dan kemelekatan.' Inilah yang dinamakan berdana sebagian."

"Kulaputra apa itu berdana hingga habis dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva memperoleh semua jenis makanan dan minuman yang sangat enak, dupa wangi, bunga, pakaian, dan kebutuhan hidup lainnya. Jika digunakan untuk dirinya sendiri, bisa makmur, bahagiah, dan panjang umur. Jika diberikan kepada orang, maka menjadi miskin, menderita, dan mati muda. Jika pada saat itu, ada orang yang datang berkata, 'Anda harus memberikan semua milikmu kepadaku,' Bodhisattva berpikir pada dirinya sendiri, 'sejak masa lampau yang tanpa awal, saya mati kelaparan tidak terhitung banyaknya tanpa ada kesempatan untuk menolong orang lain sama sekali walau hanya sehelai rambut manfaat. Sekarang, saya harus kembali menyerahkan hidup saya seperti di masa lampau, agar saya bisa melakukannya demi menolong para makhluk hidup.' Jadi, Dia menyerahkan semua yang dimilikinya, bahkan hingga akhir hidupnya tanpa kekikiran. Inilah yang dinamakan berdana hingga habis."

"Kulaputra apa itu berdana kekayaan dalam dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva ketika muda, sehat, indah dipandang, terhiasi dengan pakaian yang indah, bunga-bunga yang wangi, dan baru saja menerima abhiseka sebagai Cakravartin, memiliki semua tujuh permata Cakravartin, memerintah empat benua, jika ada orang yang datang dan berkata, 'Maha Cakravartin, saya tua dan lemah, terserang penyakit parah, sendiri, tanpa pertolongan, tak berdaya, mendekati kematian. Jika saya mendapat tangan, kaki, darah, daging, kepala, mata, tulang, dan sumsum dari tubuh Raja, aku bisa terus hidup. Mohon jangan menghitung dan menyesal oleh saya ini, tataplah saya dengan belas-kasih dan berikan kepada saya.' Pada saat itu, sang Bodhisattva berpikir, 'Tubuh saya ini pada akhirnya pasti akan mati, tanpa manfaat apapun. Saya harus mengambil kesempatan ini dengan segera menyerahkannya untuk menyelamatkan makhluk hidup.' Dengan pikiran ini, Dia memberi tanpa menyesal. Inilah yang dinamakan berdana kekayaan dalam."

"Kulaputra apa itu berdana kekayaan luar dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva ketika di usia terbaiknya, dengan tubuh yang sempurna, dipenuhi dengan semua tanda kemuliaan, terhiasi dengan bunga-bunga yang indah dan pakaian yang unggul, dan baru saja menerima abhiseka sebagai Cakravartin, memiliki semua tujuh permata Cakravartin, memerintah empat benua, jika ada orang yang datang dan berkata, 'saya miskin dan tertekan oleh semua penderitaan, tolong berbaik-hati dan berbelas-kasih menyerahkan kekuasaan Anda kepada saya, sehingga saya bisa memerintah dan merasakan kebahagiaan sebagai raja.' Pada saat itu, sang Bodhisattva berpikir, 'semua kekayaan yang megah pasti akan merosot dan berakhir. Ketika itu merosot dan berakhir, tidak akan mungkin bisa lagi menguntungkan para makhluk hidup. Saya harus memuaskan orang ini seperti yang dimintanya.' Dengan pikiran ini, Dia memberikan kekuasaannya tanpa menyesal. Inilah yang dinamakan berdana kekayaan luar."

"Kulaputra apa itu berdana kekayaan dalam dan luar dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva ketika di usia terbaiknya, dengan tubuh yang sempurna, dipenuhi dengan semua tanda kemuliaan, terhiasi dengan bunga-bunga yang indah dan pakaian yang unggul, dan baru saja menerima abhiseka sebagai Cakravartin, memiliki semua tujuh permata Cakravartin, memerintah empat benua, jika ada orang yang datang dan berkata, 'Anda telah lama menjadi Cakravartin, dan saya tidak pernah seperti itu. Tolong serahkanlah takhta Anda kepada saya, dan Anda, Raja, jadilah pelayan saya.' Pada saat itu, sang Bodhisattva berpikir, 'Tubuhku, kekayaanku, permata dan juga jabatanku, adalah semua gejala kejadian yang tidak abadi dan menuju peluruhan. Sekarang saya dalam usia terbaik, kaya-raya, menguasai seluruh dunia. Karena pengemis ini telah muncul, saya akan menggunakan gejala kejadian yang fana ini untuk mencari dharma yang abadi.' Dengan pikiran ini, Dia memberikan segalanya kepada orang itu dan melayaninya dengan penuh hormat tanpa menyesal. Inilah yang dinamakan berdana kekayaan dalam dan luar."

"Kulaputra apa itu berdana sepenuhnya dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva ketika di usia terbaiknya, dengan tubuh yang sempurna, dipenuhi dengan semua tanda kemuliaan, terhiasi dengan bunga-bunga yang indah dan pakaian yang unggul, dan baru saja menerima abhiseka sebagai Cakravartin, memiliki semua tujuh permata Cakravartin, memerintah empat benua, pada satu waktu, para orang miskin yang tidak terhitung banyaknya datang dan berkata, 'Maha Cakravartin, ketenaran Anda menyebar dan terdengar di seluruh sepuluh penjuru, dan kami telah datang karena nama baik Anda. Kami semua memiliki permintaan dan berharap Anda akan berbelas-kasih mengabulkannya.' Kemudian para orang miskin itu meminta beranekaragam kepada Cakravartin : ada yang meminta negara, istri, atau anak, atau tangan dan kaki, darah, daging, jantung, paru-paru, kepala, mata, sumsum, dan otak. Pada saat itu, sang Bodhisattva berpikir, 'Semua yang dicintai pada akhirnya pasti berpisah dan tiada menguntungkan makhluk hidup. Sekarang saya ingin meninggalkan semua kemelekatan, dan menggunakan segala sesuatu ini yang pada akhirnya pasti lenyap untuk mengabulkan keinginan para makhluk hidup.' Dengan pikiran ini, Dia memberikan semua yang mereka inginkan tanpa menyesal, ataupun menghina atau jijik terhadap para makhluk hidup itu. Inilah yang dinamakan berdana sepenuhnya."

"Kulaputra apa itu berdana masa lampau dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva ketika mendengar tentang kualitas kebajikan dari para Buddha dan Bodhisattva di masa lampau, tidak melekatinya, Dia menyadari itu tiada keberadaan. Dia tidak membuat pembedaan, tidak serakah, tidak mengidam, tidak mencari. Tidak bergantung pada apapun, Dia melihat gejala kejadian sebagai mimpi, yang tiada zat padat. Dia tidak memikirkan akar kebajikan sebagai keberadaan, dan juga tidak bergantung padanya; Namun, Dia menyempurnakan Buddhadharma dan menjelaskannya demi mengajar dan mengubah para makhluk hidup yang tercengkram kemelekatan. Juga, Dia merenungkan semua gejala kejadian di masa lampau, mencarinya ke seluruh sepuluh penjuru, dan mneyadari bahwa itu tidak bisa dipahami. Setelah merenungkan begitu, Dia sepenuhnya melepaskan semua gejala kejadian di masa lampau. Inilah yang dinamakan berdana masa lampau."

"Kulaputra apa itu berdana masa depan dari Bodhisattva? Yaitu, Bodhisattva ketika mendengar tentang praktek dari para Buddha masa depan, Dia menyadari itu sebagai yang tiada keberadaan; Dia tidak melekati ciri-cirinya, tidak secara khusus senang terlahir di dalam Buddhaksetra, tidak memanjakan diri, tidak melekat, dan namun tidak meremehkannya; Tidak membaktikan kebajikan disana, namun juga tidak mundur dari akar kebajikan, Dia selalu rajin mengolah praktek, tidak pernah menyerah, hanya ingin mengumpulkan para makhluk hidup di dalam alam itu, menjelaskan Dharma kepada mereka, dan menyebabkan mereka menguasai Buddhadharma. Namun gejala kejadian ini tiada lokasi, juga tidak tanpa lokasi. Itu tidak di dalam, juga tidak diluar, tidak dekat, juga tidak jauh. Dia juga berpikir, 'Jika gejala kejadian adalah yang tidak ada, maka saya tidak akan gagal melepaskannya.' Inilah yang dinamakan berdana masa depan."

"Kulaputra apa itu berdana yang terakhir dari Bodhisattva? Yaitu, jika para mahluk hidup yang sangat banyak ada yang tidak punya mata, ada yang tidak punya telinga, ada yang tidak punya hidung, atau lidah, atau tangan, atau kaki, datang kepada sang Bodhisattva dan berkata, 'Tubuhku cacat, indera rusak dan tidak lengkap. Saya berharap Anda berbelas kasih menggunakan upaya-kausalya dan melepaskan milik Anda agar membuat saya lengkap.' Ketika Bodhisattva mendengar ini, Dia segera memberikannya kepada mereka. Bahkan jika karena ini Dia harus bertubuh cacat selama kalpa yang tidak terhitung, namun pikirannya tidak pernah timbul penyesalan."

"Dia hanya merenungkan tubuh ini dari pertama memasuki rahim yang memliki rupa yang kotor, dengan orang indera yang terbentuk, yang lahir, menua, sakit, dan mati. Juga, merenungkan tubuh sebagai yang tidak nyata, tidak senonoh, tanpa kebijaksanaan dan tidak murni, bau, kotor dan tidak bersih. Itu disokong oleh tulang dan bergabung serta ditutupi oleh darah dan daging, dengan sembilan lubang yang terus mengalir dengan kotoran, yang dibenci oleh orang. Setelah merenungkan begitu, Dia tidak menimbulkan satupun pikiran kemelekatan."

"Dia juga berpikir demikian, 'Tubuh ini rapuh, tidak stabil, tidak untuk dilekati, harus diberikan untuk memuaskan keinginan yang lainnya, dan melalui perbuatan ini akan membimbing semua makhluk hidup dan menyebabkan mereka menjadi tidak melekati tubuh dan pikiran, membuat mereka mengembangkan tubuh kebijaksanaan yang murni.' Inilah yang dinamakan berdana yang terakhir. Inilah yang dinamakan Gudang harta keenam dari Memberi dari Bodhisattva Mahasattva."

"Kulaputra, apakah Gudang Kebijaksanaan dari Bodhisattva Mahasattva? Bodhisattva mengetahui bentuk-rupa sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui himpunan dari bentuk-rupa sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui punahnya bentuk-rupa sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui jalan menuju punahnya bentuk-rupa sebagaimana yang sesungguhnya."

"Dia mengetahui perasaan, pikiran, kegiatan, dan kesadaran sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui himpunan dari perasaan, pikiran, kegiatan, dan kesadaran sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui punahnya perasaan, pikiran, kegiatan, dan kesadaran sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui jalan menuju punahnya perasaan, pikiran, kegiatan, dan kesadaran sebagaimana yang sesungguhnya."

"Dia mengetahui ketidaktahuan sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui himpunan dari ketidaktahuan sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui punahnya ketidaktahuan sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui jalan menuju punahnya ketidaktahuan sebagaimana yang sesungguhnya."

"Dia mengetahui nafsu mengidam sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui himpunan dari nafsu mengidam sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui punahnya nafsu mengidam sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui jalan menuju punahnya nafsu mengidam sebagaimana yang sesungguhnya."

"Dia mengetahui Sravaka sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui Dharma dari Sravaka sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui pengembangan dari Sravaka sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui Nirvana dari Sravaka sebagaimana yang sesungguhnya."

"Dia mengetahui Pratyekabuddha sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui Dharma dari Pratyekabuddha sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui pengembangan dari Pratyekabuddha sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui Nirvana dari Pratyekabuddha sebagaimana yang sesungguhnya."

"Dia mengetahui Bodhisattva sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui Dharma dari Bodhisattva sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui pengembangan dari Bodhisattva sebagaimana yang sesungguhnya, mengetahui Nirvana dari Bodhisattva sebagaimana yang sesungguhnya."















Namo Ta Pei Kuan Yin Pu Sa
Namo Maha Karuna Avalokitesvara Bodhisattva

Tolong jangan di reply, ini sedang dalam tahap posting hingga paripurna.

Namo Stu Buddhaya