Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia.
By teahangat
#6876
Untuk sebagian orang, mimpi adalah bunga tidur ataupun implementasi dari kelelahan fisik kita sehari2. Kalau mimpi karena hal biologis beda lagi ya...hihi.

Di kepercayaan kita, mimpi adalah salah satu cara BAPA menyampaikan rencanaNya kepada anak-anaknya. Baik itu dengan tanda maupun langsung. Cara membedakannya tentu simple, jika sesuai firmanNya di Aljitab dan tidak menentang hati nurani maka itulah kehendakNya.

Dari sekian mimpi yang terjadi, aku ingat saat kecil. Saat itu aku bermimpi dan merasakan kesedihan hingga menyesak, kemudian aku senandungkan lagu rohani "Kukan terbang." Saat terbangun mataku basah fan tersengal-sengal.

Hari ini aku mengalaminya lagi. Wajar jika aku penyanyi koor, maka aku bermimpi bersenandung. Namun aku bukan orang yang aktif di gereja maupun sub organisasi agama. Ada yang mau share pengalaman dan sudut pandang? Tak ada yang disebut kebetulan bukan? Arigatho B-)
#6880
:001: wih,ce.. asyik yah mimpi sambil bersenandung ..

:007: dulu di tahun 2007 -2009 yang namanya headset gak pernah lepas dari telingaku.sampai bobo aja masih melekat kayak lem .hidupku gak pernah lepas dengan yang namanya lagu puji pujian.pernah suatu kali,bobo kesiangan,sampai acara anak anak masuk sekolah jadi ketinggalan.wih,untungnya Tuhan suka membangunkan aku dengan setiap lagu yang aku suka. :D :D lagu mengalun,sampai masuk ke dalam mimpi lah mau gak mau secara otomatis yah,mengikutin tuh lagu ,kira kira masuk 1 mnt sudah menikmati lagunya aku langsung sadar kalo dalam posisi masih di tempat tidur.

:D bangun tidur,lihat jam langsung lari marathon.cuman ada waktu 15 mnt buat persiapan :007: :007: .. mobil antar jemput di depan rumah sudah menanti :007: . jangan tanyakan apakah keburu mandi atau tidak,jam berdetak gak bisa menunggu udah kayak dikejar setan :D :D :D

seru juga dengan cara Tuhan membangunkanku melalui lagu pujian pujian.. kalo mengingat semua hal itu,bisa tertawa sendiri.Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk membuatku tersenyum dengan semua yang terjadi dalam hidupku.jika mau jujur,hal ini tidak sekali dua kali terjadi,tapi sudah berkali kali.tapi Tuhan selalu menyelamatkanku dari setiap tekanan masalah...

memiliki hubungan dengan Tuhan seperti naik roller coaster.ada rasa kenikmatan disetiap kengerian yang membuat jantung berdegup kencang... dan itu yang membuatku semakin jatuh cinta..
#8400
Pengalaman waktu kecil juga, mimpi tapi ngerasanya kayak beneran hhe.

Jadi waktu itu aku tidur bareng kakak aku, di mimpi itu aku liat tiba tiba atap rumah ga ada, jadi posisinya aku ditempat tidur dan langsung berhadapan dengan langit, suasana indah adem anyem tenang banget saat itu dimana banyak sekali bintang bintang dilangit, tiba tiba ada cahaya putih bersih terang banget melayang diatasku, pas aku lihat ga tau udah nyadar aja kalo yang datang itu Tuhan Yesus, aku lihat jubahnya berwarna putih bersih bersinar, kemudian Ia mengulurkan tangan-Nya dan aku berdiri ditempat tidur untuk menggapai tangan itu, ternyata kakak aku juga mau ikut, jadi dia pegang duluan tangan-Nya dan aku bilang aku juga mau ikut, trus kakak aku juga kasih tangannya ke aku, kemudian kita seperti dibawa terbang keatas, aku masih sempet liat tempat tidur aku waktu mau melayang itu hhaa, dan ga lama kemudian aku tersentak dan kebangun, kalau ga salah jam 3an dan kemudian aku denger ayam berkokok 2 kali :|
Hmm......ga ngerti juga itu semua maksudnya apaan hha..


Intinya aku seneng aja mau diajakin main (ga tau juga sih mau main atau apa itu haha) sama Tuhan ^^
#17639
​Catatan dari Ibrahim Kufi Ikmaaluddin:

Sheikh Saduq telah meriwayatkan dari Ali bin Ahmad dari Asadi dari Nakhai dari Naufili dari Abu Ibrahim Kufi bahawa dia berkata:

“Aku pergi kepada Imam Jaafar Ash-Shodiq a.s dan duduk bersama semasa keberadaannya apabila Abul Hassan Musa ibnu Jaafar a.s masuk ketika beliau masih kanak-kanak. Aku bangun, mencium baginda dan duduk bersamanya. Kemudian Abu Abdullah a.s mengingatkan, “Wahai Ibrahim Ketahuilah, dialah Tuanmu selepasku. Ketahuilah, kerananya satu kumpulan akan dihancurkan sementara yang lainnya akan terpelihara. Kemudian semoga Allah melaknat pembunuhnya dan menggandakan azab sesiapa yang menentangnya. Ketahuilah, sesungguhnya Allah akan mengeluarkan dari keturunannya penduduk dunia yang terbaik pada zamannya. Dia akan dinamakan sempena datuknya, dia akan menjadi pewaris ilmu ini dan berhukum di dalam pertimbangannya, peti rahsia Imamah dan sumber asal kebijaksanaan. Penguasa zalim dari Bani Abbas akan membunuhnya selepas tindakannya yang menakjubkan, disebabkan oleh kedengkian. Namun Allah SWT akan menyampaikan urusan-Nya walaupun tidak disukai para penyembah berhala. Dan Allah akan mengeluarkan dari keturunannya 12 Mahdi yang lengkap pemimpin yang diberi petunjuk. Allah telah memilih mereka demi kemuliaan-Nya, mengizinkan mereka sabar pada kesucian-Nya dan ke-12 yang dinantikan adalah daripada mereka, sepertinya sedang berdiri di depan Rasulullah SAW dengan pedang terhunus di dalam pertahanannya”.

Kemudian seseorang dari sekutu Bani Umaiyyah masuk menyebabkan Imam terpaksa memendekkan ucapannya. Aku kembali kepada Abu Abdullah a.s sebelas kali supaya beliau dapat melengkapkan ucapannya namun beliau tidak dapat berbuat demikian. Pada tahun berikutnya, yang mana pada tahun kedua, aku pergi kepadanya ketika beliau sedang duduk. Beliau a.s berkata: “Wahai Ibrahim. Dialah orangnya yang akan membebaskan syiahnya selepas kesempitan yang amat sangat, bala yang berpanjangan, kedukaan dan ketakutan. Maka tahniah kepadanya yang telah menjumpai waktunya. Ini mencukupi bagimu, wahai Ibrahim”. Ibrahim berkata: “Maka tiada yang lebih dihargai oleh hatiku atau yang melegakan mataku selain dari ucapan ini”.

Ghaibat Tusi:

Telah diriwayatkan dari Fadhl dari Ismail bin Mahran dari Aiman bin Mohraz dari Rufaa bin Musa dan Muawiyah bin Wahab dari kemuliannya, Abu Abdullah Shodiq a.s bahawa beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Rahmat ke atas sesiapa yang beruntung untuk hidup di zaman Al-Qaim dari Ahlul-baitku. Sesiapa yang percaya kepadanya semasa keghaibannya dan sebelum ketibaannya, sesiapa yang mengasihi rakan-rakannya dan kekal menjauhi musuh-musuhnya. Mereka ini akan menjadi rakanku dan yang paling rapat denganku ketika Hari Pengadilan”. mengikut tradisi Rufaa: “dan makhluk Allah yang paling dihormati di dalam pandanganku”.

Ghaibat Tusi:

Telah diriwayatkan dari Fadhl dari Ibnu Mahbub dari Abdullah bin Sinan dari Imam Jaafar Ash-Shodiq a.s bahawa beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian akan datang manusia selepas kalian, setiap satu darinya layak mendapat 50 kali lebih dari ganjaran kalian”. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kami hidup di sisimu, memerangi Badar, Uhud dan Hunain bersamamu; dan kitab suci Al-Quran turun di antara kami”. Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya jika kamu menempuhi apa yang mereka tempuh, kamu tidak akan bersabar seperti mereka”.

Al-Mahasin:

Telah diriwayatkan dari Uthman bin Isa dari Abul Jarud dari Qinwata Ibnu Rashid Hijri bahawa dia berkata:

Aku berkata kepada bapaku: “Mengapa kamu bekerja dengan begitu kuat?”.

Dia menjawab: “Anakku, selepas kita akan tiba segolongan manusia yang kefahaman agamanya akan lebih tinggi kepada perjuangan orang-orang terdahulu”.

Al-Mahasin:

Telah diriwayatkan dari Muhammad bin Hasan bin Shamun dari Abdullah bin Amr bin Ashath dari Abdullah bin Hammad Ansari dari Sabbah Mazni dari Harith bin Hasir dari Hakam bin Uyyina bahawa dia berkata:

“Pada hari Amirul Mukminin a.s menewaskan tentera Khariji di Nahrawan, seorang lelaki berdiri dan menyoal: Kami amat bertuah dapat bersama di dalam peperangan ini bersamamu dan untuk menewaskan Khawarij.

Amirul Mukminin a.s berkata: “Demi yang memecahkan bijian dan mencipta segala makhluk hidup, kita telah menyaksikan orang yang menyertai peperangan ini, Allah SWT belum lagi mencipta nenek moyangnya”.

Lelaki itu bertanya: “Bagaimana mereka yang masih belum diciptakan terlibat di dalam peperangan?”.

Beliau a.s menjawab: “Ya, ia adalah komuniti yang akan datang di akhir zaman dan menyertai peperangan kita ini, yang akan menyokong pendirian kita; dan benar-benar menyertai apa yang kita lakukan”.